Petrus Suse Kobesi
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Reproduksi Kemiskinan Nelayan Kecil di Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tengara Timur (Studi Kasus di Desa Oesoko, Kecamatan Insana Utara) Petrus Suse Kobesi; Marsianus Falo; Oktavianus Tabenu; Windi Bunga Devita
AGRIMOR Vol 8 No 1 (2023): AGRIMOR - January 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/ag.v8i1.1929

Abstract

. Poverty is a phenomenon that is often encountered, one of which is in the social groups of small fishing communities. This is a manifestation of the fishermen's inability to meet the economic needs of their lives. This study aims to examine the reproduction of poverty in small fishermen in Oesoko Village, North Insana District by using qualitative descriptive analysis methods. The technique of determining the research location used was purposive sampling and for the determination of informants using the survey method. The primary data and secondary data used in this study, primary data were obtained from respondents through the questionnaires provided, in-depth interviews using the provided guidelines and secondary data obtained from relevant agencies. The results of the analysis show that the reproduction of the impoverishment of small fishermen in Oesoko Village, North Central Timor Regency is caused by several factors including structural factors such as access to capital for fishing business development, government policies to provide fishing technology assistance, patron clients and access to markets. Cultural factors include the lack of financial management of small fishermen's households, customs that are quite burdensome and the behavior patterns of small fishing communities that are still consumptive. The factor of Human Capital (Human Capital) is still low so that it affects the mindset and behavior in making decisions
Motivasi Petani Selada Air di Desa Popnam Kecamatan Noemuti Kabupten Timor Tengah Utara Oktovianus Tabenu; Agustinus Nubatonis; Marsianus Falo; Petrus Suse Kobesi
AGRIMOR Vol 8 No 2 (2023): AGRIMOR - April 2023
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/ag.v8i2.2060

Abstract

Agricultural development in Indonesia is very influential in increasing the selling value of production and business opportunities for farmers originating from several agricultural sub-sectors. One of them is the food crops and horticulture sub-sector. This condition motivates farmers to use land effectively in improving farming in a sustainable manner. The purpose of this research is to describe the motivation of watercress farmers in Popnam Village, TTU Regency. The data collection process uses a survey method of farmers first in order to find out the initial conditions. This study used a mix method approach, namely quantitative data were obtained using Likert scale measurements while qualitative data were obtained through in-depth interviews to explore intrinsic and extrinsic motivation data on farmers. The results of the study explain that intrinsic factor is in the high category with a percentage of 84%. Efforts to meet food needs, build a decent place to live, support each other and work together are very important in the development of farming. The safety and appreciation factors that farmers have strengthens their inner motivation for sustainable farming development. Furthermore, the extrinsic factor is in the high category with a percentage value of 82%. This is seen from the price, market reach, and technology which has a high category. Even though government policies are less effective in terms of attention to farmers, the relationship between farmers is quite close as a family unit in building economic solidarity.
THE IMPACT OF HUMAN SENSES ON CONSUMER PREFERENCE OF COFFE SHOPS IN BANJARBARU, INDONESIA Windi Bunga Devita; Hartoni Hartoni; Amiratu Zakiah; Petrus Suse Kobesi
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 49, No 2 (2024)
Publisher : Pusat Publikasi Jurnal Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/zmip.v49i2.14960

Abstract

Lingkungan mungkin bukan hal pertama yang terlintas dalam pikiran ketika berbicara tentang keberhasilan sebuah restoran, namun penelitian menunjukkan bahwa lingkungan memainkan peranan yang lebih besar dalam persepsi seseorang. Kelima indera berperan dalam cara seseorang memandang lingkungannya, dan kafe dapat memanfaatkan hal tersebut agar lebih berhasil dalam menarik dan mempertahankan pelanggan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pentingnya daya tarik indera dalam pilihan kedai kopi oleh mahasiswa dan untuk memberikan wawasan kepada pemilik bisnis dan pemilik kafe khususnya tentang bagaimana indra dapat dimanfaatkan untuk menarik pelanggan. Penelitian ini menggunakan CFA (confirmatory factor analysis) untuk menganalisis pentingnya indra pada kedai kopi. Faktor penglihatan yang paling signifikan adalah warna dengan faktor pemuatan 0,840. Faktor yang paling berpengaruh adalah aroma mempunyai loading faktor 0,744, suara tidak adanya lalu lintas dengan faktor muatan 0,798, rasa asin dengan faktor muatan 0,901, dan sentuhan bahan tempat duduk dengan faktor muatan 0,871.
KERENTANAN PETANI TAMBAK TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN MASALAH SOSIAL YANG DITIMBULKAN DI KECAMATAN LANRISANG KABUPATEN PINRANG Sarifuddin, Andri; Tubangsa, Ian; Simanjuntak, Asnika Putri; Damayanti, Elia; Kobesi, Petrus Suse; Anjasmara, Aang Setyawan
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol 8, No 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.3007

