Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Penentuan Lokasi Potensial Ruang Terbuka Hijau Pada Kawasan Perkotaan Banyuwangi Dalam Mengurangi Dampak Urban Heat Island Balqis, Nabila Putri; Koesoemawati, Dewi Junita; Listyawati, Ratih Novi
TATALOKA Vol 27, No 3 (2025): Volume 27 No. 3 August 2025
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.27.3.253-266

Abstract

Fenomena urban heat island (UHI) menggambarkan kelebihan atmosfer panas pada kawasan perkotaan dibandingkan dengan kawasan pedesaan. Salah satu kawasan yang mempunyai spekulasi terjadinya fenomena UHI adalah perkotaan Banyuwangi karena menjadi pusat kegiatan wilayah yang menyebabkan tingginya aktifitas manusia dan transportasi di dalamnya. Penelitian ini berfokus pada solusi mengurangi dampak kenaikan suhu yang disebabkan oleh fenomena urban heat island menggunakan metode overlay variabel NDVI, THI, kepadatan penduduk dan penggunaan lahan dengan output berupa penyediaan lokasi ruang terbuka hijau. Hasil penelitian menunjukan total luas lokasi potensial RTH pada perkotaan Banyuwangi sebesar 60,1 Ha atau 0,92% dari total luas wilayah perkotaan Banyuwangi sebesar 6551,04 Ha. Data tersebut menunjukan kenaikan sebesar 2,48% dari total luas gabungan lokasi potensial RTH sebesar 60,1 Ha dan RTH eksisting sebesar 102,4 Ha. Kenaikan persentase RTH secara tidak langsung menambah jumlah media pengontrol iklim mikro sehingga dapat mereduksi suhu panas dan memberikan efek nyaman akan termal bagi masyarakat.
Strategi dan Arahan Pengembangan Infrastruktur Objek Wisata untuk Meningkatkan Daya Tarik dan Keberlanjutan Pantai Kampe Emely, Shofi Nindia; Soetjipto, Jojok Widodo; Listyawati, Ratih Novi
Jurnal Spesialis Teknik Sipil (JSpTS) Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infrastructure plays an important role in developing regions, particularly in the economic, social, cultural, and environmental aspects. One of the regions experiencing development is Banyuwangi Regency, particularly in the tourism sector, as it has the greatest tourist attractions, thus having the potential to support economic growth. Kampe Beach is one of the designated tourism areas with natural tourist attractions in Banyuwangi Regency. Based on the 2012-2032 Banyuwangi Regency Spatial Plan, Kampe Beach is included in the Tourism Development Area (WPP) I. The infrastructure owned by Kampe Beach is still inadequate and there are several supporting tourism infrastructures that are not yet available. Therefore, there is a need for infrastructure development directions that can support tourism activities at Kampe Beach so that it can assist the Banyuwangi Regency government in developing the region. This study aims to determine the existing condition of Kampe Beach and the level of importance and performance of Kampe Beach infrastructure so that directions for Kampe Beach infrastructure development can be formulated to support the tourism sector in Banyuwangi Regency. The methods used in this study are descriptive analysis to identify existing conditions, the Importance-Performance Analysis (IPA) method to determine the level of importance and performance of each research variable, and triangulation analysis to formulate infrastructure development directions. This study determined the sample using the Lemeshow formula and produced 67 respondents to determine the level of importance and performance of the predetermined variables. The results of the study indicate that infrastructure that requires development directions is located in quadrant I consisting of waste, road networks, road signs, parking lots, and security posts. Development directions that need to be carried out at the research location include conducting socialization and training, procuring infrastructure that is not yet available, and placing road signs more strategically.
Analysis Hierarchy Process and Geospatial in Determination of the Alternative Locations for Temporary Disposal Site in Sumbersari District, Jember Oktaviana, Rahma Harum; Dhokhikah, Yeny; Listyawati, Ratih Novi
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 13, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.13.1.92-111

