Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Uji Kepekaan Kulit Batang Ceremai (Phyllanthus acidus L.) terhadap Pertumbuhan Eschericia coli. Sernita Sernita
BioWallacea : Jurnal Penelitian Biologi (Journal of Biological Research) Vol 3, No 2 (2016): Biodiversity in Wallacea
Publisher : University of Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.332 KB) | DOI: 10.33772/biowallacea.v3i2.3233

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepekaan kulit batang ceremai (phyllanthus acidus L.) dan untuk mengukur diameter zona hambat kulit batang ceremai  terhadap pertumbuhan Escherichia coli ATCC 35218. Sampel dalam penelitian ini adalah kulit batang ceremai yang diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. Pengujian kepekaan menggunakan media NA dengan metode cawan kertas. Biakan bakteri dari media NB dicampur dengan media agar, kemudian cawan kertas diletakkan di atas media agar. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 48 jam. Diukur zona hambat menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit batang ceremai konsentrasi 20% tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Pada konsentrasi 40% rata-rata diameter zona hambat 4,03 mm. Pada konsentrasi 60% rata-rata diameter zona hambat 4,36 mm. Pada konsentrasi 80% rata-rata diameter zona hambat 5,56 mm. Dan pada konsentrasi 100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara optimal dengan rata-rata diameter zona hambat 7,03 mm. Kata Kunci : Escherichia coli, ceremai, Nutrient Agar ABSTRACTThis study aims to determine the sensitivity of the bark ceremai (Phyllanthus acidus L.) and to measure the diameter of inhibition zone ceremai bark on the growth of Escherichia coli ATCC 35218. The sample in this study is the bark ceremai extracted by maceration method using ethanol 96%. Created dilution with a concentration of 20%, 40%, 60%, 80% and 100%. NA sensitivity testing using media with paper plate method. NB bacterial culture media mixed with agar medium, then the paper cup is placed on an agar medium. Incubated at 37 ° C for 48 hours. Inhibition zone was measured using a caliper. The results show that the research is conducted bark ceremai concentration of 20% could not inhibit the growth of bacteria Escherichia coli. At a concentration of 40% average inhibition zone diameter of 4.03 mm. At a concentration of 60% average inhibition zone diameter of 4.36 mm. At a concentration of 80% average inhibition zone diameter of 5.56 mm. And at 100% concentration to inhibit the growth of bacteria Escherichia coli optimally with an average diameter of 7.03 mm zone of inhibition. Keywords : Escherichia coli, ceremai, Nutrient Agar
Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol, Fraksi n-heksana dan Etanol Daun Ceremai (Phyllanthus acidus L.) Skeels) Terhadap Salmonella thypi Sernita Sernita; Irnawati Irnawati; Syamsinar Syamsinar
BioWallacea : Jurnal Penelitian Biologi (Journal of Biological Research) Vol 6, No 1 (2019): Biology and Wallacea
Publisher : University of Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.289 KB) | DOI: 10.33772/biowallacea.v6i1.8743

