Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Al-MUNZIR

POLA KOMUNIKASI ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN AKHLAK ANAK Nurdin Karim
Al-MUNZIR No 2 (2014): Vol. 7 No. 2 November 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.936 KB) | DOI: 10.31332/am.v7i2.279

Abstract

Abstrak: Akhlak adalah sebuah pilar utama dalamkehidupan masyarakat sepanjang sejarah. Pendidikandalam bidang apapun harus selalu diselaraskan dengantujuan untuk membentuk manusia yang berakhlak mulia(aklakul karimah).Dalam proses pembentukan akhlak bagi anak-anak,orang tua hendakya selalu membuka kran komunikasiyang sehat bagi anak. Pendidikan yang menyenangkanbagi anak di rumah akan melahirkan komunikasi yangterbuka bagi orang tua dan anak. Anak akan merasaaman, terlindungi, mendapatkan kasih sayang, cinta,penyang, sopan dan santun manakala orang tuamembesarkan anak dalam lingkungan keluarga yangpenuh dengan kelemahlembutan dan kasih sayang.Sekolah merupakan salah satu institusi yangmenindaklanjuti proses komunikasi orang tua dan anakdalam keluarga. Peran sekolah adalah memfaslitasiproses pembentukan awal yang telah terjadi dalamkehidupan keluarga. Salah satu unsur yang banyakterabaikan dalam proses pembentukan akhlak anakadalah pemerolehan dan penanaman nilai-nilai agamabagi anak-anak di rumah. Nilai-nilai agama menjadiinstrumen yang sangat penting diberikan kepada anakanaksejak dini terutama dalam keluarga sehingga anakanakmemiliki pisau analisa iman sebagai benteng diridalam menangkal kezaliman terutama dalam kekerasandan kebrutalan terhadap anak-anak.Kata Kunci: Orang tua, komunikasi, anak, akhlak
DAKWAH TERUMBU KARANG Membumikan Karakter Ekologis Melalui Penguatan Kapasitas Kelembagaan pada Masyarakat Pesisir Kepulauan Tukang Besi Nurdin Nurdin
Al-MUNZIR No 2 (2015): VOL 8 NO.2 NOVEMBER 2015
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (418.022 KB) | DOI: 10.31332/am.v8i2.756

Abstract

 Isu lingkungan kaitannya dengan dakwah yang menjadi fundamental ideas dari program pemberdayaan ini berangkat dari asumsi, bahwa selama ini aktivitas dakwah di satu sisi dan kegiatan pelestarian lingkungan pada sisi lain, belum berjalan berkelindang. Padahal jika  disatupadukan, diyakini akan memberi efek positif yang besar, utamanya di tengah kegalauan umat manusia terhadap masa depan lingkungan. Dalam konteks Kepulauan Tukang Besi (Wakatobi) yang 97% wilayahnya adalah laut, pembumian nalar ekologis dalam tata pikir masyarakat  menjadi penting dengan tiga alasan; 1) tuntutan pelestarian lingkungan adalah amanah Tuhan terhadap makhluknya, 2) tuntutan bagi masyarakat Wakatobi terkait dengan masa depan lahan pencarian mereka, 3) Wakatobi merupakan pusat segitiga terumbu karang dunia atau coral triangle world.Studi ini menjelaskan tentang para da’i yang berkarakter dan berwawasan ekologis melalui penguatan kapasistas kelembagaan. Dengan participatory action research (PAR), studi ini menghasilkan rancangan sistem dan manajemen tata kelola lembaga dakwah dan Da’i Terumbu Karang sehingga terwujud masyarakat yang bernalar ekologis, dapat menjaga kelestarian lingkungan Wakatobi sebagai bendahara biodiversitas dunia yang utama. Kata Kunci: dakwah, karakter ekologis, penguatan kapasitas kelembagaan.
ANALISIS PENGEMBANGAN DAKWAH MELALUI STAND UP COMEDY NURDIN NURDIN
Al-MUNZIR No 1 (2016): VOL.9. NO. 1 MEI 2016
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.651 KB) | DOI: 10.31332/am.v9i1.783

