Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

PENAMBAHAN ABU TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI BAHAN TAMBAH DALAM PEMBUATAN PAVING BLOCK Berlian Hardini; Fachriza Noor Abdi; Budi Haryanto; Mardewi Jamal; Triana Sharly P. Arifin
Teknologi Sipil : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 5, No 2 (2021): JTS TEKNOLOGI SIPIL
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ts.v5i2.6980

Abstract

Paving block adalah komposisi bahan bangunan yang terbuat dari campuran semen portland, air dan agregat halus dengan atau tanpa bahan tambah lainnya yang tidak mengurangi mutu dari beton tersebut. Paving block merupakan sarana transportasi yang umumnya digunakan dalam perkerasan jalan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan abu tempurung kelapa pada paving block menggunakan pasir palaran dengan perbandingan 1:6. Metode pengujian yang digunakan berdasarkan SNI 03-0691-1996. Benda uji berbentuk persegi panjang dengan ukuran 20cm x 10cm x 6cm sebanyak 39 benda uji dimana 9 benda uji merupakan produksi pabrik dan 30 benda uji merupakan benda uji dengan bahan tambah abu tempurung kelapa sebesar 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% dari berat semen dengan faktor air semen sebesar 0,40. Pengujian kuat tekan menggunakan masing masing 3 buah benda uji dan pengujian daya serap air menggunakan 3 buah benda uji berlaku untuk setiap variasi. Pengujian kuat tekan dilakukan setelah paving block berumur 28 hari.Untuk variasi perbandingan abu tempurung kelapa adalah 0%, 2,5%, 5%, 7,5%, 10% dari berat semen dengan nilai fas sebesar 0,40. Kemudian diperoleh nilai kuat tekan berturut-turut sebesar sebesar 7,2 MPa, 10,5 MPa, 7,8 MPa, 7,6 MPa dan 6,1 Mpa. Berdasarkan hasil tersebut maka paving block dengan penambahan abu tempurung kelapa sebesar 2,5% terhadap berat semen dengan perbandingan semen, pasir dan air yaitu 1:6:0,40 memenuhi syarat berdasarkan SNI 03-0691-1996 masuk pada mutu D atau dapat digunakan untuk taman yang memiliki harga produksi lapangan sebesar Rp. 1.290,- /buah
ANALISA KUAT TEKAN MORTAR DENGAN MENGGUNAKAN ABU TERBANG BATUBARA SEBAGAI BAHAN TAMBAH DAN SEBAGAI BAHAN PENGGANTI SEBAGIAN SEMEN DENGAN AGREGAT HALUS PASIR ANGGANA Fachriza Noor Abdi
Teknologi Sipil : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi No 1 (2018): Edisi Khusus JTS Teknologi Sipil
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ts.v0i1.2167

Abstract

Abu batubara (fly ash) adalah sisa pembakaran batubara yang sangat halus. Kedepan pemakaian batubara sebagai sumber energy akan terus meningkat sehingga dapat menimbulkan permasalahan terhadap lingkungan. Abu batubara mengandung SiO2, Al2O3, P2O5, dan Fe2O3 yang cukup tinggi sehingga abu batubara memenuhi kriteria sebagai bahan yang memiliki sifat semen/pozzolan. Salah satu upaya pemanfaatan abu batubara ini adalah untuk bahan campuran pembuatan paving block. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan abu terbang batubara pada campuran mortar dengan menggunakan agregat halus Pasir Anggana terhadap kuat tekannya. Kuat tekan maksimal yang dihasilkan dari penambahan abu terbang batubara padacampuran mortar dengan menggunakan agregat halus pasir Anggana didapat pada umur 56 hari. Kuat tekan masing-masing persentase penambahan abu terbang batubara adalah 10% (12 Mpa), 20% (14,86 Mpa), 30% (13,5 Mpa), 40% (13,66 Mpa), dan 50% (9,83 Mpa). Kuat tekan maksimal didapat pada penambahan abu terbang batubara terjadi pada persentase 20% sebesar 14,86 Mpa. Kuat tekan maksimal yang didapat dari pengganti abu terbang batubara adalah pada persentase 20% dengan kuat tekan sebesar 10,16 Mpa pada umur 56 hari.
ANALISIS PUSHOVER UNTUK PERFORMANCE BASED DESIGN PADA STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN MENGGUNAKAN SOFTWARE ETABS (Studi Kasus : Proyek Hotel Fox Harris Lite di Jln. S.Parman, Kota Samarinda, Kalimantan Timur) Dini Indah Cahyani; Ery Budiman; Budi Haryanto; Fachriza Noor Abdi; Masayu Widiastuti
Teknologi Sipil : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 6, No 1 (2022): JTS TEKNOLOGI SIPIL
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ts.v6i1.7721

