Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Analisis Relevansi Neurosains dengan Pembelajaran dan Kesehatan Spiritual Mardiah Mardiah; Syaifuddin Sabda; Ani Cahyadi
Journal on Education Vol 4 No 4 (2022): Journal on Education: Volume 4 Nomor 4 Tahun 2022
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v5i4.2197

Abstract

The concept of learning from a neuroscience perspective is learning that empowers the brain's abilities by creating a learning environment that is challenging, fun, meaningful, and encourages students to be active. In the view of neuroscience, teachers and parents should develop learning strategies that are appropriate to the behavior, personality, development, and thinking of children as well as the ability or condition of their brains, especially in the learning process. The developed learning atmosphere is expected to stimulate children to be active in the learning process so that they do not feel bored and get a strong impression of the material or lesson content being taught by the teacher. Neuroscience provides basic knowledge for teachers and parents so that they can understand the biological basis of children, both from children's skills and from children's behavior, so that children can receive lessons optimally and learning objectives can be achieved optimally. Here, teachers and parents also get a comprehensive understanding of how to help children so that they can maximally develop their potential according to the stages of their development. In this study, the writers will examine the relationship between learning, spiritual health, and neuroscience, particularly from the standpoint of education, as well as the ideas that support it.
Konstruksi Teologis Remaja Islam Banjar perspektif Prophetic Intelligence Hamdani Bakran Adz-Dzakiey Ali Akbar; Syaifuddin Sabda; Ani Cahyadi; Gt. Muhammad Irhamna Husin
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 17, No 2 : Al Qalam (Maret 2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v17i2.1971

Abstract

Kecerdasan profetik pada hakekatnya adalah konsep-konsep yang terkandung dalam Al-Qur'an dan as-Sunnah. Kecerdasan profetik juga dapat dikatakan sebagai penelitian baru dalam bidang psikologi Islam. Kajian ini dilakukan sebagai upaya untuk menjawab berbagai permasalahan umat, berdasarkan penelaahan yang mendalam terhadap Kitab Suci dan juga kajian, pemahaman dan penerimaan terhadap prototipe kehidupan para nabi dan rasul. Nabi Muhammad secara khusus melihat dirinya terselubung dalam kaca tasawuf, memperkuat teori-teori kecerdasan kenabian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana konstruksi teologis remaja Islam Banjar kemudian dianalisis dengan perspektif Prophetic Intelligence yang dikenalkan oleh Hamdani Bakran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan paradigma fenomenologi, penelitian berlangsung secara alami (sesuai) dalam lingkungan alamiah dari fenomena yang diteliti, prosesnya bersifat siklus, peneliti. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi. Penelitian ini dilakukan di Kalimantan Selatan. Penelitian ini dilakukan selama 2 bulan dari November hingga Desember 2022 dalam tiga tahap: Persiapan, pengumpulan data dan analisis data. Hasil dari penelitian ini telah ditemukan konstruksi teologis remaja Islam masyarakat Banjar dimulai dari memilih pasangan hidup, Ketika hamil sampai kelahiran dan juga pada Pendidikan anak. Beberapa aspek tersebut membentuk perilaku remaja Banjar yang dikenal luas menjadi sosok yang agamis.
FILOSOFI, IDEOLOGI DAN PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM INTER, MULTI DAN TRANSDISIPLINER Indra Wijaya; Syaifuddin Sabda
Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol 23, No 1 (2023): Published in March of 2023
Publisher : STAI AL FALAH Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/alfalahjikk.v23i1.176

