Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISA KEHIDUPAN SARA: PRIBADI DAN SPIRITUAL Milton T. Pardosi
Jurnal Koinonia Vol 11 No 1 (2019): Koinonia
Publisher : Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.942 KB) | DOI: 10.35974/koinonia.v11i1.2291

Abstract

Sarai (or Sara) is the wife of Abram (or Abraham). She is the first fourwomen named in the Bible. There are many interesting things that could beresearched and taken from Sara’s life including her personal life; as a wife; as amother; and as a believer in Yahweh. The purpose of this paper was to find out theinteresting things of the life of Sara that need to be imitated, especially by women inmodern times. This is deemed necessary because Sarah is exemplified as an exampleof faith in Hebrews 11 and her faith is aligned with the faith of Abraham, herhusband. The results of this paper are: (1) Sara was a beautiful woman, an attractiveperson despite having a personal struggle; (2) Sarah was a wife who deeply loved herhusband, faithful, firm but submissive to the husband even willingly in honey for thehappiness of her husband and the integrity of the household; (3) Sara was a goodmother and loved Isaac that is why Isaac loved her so much. She was ready tosacrifice just for the happiness of her child; (4) Sarah was a woman who has a firmfaith in Yahweh. She was aligned as the figures of faith in the book of Hebrews. Shebelieved in God’s promises even though she had never enjoyed the land of Canaan;she never saw the great Israelites and the coming of Messiah. The positivecharacters of Sarah need to be copied by women in modern times if they want tomaintain their self-credibility; the integrity of their household; the future of theirchildren; especially their faith in Yahweh.
Kekudusan Dalam Pemahaman Ellen G. White Milton T. Pardosi
Jurnal Koinonia Vol 12 No 2 (2020): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.366 KB) | DOI: 10.35974/koinonia.v12i2.2560

Abstract

Allah itu kudus itu sebabnya manusia harus kudus di hadapan Allah. Kekudusan dalam hidup manusia merupakan kehendak Allah. Ada beberapa pandangan tentang kekudusan itu sendiri, Ada yang berpikir kekudusan itu adalah proses sesaat, atauproses seumur hidup bahkan sebuah keadaan yang tidak akan pernah berubah meskipun manusia itu berbuat dosa dan tidak bertobat. Itu sebabnya penelitian ini menjelaskan tentang konsep Alkitab dan konsep Ellen G. White tentang kekudusan.Peneliti mendapati tidak ada pertentangan antara konsep Alkitab dengan Elen G. White tentang kekudusan. Keduanya sepakat bahwa kekudusan itu adalah sebuah proses seumur hidup. Itu adalah pekerjaan Allah dalam diri manusia bukan usahamanusia dalam menuruti hukum. Kekudusan itu terjadi dalam diri manusia oleh pekerjaan Firman-Nya dan Roh Kudus. Manusia yang menjalani pengudusan akan menyangkal dirinya menyerahkan anggota tubuhnya kepada Kristus danmenghasilkan buah roh. Kehidupan para tokoh-tokoh iman dalam Alkitab seperti Daniel, Ayub, Musa dan lain sebagainya menjadi manusia yang menjalani pengudusan dalam hidupnya. Karunia kelemahlembutan adalah buah yang palingberharga dari pengudusan. Sementara penyangkalan diri, pengorbanan diri, kebajikan, kebaikan, kasih, kesabaran, ketabahan, dan kepercayaan Kristen adalah buah harian yang dihasilkan dari hubungan yang benar dengan Tuhan. Pengudusanyang benar berarti kasih yang sempurna, penurutan yang sempurna, kesesuaian yang sempurna kepada kehendak Allah. Manusia dikuduskan kepada Allah melalui penurutan kepada kebenaran.
Ribka: Ibu Dari Dua Bangsa Besar Milton T. Pardosi
Jurnal Koinonia Vol 13 No 1 (2021): Bahasa Indonesia
Publisher : Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.055 KB) | DOI: 10.35974/koinonia.v13i1.2576

