Budi Riyanto Wreksoatmodjo, Budi Riyanto
Fakultas Kedokteran Dan Ilmu Kesehatan, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta, Indonesia.

Published : 46 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Komponen Aktivitas dan Jaringan Sosial yang Berpengaruh terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia Wreksoatmodjo, Budi Riyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.631 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i8.1112

Abstract

Pertambahan jumlah penduduk usia lanjut memunculkan berbagai masalah yang antara lain disebabkan oleh kemunduran fungsi kognitif; sedangkan fungsi kognitif para lanjut usia dapat dipengaruhi oleh jaringan sosial dan aktivitas sosial mereka. Penelitian atas 286 responden lanjut usia di Jakarta menunjukkan bahwa lanjut usia yang aktivitas di masyarakatnya buruk dan yang tidak menjadi anggota kelompok masyarakat lain lebih berisiko untuk mempunyai fungsi kognitif buruk dibandingkan dengan mereka yang aktivitas di masyarakatnya baik dan menjadi anggota kelompok masyarakat lain. Kegiatan ke luar rumah dan berbelanja, dan kerja sukarela/amal merupakan komponen yang lebih berperan kendati tidak bermakna dan tidak linear.The increasing world population of elderlies brings additional health burden caused by decreasing cognitive function; and preservation of cognitive function can be influenced by social network and social activities. Research on 286 respondents in Jakarta showed that elderlies with low activities in community and not involved in community organizations have greater risk of low cognitive function compared with more active elderlies. Outings and shopping for daily needs, and voluntary community work are more important components, but not linear nor significant.
Beberapa Kondisi Fisik dan Penyakit yang Merupakan Faktor Risiko Gangguan Fungsi Kognitif Wreksoatmodjo, Budi Riyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 1 (2014): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.721 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v41i1.1168

Abstract

Meningkatnya jumlah lanjut usia di dunia membawa beberapa masalah kesehatan masyarakat, antara lain yang dikaitkan dengan kemunduran fungsi kognitif. Kemunduran fungsi kognitif tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko, baik yang tidak bisa dihindari, seperti usia dan gender, juga beberapa kondisi fisik atau penyakit yang dapat dikendalikan. Pemahaman atas faktor-faktor risiko tersebut dapat membantu mengurangi risiko kemunduran fungsi kognitif.The increase of old age population brings additional burden to community, particularly problems due to cognitive decline. Cognitive decline is influenced by many risk factors; some risk factors are inherent such as aging and gender, but many conditions and diseases can be controlled. The understanding about these risk factors can help reduces the risk of cognitive decline.
Pengaruh Aktivitas Fisik terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia di Jakarta Barat Riyanto Wreksoatmodjo, Budi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 1 (2016): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (887.611 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v43i1.40

Abstract

Salah satu masalah kesehatan utama di kalangan lanjut usia adalah kemunduran fungsi kognitif. Penelitian terdahulu belum dapat memastikan pengaruh aktivitas fisik terhadap pemeliharaan fungsi kognitif. Penelitian atas 286 subjek lanjut usia di Jakarta menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik dikaitkan dengan risiko fungsi kognitif yang lebih rendah. Jenis aktivitas fisik yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif pada penelitian ini adalah olahraga aktif atau berenang, jalan kaki, dan latihan fisik. Mereka yang tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan tersebut berisiko 1,4 sampai 1,6 kali lebih besar untuk mempunyai fungsi kognitif yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang melakukan kegiatan-kegiatan/aktivitas fisik tersebut.
Pengaruh Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) terhadap Fungsi Kognitif Wijaya, Vidya Gani; Wreksoatmodjo, Budi Riyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 2 (2022): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.373 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v49i2.1728

Abstract

Pasien COVID-19 memiliki gejala bervariasi. Saat ini, selain ditemukan gejala pada sistem pernapasan dan pencernaan, gejala di sistem organ lain pun mulai banyak ditemukan, salah satunya pada sistem saraf dengan gejala neurologis yang bervariasi seperti anosmia (sering), stroke, nyeri kepala, kejang, dan penurunan fungsi kognitif. Tata laksana pasien dengan penurunan fungsi kognitif masih diteliti. Beberapa pilihan terapi di antaranya human recombinant erythropoietin, flavonoid, dan terapi imun (IVIg) yang masih kontroversial.
Fatigue sebagai Gejala Sisa COVID-19 Brigitta Gladiola; Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i4.1818