Abstract

Indonesia merupakan daerah yang rawan terhadap gempa bumi, karena terletak pada pertemuan 3 lempeng tektonik besar dunia, yaitu: lempeng Hindia-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Gempa bumi yang terjadi sering kali memakan korban jiwa. Namun, dapat dipastikan bahwa penyebab adanya korban jiwa bukan diakibatkan langsung oleh gempa bumi melainkan oleh rusaknya bangunan yang menyebabkan keruntuhan pada bangunan tersebut. Karena sifat gempa bumi yang tidak dapat diprediksi maka diperlukan suatu tindakan pencegahan guna meminimalisir timbulnya kerugian dan korban jiwa salah satunya dengan merencanakan bangunan tahan gempa dengan konsep Performance Based Design dengan salah satu metode pendekatannya adalah Analisis Static Non-Linear Pushover.Analisis ini bertujuan untuk memperkirakan gaya maksimum dan deformasi yang terjadi serta untuk memperoleh informasi bagian mana saja yang kritis sehingga dapat diketahui kriteria tingkat kinerja struktur dengan menggunakan Metode Spektrum Kapasitas berdasarkan peraturan ATC-40 dan Metode Koefisien Perpindahan berdasarkan peraturan FEMA 356 dengan menggunakan program bantu ETABS. Konsep analisis ini adalah memberi suatu pola beban dorong statik tertentu dalam arah lateral pada pusat massa tiap lantai bangunan. Penambahan beban dilakukan secara otomatis oleh program secara berangsur-angsur sampai tercapai keruntuhan pada elemen struktur atau mencapai target displacement tertentu.Hasil analisis diperoleh kriteria level kinerja kedua metode tersebut termasuk dalam kategori Immediate Ocupancy dan Damage Control, dimana diambil level kinerja struktur terburuk yaitu Damage Control yang artinya bila terjadi gempa bangunan masih mampu menahan gempa yang terjadi dan resiko korban jiwa sangat kecil.
ANALISIS RISIKO K3 MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIRADC DAN METODE JSA (STUDI KASUS : PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG BPKAD SAMARINDA) Wulan Faradila Supriyadi; Triana Sharly P. Arifin; Fachriza Noor Abdi
Teknologi Sipil : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 7, No 1 (2023): JTS TEKNOLOGI SIPIL
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ts.v7i1.11235

Abstract

Pelaksanaan pekerjaan konstruksi terdiri dari berbagai tahapan pekerjaan dan melibatkan banyak unsur. Hal ini menyebabkan kegiatan konstruksi memiliki risiko kecelakaan lebih tinggi. Oleh karena itu perlu diterapkan K3 yang baik pada setiap proyek konstruksi dan salah satu bentuk pengendaliannya adalah dengan sistem manajemen K3. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan level risiko dalam proyek pembangunan gedung BPKAD Samarinda. Serta membandingkan penerapan pengendalian risiko di lapangan dengan rencana kerja K3.Penelitian ini menggunakan metode Hazard Identification, Risk Assesment and Determining Control  (HIRADC) dan Job Safety Analysis (JSA). Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner tertutup dan kuesioner terbuka, hasil kuesioner tertutup diolah menggunakan SPSS dan hasil kuesioner terbuka diolah menggunakan triangulasi. Selanjutnya dilakukan analisis risiko menggunakan severity index dan matriks risiko. Selanjutnya dengan menggunakan metode HIRADC dan JSA akan diketahui level risiko tertinggi pekerjaan dan dapat  ditentukan rekomendasi pengendalian risiko. Tahapan terakhir dalam penelitian ini adalah mengetahui perbandingan penerapan pengendalian risiko di lapangan dengan dokumen RKK3.Hasil dari analisis risiko terdapat 4 pekerjaan dengan level risiko tinggi yaitu pekerjaan kolom dengan 3 level risiko extreme, acp dan kaca dengan 2 level risiko extreme, dan drainase dengan 2 level risiko extreme, sedang balok dan pelat lantai dengan 1 level risiko extreme. Berdasarkan hasil analisis kuesioner terbuka,  didapatkan rekomendasi pengendalian risiko dengan menggunakan Alat Pelindung diri (APD), dilakukan pengecekan, dll. Untuk penerapan pengendalian risiko terhadap proyek secara umum telah dilaksanakan sesuai dengan dokumen RKK3, namun untuk penerapan pemakaian APD terhadap pekerja masih banyak pekerja yang belum menaati peraturan.  
PENERAPAN BALOK BERTULANGAN TUNGGAL PADA RING BALK UNTUK MENEKAN BIAYA KONSTRUKSI (Studi Kasus : Pembangunan Gedung Kantor DENMA) Ananda Putera Novian Milleandra Madani; Fachriza Noor Abdi; Budi Haryanto
Teknologi Sipil : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 7, No 1 (2023): JTS TEKNOLOGI SIPIL
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ts.v7i1.11226