Abstract

ABSTRAK Penyakit yang sering diobati dengan tanaman herbal adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal adalah daun ceremai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metabolit sekunder dan zona hambat ekstrak etanol, fraksi n-heksana dan etanol daun ceremai (Phyllanthus acidus L.) skeels) terhadap Salmonella thypi. Penyarian daun ceremai dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dilanjutkan fraksinasi dengan pelarut n-heksana dan etanol. Hasil ekstrak dan fraksi daun ceremai kemudian dilakukan uji skrining fitokimia untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam sampel. Metode pengujian aktivitas antibakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sumuran. Berdasarkan hasil penelitian, skrining fitokimia ekstrak etanol dan fraksi etanol mengandung senyawa saponin, tanin, flavonoid dan alkaloid sedangkan fraksi n-heksana mengandung senyawa tanin, flavonoid dan alkaloid. Aktivitas antibakteri metode sumuran ekstrak dan fraksi daun ceremai dengan konsentrasi 15%, 20%, dan 25% memiliki diameter rata-rata zona hambat secara berturut-turut adalah ekstrak etanol yaitu 13,24 mm, 13,74 mm, dan 14,13 mm, Fraksi n-heksan 13,806 mm, 14,32 dan 14,763 mm dan Fraksi etanol 13,096 mm, 13,416 mm, dan 13,486 mm. Hasil identifikasi aktivitas antibakteri ekstrak etanol, fraksi n-heksana dan fraksi etanol menunjukkan fraksi n-heksana memiliki zona hambat yang paling tinggi walaupun masih tergolong dalam zona hambat kategori lemah. Kata Kunci: Daun Ceremai, Ekstrak Etanol, Fraksi n-Heksana, Fraksi Etanol Salmonella thypi. ABSTRACT Diseases that are often treated with herbal plants are infections caused by bacteria. One plant that can be used as an herbal medicine is ceremai leaves. This study aims to determine secondary metabolites and inhibitory zones of ethanol extract, n-hexane fraction and etanol fraction of ceremai leaves (Phyllanthus acidus L.) Skeels) on Salmonella thypi. The extraction of ceremai leaves by maceration method used 96% ethanol was continued by fractionation with n-hexane and ethanol solvents. The results of extracts and fraction of ceremai leaves were then carried out by phytochemical screening test to determine the secondary metabolites found in the sample. Antibacterial activity test method used in this study is the method of wells. Based on the results of the study, phytochemical screening of ethanol extract and ethanol fraction contained saponin, tannin, flavonoid and alkaloid compounds while the n-hexane fraction contained tannin, flavonoid and alkaloid compounds. Antibacterial activity of wells method of ceremai leaf extract and fraction with a concentration of 15%, 20%, and 25% had an average inhibitory zone diameter, respectively, of ethanol extract 13,24 mm, 13,74 mm, and 14,13 mm, n-hexane fraction 13,806 mm, 14,32 mm and 14,763 mm and ethanol fraction 13,096 mm, 13,416 mm, and 13,486 mm. The results of the identification of antibacterial activity of ethanol extract, n-hexane fraction and ethanol fraction showed that the n-hexane fraction had the highest inhibition zone although it was still classified as a weak inhibition zone. Keywords : Ceremai Leaf, Ethanol Extract, n-Hexane Fraction, Salmonella thypi.
DETEKSI PENYAKIT HEPATITIS-B PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS ABELI KOTA KENDARI Susanti Susanti; Sernita Sernita; Firdayanti Firdayanti
BioWallacea : Jurnal Penelitian Biologi (Journal of Biological Research) Vol 4, No 1 (2017): Biosains & Technology in Wallacea
Publisher : University of Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.43 KB) | DOI: 10.33772/biowallacea.v4i1.5852