Abstract

Sumbersari District, one of the urban areas in Jember, meets the problems of a limited number of temporary disposal sites (TDS). The paper aims to determine an alternative location for a new temporary disposal site (TDS) in the Sumbersari District by combining the Analysis Hierarchy Process (AHP) and Geographic Information System (GIS) methods. The AHP method is applied to determine the priority land with predetermined variables and the GIS method is applied for weighting physical aspects and spatial to make decisions through buffering and overlay techniques. The results of the study show that AHP weighting obtains priority to land, namely areas that are dominated by land with ownership rights of the State, Property Rights, and Use Rights, land that has a distance of more than 1000 m from the existing TDS, and land that has existing TDS conditions with a storage capacity of more than 100 %. Meanwhile, based on the GIS method through buffering and overlay techniques on physical and priority land aspects, 10 alternative location points were obtained with a value of 26 (Quite feasible and priority). These points were then carried out by eld observations, resulting in 2 suitable locations, namely A1 in the Antirogo Village and K1 in the Kranjingan Village.
Pengembangan Kawasan Wisata Unggulan di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember: Development of a Leading Tourism Area in Ambulu District, Jember Regency Firmansyah, Regie; Badriani, Ririn Endah; Listyawati, Ratih Novi
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/matrapolis.v4i2.36528

Abstract

Kecamatan Ambulu memiliki potensi pariwisata, mulai dari obyek wisata alam, buatan hingga budaya terdapat di Kecamatan Ambulu , dengan total keseluruhan delapan (8) obyek wisata. Potensi pariwisata yang dimiliki Kecamatan Ambulu berbanding lurus dengan kebijakan yang ada di Kabupaten Jember. Kabupaten Jember ditetapkan masuk dalam kluster ijen dimana kluster ijen merupakan kluster yang terentuk dari kesamaan sektor unggulan yakni agrowisata (sektor pariwisata, perkebunan dan perikanan), selain itu pada RPJMD Jatim 2019 - 2024 Kabupaten Jember juga termasuk dalam koridor pariwisata dan maritim itu berarti kondisi eksisting Kabupaten Jember sangat mendukung berkembangnya sektor pariwisata. Namun dalam perkembangannya belum ada kebijakan atau arahan mengenai pariwisa ta, hanya ada pada salah satu misi di RPJMD Kabupaten Jember 2016 – 2021 yakni “Meningkatkan kontribusi sektor pariwisata dalam rangka mewujudkan jember sebagai salah satu destinasi wisata utama Jawa Timur”, hal tersebut menjadi kontras dimana Kecamatan dengan Potensi terbesar justru tidak ada arahan strategi khusus mengenai pariwisata. Pemecahan masalah pengembangan obyek wisata unggulan di Kecamatan Ambulu dilakukan dalam metode Mix Methods yakni mencari data kualitatif dengan metode kuantitatif. Adapun analisis yang digunakan untuk memecahkan permasalahan ini adalah analisis skoring dan analisis AHP (Analytical Hierarchy Process). Analisis skorinng digunakan untuk mencari klasifikasi perkembangan obyek wista di Kecamatan Ambulu yang belum diketahui sebelumnya, dan persepsi wisatawan terhadap obyek wisata sehingga didapatkan strategi pengembangan sesuai dengan klasifikasi. Sementara AHP digunakan untuk menyusun arahan strategi yang didasarkan pada prioritas pengembangan yang yang telah di pilih oleh para pakar, adapun pakar yang dipilih berasal dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, OPD Kecamatan Ambulu dan POKMAS yang ada pada Kecamatan Ambulu. Hasil akhir yang di harapkan dari studi ini adalah arahan strategi dapat dijadikan sebuah masukan kepada Pemerintah Kabupaten Jember sebagai salah satu perwujudan atau opsi dalam penyusunan kebijakan mengenai wisata sesuai dengan misi RPJMD Kabupaten Jember, serta meningkakan dan membangun kesadaran masyarakat Kecamatan Ambulu tentang pentingnya pengembangan suatu kawasan wisata dalam meningkatkan taraf hidup dalam sektor perekonomian.
Analisis Perkembangan Wilayah Menggunakan Permodelan Citra VIIRS Night-Time Light Pada Kabupaten Jember P, Prasetiyo; Listyawati, Ratih Novi; Fitriah, Lailatul; Pratama, Dhani Malik
MATRAPOLIS: Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 4 No. 2 (2024): Volume 4 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/matrapolis.v4i2.53618

