Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

SETTLEMENT OF DISPUTES OVER THE INHERITANCE PROPERTY DISTRIBUTION IN THE COMMUNITY OF JUWONO VILLAGE, NGANJUK Poespasari, Ellyne Dwi; Helmi, Hanum Rahmaniar; Soelistyowati, Soelistyowati; Sumedi, Muhammad; Erlangga, Afga Samudera
IUS POSITUM: Journal of Law Theory and Law Enforcement Vol. 2 Issue 4 (2023)
Publisher : jfpublisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56943/jlte.v2i4.415

Abstract

Inheritance disputes in the community of Juwono Village, Kertosono, Nganjuk, East Java, occur because there are several family parties who perceive that the distribution of inheritance has not been fair or not getting any part of the inheritance divided by the inheritor. This disagreement can lead to disputes among family members. This research aims to find out the fair inheritance distribution in Juwono Village community and its settlement. This research is a socio-legal research with an analytical descriptive approach. The results of this research indicated that inheritance distribution disputes that often occur in Juwono Village are disputes related to widows, widowers, biological children, adopted children, extra-marital children, and stepchildren who do not get the share of inheritance that has been determined by inheritance law. If the inheritance distribution dispute cannot be resolved through deliberation within the family or with the help of village officials, then the parties can file a lawsuit to the court.
INHERITANCE IN THE COMMUNITY OF JUWONO VILLAGE, KERTOSONO SUBDISTRICT, NGANJUK REGENCY, EAST JAVA Helmi, Hanum Rahmaniar; Poespasari, Ellyne Dwi; Soelistyowati, Soelistyowati; Erlangga, Afga Samudera; Agustine, Rahmawati Emma Audrya
YURIS: Journal of Court and Justice Vol. 2 Issue 4 (2023)
Publisher : jfpublisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56943/jcj.v2i4.564

Abstract

In Juwono Village, Kertosono Subdistrict, Nganjuk Regency, East Java, inheritance follows a parental kinship system where descent is traced from both parents. All children, regardless of gender, have equal rights to their parents' inheritance, including original and joint property. Disputes may arise if any heir is dissatisfied with their share. This research aims to identify the system and the settlement of inheritance distribution in the Juwono Village Community, Kertosono Subdistrict, Nganjuk Regency, East Java. This research is a socio-legal research that can be classified into descriptive analytical research as this research examines the behavior of Juwono Village community members in the tradition of resolving disputes over the distribution of inheritance property to their heirs.The findings of this research revealed that in Juwono Village, inheritance is distributed based on parental kinship, granting equal rights to male and female heirs. Each heir receives an individual share to own and control. However, disputes often arise due to perceived inequities in the distribution, particularly concerning the shares of widows, widowers, biological children, adopted children, and stepchildren. These disputes, driven by differing interests and dissatisfaction, frequently lead to legal conflicts within the community.
Pemberdayaan Community-Based Womanpreneur: Efektivitas Pada Produksi Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Omah Batik Mojo Dengan Menggunakan Canting Cap Di Desa Mojowangi Kecamatan Mojowarno-Kabupaten Jombang Melani Rahadiyanti; Soelistyowati Soelistyowati; Christina Sudyasjayanti
Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 7 No. 1 (2024): Ranah Research : Journal Of Multidisciplinary Research and Development (Novembe
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/rrj.v7i1.1215