Abstract

ABSTRAKPenyakit Hepatitis B merupakan peradangan atau infeksi pada sel-sel hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis B.  Penularan virus Hepatitis B melalui darah atau cairan tubuh yang mengandung virus Hepatitis B.  Penyakit Hepatitis B dapat dideteksi salah satunya dengan pemeriksaan HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen) yang merupakan antigen permukaan dari Virus Hepatitis B. Ibu hamil yang terinfeksi virus Hepatitis B di Indonesia berkisar antara 1-5 %. Infeksi virus Hepatitis B pada ibu hamil dapat mengakibatkan hepatitis fulminan dan meningkatkan mortalitas pada ibu dan bayi. Data yang diperoleh di Puskesmas Abeli Kota Kendari, ibu hamil yang datang berkunjung ke puskesmas Abeli pada bulan Januari-Maret 2017 sebanyak 133 orang, dan tidak terdapat data pemeriksaan Hepatitis B pada ibu Hamil. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeteksi penyakit hepatitis B pada ibu Hamil di Puskesmas Abeli kota Kendari. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif observasional, dengan metode cross sectional dan pengambilan data secara Accidental sampling, sampel diperoleh dari pasien ibu hamil yang datang ke Puskesmas Abeli selama penelitian dilakukan. Jumlah sampel penelitian yang dilakukan pemeriksaan Hepatitis B pada ibu Hamil di Puskesmas Abeli sebanyak 25 orang. Hasil penelitian diperoleh sampel positif Hepatitis B sebanyak 1 orang (4%) dan sampel negative Hepatitis B sebanyak 24 orang (96%).  Kesimpulan hasil deteksi Hepatitis B pada ibu Hamil di Puskesmas Abeli kota Kendari menunjukkan terdapat hasil positif Hepatitis B pada ibu Hamil sebanyak 1 orang (4%) dan hasil negative Hepatitis B pada ibu Hamil sebanyak 24 orang (96%). Kata Kunci : Hepatitis-B, Ibu Hamil, Deteksi ABSTRACTHepatitis B is an inflammation or infection of liver cells caused by Hepatitis B virus. Hepatitis B virus transmission through blood or body fluids containing Hepatitis B virus. Hepatitis B disease can be detected by HBsAg examination (Hepatitis B Surface Antigen) which is the surface antigen of Hepatitis B Virus. Pregnant women infected with Hepatitis B virus in Indonesia ranges from 1-5%. Hepatitis B viral infection in pregnant women can lead to fulminant hepatitis and increase maternal and infant mortality. Data obtained at Puskesmas Abeli Kendari, pregnant women who come to Abeli health center in January-March 2017 as many as 133 people, and there is no data of hepatitis B examination in pregnant women. The purpose of this study was to detect hepatitis B disease in Pregnant women at Abeli Puskesmas Kendari. The type of research used is descriptive observasional, with cross sectional method and data collection by Accidental sampling, sample obtained from pregnant woman patient coming to Puskesmas Abeli during research done. The number of samples of research conducted Hepatitis B examination in Pregnant Women at Puskesmas Abeli as many as 25 people. The result of the study was Hepatitis B positive 1 (4%) and Hepatitis B negative sample 24 (96%). The conclusion of result of Hepatitis B detection in pregnant mother at Abeli Kendari health center showed positive result of Hepatitis B in pregnant mother as much as 1 person (4%) and negative result of Hepatitis B in pregnant mother counted 24 people (96%). Keywords: Hepatitis B, Pregnant Women, Detection
UJI KEPEKAAN KULIT BATANG CEREMAI (Phyllanthus acidus L.) TERHADAP PERTUMBUHAN Escherichia coli Sernita Sernita; Anggriani Fusvita; Andri Lina Sumarni
BioWallacea : Jurnal Penelitian Biologi (Journal of Biological Research) Vol 3, No 2 (2016): Biodiversity in Wallacea
Publisher : University of Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.332 KB) | DOI: 10.33772/biowallacea.v3i2.5851

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepekaan kulit batang ceremai (phyllanthus acidus L.) dan untuk mengukur diameter zona hambat kulit batang ceremai  terhadap pertumbuhan Escherichia coli ATCC 35218. Sampel dalam penelitian ini adalah kulit batang ceremai yang diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Dibuat pengenceran dengan konsentrasi 20%, 40%, 60%, 80% dan 100%. Pengujian kepekaan menggunakan media NA dengan metode cawan kertas. Biakan bakteri dari media NB dicampur dengan media agar, kemudian cawan kertas diletakkan di atas media agar. Diinkubasi pada suhu 37oC selama 48 jam. Diukur zona hambat menggunakan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kulit batang ceremai konsentrasi 20% tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Pada konsentrasi 40% rata-rata diameter zona hambat 4,03 mm. Pada konsentrasi 60% rata-rata diameter zona hambat 4,36 mm. Pada konsentrasi 80% rata-rata diameter zona hambat 5,56 mm. Dan pada konsentrasi 100% dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli secara optimal dengan rata-rata diameter zona hambat 7,03 mm. Kata Kunci : Escherichia coli, ceremai, Nutrient Agar ABSTRACTThis study aims to determine the sensitivity of the bark ceremai (Phyllanthus acidus L.) and to measure the diameter of inhibition zone ceremai bark on the growth of Escherichia coli ATCC 35218. The sample in this study is the bark ceremai extracted by maceration method using ethanol 96%. Created dilution with a concentration of 20%, 40%, 60%, 80% and 100%. NA sensitivity testing using media with paper plate method. NB bacterial culture media mixed with agar medium, then the paper cup is placed on an agar medium. Incubated at 37 ° C for 48 hours. Inhibition zone was measured using a caliper. The results show that the research is conducted bark ceremai concentration of 20% could not inhibit the growth of bacteria Escherichia coli. At a concentration of 40% average inhibition zone diameter of 4.03 mm. At a concentration of 60% average inhibition zone diameter of 4.36 mm. At a concentration of 80% average inhibition zone diameter of 5.56 mm. And at 100% concentration to inhibit the growth of bacteria Escherichia coli optimally with an average diameter of 7.03 mm zone of inhibition. Keywords : Escherichia coli, ceremai, Nutrient Agar
UJI DAYA HAMBAT FUNGI ENDOFIT KULIT BATANG JAMBU METE (Anacardium occidentale) TERHADAP Staphylococcus aureus Sernita Seren
Jurnal Sains dan Teknologi Laboratorium Medik Vol 4 No 1 (2019): April 2019
Publisher : Akademi Kesehatan John Paul II Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52071/jstlm.v4i1.38