Abstract

Ribka menjadi tokoh penting dalam kelangsungan keturunan Abraham. Ribka menjadi istri anak perjanjian yaitu Ishak. Pernikahan Ishak dengan Ribka merupakan pernikahan yang luar biasa karena TUHAN turut campur tangan dalam pernikahanini. Kehidupan dan pengalaman Ribka tidak jauh berbeda dengan kehidupan Sara, ibu mertuanya, meskipun Ribka tidak pernah bertemu dengan Sara. Ribka dan Sara lama baru mendapatkan anak. Ribka dan Sara pernah diminta oleh suami masing-masinguntuk berpura-pura sebagai adik. Ribka mendapatkan janji TUHAN bahwa Yakub akan menjadi lebih kuat dari Esau. Namun Ribka melakukan kesalahan dengan menyuruh Yakub menipu Ishak dengan berpura-pura sebagai Esau agar Ishak memberkati Yakub. Sara juga pernah melakukan kesalahan dengan memberikan Hagar, budaknya, menjadi istri Abraham agar mereka bisa mendapatkan keturunan. Beberapa hal penting tentang pribadi Ribka yaitu: Ribka seorang wanita yang cantik,masih perawan dan belum pernah bersetubuh dengan laki-laki. Ribka adalah seorang yang ramah, rajin, suka menolong dan menurut. Ribka memiliki pembawaan yang sopan, memiliki hati yang baik dan bersemangat. Pelajaran dari Ribka sebagaiseorang istri yaitu: Ribka sangat dicintai Ishak. Namun sayang Ribka adalah seorang perempuan yang mandul. Ribka menunjukkan kesabaran dalam menjalani pergumulan bersama suaminya untuk kehadiran seorang anak. Ribka tidakmelakukan seperti apa yang dilakukan Rahel dan Sara dengan memberikan gundik masing-masing kepada suami mereka. Ribka menurut kepada permintaan suaminya untuk berpura-pura menjadi adik Ishak. Meskipun ini salah, namun penurutanseorang istri kepada suami yang menjadi poin penting dalam kisah ini. Pelajaran dari hidup Ribka sebagai seorang ibu yaitu: Ribka memilih meminta petunjuk TUHAN ketika dia gelisah dengan dua bayi dalam kandungannya. Meminta petunjuk dariTUHAN merupakan cara yang terbaik dalam mencari solusi. Ribka memegang janji yang TUHAN telah berikan kepadanya bahwa Yakub akan mendapatkan hak kesulungan namun dia menggunakan caranya sendiri dalam memenuhi janji TUHANitu. 
ALLAH “BERHENTI” (ŠABĀT DAN NÛAH) PADA HARI SABAT: APLIKASI BAGI PARA PEMELIHARA SABAT Milton Pardosi
Jurnal Koinonia Vol 13 No 2 (2021): Juli-Desember
Publisher : Fakultas Filsafat Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.237 KB) | DOI: 10.35974/koinonia.v13i2.2647

Abstract

Makna Allah “beristirahat” pada hari ketujuh menarik untuk ditelaah.  Dalam Kejadian 2:2,3 kata “istirahat” adalah שַּׁבָּת/šabāt sedangkan dalam Keluaran 20:11 kata “istirahat” adalah נוּחַ/nûah.  Kedua ayat ini memang berbeda dalam konteks namun terkait hari Sabat.  Mereka yang memelihara hari Sabat mempertanyakan tujuan Musa menggunakan dua kata ini untuk Allah “beristirahat.”  Mengapa Musa menggunakan kata שַּׁבָּת/šabāt hanya untuk Allah dan para pemelihara Sabat sedangkan kata נוּחַ/nûah untuk Allah, budak, orang asing dan binatang.  Kajian ini menjelaskan arti kata שַּׁבָּת/šabāt dan נוּחַ/nûah dalam konteks Allah dan Sabat serta memberi arti kata-kata tersebut bagi pemelihara Sabat. Peneliti menerapkan metode kualitatif berdasarkan grounded theory. Kata שַּׁבָּת/šabāt hanya digunakan untuk Allah dan manusia (pemelihara Sabat) sedangkan שַּׁבָּת/šabāt dan נוּחַ/nûah digunakan untuk Allah, manusia (hamba dan orang asing) dan binatang. “Istirahat” (שַּׁבָּת/šabāt) Allah menandakan kepuasan dan kegembiraan atas apa yang telah Dia lakukan. Allah “beristirahat” dalam Kejadian 2:2,3 menunjukkan fungsi kosmologis.  Itu menjadi contoh bagi manusia alih-alih menyatakan bahwa Allah membutuhkan relaksasi. Allah “beristirahat” (נוּחַ/nûah) dalam Keluaran 20:11 menunjukkan fungsi antropologis karena hari Sabat terkait dengan aktivitas manusia, bukan aktivitas Allah.  Hasil “beristirahat” (נוּחַ/nûah) pada hari ketujuh akan membawa ketenangan atau penyegaran (נׇפַשׁ/nāpaš) yang menyangkut tubuh dan pikiran.  Perubahan dari שַּׁבָּת/šabāt menjadi נוּחַ/nûah dalam konteks Allah “beristirahat” pada hari ketujuh menunjukkan bahwa hari ketujuh awalnya untuk istirahat rohani (batin) untuk mengingat Sang Pencipta tetapi berubah menjadi istirahat rohani dan jasmani bagi manusia setelah jatuh ke dalam dosa.  Itu sebabnya mereka yang ingin menerima Sabat harus melalui beberapa tahapan agar mereka dapat bertahan dalam iman mereka yaitu: belajar sepenuhnya dan tidak terburu-buru; mulai mempraktekkan doktrin Sabat; dan memiliki motif yang benar dalam menerima doktrin ini.
REFLEKSI KONSEP KETUHANAN AGAMA KRISTEN DAN AGAMA ISLAM DALAM PANDANGAN FILSAFAT PERENIAL Milton Thorman Pardosi; Siti Murtiningsih
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 1 No. 3 (2018)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v1i3.16130

