Claim Missing Document
Check
Articles

Found 44 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Analisis Perancangan Dan Performansi Lte Femtocell Di Gedung A Dan B Telkom University Diki Sofyan Setiawan; Achmad Ali Muayyadi; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengguna layanan telekomunikasi voice maupun data sudah menjadi hal yang utama dalam melakukan komunikasi antar manusia. Gedung perkuliahan merupakan tempat yang paling banyak terjadi mobilitas penggunaan layanan telekomunikasi yang artinya dibutuhkan suatu perancangan jaringan seluler khususnya pada area indoor .Maka dari itu penelitian ini dilakukan pada gedung perkuliahan yaitu di gedung A dan B Universitas Telkom. Untuk dapat mendukung kebutuhan trafik di gedung tersebut yang terdiri dari 3 lantai di tiap gedung nya, dalam suatu kondisi terpadatnya membutuhkan mobile data yang tinggi agar mendukung proses perkuliahan, bahkan penerimaan sinyal pada daerah tersebut dipengaruhi beberapa hal seperti bentuk bangunan serta dinding yang menghalangi yang dapat mengurangi penerimaan kualitas sinyal kepada user. Oleh sebab itu diperlukan suatu perancangan jaringan LTE berbasis femtocell untuk area indoor tersebut. Pada perencanaan LTE ini dilakukan perhitungan berdasarkan dari coverage dan perhitungan berdasarkan capacity, untuk mendapatkan jumlah FAP (Femtocell Access Point) yang diperlukan untuk masing - masing gedung. Jumlah FAP yang didapat pada perhitungan coverage adalah 3 FAP untuk masing- masing gedung, sedangkan secara capacity adalah 6 FAP untuk masing- masing gedung. Dalam tugas akhir ini menghasilkan jumlah sel jaringan LTE di Gedung A dan B Telkom University masing-masing sebanyak 6 buah FAP per gedung yang terbagi menjadi 2 buah FAP pada setiap lantainya dengan nilai RSL -62,53 dBm yang sudah memenuhi standar KPI yaitu diatas -90 dBm, serta nilai SINR untuk lantai 1 50,49 dB, lantai 2 52,14 dB, lantai 3 52 dB, tetapi ketika di implementasikann pada 3 lantai nilai SINR nya menjadi 11,81 dB dimana nilai standar KPI yang baik untuk SINR diatas 5 dB. Kata Kunci : Signal Level, SINR, Throughput, Femtocell, RPS
Perancangan Dan Realisasi Bandpass Filter Yang Bekerja Pada Frekuensi 3.00 Ghz Menggunakan Metode Hairpin Bekti Utami Suryaningsih; Achmad Ali Muayyadi; Enceng Sulaeman
eProceedings of Engineering Vol 4, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Airport Surveillance Radar (ASR) merupakan radar yang mengawas i pergerakan pes awat komers ial pada s aat memas uki dan meninggalkan wilayah badar udara, dan radar ini juga dapat mengawas i pergerakan pes awat s ehingga pes awat s elalu dimonitoring. ASR bekrja pada frekuens i as ar S -band yang mempunya range frekuens i dari 2 GHz – 4 GHz. Radar pengawas bandara ini bekrja pada frekuens i 3.00 GHZ. Dan dibutuhkan s ebuah modul yang dapat melewatkan frekuens i ters ebut, modul ters ebut adalah filter. Jenis filter yang dibutuhkan adalah band pass filter, yaitu melewatkan frekuens i yang diinginkan dan memotong frekuens i yang tidak diharapkan. Pada penelitian ini telah direalis as ikan filter dengan metodis hairpin line. Filter ini direalis as ikan dengan menggunakan s ubs trat ROGERS RO 4003 yang mempunya nilai nilai loss tangen s ebes ar 0.0027. yang bekerja pada frekuens i 3.00 GHz dengan lebar bandwidth s ebes ar 100 MHz. Pada has il pengukuran nilai frekuens i berges er menjadi 3.10 GHz dan bandwidthnya mas ih cukup lebar yaitu 150 MHz, namun mmiliki nilai return loss yang bagus yaitu s ebes ar 20.277 dB dan memiliki nilai ins ertion los s s ebes ar 2.018 dB. Kata kunci— band pass filter, hairpin, synthetic aperature rada r