Abstract

Fungi endofit adalah jamur yang hidup di dalam jaringan tumbuhan dan tidak membahayakan tumbuhan tersebut. Jamur endofit dapat menghasilkan senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya efek antibakteri jamur endofit yang diisolasi dari kulit batang jambu mete (Anacardium occidentale) terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Jambu mete merupakan salah satu tanaman herbal yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Seluruh bagian dari tanaman ini bisa dimanfaatkan dalam pengobatan disentri, radang pada mulut, diabetes, sariawan, jerawat, radang gusi, hipertensi, malaria dan rematik. Metode yang digunakan untuk uji antibakteri adalah metode sumuran, dilakukan dengan cara dibuat sumuran pada media agar kemudian dimasukkan supernatan yang akan diuji kedalam sumuran sebanyak 100 µL menggunakan mikro pipet. Hasil isolasi didapat dua jenis fungi endofit yang diisolasi dari kulit batang jambu mete (Anacardium occidentale) yaitu jamur endofit hitam dan jamur endofit putih. Hasil uji antibakteri menunjukkan supernatant kultur jamur endofit hitam pada konsentrasi 20%, 30%, dan 40% menghambat pertumbuhan S. aureus dengan membentuk zona hambat rata-rata yaitu 1,82 mm, 3,67 mm dan 5,01 mm. Jamur endofit putih menghasilkan diameter zona hambat rata-rata pada konsentrasi 20%, 30%, dan 40% berturut-turut yaitu 1,8 mm, 3,4 mm, dan 4,6 mm. Konsentrasi fungi endofit yang paling efektif dari dua isolat fungi endofit hitam dan putih dengan tiga konsentrasi berbeda yaitu pada konsentrasi 40% dengan rata-rata zona hambat 5,01 mm dan 4,6 mm. Berdasarkan analisis data secara statistik menunjukkan bahwa isolat jamur endofit yang diisolasi dari kulit batang jambu mete memiliki efek yang signifikan terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Uji Daya Hambat Antibakteri Fungi Endofit Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus Muhammad Azdar Setiawan; Hasnawati Hasnawati; Sernita Sernita; Lisa Sulistia
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 3, No 1 (2016): J Sains Farm Klin 3(1), November 2016
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.04 KB) | DOI: 10.29208/jsfk.2016.3.1.90

