Nickson J. Kawung
Universitas Sam Ratulangi

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

Uji Toksisitas Anti Kanker Ekstrak Alga Coklat Padina sp Terhadap Larva Udang Artemia salina Leach., dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test Nickson J. Kawung; Adolfina Sumangando; Natalie D. Rumampuk; Billy. Th. Wagey
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 1 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.1.2023.52737

Abstract

Brown Algae Padina sp are marine biota that have secondary metabolites that are useful in the pharmaceutical field, especially raw materials for anti-cancer drugs. Bioactive compounds suspected of having anti-cancer activity were tested for activity by means of a toxicity test. Brine Shrimp Lethality Test Method. The purpose of this study was to test the anticancer activity of the crude extracts of Padina sp against Artemia salina L shrimp larvae using the Brine Shrimp Lethality Test method. Algae samples were taken in the waters of Makupa Village. The activity test was carried out at the Laboratory of Marine Biotechnology and Pharmacy, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Unsrat. The test concentrations used of 10, 50, 100, 250 and 500 ppm, by first making 1000 ppm mother liquor. Data analysis used probit analysis to determine the toxicity value of LC50.The results obtained showed that the increase in concentration was followed by an increase in the number of mortality of the test animals where Padina sp 65%. The results of probit analysis obtained LC50 Padina sp 12.45 mg/l. Based on these data, bioactive compounds from Padina are more toxic,so it can be concluded that the content of bioactive compounds from Padina sp has the potential to be developed as raw materials for anticancer drugs.Keywords: Anticancer, Padina, Lethtality Test ABSTRAKAlga Coklat Padina sp merupakan biota laut yang memiliki metabolit sekunder yang bermanfaat dalam bidang farmasi terutama bahan baku obat anti kanker. Senyawa bioaktif yang diduga memiliki aktivitas anti kanker terlebih dahulu dilakukan pengujian aktivitas dengan cara uji toksisitas. Metode Brine Shrimp Lethality Test. Tujuan penelitian ini yaitu uji aktivitas antikanker dari ekstrak Padina sp terhadap larva udang Artemia salina L dengan menggunakan metode Metode Brine Shrimp Lethality Test. Sampel alga di ambil di Perairan Desa Makupa. Uji aktivitas dilakukan di Laboratorium Bioteknologi dan Farmasetika Laut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat. Konsentrasi uji menggunakan 10, 50, 100, 250 dan 500, ppm, dengan terlebih dahulu membuat larutan induk 1000 ppm. Analisis data menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai toksisitas LC50. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa kenaikan konsentrasi diikuti dengan kenaikan jumlah mortalitas hewan uji dimana Padina sp 65%. Hasil analisis probit diperoleh nilai Lethal consentrasi adalah 12.45 mg/l. Berdasarkan data tersebut senyawa bioaktif dari Padina lebih toksik dibandingkan dengan Halimeda sp, sehingga dapat disimpulkan kandungan senyawa bioaktif dari Padina sp berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat antikanker. Kata kunci: Antikanker, Padina, Lethality Test
IDENTIFIKASI JENIS KEPITING DI PERAIRAN MOLAS, KECAMATAN BUNAKEN, KOTA MANADO (Identification Of Crab Species in Molas Waters, Bunaken District, Manado City) Reygina B.S Roring; Erly Y. Kaligis; Robert A. Bara; Nickson J. Kawung; Winda M. Mingkid
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.2.2023.53364