Reduksi Papr Menggunakan Coded Pts Pada Sistem Mimo Ofdm 8 X 8 Sabrina Sabrina; Achmad Ali Muayyadi; Linda Meylani
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbedaan daya antara puncak daya dengan subcarrier lainnya menyebabkan nilai PAPR (Peak to Average Ratio) semakin tinggi. Tinggi nya PAPR menyebabkan distorsi gelombang dikarenakan karakteristik non-linearitas dari amplifier. Salah satu metode yang digunakan untuk menurukan nilai PAPR yang tinggi adalah dengan menggunakan metode Partial Transmit Sequence (PTS). Pada Tugas Akhir ini mengangkat metode coded PTS yang digunakan dalam sistem MIMO OFDM 8 x 8. Pengerjaan Tugas Akhir ini bertujuan untuk mereduksi PAPR dengan low error transmission yang dicapai dengan menggunakan coded PTS, sehingga penurunan performansi yang ditimbulkan oleh HPA dapat ditekan dengan coded PTS. Ini dapat dilihat dari hasil simulasi dengan parameter yang telah ditentukan melalui grafik karakteristik BER (Bit Error Rate) dan grafik CCDF (Cummulative Distribution Fuction). Hasil dari simulasi memperlihatkan kinerja dari sistem MIMO-OFDM OSTBC 8x8 dengan menggunakan blok reduktor coded PTS lebih baik dari menggunakan blok reduktor PTS pada kecepatan user 40 km/jam dengan ukuran IFFT sebesar 1024 menggunakan teknik modulasi 16 QAM. Sistem ini mencapai nilai BER 10-6 pada nilai Eb/No 6 dB. Kata kunci : MIMO-OFDM, PAPR, PTS, coded PTS
Optimasi Jumlah Dan Posisi Enode-b Berbasis Algoritma Genetika Gina Ilma Amalia; Achmad Ali Muayyadi; Arfianto Fahmi
eProceedings of Engineering Vol 5, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Teknologi telekomunikasi semakin lama semakin berkembang, dari generasi pertama sampai dengan generasi berikutnya, yakni teknologi 4G LTE, yang mempunyai kualitas jaringan telekomunikasi khususnya dalam hal kecepatan data dan voice. Hal tersebut menyebabkan pertumbuhan kebutuhan akan layanan komunikasi, semakin meningkatkan demand trafik dan membuat jumlah operator yang menyediakan layanan dengan kualitas yang bersaing. Tugas akhir ini mengusulkan algoritma genetika sebagai algoritma optimasi yang sering digunakan untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kompleks. Algoritma genetika mampu memberikan solusi yang cukup baik untuk penempatan posisi eNodeB dalam permasalahan jangkauan pelanggan. Dari hasil perancangan berdasarkan perhitungan kapasitas untuk kota Cimahi didapatkan sebanyak 10 eNodeB dengan jari-jari sebesar 0,903 km cukup untuk memenuhi demand trafik sampai dengan tahun 2022. Dengan diimplementasikannya algoritma genetika, yang didapatkan dari kombinasi parameter yakni ukuran cross over : 0.8, populasi : 1000, generasi : 1000 dan mutasi : 0.05, merupakan kombinasi yang paling optimum yang di dapakan dari hasil percobaan ini, dengan fitness yang dihasilkan 0.90716824, dimana dapat mencangkup wilayah kota Cimahi sebesar 36,46542 km2 dan wilayah yang tidak tercover sebesar 3,73458 km2 , kombinasi tersebut dilakukan dengan tujuan, menentukan posisi eNodeB yang optimal untuk meminimalkan luas area blankspot dan optimal dari segi cost atau biayanya dengan menggunakan metode LCC (life cycle cost), bisa didapatkan biaya terendah sebesar Rp.13,314,348,098.15 biaya tersebut, merupakan biaya maintenance real yang dibutuhkan oleh perusahaan supaya bisa menghindari pembengkakan anggaran untuk kegiatan maintenance. Kata kunci : 4G LTE, Optimasi, Algoritma Genetika, eNodeB, LCC (Life Cycle Cost). Abstract Telecommunications