Abstract

COVID-19 merupakan penyakit akibat infeksi Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus-2 (SARS-CoV-2). Dewasa ini, makin banyak penelitian menunjukkan adanya gejala menetap pasca-infeksi COVID-19. Prevalensi pasien pasca-COVID-19 yang memiliki gejala fatigue pada 1-3 bulan pasca-infeksi mencapai 52-70%. Beberapa teori mekanisme fatigue pasca-infeksi COVID-19 antara lain teori disfungsi hipotalamus dan teori GABA. Tata laksana pasien pasca-infeksi COVID-19 dengan gejala fatigue masih perlu diteliti lebih lanjut. Beberapa anjuran intervensi yaitu berolahraga, terapi mindfulness, latihan pernapasan, serta peregangan tubuh/stretching. Sampai saat ini, belum ada tata laksana berbasis bukti ilmiah untuk mengatasi gejala fatigue pasca-infeksi COVID-19.COVID-19 is an infection caused by Severe Acute Respiratory Syndrome Corona Virus-2 (SARS-CoV-2). There is an increasing data on the clinical manifestations of post COVID-19. Around 52-70% individuals recovering from COVID-19 complains of fatigue. Two leading theories of its mechanisms include hypothalamus dysfunction theory and GABA theory. More studies are needed to fully understand the mechanism of post COVID-19 fatigue. There is no specific treatment available, but some interventions such as exercise, mindfulness therapy, and body stretching can be used to ease post COVID-19 fatigue.
Kaitan COVID-19 dengan Risiko Bangkitan Epileptik Stephanie Johanes; Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v49i5.1847

Abstract

COVID-19 dapat menyebabkan kegagalan organ tubuh seperti sistem pernapasan, ginjal, hati, dan jantung. Pada beberapa orang juga ditemukan gejala sistem saraf, seperti delirium, confusion, nyeri kepala, vertigo, hemorrhagic stroke dan iskemik, hilangnya sensasi penciuman dan perasa, kejang atau bangkitan epileptik. Bangkitan epileptik pada kasus COVID-19 dapat dikaitkan dengan aktivasi sel glia, kerusakan sawar darah-otak, keadaan hipertermia atau gangguan elektrolit dan gangguan neurotransmiter. Di lain pihak, pengaruh infeksi COVID-19 pada pasien epilepsi masih belum diketahui pasti. COVID-19 can cause organ failure such as the respiratory system, kidneys, liver, and heart. Risks of neurological complications are delirium, stroke, loss of smell dan taste, and convulsion/epileptic seizure. Seizures in COVID-19 may be associated with glial activation, blood-brain barrier disruption, and hyperthermia and/or neurotransmitter dysregulation. On the other hand, the impact of COVID-19 on epileptic patients is yet to be identified. 
Komplikasi Sistem Saraf Pusat pada COVID-19 Tasia Esterita; Budi Riyantoo Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i11.1552

Abstract

Coronavirus disease-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan pandemi sejak Maret 2020. COVID-19 tidak hanya menyebabkan komplikasi pernapasan dan kardiovaskular, tetapi dapat menyebabkan komplikasi sistem saraf pusat yang juga berkontribusi terhadap mortalitas dan morbiditas. Beberapa komplikasi sistem saraf pusat pada COVID-19 adalah stroke iskemik, stroke hemoragik, meningoensefalitis, acute transverse myelitis, dan ensefalopati. Stroke iskemik pada COVID-19 disebabkan oleh beberapa mekanisme, di antaranya koagulopati, disfungsi endotel, kardioemboli, invasi virus ke sistem saraf pusat, dan terapi imunoglobulin. Stroke hemoragik dapat disebabkan oleh kerusakan endotel akibat inflamasi menyebabkan disregulasi tekanan darah yang meningkatkan risiko stroke hemoragik. Meningoensefalitis pada COVID-19 disebabkan invasi virus langsung melalui cribriform plate atau karena kerusakan endotel yang menjadi pintu masuk SARS-CoV-2 ke otak. Mielitis transversa pada COVID-19 disebabkan hiperinflamasi sistemik, molecular mimicry, dan epitope spreading. Kegagalan organ multipel pada pasien COVID-19 akibat badai sitokin dapat menyebabkan ensefalopati. Coronavirus disease-19 is caused by the SARS-CoV-2 virus that has been causing a pandemic since March 2020. Besides respiratory and cardiovascular complications, COVID-19 can cause complications to central nervous system that also contribute to mortality and morbidity. Some central nervous system complications in COVID-19 are ischemic stroke, hemorrhagic stroke, meningoencephalitis, acute transverse myelitis, and encephalopathy. Ischemic stroke in COVID-19 is caused by several mechanisms, including coagulopathy, endothelial dysfunction, cardioembolism, viral invasion of the central nervous system and immunoglobulin therapy. Hemorrhagic stroke can be associated with blood pressure dysregulation caused by inflammational endothelial damage. Meningoencephalitis in COVID-19 can be caused by direct viral invasion through the cribriform plate or due to endothelial damage that facilitate SARS-CoV-2 entrance to the brain. Transverse myelitis in COVID-19 is caused by systemic hyperinflammation, molecular mimicry and epitope spreading. Multiple organ failure in COVID-19 patients due to a cytokine storm can lead to encephalopathy.
Anosmia pada COVID-19 Ishak Samuel; Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i1.1260

