Claim Missing Document
Check
Articles

Teologi Kontestasi Politik: Studi Komparasi Tradisi Kelompok Advent di Amerika dan Reformasi di Belanda Gideon Agustinus Pongoh; Milton Pardosi; Alvyn Cesarianto Hendriks
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 2: Juni 2022
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55884/thron.v3i2.54

Abstract

The church's participation in political contestation has received much debate. The confluence of church and politics is a necessity. A conversation about the relationship between church and politics is not forced but something that cannot be avoided. The correlation and relationship between church and politics is a significant polemic, especially in the context of Christianity in Indonesia. The perspectives of Abraham Kuyper, the reformed church tradition in the Netherlands, and Ellen White, from an Adventist background, contribute constructive ideas to church and political fluctuations in Indonesia. Using the qualitative-descriptive method, this research describes church and politics and their correlation between two Christian traditions. Eventually, White shows a less politically friendly resonance when compared to Kuyper. White encourages good governance without forcing the church to be directly involved, while Kuyper is more open and considers politics part of God's sovereignty.   AbstrakPartisipasi gereja pada kontestasi politik menerima banyak perdebatan. Persentuhan gereja dan politik adalah sebuah keniscayaan. Percakapan tentang hubungan gereja dan politik bukanlah sesuatu hal yang di paksakan namun merupakan sesuatu yang tidak dapat terhindarkan. Korelasi dan hubungan antara gereja dan politik menjadi polemik utama, lebih khusus dalam konteks Kekristenan di Indonesia. Perspektif Abraham Kuyper, tradisi gereja reformasi di Belanda dan Ellen White dari latar belakang gereja Advent mengkontribusikan gagasan yang konstruktif bagi fluktuasi gereja dan politik di Indonesia. Dengan menggunakan metode kualitatif-deskriptif, penelitian ini mencoba untuk mendeskripsikan gereja dan politik serta korelasinya dari dua tradisi Kristen yang berbeda. Pada akhirnya, White menunjukan resonansi yang kurang ramah terhadap politik jika di bandingkan dengan Kuyper. White mendorong pemerintahan yang baik tanpa harus memaksa gereja terlibat secara langsung, sedangkan Kuyper lebih terbuka dan menganggap politik adalah bagian dari kedaulatan Allah.  
Persepsi Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh tentang Penggunaan Alat Musik Perkusi dalam Kebaktian Gereja Berdasarkan Mazmur 81:3 Rafael Natanael; Milton T. Pardosi
Journal on Education Vol 5 No 4 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 4 Mei-Agustus 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v5i4.2732

Abstract

Since ancient times, music has been a part of human life. Music has also been used in worship and religious ceremonies, just as the Israelites did in the Old Testament. To this day, music continues to be used for the purposes of worship. The Adventist Church has both pros and cons regarding the use of percussion instruments in worship. Various opinions have been expressed regarding the use of musical instruments in worship, particularly percussion instruments in worship in the Seventh-day Adventist Church. The purpose of this research is to understand the perceptions of members of the Seventh-day Adventist Church regarding the use of percussion instruments in church worship. By doing so, it can increase understanding and awareness among members of the Seventh-day Adventist Church so that they can practice good use of musical instruments in worship. This research uses a qualitative method, which involves collecting data from books, research journals, literature, online media, and the Bible that are relevant to the material being discussed. The results show that some researchers agree with the use of percussion instruments in worship as long as they are used properly and do not distract from focusing on God. Those who oppose it see percussion as worldly music that is not suitable for worship because it can disrupt the solemnity. Percussion is not specifically described in theological terms as being prohibited, but the Adventist Church has provided guidelines for the proper use of musical instruments in worship. Therefore, it can be concluded that the use of percussion music must be carefully and wisely considered, in accordance with biblical teachings and the Adventist Church.
Pengaruh Penggembalaan Pendeta terhadap Kedisiplinan Siswa di Sekolah Kristen Berdasarkan Amsal 22:15 Sabat Sabat; Milton T. Pardosi
Journal on Education Vol 5 No 4 (2023): Journal on Education: Volume 5 Nomor 4 Mei-Agustus 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v5i4.2756

Abstract

Being a Christian School Chaplain is a very influential position in the world of educational services in Christian schools. As a chaplain, you have many roles because you help the church to grow and develop both in spiritual and physical life. Therefore, the role of a chaplain in the life of the ministry both in the congregation and at school is very important. Therefore, the pastor must prepare well and also organize all things related to the pastoral service where he serves. A pastor not only prepares himself to serve in the pulpit, but a pastor also prepares himself to be a teacher. Because being a pastor is not only being a preacher, but also teaching, being a teacher for the congregation and for students while in school and can be exemplified.
Analisis Kepemimpinan terhadap Kemampuan Anggota Jemaat Menyelesaikan Masalah dalam Jemaat Berdasarkan Keluaran 18:21 di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Jemaat Gentra Karahayuan Bandung Anwar Jenris Tana; Milton T. Pardosi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (234.093 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i6.7501