technology is increasingly growing, from the first generation to the next generation, namely 4G LTE technology, which has a quality telecommunications network, especially in terms of data speed and voice. This leads to a growing need for communication services, increasing the demand for traffic and making the number of operators providing services of the highest quality. This final project proposes genetic algorithm as an optimization algorithm that is often used to solve complex problems. The Genetic Algorithm is able to provide a good enough solution for eNodeB position placement in customer reach issues. From the design results based on the calculation of capacity for the city Cimahi in get as many as 10 eNodeB with radius of 0,903 km is enough to meet the demand traffic until the year 2022. With the implementation of genetic algorithm, obtained from a combination of parameters that is the size of cross over: 0.8, population: 1000, generation: 1000 and mutation: 0.05, is the most optimum combination of the results of this experiment, with fitness generated 0.90716824, where can cover the area of Cimahi city of 36,46542 km2 and the un-covered area of 3,73458 km2 , the combination is done with the purpose, determine the optimal position of eNodeB to minimize the blankspot area and optimally in terms of cost or cost using the LCC method (life cycle cost), can be obtained the lowest cost of Rp.13,314,348,098.15 such costs, is the real maintenance cost required by the company in order to avoid the budget swelling for maintenance activities. Keywords : 4G LTE, Optimization, Genetic Algorithm, eNodeB, LCC (Life Cycle Cost).
Analisis Perancangan Jaringan Long Term Evolution (lte) Frekuensi 1800mhz Dan Wifi 802.11n Frekuensi 2400mhz Femtocell Pada Asrama Putra Gedung A Dan B Universitas Telkom Gian Dhaifannahri; Achmad Ali Muayyadi; Hafiddudin Hafiddudin
eProceedings of Engineering Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Asrama adalah tempat sibuk yang membutuhkan perancangan jaringan seluler indoor, penelitian ini dilakukan pada gedung asrama putra Universitas Telkom yang terdiri dari 4 lantai tiap gedung. Hal ini didasari banyaknya mahasiswa Universitas Telkom yang tinggal di gedung tersebut dan membutuhkan akses data untuk berbagai keperluan, konstruksi bangunan atau dinding-dinding yang tebal menyebabkan penerimaan sinyal pada area indoor gedung asrama menjadi buruk. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan perancangan jaringan LTE 1800MHz dan juga WiFi 2400 MHz. Perancangan jaringan LTE dan WiFi dilakukan untuk mendapatkan jumlah FAP (Femtocell Access Point) LTE dan AP (Access Point) WiFi menggunakan perhitungan coverage dan capacity. Pada perhitungan coverage digunakan model propagasi Cost 231 Multiwall dan untuk software simulasi menggunakan RPS (Radiowave Propagation Simulator) 5.4. Penelitian ini disusun dengan beberapa skenario yaitu memodelkan hasil perancangan WiFi 802.11n, memodelkan hasil perancangan LTE dan memodelkan hasil perancangan jaringan WiFi 802.11n diintegrasi dengan jaringan LTE. Parameter yang dianalisis pada penelitian ini adalah receive signal level (RSL) dan signal to interference ratio (SIR). Hasil Penelitian dengan kinerja paling optimal adalah dengan menggunakan hasil perancangan 1 FAP LTE tiap lantai dengan 1 AP WiFi untuk tiap lantai dengan hasil SIR 10,35 dB dengan RSL -48,57 dBm. Kata Kunci : LTE, WiFi 802.11n, FAP, RSL, SIR
Analisis Perencanaan Multi-rat Dan Non Multi-rat Pada Jaringan Lte Dan Umts Studi Kasus Kota Jakarta Pusat Kresna Dwipa Pramaditya; Achmad Ali Muayyadi; Uke Kurniawan Usman