Abstract

Balok merupakan elemen struktur penting yang menahan beban secara horizontal. Terdapat dua jenis balok berdasarkan formasi penulangannya yakni balok bertulangan tunggal dan balok bertulangan rangkap. Balok bertulangan rangkap banyak digunakan masyarakat karena dianggap lebih kuat karena banyaknya tulangan di dalamnya. Namun pada dasarnya penggunaan tulangan rangkap menimbulkan biaya yang besar padahal dalam keadaaan-keadaan tertentu bisa digunakan tulangan tunggal agar biaya lebih murah sehingga dapat menekan biaya konstruksi. Studi kasus penelitian ini adalah Proyek Pembangunan Gedung Kantor DENMA (Detasemen Markas Besar Tentara Nasional Indonesia) yang penelitiannya berfokus pada ring balk saja karena beban yang diterima oleh elemen struktur tersebut tidak besar. Penelitian dimulai dengan mencari data yang diperlukan yakni data beban, data biaya, dan data ukuran yang diperoleh dari data proyek tersebut dan literatur yang ada. Data kemudian diolah sehingga diperoleh nilai kuat nominal apabila balok ring balk diubah  menjadi bertulangan tunggal serta nilai kuat perlu. Nilai kuat nominal dan nilai kuat perlu tersebut dibandingkan dan diperoleh hasil balok bertulangan tunggal dapat dipasang pada ring balk Proyek Pembangunan Gedung Kantor DENMA apabila nilai kuat nominal lebih besar dibandingkan nilai kuat perlunya. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan bahwa secara teoritis balok bertulangan tunggal dapat dipasang pada ring balk proyek studi kasus, namun terkendala di bagian teknis lapangan. Hal ini disebabkan momen negatif yang mengakibatkan pemasangan tulangan banyak terputus sehingga dibutuhkan banyak potongan tulangan. Pemasangan pula perlu diawasi dengan ketat karena harus sesuai dengan diagram momennya. Desain balok bertulangan tunggal memiliki biaya yang lebih murah dibandingkan balok di lapangan yakni sebesar Rp. 60.458.159,- sedangkan biaya balok lapangan adalah 71.135.579, selisih dengan biaya balok di lapangan adalah sebesar Rp.10.677.420,- sehingga didapat penekanan biaya sebesar 15 %. 
ANALISIS VARIASI KANDUNGAN SEMEN TERHADAP KUAT TEKAN BETON RINGAN AGREGAT PUMICE DAN MATERIAL LOKAL Mardewi Jamal; Muhammad Indra; Fachriza Noor Abdi
JURNAL SIPIL SAINS Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Program Stud Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/sipilsains.v13i1.5055

