Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

REDESAIN PASAR WINENET DI BITUNG. Green Architecture Patricia M. Titaheluw; Cynthia E. V. Wuisang; Pierre H. Gosal
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 1 (2018): DASENG Volume 7, Noomor 1, Mei 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i1.20447

Abstract

Pasar merupakan lembaga ekonomi tempat bertemunya pembeli dan penjual, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk melakukan transaksi perdagangan, begitu juga dengan Pasar Winenet ini yang merupakan salah satu pasar terbesar di Kota Bitung. Eksistensi dari Pasar Winenet yang mulai berkurang akibat dari perkembangan pasar modern. Untuk menghadirkan pasar yang nyaman dan aman maka redesain sangat dibutuhkan agar dapat mengubah citra pasar yang terkesan kumuh. Metode perancangan ini dilakukan melalui studi terhadap tipologi objek, tema “Green Architecture” serta kajian tapak dan lingkungannya. Dalam perancangan ini, proses desain yang dipakai yaitu metode Glass Box(Kotak Kaca) adalah metode yang mirip dengan cara kerja komputer, dimana dalam merancang dibutuhkan data yang kemudian diolah atau di programkan. Hasil pengolahan data ini kemudian menghasilkan out-put desain.Pasar nantinya akan menjadi sebuah pusat perbelanjaan yang tertata dengan baik dan memiliki fungsi yang maksimal, dengan pengaturan los, kios sesuai jenis dagangan dan koridor yang luas mampu memberikan kenyamanan bagi pengunjung pasar. Penerapan tema green architecture pada bangunan pasar ini akan menghasilkan bangunan yang ramah lingkungan, hemat energi serta penerapan utilitas yang maksimal untuk menunjang aktifitas didalam Pasar Winenet tersebut.Kata Kunci: Pasar Winenet, Kota Bitung, Redesain, Green Architecture.
PUSAT KEBUDAYAAN JAWA-TONDANO DI MINAHASA. Eco-Culture Design Cybil A. Lombogia; Joseph Rengkung; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20836

Abstract

Jawa Tondano adalah hasil dari pembauran suku antara Jawa dan Minahasa yang sampai saat ini masih ada dan berkembang. Masyarakat Jaton mempertahankan eksistensinya lewat kegiatan – kegiatan sosial seperti festival seni dan budaya. Pusat Kebudayaan Jawa Tondano di Minahasa hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan wadah dalam menyalurkan kegiatan sosial dan untuk melestarikan budaya Jaton. Perancangan didasarkan pada pendekatan Eco Culture yang merupakan salah satu logika dari Sustainable Architecture. Konsep perancangan arsitektur yang menitikberatkan pada kondisi lingkungan dan budaya lokal. Nilai budaya ini diekspresikan lewat transformasi dan penerapan dari teknik konstruksi tradisional, tipologi bangunan dan pola hubungan ruang yang ada. Metode perancangan dengan pengumpulan data melalui studi literatur, studi komparasi dan survey kondisi eksisting tapak. Sedangkan pengolahan data pada analisis dan sintesis dilakukan berdasarkan 5 kriteria strategi perancangan Eco Culture. Kedepannya, objek Pusat Kebudayaan Jawa Tondano dapat diterapkan konsep ekologi dan budaya secara bersamaan dan untuk pembangunan yang berkelanjutan tanpa menghilangkan unsur lokal daerah. Kata kunci      : pusat kebudayaan, budaya Jaton, Eco Culture, Kampung Jawa
RELOKASI PASAR TRADISIONAL BAHU DI MANADO. Arsitektur Ekologi Julio R. Kakase; Cynthia E. V. Wuisang; Ricky M. S. Lakat
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21301