Abstract

Crustaceans are an important part of the bentic fauna and one of the groups is infra theorderbrachyura. Brachyura crabs cover about 700 genera and about 5000 to 10000 species. Thepurpose of this study is first to identfy the types of crabs, secondly to calculate abundance, thirdly tofind out the environmetal conditions of the surrounding waters both pH, temperature, salinity occupiedby the types of crabs in Molas waters, Bunaken District, Manado Cit. Identification technique based onthe color and shape of the carapace. The data collection location consists of 2 different places (station)which are 150 m between stations. To compelte the data in the field, supporting water quality data wasalso collected such as: temperature, pH, and salinity at each station. Identification results in Molaswaters, Bunaken District, Manado City found 7 types of crabs with the number recorded namely,Austruca annulipes 155 individuals, followed by Ocypode sp 55 individuals, Ocyopde palidula 53individuals, Leptograpsus variegatus 30 individuals, Gelasimus vocans 20 individuals, Aratus pisonii 15individuals and Portunus pelagicus 10 individuals. Based on the analysis of abudance data with thehighest value, namely Crab Austruca annulipes that is1,55 ind/m2. The quality parameters in Molaswaters are temperature 29-30 oC, Salinity ppt 29-30 ppt, pH 6-8.Keywords: Molas, Crabs, Abudance ABSTRAKKrustasea adalah bagian penting dari fauna bentik dan salah satu kelompok adalah infra ordobrachyura. Kepiting brachyura mencakup sekitar 700 genera dan sekitar 5000 hingga 10.000 spesies.Tujuan dari penelitian ini adalah yang pertama mengidentifikasi jenis-jenis kepiting, kedua yaitumenghitung kelimpahan, ketiga yaitu mengetahui keadaan lingkungan perairan sekitar baik pH, suhu,salinitas yang di tempati oleh jenis-jenis kepiting di perairan Molas, Kecamatan Bunaken, Kota Manado.Penelitian ini menggunakan metode jelajah. Teknik identifikasi berdasarkan warna serta bentukkarapas. Lokasi pengambilan data terdiri 2 tempat (stasion) berbeda yang berjarak 150 m antar stasion.ntuk melengkapi data di lapangan diambil juga data pendukung kualitas air, seperti: suhu, pH, dansalinitas pada masing-masing stasiun. Hasil identifikasi di Perairan Molas, Kecamatan Bunaken, KotaManado ditemukan 7 jenis kepiting dengan jumlah yang terdata yaitu, Austruca Annulipes yaitu 155individu, kemudian diikuti jenis kepiting Ocypode sp yaitu 55 individu, Ocypode palidula yaitu 53individu, Leptograpsus variegatus yaitu 30 individu, Gelasimus vocans yaitu 20 individu, Aratus pisonii15 individu dan Portunus pelagicus 10 individu. Berdasarkan analisis data kelimpahan dengan nilaitertinggi yakni Kepiting Austruca annulipes yaitu 1,55 ind/m2. Parameter kualitas di perairan Molas yaitusuhu 29-30 oC, salinitas 29-30 ppt, pH 6-8.Kata kunci: Molas, Kepiting, Kelimpahan
UJI TOKSISITAS ANTI KANKER EKSTRAK ALGA COKLAT Padina sp. TERHADAP LARVA UDANG Artemia salina LEACH., DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST Nickson J. Kawung; Adolfina Sumangando; Natalie D. Rumampuk; Billy. Th. Wagey
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 2 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.2.2023.53366

Abstract

Brown Algae Padina sp are marine biota that have secondary metabolites that are useful in the pharmaceutical field, especially raw materials for anti-cancer drugs. Bioactive compounds suspected of having anti-cancer activity were tested for activity by means of a toxicity test. Brine Shrimp Lethality Test Method. The purpose of this study was to test the anticancer activity of the crude extracts of Padina sp against Artemia salina L shrimp larvae using the Brine Shrimp Lethality Test method. Algae samples were taken in the waters of Makupa Village. The activity test was carried out at the Laboratory of Marine Biotechnology and Pharmacy, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Unsrat. The test concentrations used of 10, 50, 100, 250 and 500 ppm, by first making 1000 ppm mother liquor. Data analysis used probit analysis to determine the toxicity value of LC50. The results obtained showed that the increase in concentration was followed by an increase in the number of mortality of the test animals where Padina sp 65%. The results of probit analysis obtained LC50 Padina sp 12.45 mg/l. Based on these data, bioactive compounds from Padina are more toxic, so it can be concluded that the content of bioactive compounds from Padina sp has the potential to be developed as raw materials for anticancer drugs. Keywords: Anticancer, Padina, Lethtality Test ABSTRAK Alga Coklat Padina sp merupakan biota laut yang memiliki metabolit sekunder yang bermanfaat dalam bidang farmasi terutama bahan baku obat anti kanker. Senyawa bioaktif yang diduga memiliki aktivitas anti kanker terlebih dahulu dilakukan pengujian aktivitas dengan cara uji toksisitas. Metode Brine Shrimp Lethality Test. Tujuan penelitian ini yaitu uji aktivitas antikanker dari ekstrak Padina sp terhadap larva udang Artemia salina L dengan menggunakan metode Metode Brine Shrimp Lethality Test. Sampel alga di ambil di Perairan Desa Makupa. Uji aktivitas dilakukan di Laboratorium Bioteknologi dan Farmasetika Laut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat. Konsentrasi uji menggunakan 10, 50, 100, 250 dan 500, ppm, dengan terlebih dahulu membuat larutan induk 1000 ppm. Analisis data menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai toksisitas LC50. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa kenaikan konsentrasi diikuti dengan kenaikan jumlah mortalitas hewan uji dimana Padina sp 65%. Hasil analisis probit diperoleh nilai Lethal consentrasi adalah 12.45 mg/l. Berdasarkan data tersebut senyawa bioaktif dari Padina lebih toksik dibandingkan dengan Halimeda sp, sehingga dapat disimpulkan kandungan senyawa bioaktif dari Padina sp berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat antikanker. Kata kunci: Antikanker, Padina, Lethality Test
KARAKTERISTIK DAN KEPADATAN MIKROPLASTIK PADA SEDIMEN PANTAI LIANG PULAU BUNAKEN Gabriel Suripatty; Natalie D.C. Rumampuk; Inneke F.M. Rumengan; Remy E.P. Mangindaan; Nickson J. Kawung; Kurniati Kemer
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 11 No. 3 (2023): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.11.3.2023.53377