Abstract

Abstrak: Beton sebagai bahan bangunan sudah lama digunakan dan diterapkan secara luas oleh masyarakat sebab memiliki keunggulan-keunggulan dibanding material struktur lainnya yakni memiliki kekuatan yang baik, tahan api, tahan terhadap perubahan cuaca, serta relatif mudah dalam pengerjaan. Oleh karena itu, inovasi teknologi beton selalu dituntut guna menjawab tantangan akan kebutuhan, diantaranya bersifat ramah lingkungan dan memiliki berat jenis yang rendah (beton ringan). Beton ringan dapat diproduksi dengan menggunakan agregat ringan alami salah satunya adalah pumice. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton ringan dengan menggunakan agregat kasar pumice dan agregat halus yang berasal dari material lokal pasir mahakam dan juga apakah material tersebut layak digunakan sebagai bahan pengisi beton. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Variabel bebas yang digunakan adalah perbedaan kandung semen yaitu 300kg/m3, 350kg/m3, 400kg/m3, dan 450kg/m3 . Faktor air semen yang digunakan adalah 0,50. Ukuran butir maksimum agregat kasar (pumice) 20 mm dan menggunakan bahan tanbah berupa Sikament LN. Dalam penelitian ini benda uji dibuat sebanyak enam buah untuk setiap komposisi campuran dengan ukuran cetakan silinder benda uji 15cmx30cm. Pengujian tekan dilakukan pada saat beton berumur 7 hari dan 28 hari. Dari hasil penelitian didapatkan pengaruh perbedaan kandungan semen dalam campuran beton ringan terhadap kuat tekan beton ringan berbanding lurus dengan banyaknya semen yang digunakan dalam campuran. Dalam penelitian ini kuat tekan rata-rata beton ringan dengan kandungan semen 300kg/m3 adalah 12.80 MPa; 350kg/m3 menghasilkan kuat tekan 13.24 MPa; 400kg/m 3 menghasilkan kuat tekan 13.44 MPa; dan pada 450kg/m 3 menghasilkan kuat tekan 15.09 MPa. Pengaruh perbedaan kandungan semen dalam campuran beton ringan terhadap kuat tekan beton ringan berbanding lurus dengan banyaknya semen yang digunakan dalam campuran. Kata kunci: Pumice, Kuat Tekan Beton, Beton Ringan. Abstract: Concrete as a building material has long been used and widely applied by the community because it has advantages compared to other structural materials, namely having good strength, fire resistance, resistance to weather changes, and relatively easy to work with. Therefore, concrete technological innovation is always required to answer the challenges of needs, including being environmentally friendly and having low specific gravity (lightweight concrete). Lightweight concrete can be produced using natural lightweight aggregates, one of which is pumice. This study aims to determine the compressive strength of lightweight concrete using pumice coarse aggregate and fine aggregate derived from local Mahakam sand materials and whether these materials suit concrete fillers. In this study, the method used is the experimental method. The independent variables used were differences in cement content, namely 300kg/m3, 350kg/m3, 400kg/m3, and 450kg/m3. The cement water factor used is 0.50. The maximum grain size of coarse aggregate (pumice) is 20 mm and uses additional Sikament LN material. This study made six specimens for each mixture composition with a cylindrical mould size of 15cmx30cm. Compressive testing was carried out when the concrete was seven and 28 days old. The research results found that the effect of differences in cement content in lightweight concrete mixtures on the compressive strength of lightweight concrete is directly proportional to the amount of cement used in the mixture. In this study, the average compressive strength of lightweight concrete with a cement content of 300kg/m3 was 12.80 MPa; 350kg/m3 gives a compressive strength of 13.24 MPa; 400kg/m 3 gives a compressive strength of 13.44 MPa; and at 450kg/m 3 produces a compressive strength of 15.09 MPa. The effect of differences in cement content in lightweight concrete mixtures on the compressive strength of lightweight concrete is directly proportional to the amount of cement used in the mixture. Keywords: Pumice, Concrete Compressive Strength, Lightweight Concrete.
Selection of Additional Materials for the Production of Paving Blocks Fachriza Noor Abdi; Dutho Suh Utomo
IJESS International Journal of Education and Social Science Vol 4 No 1 (2023): VOL 4 NO 1 APRIL 2023
Publisher : INTERNATIONAL PENELITI EKONOMI, SOSIAL, DAN TEKNOLOGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Additional materials in the manufacture of paving blocks are needed as additional materials to produce paving that meets the required criteria. There are several criteria that can be considered in selecting the criteria for these additives, including compressive strength, splitting tensile strength and permeability. The existence of multi-criteria requires a multi-criteria selection method so that those selected are in accordance with the criteria, therefore the TOPSIS method is used. In this case the decision maker prioritizes permeability as the first criterion, followed by compressive strength and splitting tensile strength with the same interests. The results in this study that the highest weight value was rice husk ash with a value of 0.657 compared to the other two additional ingredients, namely fly ash and palm shell ash. Therefore, rice husk ash is the best choice based on decision making criteria.