Abstract

Mengidentifikasi perkembangan wilayah dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Umumnya, tingkat perkembangan wilayah dilakukan dengan mentapkan pusat pertumbuhan menggunakan analisis Indeks Sentralitas dengan mempertimbangkan jumlah fasilitas, infrastruktur yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat untuk menentukan hierarki pusat daerah. Namun, terdapat keterbatasan dengan Indeks Sentralitas, terutama ketepatan temporal dan spasial, karna mengacu pada data sensus yang tidak mewakili seluruh area secara real-time. Untuk itu, terdapat inovasi dalam melihat perkembangan wilayah menggunakan metode Visible and Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS), yang merupakan salah satu instrumen di Suomi-NPP (National Polar-orbiting Operational Environmental Satellite System Preparatory Project). Metode VIIRS memanfaatkan cahaya di malam hari karna adanya aktivitas masyarakat. Data tersebut selanjutnya diklasifikasikan menjadi delapan interval kelas di mana semakin besar angka kelas, semakin besar intensitas emisi cahaya dan dengan demikian semakin aktif penduduknya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kecamatan dengan tingkat perkembangan wilayah tertinggi berada pada Kecamatan Kaliwates dan area Sumbersari. Sedangkan kecamatan dengan perkembangan wilayah terendah berada pada Kecamatan Arjasa, Kecamatan Jelbuk, Kecamatan Jombang, Kecamatan Mayang, Kecamatan Pakusari, serta Kecamatan Sukorambi. Kata kunci: Perkembangan Wilayah, Visible and Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS), Pusat Kegiatan
Integrasi Citra VIIRS dan Statistik Sosial dalam Pemetaan Kemiskinan di Kabupaten Bondowoso Listyawati, Ratih Novi; Prasetiyo, Prasetiyo; Aliansyah, Fery Ardi; Salsabila, Dian Aulia
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 2, Desember 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i2.7755

Abstract

Abstract. Poverty remains a development issue in Bondowoso Regency, East Java Province, with a poverty rate of 12.60%. The limitations of conventional statistical data on a micro spatial scale have encouraged the use of alternative approaches based on remote sensing. This study aims to analyze the distribution of poverty through the integration of VIIRS nighttime light imagery and Integrated Social Welfare Data (DTKS). The methods used include the classification of nighttime light radiance intensity into eight classes and Pearson's correlation analysis to test the relationship between nighttime light intensity and the number and density of poor people at the subdistrict level. The results of the analysis show that the correlation between nighttime light intensity and the number of poor people is positive but not significant (r = 0.368; sig. = 0.084), while the correlation with the density of poor people shows a very strong and significant relationship (r = 0.871; sig. = 0.000). These findings indicate that nighttime light better represents the concentration of activity and population density than the absolute level of poverty. Therefore, nighttime light imagery cannot be used as a single indicator of welfare and needs to be integrated with micro-social indicators to improve the accuracy of poverty mapping. Abstrak. Kemiskinan masih menjadi permasalahan pembangunan di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur, dengan persentase penduduk miskin sebesar 12,60%. Keterbatasan data statistik konvensional pada skala spasial mikro mendorong penggunaan pendekatan alternatif berbasis penginderaan jauh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persebaran kemiskinan melalui integrasi citra cahaya malam VIIRS dan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Metode yang digunakan meliputi klasifikasi intensitas radiansi cahaya malam ke dalam delapan kelas serta analisis korelasi pearson untuk menguji hubungan antara intensitas cahaya malam dengan jumlah dan kepadatan penduduk miskin pada tingkat kecamatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa korelasi antara intensitas cahaya malam dan jumlah penduduk miskin bersifat positif namun tidak signifikan (r = 0,368; sig. = 0,084), sedangkan korelasi dengan kepadatan penduduk miskin menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan signifikan (r = 0,871; sig. = 0,000). Temuan ini menunjukkan bahwa cahaya malam lebih merepresentasikan konsentrasi aktivitas dan kepadatan penduduk dibandingkan tingkat kemiskinan secara absolut, sehingga citra cahaya malam tidak dapat digunakan sebagai indikator tunggal kesejahteraan dan perlu diintegrasikan dengan indikator sosial mikro untuk meningkatkan akurasi pemetaan kemiskinan.
PENTAHELIX APPROACH FOR ACHIEVING INTEGRATED AND SUSTAINABLE TOURISM DEVELOPMENT Rindang Alfiah; Cindy Monica Febrian; Ratih Novi Listyawati; RR Dewi Junita Koesoemawati
International Journal of Educational Review, Law And Social Sciences (IJERLAS) Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : CV. RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ijerlas.v5i1.2357

