Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Daun Alpukat (Persea americana Mill.) Sebagai Terapi Pengobatan Luka Bakar Terhadap Kelinci New Zeland White Aprilia Rika Alvita; Tatiana Siska Wardani; Tiara Ajeng Listyani
Jurnal Medika Nusantara Vol. 1 No. 4 (2023): November : Jurnal Medika Nusantara,
Publisher : Stikes Kesdam IV/Diponegoro Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59680/medika.v1i4.628

Abstract

Researched on burn wounds healing activity of extract of avocado leaft (Persea americana Mill.) in gel preparation forms were tested on rabbits New Zeland White. This study aimed to determine variations effect of concentration in gel extract of avocado leaft for the treatment of burn wounds in rabbits which had been wounded using hot metal. In this study, avocado leaft extract was obtained through maceration method and formulated into gel preparations with concentration of 1%, 2% and 5%. Gel base was used as a negativ control, namely carbomer 940 and Bioplacenton® gel was used as a positive control, applied to burns on the back of New Zeland White rabbits with a diameter of 1,5 cm. The avocado leaft extract gel activity test was carried out on 3 rabbit, each formulation was replicated 3 times and wound diameter measurements were taken on each day. Data on the percentage of burn wound healing was statistically analyzed using One Way ANOVA method. The result of the data analysis at a concentration of 5% obtained a sig value <0,05. Based on One Way ANOVA analysis of the five treatments, the most effective was avocado leaft extract gel with a concentration of 5%.
EFEKTIVITAS ANTIBIOTIK PASIEN DEMAM TIFOID RAWAT INAP DI RSAU dr. SISWANTO LANUD ADI SOEMARMO TAHUN 2022 Galuh Puspita Sari; Kusumaningtyas Siwi Artini; Tatiana Siska Wardani
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 12, No 3 (2023): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v12i3.5379

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistem pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas penggunaan antibiotik pada pasien demam tifoid rawat inap di RSAU dr. Siswanto Lanud Adi Soemarmo pada tahun 2022. Penelitian menggunakan metode retrospektif dengan sampel sebanyak 52 pasien. Jenis antibiotik yang digunakan kombinasi antibiotik tiamfenikol dan inj seftriakson, tiamfenikol dan inj sefotaksim, sefiksim dan inj seftriakson, sefiksim dan inj sefotaksim, sefiksim dan inj sefoperazon. Efektivitas terapi dinilai dari besarnya penurunan suhu dan lama rawat inap. Pasien demam tifoid rawat inap didominasi pasien perempuan sebanyak 27 (51,9%). Sebagian besar pasien berusia 18-45 tahun 40 pasien (76,9%). Karakteristik klinis berdasarkan kadar leukosit didominasi pasien leukosit normal 42 pasien (80,8%), sedangkan  karakteristik klinis berdasarkan tes uji widal 52 pasien  positif (100%). Hasil penelitian menunjukkan antibiotik yang paling banyak digunakan kombinasi tiamfenikol dan inj seftriakson 33 pasien (63,5%). Lama rawat inap paling singkat pada pasien dengan terapi kombinasi sefiksim dan inj seftriakson (2,15 hari), diuji menggunakan One-way Anova (p=0,0240,05). Penurunan suhu yang paling besar dicapai pasien dengan terapi tiamfenikol dan inj seftriakson (2,24oC), diuji dengan Kruskal-Wallis (p=0,068 0,05).  Kata kunci -- Demam tifoid, Efektivitas antibiotik, Kombinasi antibiotik
PENETAPAN KADAR FLAVONOID TOTAL DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL DAUN KENIKIR (Cosmos caudatus K.) MENGGUNAKAN METODE ABTS Putri Martani Nur Afifah; Bangkit Riska Permata; Tatiana Siska Wardani
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 12, No 3 (2023): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v12i3.5584