eProceedings of Engineering Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Long Term Evolution (LTE) merupakan teknologi telekomunikasi nirkabel generasi ke-4 sebagai penerus jaringan 3G yang berbasis Internet Protocol (IP) serta mendukung transfer paket data dengan rate yang tinggi. Long Term Evolution (LTE) release 8 muncul sebagai teknologi broadband yang menawarkan high data rate yaitu untuk arah downlink mencapai 100Mbps, sedangkan  arah  uplink  mencapai  50  Mbps  dengan  menggunakan  bandwidth  20MHz. Perencanaan  jaringan  LTE  ini menggunakan bandwidth sebesar 20 MHz dan antena mimo 2x2 sehingga lebih berpengaruh akan management interferensi dengan kapasitas besar pula. Dalam jurnal ini Multi-RAT lebih baik dari non Multi-RAT LTE karena faktor teknologi sebelumnya. Parameter yang dianalisis pada jurnal ini ialah RSRP, C/(I+N) dan throughput. Kata Kunci : LTE, Multi-RAT, RSRP, C/(I+N)
Perancangan Dan Realisasi Antena Microstrip Bowtie Untuk Electronic Support Measure (esm) Pada Frekuensi 2 – 4 Ghz Mhd Furqan Akbar; Achmad Ali Muayyadi; Yuyu Wahyu
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak ESM (Electronics Support Measure) merupakan perangkat elektronika yang digunakan untuk menerima sinyal elektromagnetik, melakukan pengawasan dan memonitori spektrum elektromagnetik dari radar lain. ESM harus dapat mencakup frekuensi kerja radar-radar sekitarnya, salah satunya pada frekuensi S-band. Pada tugas akhir ini dibuat antena microstrip bowtie untuk aplikasi Electronic Support Measure dengan frekuensi S-band 2 - 4 GHz. Antena mikrostrip memiliki kelebihan diantaranya biaya yang rendah, ringan, mudah difabrikasi serta mudah untuk diproduksi secara massal. Akan tetapi, antena mikrostrip memiliki bandwidth sempit sehingga untuk memperlebar bandwidth, antena dirancang menggunakan pencatuan couplanar waveguide. Perancangan antena microstrip bowtie mendapatkan hasil pada frekuensi tengah yaitu 3 GHz menghasilkan nilai VSWR yakni 1,222 untuk pengukuran, untuk Return loss yakni -19,986 dB untuk pengukuran dan untuk polarisasi yakni 6,720 dB yang berarti polarisasi elips dan untuk nilai Gain yakni 5,4 dB pada pengukuran. Dengan spesifikasi tersebut antena microstrip bowtie mampu bekerja dengan baik untuk Electronic Support Measure. Kata Kunci : Antena mikrostrip, Electronic Support Measure, Microstrip Bowtie, Couplanar Waveguide Abstract ESM is electronic device that use to receive electromagnetic signal and to monitor other radar electromagnetic signal. So, it should proposed cover radar frequency signal, one of them is S-band. In this final project has made microstrip bowtie antenna for Electronic Support Measure application with frequency of S-band 2-4 GHz. Microstrip antenna has adventages such as light weight, low cost, simplicity of fabrication and ease of mass production. The main drawback of the microstrip antennas is their narrow bandwidth so antenna designed use couplanar waveguide techniques as an alternative for woder bandwidth. Design antenna microstrip bowtie get result, at the middle frequency that is 3 GHz yield value of VSWR that is 1,222 for measurement, for Return loss is -19,986 for measurement and, for polarization is 6, 720 dB which means elliptical polarization and for Gain value is 5.4 dB on measurement. With these specification , the microstrip bowtie antenna is work well for the performance of Electronic Support Measure. Keywords : Microstrip Antenna, Electronic Support Measure, Microstrip Bowtie, Couplanar Waveguide