Abstract

Mikroplastik merupakan partikel berukuran <5 mm yang berasal dari hasil degradasi limbah plastik. Berdasarkan sumbernya, mikroplastik dibagi menjadi 2 yaitu mikroplastik primer yang sudah berbentuk mikro dari awal pembuatanannya dan mikroplastik sekunder yang merupakan hasil degradasi sampah plastik yang lebih besar. Menurut bentuknya, karakteristik mikroplastik dibedakan menjadi 6 kategori yang meliputi fiber, fragmen, film, busa, granula dan pellet. Keberadaan mikroplastik di suatu lingkungan memiliki dampak yang negatif bagi organisme maupun ekosistem dimana mikroplastik itu berada. Pulau Bunaken merupakan salah satu pulau yang berada di Sulawesi Utara dan termasuk ke-dalam salah satu gugus pulau Taman Nasional Bunaken. Pulau Bunaken dikenal dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi serta potensi wisata bahari yang besar. Tingginya tingkat aktivitas manusia yang terjadi di Pulau Bunaken diduga memberikan kontribusi terhadap buangan limbah plastik di perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik mikroplastik yang diambil dari sampel sedimen di daerah intertidal Pantai Liang Pulau Bunaken serta mengkuantifikasi kepadatannya. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diketahui bahwa Pantai Liang Pulau Bunaken telah terkontaminasi oleh mikroplastik dengan karakterstik mikroplastik berdasarkan bentuknya meliputi fiber, fragmen, film dan busa. Karakteristik warna mikroplastik yang ditemukan meliputi warna biru, merah, putih dan hijau serta kepadatan mikroplastik di pantai tersebut berjumlah 30 Partikel/kg sedimen kering.
UJI TOKSISITAS SOFTCORAL Lobophytum Sp. TERHADAP UDANG Artemia salina, L MENGGUNAKAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY Nickson J. Kawung; Rizald M. Rompas; Billy T. Wagey; Adolfina Sumangando; Hindang Kaempe; Sonny Untu; Royke R. Palandi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 2 (2022): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.2.2022.54984