Abstract

Abstract: Climate change is a global challenge that has created vulnerabilities for coastal communities, not least for eco-farming pond farmers in Pinrang Regency who are highly dependent on environmental conditions. This research aims to explain the forms of vulnerability experienced by the community of pond farmers in Lanrisang District. Through participant observation research in three villages in Lanrisang, we conducted in-depth interviews with a number of pond farming households which we present ethnographically by looking at three components of vulnerability: exposure, sensitivity and resilience. We found that climate change has led to a 0.5C-1C increase in average annual temperature as well as irregular rainfall patterns. These conditions have resulted in declining pond water quality, which is characterized by changes in salinity, pH, and DO that are not ideal for shrimp and milkfish growth so that posing a risk of failed harvest. In addition, we also found that there are emerging social issues such as competition and theft practices that could pose a security risk. This can reduce income and threaten the productivity of aquaculture. Pond farmers respond to these challenges by finding side jobs or opening businesses, leasing ponds, and converting ponds into agricultural land. We recommend community empowerment policies that focus more on climate resilience and pond farmers' welfare. Keywords: vulnerability;pond;climate change;social problems. Abstrak: Perubahan iklim merupakan tantangan global yang telah menimbulkan kerentanan bagi komunitas pesisir, tidak terkecuali bagi petani tambak eco-farming di Kabupaten Pinrang yang sangat bergantung pada kondisi alam. Penelitian untuk bertujuan untuk menjelaskan bentuk kerentanan yang dialami oleh komunitas petani tambak di Kecamatan Lanrisang. Melalui penelitian observasi partisipan di tiga desa/ kelurahan di Lanrisang, kami melakukan wawancara mendalam terhadap sejumlah rumah tangga petani tambak yang kami sajikan secara etnografis dengan melihat tiga komponen kerentanan yaitu paparan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan ketahanan (resilience). Kami menemukan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan suhu rata-rata tahunan sebesar 0,5C-1C serta pola curah hujan yang tidak teratur. Kondisi ini mengakibatkan kualitas perairan tambak menurun yang ditandai dengan perubahan salinitas, pH, dan DO yang tidak ideal bagi pertumbuhan udang dan bandeng sehingga menimbulkan risiko gagal panen. Selain itu, kami juga menemukan adanya masalah sosial yang muncul seperti persaingan dan praktik pencurian yang dapat menimbulkan risiko keamanan. Hal ini dapat menurunkan pendapatan dan mengancam produktivitas budidaya tambak. Para petani tambak merespon untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut dengan mencari pekerjaan sampingan atau membuka usaha, melakukan sistem sewa tambak, dan melakukan alih fungsi lahan tambak menjadi lahan pertanian. Kami merekomendasikan kebijakan pemberdayaan masyarakat yang lebih berfokus pada ketahanan iklim dan kesejahteraan petani tambak.Kata kunci: kerentanan;tambak;perubahan iklim; masalah sosial.
Analisis Pendapatan Usahatani Cabai Rawit Menggunakan Pupuk Batubara di Lahan Ultisol Antung Cahaya Hildasari; Joko Purnomo; M. Laily Qadry Sukmana; Ronny Mulyawan; Petrus Suse Kobesi
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v7i1.22356

Abstract

Cabai rawit merupakan komoditas penting dalam ketahanan pangan dan ekonomi pedesaan di Indonesia, namun sektor ini menghadapi tantangan besar terkait fluktuasi harga pasar dan kondisi tanah yang sub-optimal, seperti Ultisol. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis biaya, penerimaan, pendapatan, dan efisiensi usahatani cabai rawit menggunakan pupuk batubara di lahan Ultisol. Metode penelitian menggunakan data primer yang diperoleh dari demplot budidaya cabai rawit di Desa Bitahan, Kalimantan Selatan, dengan analisis biaya tetap dan variabel, penerimaan, pendapatan, dan efisiensi menggunakan R/C rasio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya tetap sebesar Rp 47.800.000 per hektar, sementara biaya variabel mencapai Rp 66.000.000 per hektar. Total biaya produksi per hektar adalah Rp 113.800.000, dengan biaya tenaga kerja 36,91% menjadi komponen biaya terbesar. Penerimaan usahatani mencapai Rp 377.279.375 sehingga pendapatan bersih sebesar Rp 301.830.375 per hektar. R/C rasio sebesar 3,32 menunjukkan bahwa usahatani ini sangat efisien. Penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan pupuk batubara efektif dalam meningkatkan profitabilitas dan efisiensi dalam budidaya cabai rawit di lahan Ultisol. Namun, fluktuasi harga pasar dan biaya input perlu dipertimbangkan dalam jangka panjang. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pemahaman efisiensi ekonomi dalam penggunaan pupuk batubara dan menawarkan solusi berkelanjutan untuk pengelolaan lahan sub-optimal. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk mengevaluasi dampak lingkungan dan membandingkan dengan pupuk lain untuk mengoptimalkan pertanian berkelanjutan di lahan serupa.
Analisis Pendapatan Usahatani Padi Sawah di Kecamatan Dadahup Kabupaten Kapuas Provinsi Kalimantan Tengah Ridayati Ridayati; Soraya Noormalasari; Antung Cahaya Hildasari; Petrus Suse Kobesi
AGRIDES: Jurnal Agribisnis Perdesaan Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agrides.v6i1.21578