Abstract

Pemimpin harus siap dalam segala situsi, dan kondisi dalam jemaat nya sebagai upaya untuk membangun gereja. Keberhasilan dalam kepemimpinan akan sangat berpengaruh bagi kehidupan banyak orang yang ada di bawah sebuah kepemimpinan. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan terhadap kemampuan anggota jemaat menyelesaikan masalah dalam jemaat berdasaarkan keluaran 18:21. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode penelitian kualitatif dengan lokasi penelitian di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Jemaat Gentra Karahayuan Bandung dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian ini kepemimpinan yang benar dapat berpengaruh pada kemampuan anggota jemaat dalam menyelesaikan masalah dalam jemaat berdasarkan keluaran 18:21 yang bertumpu pada asas-asas kepemimpinan yang Alkitabiah berupa memiliki kecakapan, mempunyai rasa takut akan Tuhan, dapat dipercaya, dan membenci pada pengajaran suap.
Penambahan “Insight” dan “Dialog” Ke Dalam Pemikiran Empirisme Francis Bacon Milton Thorman Pardosi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.648 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i12.11578

Abstract

Francis Bacon, seorang filsuf dan ilmuwan Inggris abad ke-17, dikenal sebagai pendiri gerakan empiris di Eropa. Pemikirannya yang berfokus pada pengamatan dan eksperimen telah memberikan kontribusi besar pada perkembangan ilmu pengetahuan modern. Namun, dalam artikel ini, kita akan membahas penambahan "insight" dan "dialog" ke dalam pemikirannya tentang empirisme. Pemikiran Bacon tentang empirisme didasarkan pada pandangan bahwa pengetahuan harus berasal dari pengamatan dan pengalaman. Namun, penambahan "insight" ke dalam pemikirannya akan menekankan pentingnya intuisi dalam mengembangkan pengetahuan. Dalam pengamatan, seringkali diperlukan intuisi atau pengertian yang mendalam untuk melihat lebih jauh dari apa yang terlihat. Dengan demikian, Bacon harus mengakui bahwa pengalaman bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan bahwa intuisi dapat memainkan peran penting dalam mengembangkan pengetahuan. Sementara itu, penambahan "dialog" akan menekankan pentingnya diskusi dan pertukaran ide dalam mengembangkan pengetahuan. Bacon percaya bahwa ilmu pengetahuan harus dipandang sebagai upaya kolektif dan bahwa orang harus bekerja sama untuk memperluas pemahaman manusia tentang dunia. Dalam konteks ini, dialog dan pertukaran ide di antara ilmuwan dan peneliti adalah penting dalam mengembangkan pengetahuan. Dalam kesimpulannya, penambahan "insight" dan "dialog" ke dalam pemikiran Bacon tentang empirisme akan memberikan dimensi baru pada pandangannya tentang bagaimana pengetahuan berkembang. Sementara pandangan aslinya bahwa pengalaman adalah satu-satunya sumber pengetahuan akan tetap berlaku, penambahan "insight" akan menekankan pentingnya intuisi dalam mengembangkan pengetahuan, sementara penambahan "dialog" akan menekankan pentingnya diskusi dan pertukaran ide dalam mengembangkan pemahaman manusia tentang dunia.
Menyelami Allah Melalui Pengalaman:: Pemikiran Teologi Divinitas Karl Rahner Royke Maringka; Milton T Pardosi; Alvyn Hendriks
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 19 No. 2 (2023)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.v19i2.4797

Abstract

Eksistensi Allah dapat dikenali dan diselami dengan berbagai cara. Teologi divinitas meramu metodologi yang dapat menolong manusia untuk mengetahui eksistensi Allah yang ilahi. Gagasan Karl Rahner sehubungan dengan teologi divinitas memberikan alternatif kontribusi bagi percakapan mengenai Allah. Artikel ini berpendapat bahwa gagasan Rahner mengenai pengalaman manusia, Kristologis-Pneumatologis dan teori teologi simbol merupakan cara yang ditawarkan yang bisa menjadi opsi bagi para pencari Allah. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif analisis kritis, penelitian ini mengumpulkan data dari buku dan artikel jurnal yang menjadi tulang punggung utama membangun ide-idea teologis. Sebagai kesimpulan, pemikiran Rahner memberikan peluang baru bagi diskusi teologi divinitas namun berpeluang menghilangkan partikularitas Kekristenan.
Kualifikasi Rohani Pendeta Jemaat yang Ideal Menurut Surat-Surat Penggembalaan Siang, Jhoni Lagun; Sagala, Rudolf Weindra; Pardosi, Milton Thorman
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 9 No 16 (2023): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10276594