Abstract

Marine biota resources as a potential asset that can be used into various products including pharmaceutical products because they were a natural ingredient that very rich in biologically active compounds with a unique structure. Softcoral Lobophytum is one of the marine biota that has the secondary metabolites which can be useful in pharmacology field. The purpose of this study is to test the toxicity of the soft coral extract of Lobophytum sp as an anti-cancer biopotential. This research is using the Brine Shrime Lethality Test (BSLT) method, with laboratory experiments. Solfcoral samples were taken from Bunaken Island that using purposive sampling method. The test concentrations using 10, 100, 500 and 1000 ppm. The analysis toxicity using probit analysis for minitab program. The results showed that the increasing of concentration was followed by the increasing of the mortality number of the animal testing. The results of probit analysis obtained an LC50 value of 9.98 ppm. These results indicate that the bioactive substance of softcoral Lobophytum sp has the potential as an anti-cancer compound. Keywords: Soft coral, Lobophytum sp, anti cancer, Artemia salina ABSTRAK Sumber daya biota laut merupakan aset potensial yang dapat digunakan menjadi aneka produk termasuk di antaranya produk farmasi karena merupakan bahan alam yang sangat kaya senyawa aktif biologi dengan struktur yang unik. Softcoral Lobophytum salah satu biota laut yang memiliki metabloit sekunder yang dapat bermanfaat dalam bidang farmakologi. Tujuan dari penelitian ini bertujuan untuk menguji toksisitas ekstrak karang lunak Lobophytun sp sebegai biopotensi antikanker. Metode penelitiaan digunakan yaitu metode Brine Shrime Lethality Tes (BSLT), dengan percobaan laboratorium. Sampel solfcoral diambil dari pulau Bunaken, pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Konsentrasi uji menggunakan 10, 100, 500 dan 1000 ppm. Analisis Toksisitas menggunakan analisis probit dengan menggunakan program minitab. Hasil yang diperoleh menunjukan setiap bahwa setiap kenaikan konsentrasi diikuti dengan kenaikan jumlah mortalitas hewan uji. Hasil analisis probit diperoleh nilai LC50 9.98 mg/l. Hasil ini menunjukan bahwa susbtans bioaktif darri softcoral Lobophytum sp berpotensi sebagai senyawa antikanker. Kata kunci. Karang lunak, Lobophytum sp, anti kanker, Artemia salina
STATUS DAN KONDISI PADANG LAMUN DI PERAIRAN PULAU PANIKI DESA KULU KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Arsida N.A. Kamaludin; Billy Th. Wagey; Calvyn F.A. Sondak; Esther D. Angkouw; Nickson J. Kawung; Khristin I.F. Kondoy
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.3.2022.55014

Abstract

Seagrass beds are a very important coastal aquatic ecosystem because they provide great benefits both ecologically in their environment and economically for human life. This study aims to determine the species of seagrass and find out the condition of seagrass beds in the waters of Paniki Island. The method used in this study is the quadratic transect method (perpendicular to the coastline) which is modified from the COREMAP-CTI Seagrass Field Monitoring. The results of the study found 5 species of seagrasses that were identified, namely Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia and Halophila ovalis. Thalassia hemprichii has the highest average seagrass closure per species of 23.70% and the lowest average seagrass closure per species which is Halophila ovalis 0.91%. The condition of seagrass beds in the waters of Paniki Island is classified as a category of less rich / unhealthy conditions with a seagrass closing value of 56.24% and is included in the category of dense seagrass cover with a closing value of 51-75%. Keyword: Seagrass Conditions, Cover, Seagrass bed, Paniki Island ABSTRAK Padang lamun merupakan suatu ekosistem perairan wilayah pesisir yang sangat penting karena memberikan manfaat besar baik secara ekologi di lingkungannya dan secara ekonomis bagi kehidupan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis lamun dan mengetahui kondisi padang lamun di Perairan Pulau Paniki. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode transek kuadrat (tegak lurus garis pantai) yang dimodifikasi dari Monitoring Padang Lamun COREMAP-CTI. Hasil penelitian ditemukan 5 jenis lamun yang teridentifikasi yaitu Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Halodule pinifolia dan Halophila ovalis. Thalassia hemprichii memiliki rata-rata penutupan lamun per jenis tertinggi yaitu 23,70% dan rata-rata penutupan lamun per jenis terendah yaitu Halophila ovalis 0,91%. Kondisi padang lamun yang terdapat di perairan Pulau Paniki tergolong dalam kategori kondisi kurang kaya/kurang sehat dengan nilai penutupan lamun 56,24% dan termasuk dalam kategori tutupan lamun yang padat dengan nilai penutupan 51-75%. Kata Kunci : Kondisi lamun, Penutupan, Padang lamun, Pulau Paniki
UJI POTENSI ANTI KANKER DARI EKSTRAK ALGA HIJAU Halimeda sp DAN ALGA COKLAT Padina sp DENGAN METODE BRIME SHRIMP LETHALITY TEST TERHADAP LARVA UDANG Artemia salina leach Nickson J. Kawung; Rizald M. Rompas; Natalie D. Rumampuk; Adolfina Sumangando; Nerni O. Potalangi
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 10 No. 3 (2022): JURNAL PESISiR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.10.3.2022.55021

