Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Moral Ekonomi Islam, Maqasid Syari’ah dan Kapitalisme Ansharullah Ansharullah; Jalaluddin Jalaluddin; Zainal Abidin; Zaki Mubarak
Interdisciplinary Explorations in Research Journal Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : PT. Sharia Journal and Education Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62976/ierj.v4i2.1973

Abstract

This article examines the relationship between Islamic moral economy, maqasid al-shari'ah, and the practices of Islamic financial institutions within the context of modern capitalism. The study employs a library research method with a descriptive-critical approach to the literature on Islamic economics, maqasid al-shari'ah, and Islamic finance. The findings reveal that Islamic economics is fundamentally grounded in the principles of tawhid, justice, public welfare, and balance, aiming to establish a human-centered economic system. However, in practice, many Islamic financial institutions have increasingly converged with the capitalist financial system, prioritizing profitability over moral and social values. The dominance of debt-based financing, particularly murabahah, reflects a shift from the principle of risk sharing toward risk transfer, resulting in the incomplete realization of the substantive objectives of maqasid al-shari'ah. Furthermore, the classical framework of maqasid al-shari'ah requires reinterpretation to address contemporary economic challenges related to social justice, community empowerment, and environmental sustainability. This article argues for the reorientation of Islamic finance toward the principles of Islamic moral economy, emphasizing justice, partnership, and collective welfare as the primary objectives of Islamic financial institutions.
Istinbath Hukum Islam Perspektif Ahlul Hadis dan Ahlul Ra’yi Muhammad Haris; Jalaluddin Jalaluddin; Hamdan Mahmud
JIS: Journal Islamic Studies Vol. 1 No. 3 (2023): Juli 2023
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jis.v1i3.433

Abstract

Islam adalah agama yang memiliki pemahaman mendalam tentang fakta bahwa manusia terus berkembang dan berubah dalam setiap aspek kehidupan mereka. Sepanjang sejarah hukum Islam, telah bermunculan berbagai mazhab. Pertumbuhan ijtihad fikih pada masa para sahabat menyebabkan munculnya dua aliran pemikiran, aliran tradisionalis dan aliran rasionalis. Dalam proses pertumbuhannya, penerapan hukum Islam telah melahirkan dua aliran pemikiran, yang disebut sebagai ahlu hadis dan ahlu ra'yi. Mazhab Ahlul Ray'yi lebih menekankan pada Kufah dan Basra, sedangkan mazhab Ahlul Hadits lebih menekankan Hijaz, khususnya Mekkah dan Madinah. Metode ijtihad yang dikenal dengan Ahlul Ray'i terkenal dengan penerapan logikanya. Namun, ini tidak berarti bahwa hadits harus diabaikan. Hanya saja, aliran ini menganut kebijakan yang cukup ketat terkait penerimaan hadits sebagai hujjah. Tabi'in menggunakan cara berpikir Abdullah bin Mas'ud dan lingkungan geografis tempat tinggalnya untuk mengembangkan aturan berdasarkan pemikiran rasional dan berpedoman pada Al-Qur'an dan Hadits. Pola pemikiran ahlul hadis pada masa tabi'in disebabkan oleh keadaan awal perkembangan Islam, ketika mereka diminta untuk memberikan fatwa tentang suatu masalah, mereka melihat al-quran, hadis Nabi saw, dan kemudian fatwa sahabat dengan dasar yang sama, yaitu mengikuti guru mereka. Dengan perkembangan mereka, ahlu hadis menginstimbatkan hukum melalui Nash (Kitabullah dan sunnah mutawatir), Zahir nash, Dalil nash (mafhum mukhalafah), Amalan (perbuatan Ahlul Madinah), Khabar ahad, Ijma', Fatwa salah seorang sahabat, Qiyas, Istihsan, Saddu Zara'i, Mura'ah Al Khilaf (menghormati perbedaan pendapat), Isthishab, Masalah mursalah, dan Syariah sebelum Islam.