Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

The Correlation between Body Mass Index (BMI) and Recovery Time on General Anesthesia Patient Using Endotracheal Tube (ET) Maryadi, Adi; Rahmaya Nova Handayani; Eza Kemal Firdaus; Asmat Burhan
Java Nursing Journal Vol. 2 No. 1 (2024): November - February 2024
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61716/jnj.v2i1.24

Abstract

Conscious recovery time is the time it takes for the patient to be removed from the conscious recovery room when the patient is fully conscious. Patients who are unconscious within more than 15 minutes are considered prolonged, even to respond to a stimulus in highly susceptible patients requires 30-45 minutes after general anesthesia drugs are stopped. One of the causes of lengthening the time to recover consciousness is the Body Mass Index (BMI) in patients which can increase the potential of anesthetic drugs given. The purpose of this study was to determine the relationship between Body Mass Index (BMI) and conscious recovery time in general anesthesia patients using Endotracheal Tube (ET) at RSUD Dr. Soedirman Kebumen. The method of ths study was correlation analitik with a cross-sectional approach. The sample of this study amounted to 48 respondents with consecutive sampling technique. Data analysis was carried out using the Kendall Tau test. The results of the study obtained 86.5% of respondents had a fast conscious recovery time (<15 minutes) and 13.5% of respondents had a prolonged conscious recovery time (>15 minutes). Of the results of the kendall tau correlation test obtained results with a significancy p value of 0.000 < 0.05 which means there is a relationship between the body's mass index to the recovery time of consciousness after general anesthesia with the endotracheal tube. The conclusion of this study is that majority of respondents who have a quick recovery time of less tha 15 minutes are respindents with a normal body mass index. Patient with a fat or obese BMI will receive a higher dose of anesthetic medication compared to patients in the thin category. When the anesthetic drug is given a higher concentration, the effect of the ansthetic drug will be longer.
The Relationship Between the Triple Airway Maneuver Insertion Technique and The Success Rate of Laryngeal Mask Airway Installation in Elective Surgery Bagas Kara Alfaridzi; Asmat Burhan; Feti Kumala Dewi
Java Nursing Journal Vol. 2 No. 3 (2024): July - October 2024
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61716/jnj.v2i3.80

Abstract

Background: The Laryngeal Mask Airway (LMA) is a widely utilized supraglottic airway device by anesthesiologists in selective procedures, particularly in cases where intubation is not feasible or when managing a difficult airway. Complicating factors such as a short neck and large tongue can hinder LMA insertion, necessitating the use of the Triple Airway Maneuver (TAM). This technique involves a combination of head elevation, anterior mandible lift, and mouth opening to facilitate airway clearance. Purpose: This study was to evaluate the relationship between the TAM technique and the success rate of LMA insertion during elective surgeries at Dr. Soedirman Kebumen General Hospital. Methods: A cross-sectional, analytic study was conducted in June 2024, involving 52 respondents selected via purposive sampling. Data were collected using observation sheets. Findings: The findings revealed that the majority of respondents were aged 17-25 years (38.5%) and had a body mass index of 18.5-25.0 (73.1%). Non-smokers constituted 73.1% of the sample, while 46.2% had occupations involving repetitive neck movements. The TAM group achieved 45 successful LMA insertions, with 44 succeeding on the first attempt and 1 on the second, compared to 7 successful insertions in the non-TAM group. However, Kendall’s tau c test (p=0.056) indicated no statistically significant relationship between TAM and LMA insertion success rates, and the correlation coefficient (0.385) suggested a weak relationship. Conclusions: the TAM technique does not significantly influence the success rate of LMA insertion
Studi Deskriptif Burnout Pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa Sofia Nanda Arista; Asmat Burhan; Rahmaya Nova Handayani
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.1698

Abstract

Burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana seseorang merasa stres dan mengalami kelelahan, baik secara emosional maupun secara fisik. Burnout dapat menyebabkan absensi yang lebih tinggi pada mahasiswa, motivasi yang lebih rendah untuk mengerjakan tugas, serta persentase drop out yang meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran burnout pada mahasiswa keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian di Universitas Harapan Bangsa. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner MBI-SS. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Besar sampel yaitu 266 responden. Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 18-20 tahun (58,3%), berjenis kelamin perempuan (69,5%), serta jumlah responden semester 2 sebanyak 70 orang (26,3%), semester 4 sebanyak 82 orang (30,8%), semester 6 sebanyak 60 orang (22,6%), dan semester 8 sebanyak 54 orang (20,3%). Mayoritas responden mengalami burnout tingkat sedang (55,3%). Berdasarkan karakteristik responden, mayoritas mengalami burnout sedang pada rentang usia 18-20 tahun (30,1%), Berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki persentase burnout lebih tinggi dari pada laki-laki dengan persentase 26,3% burnout ringan,38% burnout sedang, dan 4,5% burnout berat. Berdasarkan tingkat semester, mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi semester 2,4,6, dan 8 mengalami burnout tingkat sedang dengan persentase tertinggi berada pada mahasiswa semester 2 yaitu sebesar 15,8%. Mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi mengalami burnout tingkat sedang.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Tentang Penerapan Komunikasi Sbar Pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi Universitas Harapan Bangsa Bheta Chintia Agustina; Amin Susanto; Asmat Burhan
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v7i2.136