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis biaya produksi, penerimaan, dan pendapatan usahatani padi sawah di Kecamatan Dadahup. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Dadahup, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah pada bulan September 2024. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan secara langsung dari petani di Kecamatan Dadahup melalui proses wawancara dengan menggunakan kuesioner yang berisi daftar pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya. Sementara data sekunder diperoleh dari artikel jurnal dan situs web Badan Pusat Statistik. Metode penentuan sampel menggunakan metode accidental sampling yaitu penentuan sampel secara kebetulan dengan total sampel sebanyak 20 petani. Analisis yang digunakan menggunakan analisis biaya, penerimaan dan pendapatan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil analisis sebesar Rp. 12.697.048/ha/musim tanam. Penerimaan petani padi sawah yang didapatkan pada satu musim tanam sebesar Rp. 16.900.000/ha, dan untuk pendapatan petani sebesar Rp. 4.202.952/ha/musim tanam.
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Petrus Suse Kobesi; Hairi Firmansyah; Windi Bunga Devita; Ody Wolfrit Matoneng; Andri Sarifuddin
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 51, No 2 (2026)
Publisher : Pusat Publikasi Jurnal Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/zmip.v51i2.22922

Abstract

The food sector plays a strategic role in agricultural development and overall national development. Demand for food continues to increase along with population growth and increasing per capita income. This study aims to identify strategies for developing corn farming in Tanah Laut Regency. The method used by the researcher is a SWOT analysis, and strategy priority determination is carried out using QSPM analysis. The results of the analysis found six main strategies, including: 1) Increasing farmers' understanding of good corn cultivation techniques, including pest and disease control, thereby minimizing the risk of crop failure. 2) Strengthening farmer group institutions for more effective coordination between related institutions. 3) Optimizing farmer resources to increase production while meeting industrial market needs. 4) Maximizing government support to maintain production continuity. 5) Optimizing corn productivity with high quality (grade) as an effort to deal with price fluctuations in the market. 6) Expanding farmers' access to financing sources or agricultural capital to support the application of appropriate technology.
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Petrus Suse Kobesi; Hairi Firmansyah; Windi Bunga Devita; Ody Wolfrit Matoneng; Andri Sarifuddin
ZIRAA'AH MAJALAH ILMIAH PERTANIAN Vol 51 No 2 (2026)
Publisher : Pusat Publikasi Jurnal Universitas Islam Kalimantan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/zmip.v51i2.22922

Abstract

The food sector plays a strategic role in agricultural development and overall national development. Demand for food continues to increase along with population growth and increasing per capita income. This study aims to identify strategies for developing corn farming in Tanah Laut Regency. The method used by the researcher is a SWOT analysis, and strategy priority determination is carried out using QSPM analysis. The results of the analysis found six main strategies, including: 1) Increasing farmers' understanding of good corn cultivation techniques, including pest and disease control, thereby minimizing the risk of crop failure. 2) Strengthening farmer group institutions for more effective coordination between related institutions. 3) Optimizing farmer resources to increase production while meeting industrial market needs. 4) Maximizing government support to maintain production continuity. 5) Optimizing corn productivity with high quality (grade) as an effort to deal with price fluctuations in the market. 6) Expanding farmers' access to financing sources or agricultural capital to support the application of appropriate technology.
Analisis Marjin Pemasaran Tomat di Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru Dhea Ananda Ibnati Salamah; Petrus Suse Kobesi
Frontier Agribisnis Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v10i2.17430