Abstract

Sejak tanggal 11 Maret 2020, WHO telah mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi. Gejala COVID-19 yang paling umum adalah demam, malaise, dan batuk kering, namun dapat juga muncul gejala gangguan penghidu atau anosmia. Anosmia pada COVID-19 dapat disebabkan oleh invasi langsung oleh virus melalui epitel hidung dan bulbus olfaktorius pada reseptor ACE2. Anosmia pada COVID-19 ini dapat timbul tiba-tiba atau didahului oleh gejala ringan seperti batuk kering. Tatalaksana anosmia pada COVID-19 masih terus berkembang dan diteliti lebih lanjut.Since March 11, 2020, WHO has declared COVID-19 a pandemic. The most common symptoms of COVID-19 are fever, malaise, and dry cough, but there can also be symptoms of olfactory dysfunctions including anosmia. Anosmia in COVID-19 can be caused by direct viral invasion through the nasal epithelium and olfactory bulb at the ACE2 receptor. Anosmia in COVID-19 can spontaneously appear or preceded by mild symptoms such as dry cough. The management of anosmia in COVID-19 is still developing and needs more in-depth research. 
Pengaruh Social Engagement terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia di Jakarta Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v41i3.1153

Abstract

Peningkatan harapan hidup manusia akan menambah populasi lanjut usia diikuti dengan peningkatan masalah, antara lain penurunan fungsi kognitif. Salah satu faktor risiko penurunan fungsi kognitif ialah social engagement yang dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal. Penelitian dilakukan menggunakan metode cross sectional di kelurahan Jelambar dan Jelambar Baru, Jakarta atas 286 lanjut usia yang tinggal di keluarga dan di panti werdha menunjukkan adanya pengaruh social engagement terhadap fungsi kognitif lanjut usia, terutama di kalangan panti werdha. Social engagement buruk berhubungan dengan gangguan fungsi kognitif, social engagement buruk berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih rendah. Komponen social engagement yang paling berperan terhadap fungsi kognitif para lanjut usia adalah aktivitas di masyarakat dan keanggotaan di kelompok masyarakat lain (selain posyandu).The improvement of life expectancy has increased old-age population in the world. This condition will increase the problems among elderly, among others is cognitive decline. One of the risk factors for cognitive decline is social engagement that can be influenced by living environment. This research was done with cross sectional method in kelurahan Jelambar and Jelambar Baru on 286 respondents living in family and institution. Social disengagement was associated with lower cognitive function The most important components of social engagement are to become a member of social/community society and to be active in the community. 
Pengaruh Aktivitas Fisik terhadap Fungsi Kognitif Lanjut Usia di Jakarta Barat Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Cermin Dunia Kedokteran Vol 43, No 1 (2016): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v43i1.40

Abstract

Salah satu masalah kesehatan utama di kalangan lanjut usia adalah kemunduran fungsi kognitif. Penelitian terdahulu belum dapat memastikan pengaruh aktivitas fisik terhadap pemeliharaan fungsi kognitif. Penelitian atas 286 subjek lanjut usia di Jakarta menunjukkan bahwa kurangnya aktivitas fisik dikaitkan dengan risiko fungsi kognitif yang lebih rendah. Jenis aktivitas fisik yang berpengaruh terhadap fungsi kognitif pada penelitian ini adalah olahraga aktif atau berenang, jalan kaki, dan latihan fisik. Mereka yang tidak pernah melakukan kegiatan-kegiatan tersebut berisiko 1,4 sampai 1,6 kali lebih besar untuk mempunyai fungsi kognitif yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang melakukan kegiatan-kegiatan/aktivitas fisik tersebut.