Abstract

Green Algae Halimeda sp. Brown algae Padina sp. are two types of marine biota that contain secondary metabolites and are beneficial in the health sector such as anticancer. Bioactive compounds suspected of having anti-cancer activity were tested for activity by means of a toxicity test. The purpose of this study is to test the biotoxicity of Green Algae Halimeda sp and Brown Algae Padina sp to shrimp larvae (Artemia salina Leach). Knowing the toxicity value (LC50) of Green Halimeda sp and Brown algae Padina sp. The research method used is the Brime Shrimp Lethality Test method. Algae samples were taken in the waters of this study Makupa Village. The activity test was carried out in the laboratory of the Biotechnology and Marine Farmasetical, Faculty of Fisheries and Marine Science Sam Ratulangi University. Probit and regression analysis taken to analyte the data. The results of the probit analysis on the biotoxicity of bioactive compounds from Halimeda sp had an LC50 value of 67.87 mg/l and Padina sp 12.49 mg/l. These data indicate that the bioactive compounds from Padina sp are more toxic than Halimeda sp. Bioactive compounds from Padina sp algae can be developed as anticancer raw materials. Keywords: anticancer, Halimeda, Padina, Artemia salina Leach, bioactive compound ABSTRAK Alga Hijau Halimeda sp dan Alga Coklat Padina sp merupakan biota laut yang memiliki metabolit sekunder yang bermanfaat dalam bidang farmasi terutama bahan baku obat anti kanker. Senyawa bioaktif yang diduga memiliki aktivitas anti kanker terlebih dahulu dilakukan pengujian aktivitas dengan cara uji toksisitas. Metode Brine Shrimp Lethality Test. Tujuan penelitian ini yaitu uji aktivitas anti kanker dari ekstrak kasar Halimeda sp dan Padina sp terhadap larva udang Artemia salina L dengan menggunakan metode Metode Brine Shrimp Lethality Test. Sampel alga di ambil di Perairan Desa Makupa. Uji aktivitas dilakukan di Laboratorium Bioteknologi dan Farmasetika Laut Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat. Konsentrasi uji menggunakan 10, 50, 100, 250 dan 500, ppm, dengan terlebih dahulu membuat larutan induk 1000 ppm. Analisis data menggunakan analisis probit untuk menentukan nilai toksisitas LC50. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa kenaikan konsentrasi diikuti dengan kenaikan jumlah mortalitas hewan uji dimana Halimeda sp 56% dan Padina sp 65%. Hasil analisis probit diperoleh nilai LC50 67,87 mg/l untuk Halimeda sp dan Padina sp 12.45 mg/l. Berdasarkan data tersebut senyawa bioaktif dari Padina lebih toksik dibandingkan dengan Halimeda sp, sehingga dapat disimpulkan kandungan senyawa bioaktif dari Padina sp berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku obat anti kanker. Kata kunci: anti kanker, Halimeda, Padina, Artemia salina Leach, senyawa bioaktif
Study on The Determination of Chitosan Functional Groups of Sotong (Sepia sp ) Bone Extract Tasya D.P. Br Sihotang; Inneke F.M. Rumengan; Stenly Wullur; Darus S.J. Paransa; Nickson J. Kawung; James J.H. Paulus
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 2 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.2.2025.63121