Abstract

This research focuses on Sumbermujur Village in Lumajang Regency, Indonesia, which possesses significant potential for natural, man made, and cultural tourism. The research aims to explore the implementation of the pentahelix Model for developing integrated and sustainable tourism. The research is motivated by the challenges of fostering sustainable tourism in rural areas and the need for a collaborative approach that involves key stakeholders, highlighting the urgency of this research. Utilizing the Delphi method, this research engages various stakeholders, including local government, community members, tourism operators, academics, and research institutions, to achieve consensus on a sustainable tourism development model. The research process includes identifying key tourism challenges, designing the pentahelix model through cross-sector collaboration and community involvement, validating the model, and providing policy recommendations. The research results show that in tourism development in Sumbermujur Village, four stakeholders have had cooperative relationships, namely academics, local communities, government, and media. In contrast, private business people involved in tourism have not been involved in the cooperation. To achieve integrated and sustainable tourism development based on the pentahelix model, closer collaboration is needed, especially by involving private businesses. Optimal cooperation between stakeholders in this Penta helix model can positively impact increasing the tourism economy and maximizing the utilization of tourism potential.
A Spatial Optimization Framework for Bus Stop Locations: Enhancing Urban Mobility in Jember Alfiah, Rindang; Graha, I Made Satya; Listyawati, Ratih Novi; Zafira, Nurul
Civilla : Jurnal Teknik Sipil Universitas Islam Lamongan Vol 11 No 1 (2026): MARET
Publisher : Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/cvl.v11i1.1618

Abstract

Jember's urban area has experienced economic development and has become the third-largest educational hub in East Java. To address the transportation congestion caused by large activities in urban areas, an effective and affordable public transportation system is essential. The coverage of bus stops plays a key role, as evident from their proximity to residential and public areas, as well as the reach of passengers. This research aims to evaluate the coverage of bus stops in the Jember urban area and optimize the locations of new stops. Using the network analyst service area, buffer area, and kernel density, the research defines service coverage within a 400-meter area based on a person's willingness to walk. Additionally, the scoring method used to evaluate the feasibility of bus stops is based on the standardization of bus stop design. The results show that 10 bus stops are not suitable for standardization, while the other nine are moderately suitable. Currently, only 48.7% of the urban area is served by public transport stops. The studies proposed 12 new bus stop locations, which will increase the coverage area to 79.1% and cover 216 out of 273 identified facilities. 
Prioritas Pengembangan Pariwisata Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember Bagus Virman Kurniawan; Ratih Novi Listyawati; Rindang Alfiah
TATALOKA Vol 28, No 2 (2026): Volume 28 No. 2 May 2026
Publisher : Universitas Diponegoro Publishing Group, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/tataloka.28.2.141-156