Abstract

Endophytic fungi is fungi that lives within plant tissue and it is not harm to the plant it self. Endophytic fungi can produce a substance potencial to be antibacteria. This research aimed to test the antibacterial effect of endophytic fungi that has been isolated from lime skin Citrus auranti folia of Staphylococcus aureus. The methods that has been used to test antibacterial effect was paper disc method, done by gluing paper disc containing of endophytic fungi in agar combination media that has been smear with Staphylococcus aureus. The result of this researh is both endophytic fungi has effect as antibacterial against Staphylococcus aureus, but the type II of endophytic fungi has more effective and stronger antibacterial effect compare to endophytic fungi type I.
Apotek Hidup: Upaya Pelestarian Penggunaan Obat Tradisional di Masyarakat melalui Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga Idin Sahidin; Gusti Ray Sadimantara; Muhammad Hajrul Malaka; Muhammad Azdar Setiawan; Nur Saadah Daud; Adryan Fristiohady; Yulianti Fauziah; Sernita Sernita; Musdalipah Musdalipah; Agung Wibawa Mahatva Yodha; Wahyuni Wahyuni
Jurnal Abdi dan Dedikasi kepada Masyarakat Indonesia Vol 1 No 1 (2023): NADIKAMI: Januari 2023
Publisher : POLITEKNIK BINA HUSADA KENDARI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penduduk Desa Lamomea Kecamatan Konda Kabupaten Konawe Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara sebagian besar masyarakatnya berpendidikan minimal rata-rata lulusan SMA, sehingga pengetahuan tentang budidaya dan pemanfaatan tanaman obat masih sangat kurang. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu pelaksanaan program pemerintah terkait pemanfaatan tanaman obat. Tujuan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah untuk menyampaikan informasi tentang tanaman obat melalui sosialisasi, diskusi, dan praktik langsung budidaya tanaman obat keluarga di pekarangan rumah. Evaluasi peningkatan pengetahuan masyarakat dilakukan dengan pre-test dan post-test. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dasar tentang jenis, manfaat, dan cara membuat ramuan. Kegiatan pengabdian ini menunjukkan adanya keberhasilan dan sangat bermanfaat, karena adanya peningkatan pengetahuan dengan skor rata-rata lebih dari 60 yaitu skor rata-rata post-test 86.11 dibandingkan saat sebelum kegiatan dari nilai rata-rata pre-test 59.72. Masyarakat menunjukkan keterampilan yang memadai saat melakukan praktik langsung mulai dari penanaman, hingga pemeliharaan tanaman. Hasil budidaya tanaman obat ini, selain merupakan upaya pelestarian tanaman obat tradisional, juga mampu menghasilkan produk kosmetik yang kemudian dapat di manfaatkan sebagai produk herbal atau dijual untuk menambah nilai ekonomi.
Pemeriksaan Kolesterol Darah dan Edukasi Penyakit Metabolik di Desa Rau-Rau Kecamatan Rarowatu Kabupaten Bombana Sulawesi Tenggara Susanti Susanti; Angriani Fusvita; Sri Aprilianti Idris; Sernita Sernita; Ani Umar Umar
BANTENESE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 6 No. 1 (2024): Bantenese : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusat Studi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Fisipkum Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ps2pm.v6i1.8721