Abstract

AbstractIn general, the design philosophy of Islamic education is not much different from other education. Namely, it includes ontology, epistemology and axiology. However, after researching, parsing and drawing conclusions, several fundamental differences were found between these philosophical structures. For example, from an epistemological perspective, Islamic education is based on the Koran and hadith/sunnah. From the aspect of ontology, the philosophy of Islamic education does not only focus on a real (real) reality but also un-real-abstract. Meanwhile, from the axiological aspect, the philosophy of education does not only refer to one value point of view but refers to several points of view, including human values (moral), as well as divine values (religion) and so on.The diversity of ethnicities, religions and cultures is a fact of Indonesian history. Diversity can be a gift or a disaster. If managed properly it can enrich human life; conversely, if it is not managed properly it can lead to disasters in the form of tension, conflict, and violence. The function of Islamic Religious Education as a subject that is still preserved in the National Education System is expected to shape the character of students, so that they become pious Muslims (in the sense of obedience to Allah), and at the same time become citizens. Indonesia that is tolerant, accepts multicultural conditions, and rejects all forms of oppression that demean human dignity. Specifically, it can be seen from the learning objectives, namely realizing Indonesian people who are religious, have noble character, are knowledgeable, diligent in worship, intelligent, productive, honest, fair, ethical, disciplined, tolerant (tasamuh), maintain harmony and develop religion. culture at school. Philosophically, Islamic education is relevant and an integral part of the national education system. The position of Islamic education as a national education subsystem does not only function as a complement, but as a substantial component. That is, Islamic education is an important component in the journey of national education. Because the government has proposed the concept of multicultural education, civic education, and character education, Islamic education cannot be separated from it. Keywords: Ideology, Paradigm of Islamic Education, Philosophy. AbstrakSecara umum, rancang bangun filosofi pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan pendidikan lainnya. Yakni, mencakup ontologi, epistemologi dan aksiologi. Namun setelah diteliti, diurai dan diambil suatu simpulan, ditemukan beberapa perbedaan yang mendasar antara bangunan filosofi tersebut. Misalnya, dari aspek epistemologi, pendidikan Islam berlandaskan pada al-Qur‟an dan hadith / sunnah. Dari aspek ontologi, filosofi pendidikan Islam tidak hanya fokus pada suatu realitas yang riil (nyata) tapi juga un-riil-abstrak. Sedangkan dari aspek aksiologi, filosofi pendidikan tidak hanya mengacu kepada satu sudut pandang nilai tapi mengacu pada beberapa sudut pandang, diantaranya adalah nilai-nilai kemanusiaan (moral), maupun nilai ketuhanan (agama) dan lain sebagainya. Kemajemukan suku, agama, dan budaya merupakan fakta sejarah Indonesia. Keanekaragaman bisa menjadi hadiah atau bencana. Jika dikelola dengan baik dapat memperkaya kehidupan manusia; sebaliknya jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan bencana berupa ketegangan, konflik, dan kekerasan. Fungsi Pendidikan Agama Islam sebagai mata pelajaran yang masih dilestarikan dalam Sistem Pendidikan Nasional diharapkan dapat membentuk karakter peserta didik, sehingga menjadi muslim yang bertakwa (dalam arti taat kepada Allah), dan sekaligus menjadi warga negara. Indonesia yang toleran, menerima kondisi multikultural, dan menolak segala bentuk penindasan yang merendahkan harkat dan martabat manusia. Secara khusus dapat dilihat dari tujuan pembelajaran, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang agamis, berakhlak mulia, berilmu, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, beretika, disiplin, toleran (tasamuh), menjaga kerukunan dan mengembangkan agama. budaya di sekolah. Secara filosofis, pendidikan Islam relevan dan merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Kedudukan pendidikan Islam sebagai subsistem pendidikan nasional tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap, tetapi sebagai komponen yang substansial. Artinya, pendidikan Islam merupakan komponen penting dalam perjalanan pendidikan nasional. Karena pemerintah telah mengajukan konsep pendidikan multikultural, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan karakter, maka pendidikan Islam tidak bisa lepas darinya. Kata Kunci: Filosofi, Ideologi, Paradigma Pendidikan Islam.
DIALOG PAI DAN FILSAFAT PENDIDIKAN BARAT(Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Dewey, Freire, Habermas) Harmina; Syaifuddin Sabda; Husnul Yaqin; Hamdan
Advances In Education Journal Vol. 2 No. 3 (2025): Advances In Education Journal (Desember)
Publisher : Yayasan Al-Afif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Education is a fundamental pillar in shaping intellectually, morally, and spiritually balanced individuals. This study addresses the differences and similarities in the concepts and objectives of education from Islamic and Western perspectives amid the challenges of globalization and technological advancement. This research aims to analyze the concepts, goals, and characteristics of education according to Islamic and Western philosophers. This study employs a qualitative approach using library research by examining relevant books, journals, and scholarly publications. The findings show that Islamic education emphasizes the integration of faith, morality, and knowledge, while Western education focuses on rationality, empiricism, critical thinking, and practical skills. This study highlights the importance of integrating moral and spiritual values into the modern education system. In conclusion, Islamic and Western educational perspectives can complement each other in forming balanced individuals intellectually, ethically, and socially.
Deskripsi dan Telaah Kurikulum SKI di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Munawarah; Syaifuddin Sabda
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Mei-Agustus 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v4i2.2015