Abstract

Program Pengabdian masyarakat ini, didapatkan dari Hibah Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Bertujuan menganalisis efektivitas berbasis komunitas terhadap womanpreneur pada Kelompok Usaha Bersama (KUBE) Omah Batik Mojo di Desa Mojowangi, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Fokus pengabdian masyarakat pada Permasalahan pada manajemen, 1). Lemahnya jiwa entrepreneur, 2). Kurangnya kegiatan di Omah Batik KUBE, sehingga anggotanya tidak aktif. Dan 3) Permasalahan Sosial kemasyarakatan, kurangnya nilai jual dan minat konsumen menurun karena kurangnya promosi. Motif yang miliki oleh KUBE Omah Batik Mojo, terbatas motif kurang bervariasi. Kendala lamanya dalam berproduksi, keterbatasan bahan dan alat masih tradisional, meningkat kebutuhan pasar yang terus berkembang. Solusinya penggunaan teknik canting cap batik sebagai upaya meningkatkan produktivitas dan kemandirian ekonomi perempuan. Metode menggunakan canting cap dipilih karena lebih efisien dibandingkan dengan canting tulis, sehingga dapat meningkatkan jumlah produksi dan konsistensi motif. Hasil penelitian menunjukkan pemberdayaan perempuan melalui KUBE Omah Batik Mojo memiliki dampak positif dalam peningkatan keterampilan dan kapasitas wirausaha perempuan. Penggunaan canting cap terbukti efektif mempercepat proses produksi, menghasilkan motif yang beragam, sehingga meningkatkan pendapatan anggota KUBE. Pemberdayaan ini berkontribusi untuk peningkatan kemandirian ekonomi perempuan pada komunitas. Tantangan pemasaran persaingan pada produk batik massal tetap perlu diatasi. Pemberdayaan perempuan melalui KUBE Omah Batik Mojo dapat dioptimalkan dengan strategi pengembangan pemasaran digital, peningkatan kualitas produk, dan kemitraan dengan pihak eksternal untuk mendukung pertumbuhan usaha. Pemberdayaan ini tidak hanya memberdayakan perempuan secara ekonomi, tetapi juga mempertahankan nilai budaya batik lokal.
Application of Gedog Weaving in the Design of Women's Work Clothing Ethnic Style Soelistyowati, Soelistyowati
Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Multidisiplin Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jmi.v4i1.2150

Abstract

Gedog weaving in Tuban faces challenges in the modern era, with traditional fabrics often less favored by younger generations, seen as irrelevant to contemporary lifestyles and work settings. Despite this, Gedog woven fabrics hold significant potential for development into diverse fashion products. This research explores this potential by designing a women's workwear collection that merges the beauty of Gedog motifs with modern designs. The goal is to create workwear that is aesthetic, functional, and comfortable for both work and formal occasions, boosting wearer confidence. The research employs qualitative methods, including descriptive analysis. Primary data was gathered through in-depth interviews with Gedog artisans, career women, and fashion industry experts to understand trends, while secondary data was obtained from literature studies. The creative process involved observing and exploring design elements, developing conceptual designs, and crafting moodboards and early sketches embodying ethnic-style workwear. The resulting designs are well-received by career women and cultural enthusiasts, demonstrating Gedog weaving's potential to enhance appreciation for local heritage. This initiative highlights the importance of collaboration between artisans, designers, and industry players in fostering innovation and sustainability for traditional wastra. By integrating Gedog motifs into contemporary fashion, the research supports the creative industry and provides opportunities for wastra artisans to reach broader markets. Ultimately, this effort emphasizes the preservation of traditional fabric culture in the globalization era, showcasing how cultural heritage can inspire innovative, sustainable fashion solutions.
Penggunaan Tenun Ikat Tanimbar Pada Perancangan Modest Wear Bergaya Chinese Look Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Wastra Soelistyowati Soelistyowati; Melania Rahadiyanti
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 10 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i10.2907

Abstract

Tenun ikat Tanimbar merupakan salah satu kain tradisional Nusantara berasal dari kepulauan Maluku, kaya akan motif dan makna simbolis, namun penggunaannya dalam industri mode modern masih terbatas. 4 jenis motif yang menjadi ikonik: 1).Tunis, 2). Cengkeh,3). Kembang Enau dan 5) Ornamen Kakehan. Permasalahan yang terjadi kurang terekspos oleh masyarakat luas, sehingga kurang dikenal keberadaannya. Keterbatasan, sumber daya manusia, alat dan ukuran. Hasil tenun terbatas hanya nilai guna sebagai kain pakaian adat, acara keagamaan dan sebagai souvenir. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi penggunaan tenun Tanimbar dalam konteks busana modest wear, modest wear telah berkembang pesat dalam industri mode global, semakin banyak desainer memadukan elemen tradisional dalam karya mereka untuk menciptakan busana yang unik dan berkarakter. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur berupa dokumentasi foto dan analisa data. Melakukan wawancara terhadap 8 expert dan 10 extreme user wanita berusia 23-38 tahun dan pecinta wastra. Metode penciptaan adaptasi metode design thingking, penciptaan karya busana melalui ideasi, perancangan dan wujud karya. 3 koleksi, casual, formal dan pesta inspirasi Chinese look. Pilihan warna alam, motif, dan tekstur khas tenun Tanimbar memberikan nuansa etnik memperkaya estetika busana Chinese look, sekaligus menciptakan keseimbangan antara modernitas dan tradisi. Perancangan modest wear bergaya Chinese look bahan tenun ikat Tanimbar berpotensi meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya lokal, guna mendukung industri kreatif, membuka peluang bagi pengrajin wastra untuk mendapatkan pasar lebih luas. Hasil kreatifitas berkolaborasi antara pengrajin, desainer, dan pelaku industri mode untuk mendorong inovasi keberlanjutan produk wastra tradisional di era globalisasi.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN DAN GAYA BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATAKULIAH POLA KERAH SOELISTYOWATI .
Serat Rupa: Journal of Design Vol 2 No 2 (2018): SRJD-JULY
Publisher : Faculty of Humanities and Creative Industries, Maranatha Christian University (formerly Faculty of Fine Arts and Design)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.28932/srjd.v2i2.783