Abstract

The purpose of this study is to find out: The extent to which pastoral care has progressed in the Adventist Church, and to find out the reasons for the failure of some pastors. This research is a writing which is the result of library research by researchers which is described descriptively. The results showed that God gave or bestowed a shepherd in His church, to advise, guide, and guide His people in the true knowledge of God; and to hold fast to the truth, and to grow in spiritual growth and in faith to believe in Christ Jesus as the head of the church. Success in building a spiritual life, can only be done by them or the pastors of the congregation who have a spiritual life or spiritual qualifications that are in accordance with the standard of the truth of God's word as recommended by God through God's apostles written in the Bible, namely in 1 Timothy 3 :1-7 and Titus 1:5-9.
Pendidikan Agama Dalam Perjanjian Baru Tinjauan Periode: Romawi-Yunani, Yudaisme dan Kekristenan Pasuhuk, Chris; Pardosi, Milton Thorman; Hendriks, Alvyn Cesarianto
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 9 No 22 (2023): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.10284967

Abstract

Education is one of the most important things in every human's life. Because through education, everyone can know many things, have a lot of knowledge and have a lot of experience. However, if education only emphasizes knowledge, then education will only produce people who are smart but have bad morals. Religious Education based on the Bible. The Bible reveals that humans are God's creation who must glorify God, so that education does not only talk about science, but also morality and integrity of life in accordance with the call and demands of God's morality. As developments in Biblical civilization, especially in the Roman-Greek era, Judah, and early Christianity showed the importance of religious life. Religious education as in Matthew 28:19-20 can be understood to have the aim of making disciples, and religious education means to correct errors and lead to truth, and religious education is part of the Great Commission. Because it is the Great Commission, religious education is also very important and must be done as important as preaching the Gospel. Or perhaps more clearly, evangelism and teaching about religion must go together.
ANALISIS TERHADAP FUNGSI BAIT SUCI KEPADA BANGSA ISRAEL MENURUT KITAB YEHEZKIEL 43:9-11 DAN IMPLEMNTASINYA KEPADA ORANG PERCAYA MASA KINI Barani, Zamzius Andrian; Pardosi, Milton Thorman
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 2 No. 1A (2024): SPECIAL ISSUE - Philosophy Science
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v2i1A.99

Abstract

Kehidupan orang Kristen (orang Percaya) tidak jauh dari yang namanya Gereja. Karena Gereja adalah pusat peribadatan namun demikian masih banyak orang Kristen yang kurang menunjukan rasa hormat dalam kebaktian dan tidak berlaku sopan di dalam rumah Tuhan. Penulis melalui tulisan ini ingin membantu para pembaca agar sadar tentang betapa berharganya Bait Suci bagi bangsa Israel sehingga para pembaca bisa lebih hormat dan bersyukur saat berada di dalam Bait Suci yang saat ini disebut dengan Gereja karena di dalam Gereja Tuhan hadir untuk kita sembah, puji dan muliakan. Di dalam Gereja kita bisa diajarkan tentang kasih Tuhan, Hukum dan membantu kita agar lebih peka dalam merasakan peringatan dari Tuhan ketika kita hendak melakukan kesalahan.
PANDANGAN ALKITAB MENGENAI PERAN PEREMPUAN DALAM GEREJA: ANALISIS KATA authentein DALAM TEKS 1 TIMOTIUS 2:12 Abisha, Cato Lemmuel; Pardosi, Milton
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 2 No. 1A (2024): SPECIAL ISSUE - Philosophy Science
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v2i1A.104

Abstract

Kedudukan perempuan di gereja sebagai pemimpin sering dipermasalahkan. Masalah ini sering dikaitkan dengan kalimat Paulus dalam 1 TImotius 2:12 yang terkesan seperti membatasi peran perempuan dalam gereja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran istilah "authentein" dalam 1 Timotius 2:12, yang telah menjadi bahan perdebatan mengenai peran perempuan dalam gereja. Perdebatan ini berpusat pada interpretasi pernyataan Paulus bahwa perempuan tidak boleh "mengajar" atau "memiliki otoritas" atas laki-laki. Penelitian ini mengkaji berbagai perspektif mengenai makna "authentein", yang dapat ditafsirkan secara negatif atau positif tergantung pada konteksnya. Penelitian ini mengkaji kata aslinya untuk mendapatkan informasi maksud dari penulisan surat Paulus dalam ayat tersebut.