Abstract

Chitosan of cuttlefish (Sepia sp). from North Sulawesi waters has never been reported yet. This study aims to (1) modify cuttlefish bone chitin into chitosan; (2) determine the yield of chitosan of cuttlefish bone raw materials; (3) determine the functional groups of chitosan obtained from cuttlefish bone using the FTIR analysis method. Samples of cuttlefish bone were collected from several locations, dried, and grinded. The steps of extraction of chitin consisted of demineralization with 1.5M HCl for 72 hours, neutralization with distilled water, deproteination with 3.5% NaOH solvent and heating at 600C for 4 hours, and then neutralization again and drying. Modification chitin to chitosan was conducted by deacetylation with 60% NaOH at 1100C for 4 hours. The results showed that the yield of chitosan was about 3.8%. The chitosan was then subjected to FTIR, and the results indicated that functional groups of the chitosan molecule, namely the -NH, -CH, CC-, -OH and -C=O groups, are in the wavelength range corresponding to the wavelength range of the standard chitosan molecule, with slight variations, especially in the -NH group. It can be concluded that the cuttlefish bone chitosan meets the criteria for functional groups of standard chitosan. Keywords: chitosan, cuttlefish bone, FTIR, deacetylation Abstrak Kitosan dari tulang sotong (Sepia sp). asal perairan Sulawesi Utara belum pernah dilaporkan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memodifikasi kitin tulang sotong menjadi kitosan; (2) mengetahui rendemen kitosan dari bahan baku tulang sotong; (3) mendeterminasi gugus fungsi kitosan dengan metode analisis FTIR. Sampel tulang sotong dikoleksi dari beberapa lokasi, dikeringkan dan digerus. Tahap-tahal ekstraksi kitin terdiri dari demineralisasi dengan HCl 1,5M selama 72 jam, netralisasi dengan akuades, deproteinasi dengan NaOH 3,5% dan pemanasan pada suhu 600C selama 4 jam, kemudian netralisasi dan pengeringan. Moodifikasi kitin menjadi kitosan dilakukan dengan deasetilasi dengan NaOH 60% dan dipanaskan pada suhu 1100C selama 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen kitosan yang dihasilkan sekitar 3,8%. Kitosan yang diperoleh kemudian dilakukan pengujian FTIR, ternyata hasilnya menunjukkan bahwa gugus fungsi molekul kitosan, yaitu gugus -NH, -CH, CC-, -OH dan -C=O, berada pada rentang panjang gelombang yang sesuai dengan rentang panjang gelombang molekul kitosan standar, dengan sedikit variasi terutama pada gugus -NH. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kitosan tulang sotong yang diteliti memenuhi kriteria gugus fungsi kitosan standar. Kata kunci: kitosan, tulang sotong, FTIR, deasetilasi
Phytochemical Screening of Indigofera zollingeriana Leaf Extract as Candidate Functional Ingredient in Fish Feed Lidiawati; Darus Sa’adah J. Paransa; Deiske Adeliene Sumilat; Diane Joula Kusen; Nickson J. Kawung; Juliet Merry Eva Mamahit
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64774

Abstract

This study aimed to identify the secondary metabolites in Indigofera zollengeriana leaves through phytochemical screening. The results revealed that the leaf extract contained alkaloids (+++), flavonoids (+), tannins (+), phenolics (+), and saponins (+), while steroids and triterpenoids were not detected. These phytochemical compounds possess various biological activities, including antibacterial, antioxidant, immunostimulant, and feed efficiency-enhancing properties. In aquaculture, alkaloids act as antimicrobial agents, flavonoids and phenolics reduce oxidative stress by controlling Reactive Oxygen Species (ROS), tannins support digestive health, and saponins improve nutrient absorption and pathogen control. The absence of steroids and triterpenoids adds to the safety profile, minimizing the risk of hormonal disruption and toxicity in fish. Therefore, this study highlights the potential of Indigofera leaves as a source of functional feed additives in sustainable aquaculture to enhance fish growth and health. Keywords: Indigofera zollengeriana, phytochemicals, secondary metabolites, aquaculture   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan metabolit sekunder pada daun Indigofera zollengeriana melalui uji skrinning fitokimia. Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak daun Indigofera mengandung alkaloid (+++), flavonoid (+), tanin (+), fenolik (+), dan saponin (+), sedangkan senyawa steroid dan triterpenoid tidak terdeteksi. Kandungan fitokimia tersebut diketahui memiliki berbagai aktivitas biologis, antara lain antibakteri, antioksidan, imunostimulan, serta peningkat efisiensi pakan. Dalam konteks budidaya perikanan, alkaloid berfungsi sebagai agen antimikroba, flavonoid dan fenolik berperan dalam menekan stres oksidatif dengan mengendalikan produksi Reactive Oxygen Species (ROS), tanin mendukung kesehatan pencernaan, sementara saponin dapat meningkatkan absorpsi nutrien dan pengendalian patogen. Ketiadaan steroid dan triterpenoid menjadi nilai tambah karena mengurangi risiko efek hormonal dan toksisitas pada ikan. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan potensi daun Indigofera sebagai sumber bahan pakan fungsional dalam akuakultur berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan ikan. Kata kunci: Indigofera zollengeriana, fitokimia, metabolit sekunder, budidaya
Microplastic Identification and Density In Coastal Sediments of Manado Bay Angelyca P. Novadah Novadah; , Natalie D.C. Rumampuk; Nickson J. Kawung; Royke M. Rampengan; James J. H. Paulus; Darus S. J. Paransa
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 13 No. 3 (2025): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.13.3.2025.64777