Abstract

This study aims to get information about the differences in learning outcomes among students who study use the problem-based learning and direct learning on the basis of competence collar pattern making, getting information about the differences in learning outcomes, the students has a learning style of visual, auditory and kinesthetic on the basis of competence collar pattern making, getting information about the interaction between learning models and learning styles to learning outcomes in basic competencies collar pattern making. The research design in this study used a Factorial Design. The sample classes used in this study was a class A and  B Universitas Ciputra Surabaya academic year 2016/2017. Analysis of data using Analysis of Variance (ANOVA) with a significant level of 0,05 to 0,010 significant 2.871.403. This research found that learning outcomes of students who study use the problem-based learning was significantly higher than the students who study use the direct learning on the basis of competence collar pattern making.  Learning outcomes of the students have a learning style of visual was significantly higher than the students has a learning style of auditory and kinesthetic on the basis of competence collar pattern making.  There was an interaction between learning models and learning styles to learning outcomes in basic competencies fashion production collar pattern making.
The symbolic meaning of the tunis motif of the tanimbar weaving at aesthetic value,applied to clothing in learning fashion design at ciputra university Soelistyowati, Soelistyowati; Rahadiyanti, Melania
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol. 13 No. 2 (2025): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/1162300

Abstract

Tanimbar weaving, especially the Tunis motif, is one of Indonesia's cultural riches that is rich in historical, philosophical, and aesthetic values. This study explores the symbolic meaning of the Tunis motif in relation to aesthetic values ​​and its application in fashion design at the Fashion Design Department at Ciputra University Surabaya. The Tunis motif, which originates from the Tanimbar Islands, has a deep cultural meaning, representing strength, direction, and protection. This motif is inspired by traditional hunting tools, bows and arrows, which symbolize the readiness and alertness of the Tanimbar people. This study uses Charles Pierce Sander's Triadic Interplay theory, which divides signs into three categories: Representamen (sign), Object (sign reference), and Interpretant (understanding). Through this approach, this study reveals how the Tunis motif functions more than just a decorative element, which acts as a medium for cultural expression and identity. This study applies the Tunis motif in modern fashion design, examining how this motif enhances aesthetic value while preserving cultural heritage. The integration of motifs into contemporary clothing designs not only enriches fashion, but also strengthens the cultural identity of the Tanimbar people. This study highlights the importance of cultural preservation through fashion design innovation and the role of local artisans in the global creative economy. The application of motifs in fashion also supports economic empowerment and sustainability in the creative industry, with potential benefits for the local economy.
Program Pelatihan Pemanfaatan Sisa Bahan Perca untuk Produksi Busana Binatang Peliharaan Pada Desa Bungurasih Hartono, Veccyl Olivia; Darmagati, Mehta Juwita Resi Iklas; Lauw, Fiorella; Kongdoro, Adelene; Armelia, Alvya; Halim, Whenny; Gizella, Gabriel; Soelistyowati, Soelistyowati
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 1 (2024): Volume 7 No 1 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i1.12976