Abstract

Tanaman Kenikir (Cosmos caudatus K.) adalah salah satu sayuran yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Terdapat beberapa spesies kenikir yang tumbuh liar dan ditanam sebagai tanaman hias namun pemanfaatan lebih lanjut sebagai sayuran belum banyak dikenal. Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antioksidan salah satunya adalah Kenikir (Cosmos caudatus K.).Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimental dimana penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan yang diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Penetapan kadar flavonoid menggunakan metode kolorimetri dengan kontrol positif yaitu kuersetin. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kenikir (Cosmos caudatus K.) mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, terpenoid. Kadar flavonoid total ekstrak etanol daun kenikir (Cosmos caudatus K) adalah sebesar 12,197 mg QE/g dan nilai IC50 ekstrak etanol daun kenikir sebesar 21,704 μg/mL dengan kategori antioksidan yang sangat kuat.Kata Kunci : ABTS, Antioksidan, Flavonoid, Kenikir (Cosmos caudatus K.) 
Formulasi dan Uji Fisik Sediaan Face Toner Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah (Piper crocotum) Terhadap Propionibacterium acnes ATCC 6919 Musniati Musniati; Tatiana Siska Wardani; Danang Raharjo
Syntax Idea 6313-6326
Publisher : Ridwan Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/syntax-idea.v6i10.8039

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan dan menguji fisik sediaan face toner yang mengandung ekstrak etanol daun sirih merah (Piper crocatum), serta mengevaluasi efektivitasnya terhadap bakteri Propionibacterium acnes ATCC 6919, yang merupakan salah satu penyebab utama jerawat. Ekstrak etanol daun sirih merah diperoleh melalui proses maserasi, dan berbagai konsentrasi ekstrak pada konsentrasi 10% 15% dan 20% tersebut diformulasikan ke dalam sediaan face toner. Pengujian fisik sediaan meliputi pemeriksaan viskositas, pH, dan stabilitas selama penyimpanan. Selain itu, uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi cakram untuk menilai potensi penghambatan terhadap Propionibacterium acnes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua formulasi face toner memiliki karakteristik fisik yang sesuai dengan standar sediaan kosmetik, dengan pH yang berada pada rentang aman untuk kulit. Aktivitas antibakteri tertinggi dicapai pada sediaan dengan konsentrasi ekstrak tertinggi, yang menunjukkan zona hambat yang signifikan terhadap pertumbuhan Propionibacterium acnes. konsentrasi 10% dengan daya hambat 8,7 mm katagori sedang konsentrasi 15% dengan daya hambat 10,1 mm katagori kuat, dan konsentrasi 20% dengan daya hambat 14,3 mm katagori kuat. Kesimpulannya, ekstrak etanol daun sirih merah dapat diformulasikan dengan baik ke dalam sediaan face toner, dan menunjukkan potensi sebagai agen antibakteri yang efektif terhadap Propionibacterium acnes, sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan aktif dalam produk perawatan kulit untuk pencegahan dan pengobatan jerawat
Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Heksan, Etil Asetat, dan Air Ekstrak Daun Jambu Air (Syzygium aqueum) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis ATCC 12238 Adhe Wibawa Mahardika Putra; Tatiana Siska Wardani; Anna Fitriawati
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 3 No. 4 (2025): Oktober : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v3i4.866

Abstract

This study aimed to evaluate the antibacterial activity of water apple (Syzygium aqueum) leaf extract against Staphylococcus epidermidis. The leaves were collected from Pranan Village, Sukoharjo District. After proper botanical identification (determination) at B2P2TOOT Karanganyar, the leaves were dried, ground into simplicia powder, and extracted using 70% ethanol through maceration. The ethanol extract was then fractionated based on solvent polarity using n-hexane (nonpolar), ethyl acetate (semipolar), and water (polar). Antibacterial testing was conducted using various concentrations (25%, 12.5%, 6.25%, 3.125%, and 1.565%), with clindamycin as a positive control and DMSO as a negative control. The study assessed antibacterial effectiveness through inhibition zone measurements, Minimum Inhibitory Concentration (MIC), and Minimum Bactericidal Concentration (MBC). Results demonstrated that both the ethanol extract and ethyl acetate fraction exhibited antibacterial activity against Staphylococcus epidermidis. The 25% concentration of the ethyl acetate fraction produced the largest inhibition zone (27.57 mm), followed by the ethanol extract (21.53 mm). Both the ethanol extract and the most active fraction showed MIC values of 1.565%, with the MBC of the ethyl acetate fraction also at 1.565%. These findings suggest that water apple leaves possess promising antibacterial properties, especially in the ethyl acetate fraction, against Staphylococcus epidermidis.leaves (Syzygium aqueum) against the growth of Staphylococcus epidermidis ATCC 12238.
Analisis Docking Molekuler Senyawa Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Enzim Cyclooxygenase-2 (COX-2) Beserta Prediksi ADME dan Toksisitas Sebagai Obat Antiinflamasi Rezky Ardika Pamungkas; Tiara Ajeng Listyani; Tatiana Siska Wardani
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25067