Abstract

Kadar kolesterol darah yang tinggi merupakan salah satu yang berkontribusi besar sebagai salah satu faktor terjadinya penyakit metabolik. Penyakit metabolik merupakan sekelompok kondisi yang terjadi bersamaan, sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung. Desa Rau-Rau merupakan salah satu desa di Kecamatan Rarowatu, Kabupaten Bombana yang masih jarang bahkan tidak sama sekali masyarakatnya melakukan pemeriksaan kesehatan khususnya pemeriksaan kolesterol darah. Tujuan kegiatan pengabdian yang dilakukan adalah untuk mengetahui kadar kolesterol darah masyarakat di desa Rau-Rau Kabupaten Bombana sekaligus mengedukasi masyarakat setempat tentang penyakit metabolik. Metode pemeriksaan kolesterol yang digunakan adalah POCT (point of care testing) sedangkan untuk edukasi dilakaukan dengan cara diskusi dengan masyarakat setempat. Warga yang melakukan pemeriksaan kolesterol sebanyak 54 orang. Setelah dilakukan pemeriksaan, diperoleh kadar kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia) sebanyak 13 orang, dan kadar kolesterol normal sebanyak 41 orang. Dengan adanya kegiatan pengabdian yang dilakukan, masyarakat setempat sangat antusias karena dapat mengetahui kadar kolesterol darah agar mereka dapat melakukan pencegahan secara dini supaya terhindar dari penyakit metabolik yang berbahaya bagi kesehatan.
VARIASI KONSENTRASI CUKA DAPUR SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI ASAM ASETAT GLASIAL 6% PADA PEMERIKSAAN PROTEINURIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS LEPO-LEPO KOTA KENDARI Sernita Sernita; Firdayanti Firdayanti
Jurnal Analis Kesehatan Kendari Vol. 1 No. 1 (2016): Jurnal Analis Kesehatan Kendari
Publisher : Program Study of Medical Laboratory Technology , Politeknik Bina Husada Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Proteinuria yaitu urin manusia terdapat protein yang melebihi nilai normalnya yaitu lebih dari 150 mg/24 jam atau pada anak-anak lebih dari 140 mg/m2. Penyakit ini ditandai dengan meningkatnya tekanan darah yang diikuti oleh peningkatan kadar protein di dalam urin. Wanita hamil dengan preeklampsia juga akan mengalami pembengkakan pada kaki dan tangan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hasil pemeriksaan proteinuria dengan menggunakan metode asam asetat glasial 6% dan asam asetat (cuka dapur) dengan berbagai variasi konsentrasi 5%, 6%, 7%. Jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 9 sampel urin ibu hamil. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Puskesmas Lepo-Lepo Kota Kendari. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa diperoleh hasil pemeriksaan proteinuria yang sama pada ibu hamil dengan metode asam asetat 6% dan metode asam asetat (cuka dapur). Kata kunci: Asam asetat glacial 6%, Asam asetat (cuka dapur), Proteinuria, Urin Ibu Hamil ABSTRACT Proteinuria, which is human urine, has a protein that exceeds its normal value of more than 150 mg / 24 hours or in children more than 140 mg / m2. This disease is characterized by increased blood pressure followed by increased levels of protein in the urine. Pregnant women with preeclampsia will also experience swelling of the legs and arms. The study aimed to determine the results of proteinuria examination using the 6% glacial acetic acid method and acetic acid (kitchen vinegar) with various concentrations of 5%, 6%, 7%. The number of samples obtained was 9 urine samples of pregnant women. This research was conducted at the Laboratory of Lepo-Lepo Health Center in Kendari City. The results of the research that has been done show that the same results of proteinuria examination in pregnant women with acetic acid 6% and acetic acid (kitchen vinegar) method. Keywords: 6% Glacial Acetic Acid, Acetic Acid, Proteinuria, Urine for Pregnant Women
Perbandingan Kadar Vitamin C Pada Nanas Kaleng dengan Nanas Segar (Ananas comosus (L) Merr) Sernita Sernita
Jurnal Analis Kesehatan Kendari Vol. 2 No. 1 (2017): Jurnal Analis Kesehatan Kendari
Publisher : Program Study of Medical Laboratory Technology , Politeknik Bina Husada Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang berperan sebagai antioksidan dan efektif mengatasi radikal bebas yang dapat merusak sel atau jaringan. Buah-buahan merupakan sumber vitamin C diantarannya yaitu buah nanas. Buah nanas berdasarkan kegunaannya dibagi menjadi dua golongan, yaitu buah nanas konsumsi segar dan olahan atau buah kalengan. Buah kaleng merupakan buah yang dikemas dalam suatu wadah tertutup yang telah melalui proses pemanasan, pencucian dan sterilisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar vitamin C pada nanas kaleng dengan nanas segar, dengan pemilihan sampel secara random, dan menggunakan metode Spektrofotometri. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Terpadu Bina Husada Kendari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin C yang tertinggi terdapat pada nanas segar, dengan kadar rata-rata 1,0333 ppm, sedangkan kadar vitamin C pada nanas kaleng sebesar 0,9867 ppm. Setelah dilakukan pengujian secara statistik dengan menggunakan t-test, didapatkan nilai t hitung lebih besar dari t tabel (2,950 > 2,776) sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Jadi, terdapat perbedaan kadar vitamin C antara nanas kaleng dengan nanas segar. Kata kunci : Nanas, Kadar vitamin C, Spektrofotometri ABSTRACT Vitamin C is one of the nutrients that act as antioxidants and effectively overcome free radicals that can damage cells or tissues. Fruits are a source of vitamin C diantarannya namely pineapple fruit. Pineapple fruit based on its usefulness is divided into two groups, namely pineapple fruit fresh consumption and processed or canned fruit. Canned fruit is a fruit packed in a closed container that has been through the process of heating, washing and sterilization. This study aims to determine the ratio of vitamin C content in canned pineapple with fresh pineapple, with random sample selection, and using Spektrofotometri method. This research was conducted at Integrated Chemical Laboratory of Bina Husada Kendari. The results showed that the highest levels of vitamin C were found in fresh pineapple, with an average content of 1.0333 ppm, while vitamin C levels in canned pineapple of 0.9867 ppm. After tested statistically by using t-test, got t value count bigger than t table (2,950> 2,776) so that H0 refused and Ha accepted. Thus, there is a difference in vitamin C levels between canned pineapple and fresh pineapple. Keywords: Pineapple, vitamin C content, Spektrofotometri