Abstract

ABSTRAK Program pelatihan menjahit dilaksanakan di Desa Bungurasih yang berada di wilayah Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Mayoritas wirausaha yang dijalankan di Desa Bungurasih berupa usaha makanan tanpa adanya inovasi yang dilakukan oleh masyarakat. Kain perca adalah potongan kain sisa tidak terpakai dan biasanya dibuang oleh penjahit serta perusahaan kain. Kain perca termasuk kategori limbah anorganik karena bahannya tidak dapat terurai secara alami. Setelah mempertimbangkan permasalahan tersebut, disini terlihat adanya potensi usaha kain perca yang mampu dikembangkan oleh masyarakat dan dapat menjadi peluang bisnis bagi pengembangan Desa Bungurasih. Program yang diselenggarakan bertujuan untuk mengolah kain perca menjadi pakaian hewan serta aksesoris hewan dan mengembangkan kewirausahaan Desa Bungurasih terutama di bidang fesyen dengan membuat produk khas dari desa, serta diharapkannya masyarakat yang berpartisipasi dapat menguasai dasar-dasar menjahit hingga mampu menghasilkan produk layak jual. Kegiatan pengabdian ini disampaikan berupa workshop yang dilakukan secara bertahap, yaitu penyortiran kain, survei awal, pelatihan dasar jahit, penerapan materi, pendampingan produksi, dan evaluasi. Hasil selama pelatihan menunjukkan bahwa proses penyortiran kain dan pemotongan cukup memuaskan dikarenakan proses dilakukan satu per satu dengan baik dan terorganisir. Kegiatan pelatihan tentunya membutuhkan mentoring dan quality control agar para peserta sandang terpandang bisa memperhatikan dalam Teknik menjahit maupun penyesuaian dalam menyamakan kualitas bentuk jahitan dan kerapian produk. Hasil produk yang telah lolos proses pengecekan dan juga revisi kemudian siap untuk dipasarkan. Setelah adanya pelatihan yang telah dilakukan selama kurang lebih 3 bulan, masyarakat Desa Bungurasih telah berhasil meningkatkan kemampuan dalam menjahit produk yang telah diajarkan, sehingga pada pelatihan selanjutnya para peserta dapat membuat produk dengan mandiri tanpa pengawasan.  Kata Kunci: Pelatihan, Perca, Produksi, Hewan, Desa Bungurasih    ABSTRACT The sewing training program was carried out in Bungurasih Village in Waru District, Sidoarjo Regency, East Java Province. The majority of entrepreneurship carried out in Bungurasih Village is in the form of food businesses without any innovation carried out by the community. Patchwork is made from unused leftover fabric scraps and is usually thrown away by tailors and fabric companies. Patchwork is included in the inorganic waste category because the material cannot be decomposed naturally. After considering these problems, here we see the potential for a patchwork business that can be developed by the community and become a business opportunity for the development of Bungurasih Village. The program is aimed at processing patchwork fabric into animal clothing and accessories, also developing Bungurasih Village entrepreneurship, especially in the fashion sector by making typical village products, and it is hoped that the participating communities will be able to master the basics of sewing so that they are able to produce marketable products. This service activity is delivered in the form of workshops carried out in stages, namely cloth sorting, initial survey, basic sewing training, material application, production assistance, and evaluation. The results during the training showed that the fabric sorting and cutting process was quite satisfying because the process was carried step by step and was organized. Training activities require mentoring and quality control so that sandang terpandang participants can pay attention to sewing techniques and adjustments to equalize the quality of stitching and product neatness. The resulting product that has passed the checking and revision process is then ready to be marketed. After training that had been carried out for approximately 3 months, the village Bungurasih community has succeeded in improving the ability to sew the products that have been taught, so that in the next training the participants can make products independently without supervision. Keywords: Training, Fabric Scraps, Production, Animals, Bungurasih Village
Penggunaan Tenun Ikat Tanimbar Pada Perancangan Modest Wear Bergaya Chinese Look Sebagai Upaya Pelestarian Budaya Wastra Soelistyowati, Soelistyowati; Rahadiyanti, Melania
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 10 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i10.2907