Abstract

Pengetahuan yang kurang tentang komunikasi SBAR menyebabkan kualitas pelayanan kesehatan rendah. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai komunikasi SBAR untuk meningkatkan keselamatan pasien. Teknik komunikasi SBAR adalah metode yang dipakai oleh anggota tim kesehatan untuk menginformasikan kondisi pasien. SBAR terbukti meningkatkan berbagai aspek dalam pengaturan klinis, seperti kejelasan komunikasi perawat, kompetensi klinis dan kepuasan kerja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang penerapan komunikasi SBAR pada mahasiswa keperawatan anestesiologi Universitas Harapan Bangsa. Metode penelitian diskriptif, jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Responden penelitian ini yaitu mahasiswa aktif Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan angkatan 2021, semester 8 di Universitas Harapan Bangsa. Hasil penelitian ini menunjukan gambaran karakteristik jenis kelamin laki-laki 48 responden (28,6%) perempuan 120 responden (71,4%), dan mayoritas usia responden 22 tahun (40,5%). Tingkat pengetahuan responden berada di katagori baik sebanyak 139 responden (82,7%). Tingkat pengetahuan berdasarkan jenis kelamin perempuan sebanyak 98 responden (58,3%), dan laki-laki 40 responden (24,4%) memiliki tingkat pengetahuan baik. Tingkat pengetahuan berdasarkan usia 22 tahun 55 responden (32,7%) memiliki tingkat pengetahuan baik.
Pengaruh Pemberian Aromaterapi Peppermint Dan Lavender Terhadap Pasien Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) Pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea Di RS Emanuel Banjarnegara Rere Ardia Cahyani; Asmat Burhan; Feti Kumala Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.151

Abstract

Sectio caesarea merupakan metode persalinan melalui pembedahan yang berisiko menimbulkan komplikasi salah satunya adalah Postoperative Nausea and Vomiting (PONV). Kondisi ini dapat mengganggu kenyamanan pasien dan memperpanjang waktu pemulihan. Sebagai alternatif penanganan, intervensi non-farmakologis seperti aromaterapi peppermint dan lavender dapat menjadi pilihan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas sebelum dan sesudah pemberian aroma terapi peppermint dan lavender dalam mengurangi PONV pada pasien yang menjalani operasi Sectio Caesarea. Penelitian ini menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan pre-test dan post-test pada 70 pasien. Sampel dibagi menjadi dua kelompok masing-masing 35: satu kelompok menerima aromaterapi peppermint (eksperimen) dan kelompok lainnya aromaterapi lavender (kontrol). Data PONV diukur menggunakan skala numerik sebelum dan sesudah intervensi, lalu dianalisis dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata sebelum dilakukan pemberian aromaterapi peppermint yaitu 4,428 dan sesudah di lakukan 3,60 nilai sedangkan rata-rata sebelum dilakukan pemberian aromaterapi lavender yaitu 5.06 dan sesudah di lakukan 4.60. Wilcoxon menunjukkan bahwa perbedaan nilai PONV setelah di lakukan antara kelompok eksperimen aromaterapi pappermint adalah 0,00 dan kontrol aromaterapi lavender 0,028 signifikan (p < 0,05), dua kelompok eksperimen ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan tingkat PONV sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi peppermint dan lavender. Penelitian ini mendukung penggunaan aromaterapi peppermint dan lavender sebagai metode yang efektif dalam manajemen PONV dan memberikan dasar untuk penerapan klinis yang lebih luas.
Gambaran Kejadian Transient Neurological Symptoms Pada Pasien Pasca Sectio Caesarea Dengan Anestesi Spinal Winaldi; Amin Susanto; Asmat Burhan
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.225