Abstract

Salah satu pusat kegiatan yang banyak menarik pergerakan masyarakat Kota Manado adalah Pasar Tradisional Bahu. Kemacetan yang terjadi di daerah Malalayang Satu merupakan salah satu masalah yang diakibatkan oleh kegiatan yang terjadi di Pasar Tradisional Bahu. Hal ini dikarenakan aktivitasnya sering tumpah dan memenuhi bahu jalan, sehingga menjadi penyumbang penumpukan kendaraan bermotor dari dan menuju Malalayang.Tidak adanya fasilitas pendukung, seperti parkiran di pasar ini membuat banyak pengunjung yang memarkirkan kendaraan dengan sembarangan di sisi badan jalan pasar, juga trotoar. Bukan hanya itu, tidak tertatanya para pedagang membuat pemandangan pasar ini sangat buruk. Maka perlunya dilakukan Relokasi Pasar Tradisional Bahu dengan perencanaan penataan kembali pasar. sebagai pendukung kegiatan di dalamnya menggunakan Tema “Arsitektur Ekologi” karena objek perancangan berkaitan dengan kenyamanan seseorang baik dengan ruangan maupun kenyamanan yang diberikan objek terhadap lingkungan yang ada disekitarnya. Kata kunci: Pasar Tradisional Bahu, Relokasi, Arsitektur Ekologi.
BOLAANG MONGONDOW CULTURAL CENTER. Arsitektur Neo Vernakular Reza P. Bahansubu; Judy O. Waani; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23679

Abstract

Kebudayaan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari manusia ataupun masyarakat, dimana ada kebudayaan disitu pula ada masyarakat. Di Kotamobagu kebudayaan belum dikenal oleh masyarakat luas. Kondisi saat ini masyarakat Kotamobagu khususnya generasi muda sudah perlahan melupakan kebudayaan mereka karena terbatasnya informasi akan budaya setempat dan juga faktor tidak adanya ketersediaan wadah para generasi muda untuk berekspresi,. Karena itulah dibutukan kehadiran sebuah pusat kebudayaan atau Cultural Center. Sebuah pusat kebudaaan yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat yang mendekatkan budaya Bolaang Mongondow dengan orang Bolaang Mongondow sendiri, tetapi juga bertindak sebagai wadah pelestarian budaya yang dapat berkomunikasi langsung dengan masyarakat mengenai sejarah dan budayanya. Tema yang digunakan dalam perancangan Pusat kebudayaan iniadalah Neo Vernakular. Neo Vernakular adalah tema yang biasa digunakan dalam perancangan yang menerapkan unsur budaya dan lingkungan tetapi juga juga bisa menghasilkan karya baru yang orisinil dari perancang. Penerapan tema ini diharapkan mampu menginterpretasikan Budaya di Bolaang Mongondoow lewat objek Cultural Center yang dirancang. Kata Kunci :, Kebudayaan, , Cultural Center , Neo Vernakular..
SEKOLAH LUAR BIASA ANAK DI MANADO. Arsitektur Neurosains Andrew Z. Mawei; Hanny Poli; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23698