Abstract

Tenun ikat Tanimbar merupakan salah satu kain tradisional Nusantara berasal dari kepulauan Maluku, kaya akan motif dan makna simbolis, namun penggunaannya dalam industri mode modern masih terbatas. 4 jenis motif yang menjadi ikonik: 1).Tunis, 2). Cengkeh,3). Kembang Enau dan 5) Ornamen Kakehan. Permasalahan yang terjadi kurang terekspos oleh masyarakat luas, sehingga kurang dikenal keberadaannya. Keterbatasan, sumber daya manusia, alat dan ukuran. Hasil tenun terbatas hanya nilai guna sebagai kain pakaian adat, acara keagamaan dan sebagai souvenir. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi penggunaan tenun Tanimbar dalam konteks busana modest wear, modest wear telah berkembang pesat dalam industri mode global, semakin banyak desainer memadukan elemen tradisional dalam karya mereka untuk menciptakan busana yang unik dan berkarakter. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui studi literatur berupa dokumentasi foto dan analisa data. Melakukan wawancara terhadap 8 expert dan 10 extreme user wanita berusia 23-38 tahun dan pecinta wastra. Metode penciptaan adaptasi metode design thingking, penciptaan karya busana melalui ideasi, perancangan dan wujud karya. 3 koleksi, casual, formal dan pesta inspirasi Chinese look. Pilihan warna alam, motif, dan tekstur khas tenun Tanimbar memberikan nuansa etnik memperkaya estetika busana Chinese look, sekaligus menciptakan keseimbangan antara modernitas dan tradisi. Perancangan modest wear bergaya Chinese look bahan tenun ikat Tanimbar berpotensi meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya lokal, guna mendukung industri kreatif, membuka peluang bagi pengrajin wastra untuk mendapatkan pasar lebih luas. Hasil kreatifitas berkolaborasi antara pengrajin, desainer, dan pelaku industri mode untuk mendorong inovasi keberlanjutan produk wastra tradisional di era globalisasi.
PENGEMBANGAN PRODUK SAJADAH UNTUK SI KECIL: PEMBERDAYAAN IBU-IBU PKK DI DESA BUNGURASIH, SIDOARJO Hartanto, Louisa Christine; Swastika, Gabriela Laras Dewi; Soelistyowati, Soelistyowati; Tanzil, Marini Yunita; Tahalele, Yoanita Kartika Sari
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2024): Volume 5 No. 3 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i3.27957

Abstract

Mendekati masa Ramadhan Tahun 2024, harga-harga pangan melonjak tinggi. Beberapa masyarakat mengakui mengalami kesulitan dalam mendapatkan bahan pokok dikarenakan harga yang tidak terjangkau hingga stok terbatas. Rata-rata pengalaman ini dialami oleh ibu-ibu rumah tangga yang mana penghasilan satu-satunya hanya berasal dari suami mereka. Mereka ingin membantu perekonomian keluarga di tengah situasi harga-harga pangan yang meningkat pesat, terutama mendekati Bulan Ramadhan. Permasalahan ini yang kemudian mendorong tim dosen dan mahasiswa Universitas Surabaya melakukan pemberdayaan pada ibu-ibu PKK di Desa Bungurasih, Sidoarjo. Desa yang terletak di perbatasan Kota Surabaya dan Sidoarjo ini memiliki keunikan tersendiri. Selain dikenal karena dekat dengan lokasi terminal terbesar di wilayah Surabaya dan Sidoarjo, Desa Bungurasih juga memiliki wisata religi Mbah Bungur. Situs wisata ini diharapkan dapat memberikan nilai khas untuk Desa Bungurasih, sehingga perlu diciptakan sebuah produk khas. Tema produk religi Islami dalam industri fesyen menjadi sebuah trend yang akhir-akhir ini ramai di masyarakat, terutama pada Bulan Ramadhan, pernak-pernik beribadah juga ikut ramai dicari. Maka produk yang dikembangkan untuk para ibu-ibu PKK Desa Bungurasih guna menjawab permasalahan tersebut adalah membuat sajadah untuk anak-anak. Bahan pembuatan sajadah anak ini adalah campuran komposisi dari kain baru sebagai dasar sajadah, dikombinasikan dengan berbagai kain perca sebagai penghias sajadah. Hiasan yang dimaksud dapat berupa berbagai bentuk seperti awan, kabah, bulan, dan lain sebagainya. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, produk sajadah untuk si kecil berhasil menambah penghasilan dari masing-masing ibu rumah tangga untuk dapat mendukung perekonomian keluarga mereka. Selain itu, pemanfaatan kain perca sebagai salah satu limbah tekstil, diharapkan dapat turut mengurangi polusi pada lingkungan.