Abstract

Heterogenitas jenis daya tarik wisata dan jumlahnya yang terbanyak dibanding kecamatan lain menjadikan Kecamatan Ambulu sebagai kecamatan dengan potensi daya tarik terbesar di Kabupaten Jember. Keragaman destinasi tersebut memunculkan urgensi untuk dikembangkan sebagai upaya pemerataan destinasi wisata Kecamatan Ambulu guna pengoptimalan kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan prioritas pengembangan pariwisata berdasarkan komponen Attraction, Amenities, Accessibility, Activity, Accomodation, Ancillary (6A) sebagai upaya peningkatan dan pemerataan kunjungan wisatawan pada seluruh destinasi wisata di Kecamatan Ambulu. Penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda untuk menganalisis keterkaitan antar komponen 6A serta pengaruhnya terhadap keputusan berkunjung wisatawan yang kemudian dianalisis menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) guna menentukan prioritas pengembangan pada komponen terpenting yang memberi dampak terbesar berdasarkan persepsi berkunjung wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh komponen 6A memiliki nilai Sig. = <0,001 yang menandakan pengaruh signifikan komponen 6A terhadap keputusan berkunjung wisatawan dengan pengaruh sebesar 71,2%. Karena hasil regresi dari keenam komponen mempunyai pengaruh secara simultan terhadap keputusan berkunjung, maka keenam komponen dianalisis menggunakan AHP untuk menetapkan prioritas pengembangan. Analisa AHP menghasilkan faktor prioritas dimana pengembangan pada komponen Atraksi (daya tarik wisata) merupakan prioritas pengembangan utama berdasarkan pendapat para stakeholder dengan nilai eigen sebesar 0,656.
Arahan Perencanaan Kawasan Wisata Alam Desa Padusan, Kabupaten Mojokerto Briliana, Febrina Nur Rahmi; Hayati, Nunung Nuring; Listyawati, Ratih Novi
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v6i2.78456.68-81

Abstract

Desa Padusan merupakan salah satu desa di Kabupaten Mojokerto yang direncanakan sebagai kawasan wisata alam unggulan. Perencanaan Desa Padusan tercantum pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Mojokerto Tahun 2012–2032 sehingga kegiatan atau upaya perencanaan pariwisata harus berpedoman pada RTRW tersebut. Upaya mewujudkan Desa Padusan sebagai kawasan wisata alam unggulan Mojokerto ini tentunya memerlukan peran serta berbagai pihak, baik pengelola maupun pengunjung yang datang. Pengelola ini terbagi menjadi dua, yaitu pihak Dinas Kebudayaan, Pemuda Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto serta masyarakat yang memiliki andil dalam perencanaan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan perencanaan yang tepat untuk prioritas pengembangan Kawasan Wisata Alam Desa Padusan. Prioritas pengembangan tersebut meliputi tempat duduk, toilet/MCK, pos kesehatan, penanda dan penunjuk arah, serta ketanggapan pengelola. Pendekatan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis triangulasi. Tahapan analisis dimulai dengan mengumpulkan data, baik sekunder maupun primer, yang kemudian data tersebut diolah dengan metode analisis sehingga dihasilkan arahan perencanaan sebagai hasil akhir dari penelitian. Dari data primer berupa komponen 5A pariwisata (attraction, accessibility, ancillary service, amenities, dan activities), dirumuskan arahan perencanaan dengan meninjau kajian pustaka. Perbedaan kondisi eksisting dengan standar dalam teori dan kebijakan menjadi dasar penyusunan arahan perencanaan. Hasil dari penelitian ini adalan arahan pengembangan Kawasan Wisata Alam Desa Padusan yang tepat, berupa peningkatan kualitas dan kuantitas tempat duduk, penyediaan toilet sesuai standar, penyediaan poliklinik wisata 24 jam yang dilengkapi alat kesehatan dan tenaga ahli kesehatan, desain penanda dan penunjuk arah yang menarik dan jelas, serta peningkatan kerjasama antara pengelola.