Abstract

Salah satu metode pengembangan dakwah yang perlu mendapat perhatian dari kalangan penggiat dakwah adalah Stand Up Comedy Dakwah. Stand up Comedy memiliki pengertian lawakan tunggal atau komedi tunggal adalah salah satu genre profesi melawak yang pelawaknya membawakan lawakannya di atas panggung seorang diri. Biasanya di depan pemirsa lansung, dengan cara bermonolog mengenai sesuatu topik. Dakwah adalah upaya untuk mengajak, menyeru dan memanggil seseorang untuk kembali menjalankan perintah Allah Swt yang dilakukan oleh seorang da’i. Dalam konteks mengemban tugas berdakwah, muballigh memerlukan berbagai pendekatan dan metode pengembangan dalam menyelenggarakan aktifitas dakwah. Dengan kehadiran teknologi informasi seperti media elektronik maupun media cetak, maka metode untuk mengembangkan dakwah semakin kuat. Sebab pemanfaatan media diyakini menjadi salah satu sarana yang efektif untuk mengembangkan dakwah Islam, baik melalui media elektronik maupun media cetak. Melalui media tersebut dakwah dikembangkan sehingga bisa merambah keseluruh pelosok tanah air. Stand Up Comedy dakwah sangat penting bagi pengembangan dakwah Islam, tidak hanya asal tertawa dan menghibur, hampa makna. Tetapi perlu dikemas dalam bahasa yang mengandung pesan-pesan dan  nilai-nilai Islam. Kata Kunci: dakwah, stand up comedy
Membumikan Kaidah Kehidupan Lokal Falsafah Bhinci-Bhinciki Kuli (Studi Pendidikan Karakter pada Masyarakat Buton) Nurdin Nurdin
Al-MUNZIR Vol 13, No 1 (2020): Edisi Mei 2020
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/am.v13i1.3732

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kaidah falsafah bhinci-bhinci kuli pada masyarakat Buton dalam membangun pendidikan karakter. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan sumber data penelitian adalah masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, guru, dan pemerintah daerah. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen dengan key instrument adalah peneliti sendiri. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis Miles dan Huberman yaitu: reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) bhinci-bhinciki kuli dalam bahasa wolio terdiri dari kata bhinci-bhinciki artinya cubit-cubit dan kuli artinya kulit. Jadi bhinci-bhinciki kuli artinya cubit-cubit kulit yang mengandung makna bahwa cubit diri sendiri sebelum mencubit orang lain. Kalau anda mencubit diri anda merasa sakit, maka ketika anda mencubit orang lain juga merasakan sakit. Melalui falsafah bhinci-bhinciki kuli ini dapat dimaknai bahwa semua manusia mempunyai perasaan yang sama, harga diri yang sama, hak-hak asasi yang sama. Manusia diajarkan untuk saling merasakan apa yang dirasakan orang lain. Yang digugah adalah kejujuran pada hati nurani manusia dalam mengekspresikan rasa yang dalam bahasa wolio disebut namisi. Konsep rasa inilah yang menjadi akar persamaan manusia yang menjadi satu dengan sesamanya, (2) implementasi falsafah bhinci-bhinciki kuli adalah melalui lembaga adat, lembaga pendidikan dan birokrasi, (3) nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam falsafah bhinci-bhinciki kuli yaitu; pomae-maeaka (saling menghormati), popia-piara (saling memelihara), pomaa-maasiaka (saling menyayangi), dan poangka-angkataka (saling menghargai).
Model Komunikasi Guru dan Tenaga Kependidikan Terhadap Siswa Tunarungu di SLBN Konda Dwi Rahayu; Nurdin Nurdin; Sitti Fauziah; Mansur Mansur
Al-MUNZIR Vol 16, No 1 (2023) : Mei 2023
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/am.v16i2.4359

Abstract

ABSTRACTThis study aims to describe the communication process that occurs at Konda State Special School (SLBN), namely between teachers and education staff towards students with disabilities who are deaf. The deaf are circumstances in which one cannot hear, so one cannot speak. The method of research used in this study is qualitative descriptive, where data is gathered through observation, interview, and document study. Then, the data is analyzed by doing data reduction, data presentation, and a deduction. Informant in this study are teachers and education staff  who have had direct contact with deaf student. Studies have shown that teachers and education staff implement S-R model, circular and secondary communication models, where deaf students are active when communicating with communicators both in the learning process and outside the classroom. A student with his ignorance and confusion about something will ask him directly. Then, when a communication process is challenging, a second alternative is that of using a handphone or paper as a text. It can also be seen that teachers and education staff use both verbal (oral) and nonverbal (SIBI) forms of communication simultaneously in conveying messages. In addition, the obstacles to communicating with deaf students are due to physical disabilities so as not to speak like other humans and poor language mastery, and in the learning process the deaf students forgets easly, gets bored, gets tired quickly and has difficulty concentrating.  Keywords : Communication Model, Deaf Students, Education Staff, SLB, Teacher