Abstract

Pendidikan bagi anak-anak pengidap disabilitas di Sulawesi Utara, terutama Kota Manado, kurang memadai dengan apa yang dibutuhkan oleh murid-murid dengan disabilitas mental. Lemahnya kualitas pendidikan yang mereka dapatkan salah satunya dikarenakan fasilitas sekolah luar biasa yang tidak mendukung dan malah menghambat perkembangan dari anak-anak disabilitas. Untuk mengadakan fasilitas sekolah luar biasa perlu diperhatikan tingkat kenyamanan dan kemudahan akses bagi anak-anak dengan disabilitas mental, apalagi kebutuhan khusus yang mereka punya memerlukan penanganan berbeda dari anak biasanya. Untuk bisa memenuhi kebutuhan khusus yang diperlukan anak disabilitas maka penulis mendasarkan konsep bangunan dengan tema arsitektur neurosains; yakni cabang arsitektur yang menerapkan studi ilmu saraf dalam rancangannya. Arsitektur neurosains, dalam penerapannya pada desain sekolah luar biasa untuk murid-murid tuna-grahita (pengidap disabilitas mental) menggunakan triad estetika. Triad estetika terdiri dari sistem sensorimotor yakni pengalaman visual, pengalaman non-visual dan respons motorik, sistem knowledge-meaning (pengetahuan-arti) berupa ekspektasi kontrol dan konteks atau arti, sistem emotion-valuation (emosi-valuasi) tepatnya sensori emosional. Prinsip-prinsip pengalaman arsitektural ini diaplikasikan dalam konsep desain sekolah luar biasa dalam bentuk sirkulasi ruang yang mengutamakan aksesibilitas, selubung yang warna-warni dan menyenangkan, tekstur yang merangsang indera dan tataruang, luar maupun dalam, yang edukasional, terbuka dan tidak berkesan kaku serta kelas-kelas yang memungkinkan terpenuhinya beberapa fungsi. Dengan menggunakan prinsip-prinsip pengalaman arsitektural dari neurosains dalam suatu desain sekolah luar biasa, menghasilkan sebuah fasilitas pendidikan yang bisa menjamin kenyamanan dan keamanan murid-murid disabilitas mental dalam situasi belajar mengajar, namun juga menciptakan lingkungan terbaik agar mereka bisa mengembangkan kemandirian dan rasa percaya diri agar bisa lebih mudah mengintegrasikan diri dalam masyarakat luas. Kata kunci: Manado, Sekolah Luar Biasa, Arsitektur Neurosains, Disabilitas Mental
MINAHASA CULTURAL CENTER. Re-Interpreting Tradition Kevin M. Kawonal; Reny Syafriny; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24014

Abstract

Pada perkembangan zaman saat ini budaya lokal sering dikesampingkan karena budaya-budaya modernisasi yang masuk dengan cepat. Di kabupaten Minahasa pembangunan akan fasilitas-fasilitas umum sangat diperhatikan, namun masih sedikit fasilitas umum yang berkaitan dengan perkembangan budaya dan nilai-nilai seni dan budaya yang ada. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan seni dan budaya dan yang terpenting adalah pemahaman terhadap kecintaaan akan budaya itu sendiri. Perancangan Minahasa Cultural Center dimaksudkan untuk mewadahi segalah bentuk kegiatan dan pengembangan budaya Minahasa dengan fasilitas penunjang yang diharapkan dapat menjadi motivasi dan wawasan yang baru tentang budaya Minahasa dan menjadi suatu identitas yang melekat erat pada masyarakat Minahasa. Adapun tujuan  dihadirkannya bangunan Minahasa Cultural Center  adalah kedepannya memberikan wadah kepada masyarakat untuk mempertahankan, melestarikan dan menjaga nilai-nilai budaya yang ada di tanah Minahasa, kedepannya budaya Minahasa bisa berkembang dan akan selalu menjadi jati diri dan identitas yang tertanam erat dalam diri masyarakat Minahasa. Dengan tiga metode yang digunakan yaitu pertama pengambilan data yang merupakan tahap pengumpulan data yang berkaitan dengan budaya Minahasa, dengan mengambil bentuk arsitektur vernakular dari rumah adat Minahasa ornamenn-ornamen dan ciri khas dari budaya Minahasa itu sendiri, kedua analisis tapak dan ketiga konsep sebagai pengambangan dari tapak. Pada dasarnya hasil dari perancangan Minahasa Cultural Center ini menekankan pada penerapan aspek nilai-nilai dari tradisi, dengan pendekatan tema yang diambil pada objek-objek arsitektur yang mengusung potensi maupun fungsi dari kebudayaan masyarakat tertentu, di mana lewat konsep “Re-Interpreting Tradition”  bangunan dapat menjadi wadah atau Bahasa untuk menyampaikan atau memberikan edukasi tentang budaya maupun tradisi dari masyarakat Minahasa. Kata kunci: Cultural Center, Budaya, Minahasa, Re-Interpreting Tradition.
SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) BAGI ANAK AUTIS & DOWN SYNDROM DI MANADO. Arsitektur Organik Lisa C. Robot; Cynthia E. V. Wuisang; Michael M. Rengkung
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.24631