Abstract

Angka kematian ibu secara global masih tinggi, dengan 287.000 kasus tercatat pada tahun 2020. Sebagian besar disebabkan oleh komplikasi obstetri seperti perdarahan, infeksi, dan preeklampsia. SC merupakan prosedur yang semakin sering dilakukan untuk menangani persalinan berisiko tinggi, termasuk di Indonesia, yang mencapai 25,9% pada tahun 2023. Anestesi spinal menjadi pilihan utama karena efektif dan relatif aman, namun tetap memiliki risiko komplikasi, salah satunya TNS. TNS ditandai dengan nyeri sementara di punggung, gluteus, atau tungkai bawah pasca tindakan, yang dapat menghambat pemulihan dan kenyamanan ibu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kejadian TNS pada pasien pasca SC dengan anestesi spinal di RSUD Cilacap. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan potong lintang. Sampel berjumlah 88 pasien, dipilih melalui consecutive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi dan kuesioner Numeric Rating Scale (NRS), lalu dianalisis secara deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa 36,4% pasien mengalami TNS. Kejadian paling banyak ditemukan pada usia 26–40 tahun (75%), status ASA II (62,5%), tanpa riwayat operasi (68,8%), serta penggunaan bupivacaine (59,4%). Nyeri terbanyak berada pada kategori sedang-berat. TNS masih menjadi komplikasi yang cukup tinggi pada anestesi spinal pasca sectio caesarea. Faktor usia, status ASA, riwayat operasi, jenis anestesi lokal, dan jumlah tusukan turut berperan. Diperlukan peningkatan keterampilan teknis serta edukasi pasien untuk pencegahan dan penanganan TNS yang lebih optimal.
Pengaruh Edukasi Terhadap Pengetahuan Manajemen Nyeri Pada Pasien Pasca Bedah Orthopedi Di RSUD Dr. Mohammad Zyn Sampang Ailsya Farhana; Asmat Burhan; Feti Kumala Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.249

Abstract

Latar belakang : Bedah ortopedi adalah prosedur medis yang menangani kondisi muskuloskeletal, dan manajemeninyeri yang efektif sangat penting untuki kenyamanan pasien dan penyembuhan yang dipercepat pasca operasi. Penelitianiini bertujuan untukimengetahui pengaruh pendidikan pada pengetahuan manajemen nyeri di antara pasien operasi pasca bedah ortopedi di RSUD Dr. Mohammad Zyn Sampang. Penelitian ini menggunakanidesain one-groupipretest-posttest, yang melibatkan 77 responden dengan Teknik Purposive sampling. Media dalam penelitian ini menggunakan media leaflet terkait manajemen nyeri farmakologis dan non farmakologis serta menggunakan kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan manajemen nyeri sebelum dan sesudah edukasi. Temuan mengungkapkan bahwa mayoritas responden berusia >35 tahun sebanyak 38 reponden (49,4%) dan berjenis kelamin laki-laki sebanyak 52 responden (67,5%). Sebelum pendidikan pengetahuan manajemen nyeri sebagian besar responden menunjukkan pengetahuan cukup sebesar 37 responden (48,1%) dan sesudah diberikan pendidikan manajemen nyeri sebagian responden menunjukkan pengetahuan baik sebesar 68 responden (88,3%). Hasil penelitian ini mununjukkan adanya pengaruh edukasi terhadap pengetahuan manajemen nyeri pada pasien pasca bedah orthopedi dibuktikan dengan nilai P 0,000 (0,005). Ada pengaruhiedukasi terhadap pengetahuani manajemen nyerii pada pasien pasca bedah orthopedi di RSUD dr. Mohammad Zyn Sampang.
Hubungan Status Fisik American Society Of Anestesiologist (ASA) Dengan Bromage Score Di Rumah Sakit Khusus Bedah Jatiwinangun Purwokerto M Iqbal Zamzam Budiana; Septian Mixropa S; Asmat Burhan
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spinal anestesi merupakan salah tindakan pembiusan untuk mengurangi rasa sakit akibat pembedahan. Penilaian pra pembedahan perlu dilakukan agar dapat mempersiapkan kondisi pasien yaitu salah satunya dengan menggunakan penilaian status fisik American Society of Anestesiologist (ASA). Tindakan monitoring setelah pembedahan harus dilakukan, alah satu indikator yang digunakan untuk monitoring pasca operatif  untuk menetukan kesiapan pasien pasca anestesi dikeluarkan yaitu dengan menggunakan monitoring Bromage Score. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan status fisik American Society Of Anestesiologist (ASA) dengan Bromage Score. Metode penelitian yang digunakan yaitu tfanalitik tfkorelasional dengan pendekatan cross sectional dengan pengambilan sampel total sampling sehingga diperoleh 64 responden. Hasil penelitian di dapatkan status fisik American Society of Anestesiologist (ASA) (68,8%)  dan Bomage Score (57,8%) , analisis korelasi koefisien menunjukan 0,448 artinya hubungan dengan nilai sedang. Hasil uji menggunakan Kendall’s Rank dengan perolehan hasil p-volue 0,000 (p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan dengan arah positif. Kesimpilan:  Semakin tinggi nilai status fisik American Society of Anestesiologits (ASA) semakin tinggi Bromage Score.