Abstract

Kecamatan Landasan Ulin menjadi wilayah penghasil tomat terbesar di Kota Banjarbaru, meskipun produksi mengalami fluktuasi tiap tahun. Namun, tingginya produksi tidak selalu diiringi oleh sistem pemasaran yang optimal. Dengan demikian perlu dilakukan analisis mengenai efisiensi saluran. Penelitian ini bertujuan menganalisis saluran, marjin, farmer’s share, dan kendala pemasaran tomat pada berbagai saluran distribusi di Kecamatan Landasan Ulin. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2025 dengan menggunakan metode survei. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling untuk petani dan snowball sampling untuk pedagang, didapatkan total sampel sebanyak 13 orang sebagai key informan. Analisis data mencakup pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga saluran pemasaran tomat: (1) langsung dari petani ke konsumen, (2) melalui satu perantara yaitu pengecer, dan (3) melalui dua perantara yakni pengepul dan pengecer. Marjin pemasaran bervariasi antara Rp2.667 hingga Rp6.200, dengan farmer’s share tertinggi pada saluran I (100%), diikuti saluran II (82%) dan saluran III (64%). Ketiga saluran tergolong efisien (FS>40%) dan berdasarkan perhitungan farmer’s share petani paling diuntungkan pada saluran pemasaran I. Meskipun efisien secara farmer's share, saluran yang lebih panjang menimbulkan kendala berupa tingginya biaya kerusakan dan lemahnya posisi tawar petani.
KERENTANAN PETANI TAMBAK TERHADAP PERUBAHAN IKLIM DAN MASALAH SOSIAL YANG DITIMBULKAN DI KECAMATAN LANRISANG KABUPATEN PINRANG Andri Sarifuddin; Ian Tubangsa; Asnika Putri Simanjuntak; Elia Damayanti; Petrus Suse Kobesi; Aang Setyawan Anjasmara
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 8 No. 2 (2025): May 2025
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v8i2.3007

Abstract

Abstract: Climate change is a global challenge that has created vulnerabilities for coastal communities, not least for eco-farming pond farmers in Pinrang Regency who are highly dependent on environmental conditions. This research aims to explain the forms of vulnerability experienced by the community of pond farmers in Lanrisang District. Through participant observation research in three villages in Lanrisang, we conducted in-depth interviews with a number of pond farming households which we present ethnographically by looking at three components of vulnerability: exposure, sensitivity and resilience. We found that climate change has led to a 0.5C-1C increase in average annual temperature as well as irregular rainfall patterns. These conditions have resulted in declining pond water quality, which is characterized by changes in salinity, pH, and DO that are not ideal for shrimp and milkfish growth so that posing a risk of failed harvest. In addition, we also found that there are emerging social issues such as competition and theft practices that could pose a security risk. This can reduce income and threaten the productivity of aquaculture. Pond farmers respond to these challenges by finding side jobs or opening businesses, leasing ponds, and converting ponds into agricultural land. We recommend community empowerment policies that focus more on climate resilience and pond farmers' welfare. Keywords: vulnerability;pond;climate change;social problems. Abstrak: Perubahan iklim merupakan tantangan global yang telah menimbulkan kerentanan bagi komunitas pesisir, tidak terkecuali bagi petani tambak eco-farming di Kabupaten Pinrang yang sangat bergantung pada kondisi alam. Penelitian untuk bertujuan untuk menjelaskan bentuk kerentanan yang dialami oleh komunitas petani tambak di Kecamatan Lanrisang. Melalui penelitian observasi partisipan di tiga desa/ kelurahan di Lanrisang, kami melakukan wawancara mendalam terhadap sejumlah rumah tangga petani tambak yang kami sajikan secara etnografis dengan melihat tiga komponen kerentanan yaitu paparan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan ketahanan (resilience). Kami menemukan bahwa perubahan iklim telah menyebabkan peningkatan suhu rata-rata tahunan sebesar 0,5C-1C serta pola curah hujan yang tidak teratur. Kondisi ini mengakibatkan kualitas perairan tambak menurun yang ditandai dengan perubahan salinitas, pH, dan DO yang tidak ideal bagi pertumbuhan udang dan bandeng sehingga menimbulkan risiko gagal panen. Selain itu, kami juga menemukan adanya masalah sosial yang muncul seperti persaingan dan praktik pencurian yang dapat menimbulkan risiko keamanan. Hal ini dapat menurunkan pendapatan dan mengancam produktivitas budidaya tambak. Para petani tambak merespon untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut dengan mencari pekerjaan sampingan atau membuka usaha, melakukan sistem sewa tambak, dan melakukan alih fungsi lahan tambak menjadi lahan pertanian. Kami merekomendasikan kebijakan pemberdayaan masyarakat yang lebih berfokus pada ketahanan iklim dan kesejahteraan petani tambak.Kata kunci: kerentanan;tambak;perubahan iklim; masalah sosial.