Abstract

Inflamasi kronis merupakan kondisi patologis yang memengaruhi jutaan individu secara global dan menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Prevalensi penyakit inflamasi, seperti osteoarthritis, dilaporkan cukup tinggi, khususnya di Provinsi Jawa Tengah dengan angka mencapai 6,78%. Terapi farmakologis yang umum digunakan untuk mengatasi inflamasi adalah obat golongan Non Steroid Anti-Inflammation Drugs (NSAID), seperti celecoxib. Meskipun efektif, penggunaan NSAID jangka panjang diketahui berisiko menimbulkan efek samping kardiovaskular dan gastrointestinal, sehingga diperlukan alternatif terapi yang lebih aman. Daun kelor (Moringa oleifera) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, terutama flavonoid dan fenolat, yang berpotensi sebagai inhibitor selektif cyclooxygenase-2 (COX-2). menganalisis interaksi senyawa aktif daun kelor terhadap protein COX-2 secara in silico, memprediksi profil farmakokinetik ADME, mengevaluasi toksisitas, serta mengidentifikasi senyawa paling potensial sebagai kandidat antiinflamasi. Penelitian menggunakan desain eksperimental berbasis komputer terhadap 30 senyawa daun kelor dengan celecoxib sebagai kontrol positif dan parasetamol sebagai kontrol negatif. Proses penelitian meliputi preparasi struktur senyawa dan protein, simulasi docking molekuler, serta analisis visualisasi ikatan menggunakan perangkat lunak ChemDraw, VegaZZ, PyRx, PyMOL, SwissADME, dan Toxtree. Penelitian menunjukkan bahwa senyawa sinapic acid memiliki afinitas ikatan terbaik dengan nilai energi bebas ikatan (ΔG) sebesar −6,7 kkal/mol dan nilai RMSD 1,168 Å. Senyawa ini membentuk interaksi dengan residu asam amino penting yang serupa dengan ligan natif valdecoxib dan celecoxib. Selain itu, sinapic acid memenuhi kriteria Lipinski’s Rule of Five, menunjukkan profil ADME yang baik, serta tergolong dalam kategori toksisitas rendah (Class I) berdasarkan Cramer rules. daun kelor (Moringa oleifera), khususnya senyawa sinapic acid, berpotensi sebagai kandidat inhibitor COX-2 antiinflamasi dan layak untuk diteliti lebih lanjut melalui uji in vivo.Kata kunci: Antiinflamasi, COX-2, Daun kelor,  Docking molekuler.
Uji In Silico Senyawa Andrographis paniculata terhadap Mutasi EGFR G719S penyebab Resistensi pada Terapi Non-Small Cell Lung Cancer Erick Ferdian; Tiara Ajeng Listyani; Tatiana Siska Wardani
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25135