Abstract

Kurikulum Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di Madrasah Ibtidaiyah (MI) berperan dalam membangun pemahaman sejarah Islam sekaligus menanamkan nilai-nilai keislaman dan karakter peserta didik. Makalah ini bertujuan mendeskripsikan kurikulum SKI, menganalisis struktur dan karakteristiknya, serta menelaah implementasinya di MI. Penulisan menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui kajian berbagai literatur dan dokumen kebijakan yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kurikulum SKI disusun secara sistematis sesuai perkembangan peserta didik serta mengintegrasikan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Karakteristiknya meliputi pembelajaran berbasis keteladanan, integratif, berpusat pada peserta didik, dan mendukung moderasi beragama. Implementasinya telah mengarah pada pembelajaran yang lebih aktif dan kontekstual, namun masih menghadapi kendala seperti dominasi metode ceramah, keterbatasan kompetensi guru, pemanfaatan teknologi yang belum optimal, serta keterbatasan sarana pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kompetensi guru dan inovasi pembelajaran untuk mengoptimalkan pelaksanaan kurikulum SKI.
Evolusi Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Indonesia: Analisis Historis Pergeseran Kebijakan, Inovasi Pedagogis, dan Tantangan Masa Depan Muhammad Alfi Hidayat; Syaifuddin Sabda
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 4 No. 2 (2026): Mei-Agustus 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v4i2.2123

Abstract

Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia mengalami perkembangan yang dinamis seiring perubahan sosial, politik, budaya, dan kebutuhan pendidikan nasional. Artikel ini bertujuan menganalisis evolusi kurikulum PAI sejak periode awal kemerdekaan hingga implementasi Kurikulum Merdeka dengan menelaah pergeseran kebijakan, inovasi pedagogis, serta tantangan pengembangannya di masa depan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) melalui analisis historis terhadap dokumen kebijakan kurikulum, literatur akademik, dan kajian terkait perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa perkembangan kurikulum PAI mengalami transformasi paradigma, mulai dari orientasi normatif-doktrinal pada masa awal kemerdekaan, penguatan struktur dan standardisasi materi pada periode berikutnya, pergeseran menuju pendekatan berbasis tujuan dan kompetensi, hingga paradigma pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan berorientasi pada karakter dalam Kurikulum Merdeka. Inovasi pedagogis terlihat melalui perubahan pendekatan pembelajaran dari teacher-centered menuju student-centered, penguatan asesmen autentik, integrasi teknologi, pembelajaran berdiferensiasi, serta pengembangan kompetensi abad ke-21. Namun demikian, implementasi kurikulum PAI masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti kesiapan guru, kesenjangan implementasi antar satuan pendidikan, penguatan moderasi beragama, serta kebutuhan integrasi nilai Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Artikel ini menegaskan bahwa pengembangan kurikulum PAI masa depan perlu diarahkan pada paradigma transformatif yang mampu mengintegrasikan nilai keislaman, kompetensi global, dan konteks sosial masyarakat Indonesia yang plural.
Menanamkan Nilai Kebangsaan, Toleransi, Dan Anti-Ekstremisme Dalam PAI Khairunnida .; Syaifuddin Sabda
Jurnal Kajian Islam dan Sosial Keagamaan Vol. 3 No. 3 (2026): Januari - Maret
Publisher : CV. ITTC INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islamic Religious Education (PAI) holds a strategic role in shaping students' morality and character amidst the challenges of globalization and the rise of extremist ideologies. This study aims to analyze the efforts to instill national values, tolerance, and anti-extremism through curricular and pedagogical transformations in PAI. Using a qualitative approach with descriptive analysis, the results indicate that national values can be integrated through Fiqh materials concerning obedience to the government and Islamic Cultural History that highlights the role of scholars in independence. Furthermore, tolerance (tasāmuh) is developed through an inclusive understanding of ukhuwah Islamiyah and religious moderation (Wasathiyyatul Islam). The success of internalizing these values heavily depends on the strategic role of PAI teachers as role models, school headmasters' policies that support an inclusive culture, and strong collaboration between schools, parents, and the community. The implementation of moderate PAI is a crucial key in building students' cognitive immunity against the appeal of radical ideologies to maintain the sovereignty of the Republic of Indonesia.
KONSEP TENTANG HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN SEBAGAI LANDASAN PENDIDIKAN ISLAM Vera Anandya Putri; Syaifuddin Sabda
SULTAN ADAM: Jurnal Hukum dan Sosial Vol 4 No 2 (2026): Juli-Desember 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/sultan.v4i2.2306