Abstract

Agama Kristen dan Agama Islam adalah dua agama yang diturunkan oleh Allah, keturunan Abraham dan memiliki Kitab Suci yang diwahyukan Allah.  Keduanya sama-sama mempercayai Allah Yang Maha Esa, Sang Pencipta.  Tujuan penulisan ini untuk memahami konsep ketuhanan agama Kristen dan Islam dan memahami refleksi ketuhanan kedua agama tersebut dalam Filsafat Perenial.  Dalam pemahaman agama Kristen, Allah itu Esa yang merujuk kepada kualitatif.  Sementara kata Allah bukanlah nama Oknum yang disembah melainkan gelar karena kata “Allah” juga digunakan baik kepada sesembahan Bangsa Israel dan Non-Israel.  Salah satu nama Allah dalam Alkitab adalah Yahweh.  Sementara dalam pemahaman agama Islam, konsep Allah adalah Esa merupakan salah satu rukun iman (Tauhid) dan ini merujuk kepada kuantitatif.  Konsep Esa ini adalah monoteisme murni, di mana Tuhan bukan hanya jumlahnya Esa melainkan sifatnya pun Esa.  Perbedaan pemahaman ketuhanan kedua agama tersebut dapat dilihat melalui Filsafat Perenial di mana Filsafat Perenial merupakan metafisika yang mengakui realitas Ilahi yang substansial bagi dunia benda, hidup dan pikiran.  Filsafat Perenial memberikan analog tentang Tuhan seperti cahaya matahari yang satu dan ketika ditangkap oleh prisma memunculkan beraneka macam warna.  Itu sebabnya Filsafat Perenial melakukan dua pendekatan yaitu: Eksoteris yang berfungsi sebagai dasar pijakan pemahaman tentang Tuhan berdasarkan perkataan Tuhan tentang dirinya melalui wahyu; Pendekatan Esoterik adalah pemahaman langsung tentang Tuhan melalui penyatuan seluruh potensi kemanusiaan yang dikenal sebagai “jalan” mistik.  Kesimpulannya, agama Kristen dan agama Islam adalah menyembah Allah yang sama yaitu Allah Yang Maha Esa, Sang Pencipta (Esoterik).  Kedua, kata Esa, dalam pemahaman agama Kristen berarti kualitatif sementara dalam Agama Islam berarti kuantitaf (Eksoterik).  Ketiga, kata Allah dipahami berbeda, yang satu sebagai gelar, namun bagi yang satu sebagai nama (Eksoterik).    Kata Kunci: Perenial, Allah, Esa
Kajian Aksiologi Max Scheler Terhadap Operasi Merubah Kelamin pada Manusia (Transeksual) Milton Thorman Pardosi; Septiana Dwiputri Maharani
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 2 No. 1 (2019)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v2i1.17552