Abstract

Penelitian ini didorong oleh permasalahan resistensi terapi pada Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) akibat mutasi EGFR G719S dan kebutuhan akan alternatif inhibitor EGFR berbasis bahan alam untuk mengurangi efek samping dari inhibitor sintetik. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi potensi senyawa aktif dari Andrographis paniculata sebagai inhibitor EGFR pada NSCLC dengan mutasi G719S secara in silico. Metode yang digunakan meliputi molecular docking menggunakan PyRx–AutoDock Vina, visualisasi interaksi molekul dengan PyMOL dan BIOVIA Discovery Studio, prediksi ADME melalui SwissADME, serta analisis toksisitas menggunakan ToxTree. Validasi metode docking dilakukan dengan acuan nilai RMSD 2 Å. Hasil docking menunjukkan bahwa beberapa senyawa dari Andrographis paniculata memiliki afinitas yang signifikan terhadap reseptor EGFR. Senyawa (E)-4-hydroxy-4-(3-hydroxybut-1-en-1-yl)-3,5,5-trimethylcyclohex-2-en-1-one memberikan hasil terbaik dengan nilai RMSD 1,855 Å dan energi bebas ikatan −5,4 kcal/mol, serta membentuk interaksi residu asam amino yang serupa dengan ligan natif gefitinib. Prediksi ADME senyawa ini memenuhi kriteria aturan Lipinski (Rule of Five), dan uji toksisitas menunjukkan tingkat rendah (Class I). Dengan demikian, senyawa dari Andrographis paniculata berpotensi dikembangkan sebagai kandidat inhibitor EGFR untuk NSCLC dengan mutasi G719S, meskipun validasi tambahan melalui uji in vitro dan in vivo tetap diperlukan.Kata kunci: Andrographis paniculate, EGFR G719S, Gefitinib, Non-Small Cell Lung Cancer
Uji In Silico Senyawa Andrographis paniculata terhadap Mutasi EGFR G719S penyebab Resistensi pada Terapi Non-Small Cell Lung Cancer Erick Ferdian; Tiara Ajeng Listyani; Tatiana Siska Wardani
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25135

Abstract

Penelitian ini didorong oleh permasalahan resistensi terapi pada Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC) akibat mutasi EGFR G719S dan kebutuhan akan alternatif inhibitor EGFR berbasis bahan alam untuk mengurangi efek samping dari inhibitor sintetik. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi potensi senyawa aktif dari Andrographis paniculata sebagai inhibitor EGFR pada NSCLC dengan mutasi G719S secara in silico. Metode yang digunakan meliputi molecular docking menggunakan PyRx–AutoDock Vina, visualisasi interaksi molekul dengan PyMOL dan BIOVIA Discovery Studio, prediksi ADME melalui SwissADME, serta analisis toksisitas menggunakan ToxTree. Validasi metode docking dilakukan dengan acuan nilai RMSD 2 Å. Hasil docking menunjukkan bahwa beberapa senyawa dari Andrographis paniculata memiliki afinitas yang signifikan terhadap reseptor EGFR. Senyawa (E)-4-hydroxy-4-(3-hydroxybut-1-en-1-yl)-3,5,5-trimethylcyclohex-2-en-1-one memberikan hasil terbaik dengan nilai RMSD 1,855 Å dan energi bebas ikatan −5,4 kcal/mol, serta membentuk interaksi residu asam amino yang serupa dengan ligan natif gefitinib. Prediksi ADME senyawa ini memenuhi kriteria aturan Lipinski (Rule of Five), dan uji toksisitas menunjukkan tingkat rendah (Class I). Dengan demikian, senyawa dari Andrographis paniculata berpotensi dikembangkan sebagai kandidat inhibitor EGFR untuk NSCLC dengan mutasi G719S, meskipun validasi tambahan melalui uji in vitro dan in vivo tetap diperlukan.Kata kunci: Andrographis paniculate, EGFR G719S, Gefitinib, Non-Small Cell Lung Cancer
Analisis Docking Molekuler Senyawa Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Enzim Cyclooxygenase-2 (COX-2) Beserta Prediksi ADME dan Toksisitas Sebagai Obat Antiinflamasi Rezky Ardika Pamungkas; Tiara Ajeng Listyani; Tatiana Siska Wardani
Jurnal Analis Farmasi Vol 11, No 1 (2026): JURNAL ANALIS FARMASI
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jaf.v11i1.25067