Abstract

Ilmu pengetahuan merupakan landasan utama dalam pembentukan peradaban manusia sekaligus menjadi fondasi filosofis dan teologis dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Artikel ini bertujuan menganalisis hakikat ilmu pengetahuan sebagai landasan pendidikan Islam melalui perspektif filsafat dan teologi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari Al-Qur'an, hadis, buku-buku filsafat ilmu, karya para pemikir Islam, serta artikel ilmiah yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan teknik content analysis dengan mengkaji konsep-konsep pokok mengenai hakikat ilmu, sumber ilmu, objek ilmu, perkembangan ilmu pengetahuan, serta kedudukannya dalam Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses berpikir rasional, sistematis, empiris, dan metodologis sehingga menghasilkan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Dalam perspektif Islam, ilmu tidak hanya bersumber dari akal dan pengalaman empiris, tetapi juga berasal dari wahyu sebagai sumber kebenaran yang bersifat absolut. Oleh karena itu, epistemologi Islam mengintegrasikan akal, pengalaman, intuisi, dan wahyu sebagai dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena menjadi sarana mengenal Allah Swt., membentuk akhlak, memperkuat keimanan, serta menjadi landasan pelaksanaan amal saleh. Dengan demikian, hakikat ilmu pengetahuan dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada pengembangan intelektual, tetapi juga pada pembentukan manusia yang beriman, berakhlak mulia, kritis, dan bertanggung jawab dalam mewujudkan kemaslahatan umat.
INTEGRASI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DENGAN ARTIFICIAL INTELLEGENCE, BIG DATA DAN HYPERKONEKTIFITAS DIGITAL Muhammad Azhari; Syaifuddin Sabda; Hamdan; Husnul Yaqin
ADDABANA: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 9 No 1 (2026): February
Publisher : Program Studi PAI STAI Al Falah Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/adb.v9i1.956

Abstract

This study aims to examine the concept and implications of integrating Islamic Religious Education with digital technology, particularly artificial intelligence, big data, and digital hyperconnectivity, in the context of contemporary education. Rapid technological development has significantly transformed learning patterns, access to knowledge, and the relationship between teachers and students, requiring a paradigm shift in religious education to remain relevant without losing its spiritual and moral foundations. This research employs a qualitative approach using library research methods. Data were collected through a systematic review of scientific books, academic journals, research reports, and policy documents related to Islamic education and digital transformation. Data analysis was conducted using an interactive model consisting of data reduction, data display, and reflective-conclusive analysis. The findings reveal that the integration of Islamic Religious Education with artificial intelligence enables more personalized, adaptive, and effective learning through intelligent recommendation systems, religious chatbots, and learning behavior analytics. The use of big data helps educational institutions map students’ moral and religious tendencies more accurately, while digital hyperconnectivity creates global and interactive spaces for religious learning. However, the study also identifies ethical challenges related to the validity of religious sources, the risk of technological dependency, and the potential weakening of spiritual depth. Therefore, the ideal integration is one that positions technology as a means of support, while maintaining the core values of tawhid, adab, and moral character as the primary foundation of Islamic education.