Abstract

Salah satu perkembangan Ilmu pengetahuan modern saat ini adalah tindakan operasi merubah alat kelamin pada manusia.  Ini telah menjadi isu penting dalam masyarakat karena terjadi pro dan kontra.  Kelompok yang paling menentang adalah kelompok agama.  Beberapa negara sudah melegalkan tindakan ini sementara yang lain belum.  Latarbelakang seseorang memutuskan merubah alat kelaminnya ada dua: pertama, karena merasa sedang berada di dalam “tubuh yang salah” di mana perilakunya bertolak belakang dengan alat genital yang dimiliki.  Kedua, perkembangan alat genital yang tidak sempurna.  Itu sebabnya perlu dibuat kajian Aksiologi terhadap keputusan merubah alat kelamin pada manusia tersebut.  Aksiologi sendiri berarti ilmu atau teori tentang hakikat nilai yang menyelidiki nilai dalam hal hakikatnya, ukurannya, dan status metafisisnya yang berkaitan dengan kegunaannya.  Dalam Aksiologi, Max Scheler memberikan empat tingkatan nilai yaitu: (1) Nilai “kenikmatan” atau “kesenangan” (agreeable) dan “ketidaknikmatan” atau “ketidaksenangan” (disagreeable); (2) Nilai vitalitas atau kesejahteraan atau kehidupan (vital feeling); (3) Nilai spiritual (spiritual values); (4) Nilai kekudusan atau keprofanan atau ketuhanan (the holy).  Dari keempat hakikat nilai Max Scheler tersebut didapati bahwa keputusan merubah alat kelamin pada manusia tidak memiliki hakikat nilai apapun kecuali sekedar nilai kenikmatan atau kesenangan.  Artinya, tindakan semacam ini sesungguhnya menyangkal hakikat nilai-nilai yang ada.  Nilai kenikmatan yang didapatkan melalui operasi merubah kelamin sebenarnya hanya bersifat “fana” atau sesaat karena justru kekecewaanlah yang muncul pada akhirya.  Oleh sebab itu, penulis menyarankan agar mereka yang merasa diri terjebak di dalam “tubuh yang salah” lebih baik melakukan terapi kejiwaan dan keagamaan agar hakikat nilai yang ada pada dirinya dapat diperkembang ketimbang melakukan perubahan pada alat kelamin. Kata Kunci: Operasi Kelamin, Aksiologi, Kodrat.
Penglihatan Binokular Pneumatologi: Kajian Socio-Historis Perspektif Mesopotamia dan Ibrani Kuno Elia Singkoh; Milton Thorman Pardosi; Alvyn Cesarianto Hendriks
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.377

Abstract

The Hebrew scriptures contain rich material on pneumatology. Cultural context greatly influenced the construction of dogmatics in biblical times, but the study of pneumatology from a social and historical point of view received less attention. This study aims to explore the social context of the meaning of spirits in the ancient Mesopotamian and Hebrew eras. Through a socio-historical approach, the pneumatology construction plot of the ancient Hebrews can be known, where its development also influences the construction of New Testament theology and can be used as a reference for the development of dogmatics at the end of time. Methods This research uses a qualitative descriptive approach. The mingling of the ancient Hebrews with the Mesopotamians influenced the ancient Hebrews' presuppositions for the articulation of pneumatology and its everyday use. The widespread and transcendental use of pneumatology occurred as a result of the initial conceptual fragility and articulation that developed from the Mesopotamians, thus influencing the perspective of ancient Hebrew pneumatology on daily implementation. The diversity of pneumatological articulations in ancient Hebrew literature is not a contradiction but a multiplicity of words that emerges from the socio-historical aspect.AbstrakKitab suci Ibrani berisi materi yang kaya tentang pneumatologi. Konteks budaya sangat mempengaruhi konstruksi dogmatika di zaman Alkitab, namun kajian pneumatologi dari sudut pandang sosial dan sejarah kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konteks sosial pemaknaan roh di era Mesopotamia dan Ibrani kuno. Melalui pendekatan socio-historis, alur konstruksi pneumatologi bangsa Ibrani kuno dapat diketahui, di mana perkembangannya turut mempengaruhi konstruksi teologi Perjanjian Baru dan dapat dijadikan acuan pengembangan dogmatika di akhir zaman. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Berbaurnya bangsa Ibrani kuno dengan bangsa Mesopotamia mempengaruhi presuposisi orang Ibrani kuno terhadap artikulasi pneumatologi serta penggunaannya sehari-hari. Penggunaan pneumatologi yang luas dan transcendental terjadi akibat rempuhan konseptual awal serta artikulasi yang berkembang dari bangsa Mesopotamia sehingga mempengaruhi perspektif pneumatologi orang Ibrani kuno terhadap implementasi sehari-hari. Diversitas artikulasi pneumatologi dalam literatur Ibrani kuno bukan merupakan kontradiksi melainkan multiplisitas kata yang mencuat dari aspek socio-historis.
The effectiveness of cooperative learning model type think-pair and share assisted by learning videos on the motivation and learning outcomes of christian religious education Milton Thorman Pardosi
Jurnal Konseling dan Pendidikan Vol 10, No 3 (2022): JKP
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/179500