Abstract

Sekolah Luar Biasa (SLB) Bagi Anak Autis dan Down Syndrom merupakan sebuah lembaga pendidikan mulai dari taman kanak - kanak (TKLB), tingkat sekolah dasar (SDLB), sekolah menengah pertama (SMPLB), dan sekolah menengah atas (SMALB) di Manado yang dikhususkan bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Latar belakang yang melandasi perancangan ini yaitu karena fasilitas pendidikan bagi anak autis dan down syndrom tergolong belum memadai dan belum dapat memenuhi segala kebutuhan pendidikan bagi penderita agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensi diri, serta memperoleh pendidikan yang setara dengan anak normal seusianya. Faktanya, anak- anak ini dianggap tidak memiliki bakat dan potensi yang dapat dikembangkan. Kebanyakan masyarakat umum memiliki perspektif negatif mengenai anak berkebutuhan khusus. Hasilnya, terdapat begitu banyak anak berkebutuhan khusus yang memiliki bakat dan potensi diri yang apabila dikembangkan, dapat jauh melebihi apa yang dimiliki anak normal pada umumnya. Berdasarkan permasalahan tersebut mendorong penulis untuk merancang sebuah perancangan Sekolah Luar Biasa yang berlokasi di Manado yang dapat memfasilitasi setiap kebutuhan anak agar mendapat pembimbingan dan pelatihan khusus. Dalam perancanaan dan perancangan Sekolah Luar Biasa ini akan diinterpretasikan melalui konsep Arsitektur Organik dan perilaku. Perpaduan konsep alam dengan perilaku akan sangat menarik dalam aktifitas dan pembentukan pertumbuhan anak autis dan down syndrom melalui bentukan massa, sirkulasi, lansekap, dan berdasarkan fungsinya. Kata Kunci : SLB Autis & Down Syndrom, Arsitektur Organik, Manado.
PUSAT SENI & BUDAYA MINAHASA DI TOMOHON. Semiotika dalam Arsitektur Hizkia D. D. Tumiwa; Julianus A. R. Sondakh; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.26202

Abstract

Kebangkitan kebudayaan di Sulawesi Utara dalam 20 tahun terakhir sangat pesat terlebih khusus dalam suku Minahasa. Hal ini terlihat diberbagai kegiatan seni dan budaya yang sangat masif yang dilakukan diseluruh wilayah suku Minahasa. Kebangkitan kebudayaan di suku Minahasa ini merangsang munculnya kelompok – kelompok serta sanggar – sanggar seni yang berlatar belakang budaya diberbagai daerah di suku Minahasa. Perancangan pusat seni dan budaya Minahasa merupakan sebuah respon dari fenomena kebangkitan kebudayaan yang terjadi di Sulawesi Utara terlebih khusus suku Minahasa. Arsitektur merupakan sebuah benda mati namun memiliki jiwa yang terpancar dari citra. Citra menunjukan pada sebuah gambaran sehingga meninggalkan suatu kesan penghayatan arti bagi seseorang. Sudah sewajarnya kita berarsitektur dengan hati nurani dan tanggung jawab penggunaan bahasa arsitektur yang baik[1].Pendekatan dengan semiotika dalam perancangan pusat seni dan budaya Minahasa merupakan metode yang sesuai dengan perancangan ini. Dimana semiotika merupakan pendekatan yang menafsirkan bangunan dalam sebuah tanda untuk menyampaikan informasi hingga bangunan tersebut memiliki makna. Metode pendekatan dengan semiotika sesuai dengan maksud dari perancangan pusat seni dan budaya Minahasa yaitu menyampaikan sebuah makna kebudayaan Minahasa yang dihadirkan lewat bentuk, ruang, serta tata atur yang ada dalam perancangan ini.  Kata kunci : Semiotika, seni, kebudayaan, Minahasa[1]  Wastu Citra, 2013 : hal.20
GALERI DAN PERTUNJUKAN MUSIK DI MANADO. Metaphor Architecture Farrell H. J. Kesek; . Sangkertadi; Cynthia E. V. Wuisang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.26702

