Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

The Relationship Between the Triple Airway Maneuver Insertion Technique and The Success Rate of Laryngeal Mask Airway Installation in Elective Surgery Bagas Kara Alfaridzi; Asmat Burhan; Feti Kumala Dewi
Java Nursing Journal Vol. 2 No. 3 (2024): July - October 2024
Publisher : Global Indonesia Health Care (GOICARE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61716/jnj.v2i3.80

Abstract

Background: The Laryngeal Mask Airway (LMA) is a widely utilized supraglottic airway device by anesthesiologists in selective procedures, particularly in cases where intubation is not feasible or when managing a difficult airway. Complicating factors such as a short neck and large tongue can hinder LMA insertion, necessitating the use of the Triple Airway Maneuver (TAM). This technique involves a combination of head elevation, anterior mandible lift, and mouth opening to facilitate airway clearance. Purpose: This study was to evaluate the relationship between the TAM technique and the success rate of LMA insertion during elective surgeries at Dr. Soedirman Kebumen General Hospital. Methods: A cross-sectional, analytic study was conducted in June 2024, involving 52 respondents selected via purposive sampling. Data were collected using observation sheets. Findings: The findings revealed that the majority of respondents were aged 17-25 years (38.5%) and had a body mass index of 18.5-25.0 (73.1%). Non-smokers constituted 73.1% of the sample, while 46.2% had occupations involving repetitive neck movements. The TAM group achieved 45 successful LMA insertions, with 44 succeeding on the first attempt and 1 on the second, compared to 7 successful insertions in the non-TAM group. However, Kendall’s tau c test (p=0.056) indicated no statistically significant relationship between TAM and LMA insertion success rates, and the correlation coefficient (0.385) suggested a weak relationship. Conclusions: the TAM technique does not significantly influence the success rate of LMA insertion
Studi Deskriptif Burnout Pada Mahasiswa Keperawatan Anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa Sofia Nanda Arista; Asmat Burhan; Rahmaya Nova Handayani
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.1698

Abstract

Burnout merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi dimana seseorang merasa stres dan mengalami kelelahan, baik secara emosional maupun secara fisik. Burnout dapat menyebabkan absensi yang lebih tinggi pada mahasiswa, motivasi yang lebih rendah untuk mengerjakan tugas, serta persentase drop out yang meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran burnout pada mahasiswa keperawatan anestesiologi di Universitas Harapan Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian di Universitas Harapan Bangsa. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner MBI-SS. Teknik pengambilan sampel menggunakan stratified random sampling. Besar sampel yaitu 266 responden. Analisa data yang digunakan adalah analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 18-20 tahun (58,3%), berjenis kelamin perempuan (69,5%), serta jumlah responden semester 2 sebanyak 70 orang (26,3%), semester 4 sebanyak 82 orang (30,8%), semester 6 sebanyak 60 orang (22,6%), dan semester 8 sebanyak 54 orang (20,3%). Mayoritas responden mengalami burnout tingkat sedang (55,3%). Berdasarkan karakteristik responden, mayoritas mengalami burnout sedang pada rentang usia 18-20 tahun (30,1%), Berdasarkan jenis kelamin, perempuan memiliki persentase burnout lebih tinggi dari pada laki-laki dengan persentase 26,3% burnout ringan,38% burnout sedang, dan 4,5% burnout berat. Berdasarkan tingkat semester, mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi semester 2,4,6, dan 8 mengalami burnout tingkat sedang dengan persentase tertinggi berada pada mahasiswa semester 2 yaitu sebesar 15,8%. Mayoritas mahasiswa keperawatan anestesiologi mengalami burnout tingkat sedang.
Hubungan Status Fisik American Society Of Anestesiologist (ASA) Dengan Bromage Score Di Rumah Sakit Khusus Bedah Jatiwinangun Purwokerto M Iqbal Zamzam Budiana; Septian Mixropa S; Asmat Burhan
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 1 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spinal anestesi merupakan salah tindakan pembiusan untuk mengurangi rasa sakit akibat pembedahan. Penilaian pra pembedahan perlu dilakukan agar dapat mempersiapkan kondisi pasien yaitu salah satunya dengan menggunakan penilaian status fisik American Society of Anestesiologist (ASA). Tindakan monitoring setelah pembedahan harus dilakukan, alah satu indikator yang digunakan untuk monitoring pasca operatif  untuk menetukan kesiapan pasien pasca anestesi dikeluarkan yaitu dengan menggunakan monitoring Bromage Score. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan status fisik American Society Of Anestesiologist (ASA) dengan Bromage Score. Metode penelitian yang digunakan yaitu tfanalitik tfkorelasional dengan pendekatan cross sectional dengan pengambilan sampel total sampling sehingga diperoleh 64 responden. Hasil penelitian di dapatkan status fisik American Society of Anestesiologist (ASA) (68,8%)  dan Bomage Score (57,8%) , analisis korelasi koefisien menunjukan 0,448 artinya hubungan dengan nilai sedang. Hasil uji menggunakan Kendall’s Rank dengan perolehan hasil p-volue 0,000 (p < 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan dengan arah positif. Kesimpilan:  Semakin tinggi nilai status fisik American Society of Anestesiologits (ASA) semakin tinggi Bromage Score.