Abstract

Motivation in teaching and learning activities encourages students' enthusiasm and willingness to learn something and maintain perseverance in the process of learning activities, and can improve learning outcomes. Cooperative learning with think-pair-and-share type is an effective strategy to increase motivation and learning outcomes. This research aims to test the influence of cooperative learning approaches with learning videos on student motivation and learning outcomes in Christian religious education, deviating from previous learning. The method used is an pre-experimental approach with one group pre-post-testin which 50 students in grades 10, 11, and 12 of the Bandung Adventist Christian High School (Naripan) and Cimindi Bandung Adventist College were involved in this study. Non-probability sampling using the saturated sample method was used in this study. Researchers used a Likert scale 1-5 to determine the value in this experiment. The scale is (1) srrongly disagree, (2) disagree, (3) slightly agree, (4) agree, and (5) very agree. This research is analyzed quantitatively using SPSS 26 version. The results show that students' enthusiasm for learning and their performance on standardized tests increased when the Think Pair Share (TPS) cooperative learning paradigm was used. Students are better able to understand the material being taught when using the Think Pair Share (TPS) cooperative learning model.
Pemuridan Yang Acceptable Pada Masa Krisis Pandemic Covid-19 Di Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Manuara Sinaga; Milton Thorman Pardosi; Exon Pane; Janes Sinaga
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 8 No 23 (2022): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.735 KB) | DOI: 10.5281/zenodo.7421819

Abstract

The discipleship process which is the main mission of the church based on the Great Commission of the Lord Jesus Christ in the Gospel of Matthew 28:19-20 must always be continuous. During the Covid-19 Pandemic, the discipleship process experienced obstacles and obstacles to do, this happened due to the habit of discipleship being carried out face-to-face, while during the COVID-19 pandemic this was difficult to do. There are many things that are lost in the discipleship process during a pandemic or experiencing a slowdown due to limited interaction between communities which is often called fellowship is one of the means of church members in terms of discipleship. This situation makes all church pastors and all church members have to accept a new reality that will become a habit in worship including discipleship such as teaching the Bible. Relevant discipleship strategies must be handled with various critical ideas where young people and new converts are not only invited to study God's Word in depth, but are also invited to practice and apply the values ​​obtained in the discussion and study of the Bible in their daily lives. day. The purpose of this writing is so that every pastor can carry out in the congregation discipleship in accordance with the teachings of the Bible. This study uses a qualitative method by using a collection of bibliography of books and journals related to discipleship and service during the pandemic. Discipleship which is God's method for the plan of salvation will never fail because of these obstacles and challenges, unless God stops working in saving mankind.
Function of a Sermon: Dutch-American Reformed and Manado Adventism Tradition Iwan Simbolon; Bartolomeus D. Nainggolan; Milton T. Pardosi
International Journal of Education, Information Technology, and Others Vol 6 No 1 (2023): International Journal of Education, information technology and others
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.7599590

Abstract

A sermon is an essential part in church liturgical, where the church’s core message transformed to its congregation. Indeed, every church tradition share distinct expression on sermon functions. Therefore, by a comparison study, constructive contributions are possible to be delved. This article attempts to explore function of a sermon in Dutch-American Reformed and Manado Adventism tradition. By using qualitative approach, this essay encompasses articles, books, and any related resources that could rich the description. In sum, both traditions agree that a sermon is a media to extend dogmatic and encourage preacher to present expected performance. Further, Dutch-American tradition stands to the importance of repenting and significant sequence of each Christianity experience while Manado Adventism considers a sermon as the media of doctrinal transfer.