Abstract

  Most plastics originating from anthropogenic activities generate plastic waste in aquatic environments, which is difficult to degrade even when floating on the surface, suspended in the water column, or deposited in sediment. The increasing volume of plastic waste in marine waters requires global attention to develop rapid and effective solutions for managing plastic pollution. Microplastics are small plastic particles measuring less than 5 mm, and due to their small size, they are difficult to detect. Microplastics are categorized into two types: secondary microplastics and primary microplastics. This study aims to identify the types and quantify the density of microplastics based on their types and colors. Sediment samples were collected at two stations: station 1, located at the Tondano River estuary, and station 2, located on the coast of Mandolang Beach. The characteristics and density of microplastics were determined through sampling using a 50 meter transect line. The identification of shapes and colors and the counting of microplastics were conducted using a microscope. The results of this study show that Manado Bay is accumulated with microplastics characterized by three types fragments, fibers, and films and exhibiting colors such as black, blue, red, green, and white. The average microplastic density at station 1 was 73.33 particles/kg, and at station 2 was 44.67 particles/kg, indicating the average number of microplastics found in each kilogram of sediment sample from both stations. This finding indicates that the coastal area of Manado Bay has a considerable accumulation of microplastics. Keywords: microplastic, sediment, density, coast of Manado Bay, types of microplastic   Abstrak Sebagian besar plastik dari aktivitas antropogenik menghasilkan sampah plastik di lingkungan perairan, yang sulit terurai meskipun berada di permukaan, tersuspensi di kolom air, maupun mengendap di sedimen. Bertambahnya volume sampah plastik di perairan laut memerlukan perhatian global untuk mendapatkan solusi cepat dan efektif untuk penanganan pencemaran sampah plastik. Mikroplastik merupakan partikel plastik kecil yang berukuran <5 mm, dengan ukuran yang kecil mikroplastik sulit dideteksi. Mikroplastik terbagi menjadi dua yaitu mikroplastik sekunder dan mikroplastik primer. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan menghitung kepadatan mikroplastik, dengan mengidentifikasi berdasarkan jenis dan warna. Sampel sedimen diambil di 2 stasiun, stasiun 1 terletak di muara Sungai Tondano, stasiun 2 terletak di pesisir Pantai Mandolang. Karakteristik dan kepadatan mikroplastik ditentukan melalui pengambilan sampel yang dilakukan dengan metode garis transek sepanjang 50 meter. Identifikasi bentuk dan warna serta perhitungan jumlah mikroplastik dilakukan menggunakan mikroskop. Berdasarkan hasil dari penelitian ini diketahui Teluk Manado terakumulasi mikroplastik dengan karakteristik berdasarkan jenis berupa fragmen, fiber, dan film serta mikroplastik yang ditemukan memiliki warna hitam, biru, merah, hijau, dan putih. Kepadatan mikroplastik rata-rata pada Stasiun 1 sebesar 73,33 partikel/kg dan pada Stasiun 2 sebesar 44,67 partikel/kg, yang menunjukkan jumlah rata-rata mikroplastik dalam setiap 1 kilogram sampel sedimen di masing-masing stasiun. Temuan ini menunjukkan bahwa kawasan pesisir Teluk Manado terdapat akumulasi mikroplastik yang cukup signifikan. Kata kunci: mikroplastik, sedimen, kepadatan, pesisir Teluk Manado, jenis mikroplastik