Abstract

Inflamasi kronis merupakan kondisi patologis yang memengaruhi jutaan individu secara global dan menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia. Prevalensi penyakit inflamasi, seperti osteoarthritis, dilaporkan cukup tinggi, khususnya di Provinsi Jawa Tengah dengan angka mencapai 6,78%. Terapi farmakologis yang umum digunakan untuk mengatasi inflamasi adalah obat golongan Non Steroid Anti-Inflammation Drugs (NSAID), seperti celecoxib. Meskipun efektif, penggunaan NSAID jangka panjang diketahui berisiko menimbulkan efek samping kardiovaskular dan gastrointestinal, sehingga diperlukan alternatif terapi yang lebih aman. Daun kelor (Moringa oleifera) diketahui mengandung berbagai senyawa bioaktif, terutama flavonoid dan fenolat, yang berpotensi sebagai inhibitor selektif cyclooxygenase-2 (COX-2). menganalisis interaksi senyawa aktif daun kelor terhadap protein COX-2 secara in silico, memprediksi profil farmakokinetik ADME, mengevaluasi toksisitas, serta mengidentifikasi senyawa paling potensial sebagai kandidat antiinflamasi. Penelitian menggunakan desain eksperimental berbasis komputer terhadap 30 senyawa daun kelor dengan celecoxib sebagai kontrol positif dan parasetamol sebagai kontrol negatif. Proses penelitian meliputi preparasi struktur senyawa dan protein, simulasi docking molekuler, serta analisis visualisasi ikatan menggunakan perangkat lunak ChemDraw, VegaZZ, PyRx, PyMOL, SwissADME, dan Toxtree. Penelitian menunjukkan bahwa senyawa sinapic acid memiliki afinitas ikatan terbaik dengan nilai energi bebas ikatan (ΔG) sebesar −6,7 kkal/mol dan nilai RMSD 1,168 Å. Senyawa ini membentuk interaksi dengan residu asam amino penting yang serupa dengan ligan natif valdecoxib dan celecoxib. Selain itu, sinapic acid memenuhi kriteria Lipinski’s Rule of Five, menunjukkan profil ADME yang baik, serta tergolong dalam kategori toksisitas rendah (Class I) berdasarkan Cramer rules. daun kelor (Moringa oleifera), khususnya senyawa sinapic acid, berpotensi sebagai kandidat inhibitor COX-2 antiinflamasi dan layak untuk diteliti lebih lanjut melalui uji in vivo.Kata kunci: Antiinflamasi, COX-2, Daun kelor,  Docking molekuler.
Determination Of Sun Protection Factor (SPF) Values Of Water, Ethyl Acetate, And N-Hexane Fractions Of Kepok Banana Flowers (Musa acuminata x M. balbisiana) Using The UV-Vis Spectrophotometry Method Evi Eriani; Septian Maulid Wicahyo; Tatiana Siska Wardani
International Journal of Health Engineering and Technology Vol. 4 No. 6 (2026): IJHET MARCH 2026
Publisher : CV. AFDIFAL MAJU BERKAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55227/ijhet.v4i6.636

Abstract

Indonesia as a tropical country faces high UV exposure which causes premature skin aging and cancer risk, so it is necessary to have natural sunscreen from antioxidant-rich plants such as kepok banana flowers (Musa acuminata x M. balbisiana). This study aims to determine the Sun Protection Factor (SPF) value and protection category of water, ethyl acetate, and n-hexane fractions of kepok banana flowers. This type of research is descriptive experimental with ethanol maceration method, multilevel fractionation, phytochemical screening, TLC, and UV-Vis spectrophotometry (290-320 nm, Mansur formula).The results showed that the different types of solvents in each fraction influenced the resulting SPF value. The ethyl acetate fraction showed the highest protective activity compared to the other fractions. The SPF values ​​of the kepok banana flower water fraction with concentrations of 60 ppm, 80 ppm, 100 ppm, 120 ppm, and 140 ppm were 4.662; 7.757; 9.055; 11.944; 15.264, respectively, with moderate-ultra protection. The ethyl acetate fraction obtained SPF values ​​of 18.433; 18.968; 19.203; 19.672; 20.203 with ultra protection. The n-hexane fraction obtained SPF values ​​of 1.190; 1.762; 2.278; 3.575; 4.598 with the category of no-moderate protection.. Concludedthat kepok banana flowers have potential as a natural sunscreen agent, where the ethyl acetate and water fractions provide the most optimal sun protection effectiveness (SPF) compared to the n-hexane fraction.