Abstract

Musik adalah seni yang sangat melekat di Indonesia, khususnya di Manado. Musik dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk menampung dan mengekspresikan diri dalam seni pertunjukan musik. Berbagai kegiatan pertunjukan dan pameran musik selalu disertai dengan berbagai jenis kegiatan, yang mana musik tersebut menjadi bagian dari proses kehidupan dan simbol dari jati diri masyarakat. Hingga saat ini berbagai kegiatan musik terus dipertahankan. Salah satu cara mempertahankan dan mengembangkannya adalah dengan membuat komunitas musik ataupun sanggar-sanggar musik. Sangat disayangkan, saat ini dengan adanya sanggar-sanggar musik yang menunjang pelestarian dan berkembangnya musik  di Manado, belum ada sarana Gedung yang memadai,  untuk mewadahi mereka yang berjuang dalam bidang musik secara keseluruhan di kota Manado ini.Melihat kurangnya fasilitas seni musik yang dapat menampung serta mengembangkan minat atau hobi masyarakat dalam bermusik di Manado, maka penulis tertarik untuk merencanakan pembangunan Galeri dan Pertunjukan Musik di Manado, dan mengambil lokasi di daerah Mapanget karena melihat kedepannya pusat keramaian dan fasilitas kota Manado akan dialihkan ke daerah Mapanget dan sekitarnya. Dengan mengambil tema Arsitektur Metafora, perancangan Galeri dan Pertunjukan Musik skala kota Manado ini akan dibuat dengan menerapkan konsep sebagai gagasan bentukan perancangan Galeri dan Pertunjukan Musik di Manado Kata Kunci : Galeri dan Pertunjukan Musik, Arsitektur Metafora, Kota Manado, Mapanget
PUSAT KREATIVITAS SENI DAN BUDAYA MINAHASA DI TONDANO. Arsitektur Vernakular Febrian Ch. Rembet; Cynthia E. V. Wuisang; Faizah Mastutie
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 2 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 2, November 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i2.27552

Abstract

Batu adalah “rumah”. Kayu adalah “Rumah”. Tanah adalah “Rumah”. Gunung dan Lembah pun adalah “Rumah. Bahan dan tempat bukanlah merupakan suatu yang menentukan berdirinya sebuah “rumah”. Akal, cara berpikir, dan menentukan situasi adalah dasar utama dalam mendirikan sebuah “rumah”1. Dalam adat dan budaya, kita mewarisi segala hal yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita, yang mana salah satu dari antara warisan tersebut adalah karya arsitektur2. Implementasi dari budaya dan adat ke arsitektur adalah suatu karya yang mewarisi garis estafet nenek moyang dalam bertahan hidup dan meneruskan kehidupan. Di Sulawesi Utara sendiri, terdapat suatu bangsa yang bernama Minahasa. Orang Minahasa sendiri adalah orang-orang yang terikat akan budaya. Yang mana pasti mempengaruhi gaya arsitektur. Terdapat empat suku besar Minahasa yaitu, Tontemboan, Tombulu, Tolour, dan Tonsea yang memilik gaya arsitektur yang serupa, namun memiliki arti yang berbeda-beda. Arsitektur Vernakular menafsirkan suatu gaya arsitektur yang tidak lekang oleh adat dan budaya. Dengan segala keunikan dari daerah, ataupun memiliki suatu tradisi adat terlebih dahulu. Arsitektur Vernakular memiliki makna yaitu dalam membangun sesuatu haruslah menggunakkan adat dan budaya terebih dahulu. Seperti yang terjadi pada masyarakat Minahasa pada jaman dahulu, dimana mereka mendirikan rumah di tempat yang mereka diami pada waktu itu juga dengan memanfaatkan hasil alam yang ada di sekitar dan tradisi-tradisi yang harus dilakukan sebelum membangun rumah. Kata Kunci: Rumah, Minahasa, Adat, Budaya, Vernakular