Optimasi Layanan Data Pada Jaringan Lte Dengan Genex Assistant Di Delanggu Klaten Nur Wahyu Ari Setiawan; Achmad Ali Muayyadi; Hurianti Vidyaningtyas
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan jumlah pengguna jaringan LTE operator Tri di Kabupaten Klaten semakin tinggi.. Akan tetapi pihak operator Tri di Klaten khususnya di wilayah Delanggu mendapat banyak customer complain tentang kualitas sinyal jaringan Long Term Evolution (LTE) yang buruk sehingga banyak konsumen kecewa yang dapat mengakibatkan peralihan pelanggan ke operator seluler lain. Pada tugas akhir ini dilakukan analisis jaringan berdasarkan data hasil pengukuran drive test dengan menggunakan software GENEX Probe 3.16 yang dilakukan oleh PT. Huawei Tech Investment sebagai vendor operator Tri. Setelah mendapatkan data drive test dan ditemukan masalah yang pada area pengukuran selanjutnya dengan menggunakan software GENEX Assistant 3.16 dilakukan analisis penyebab buruknya performansi Throughput pada LTE untuk kemudian menentukan langkah optimasi yang diperlukan. Berdasarkan hasil perhitungan pada penelitian ini diperoleh persebaran nilai rata-rata RSRP meningkat dari -92.29 dBm menjadi -83.02 dBm dengan KPI ≥ -90 dBm. Persebaran nilai rata-rata SINR meningkat dari 8.86 dB menjadi 11.11 dB dengan KPI ≥ -12 dB. Persebaran nilai rata-rata RSRQ menurun dari -7.35 dB menjadi -8.67 dB dengan KPI ≥ -12 dB. Persebaran nilai rata-rata throughput meningkat dari 2674.47 Kbps menjadi 6713.13 Kpbs dengan KPI ≥ 8 Mbps. Parameter tinjauan telah mengalami peningkatan yang besar dan mendekati KPI pada jaringan LTE operator Tri di Delanggu Klaten.Kata kunci: : LTE, RSRP, RSRQ, SINR, Throughput
Analisis Perbandingan Channel Estimation Sistem Dvb-t2 Dengan Metode Aace Dan Mmse Yoga Julio Parisa; Achmad Ali Muayyadi; Nur Andini
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem DVB-T2 (Next Generation Terrestrial Digital Video Broadcasting) menggunakan sistem OFDM dalam mengirimkan Informasi. Sistem OFDM memang bisa digunakan untuk mengirim data dengan High Data Rate sesuai dengan standar DVB-T2, tetapi sistem OFDM tersebut sangat rentan jika terjadi Frekuensi Shifting akibat pergerakan dari receiver terhadap transmitter. Untuk menghindari terjadinya cacat sinyal pada Receiver, maka perlu dilakukan Channel Estimation agar mengurangi dampak dari Frekuensi Shifting tersebut. Pada Jurnal kali ini akan dibandingkan Channel Estimation Adaptive average Channel Estimation (AACE) dan Channel Estimation Minimum Mean Square Error (MMSE), pada kondisi receiver melakukan pergerakan dengan kecepatan 3km/jam , 30 km/jam , 100km/jam. Dari hasil yang didapatkan Channel Estimation AACE mempunyai kinerja yang lebih dari pada MMSE pada saat kondisi kecepatan receiver yang tinggi. Kata kunci : DVB-T2 , OFDM , AACE , MMSE Abstract DVB-T2 (Next Generation Digital Video Broadcasting) system uses OFDM to transmit information system. OFDM can indeed be used to send data to the High Data Rate in accordance with the DVB-T2 standard, but the OFDM system is very vulnerable in case of Frequency Shifting due to the movement of the receiver to the transmitter. To avoid the occurance of defects in the signal receiver, it is necessary to Channel Estimation in order to reduce the impact of the Frequency Shifting. In this Journal we present comperative Channel estimation Adaptive Average Channel Estimation AACE and Minimum Mean Square Error MMSE, and receiver speed variation condition 3km/h , 30 km/h , 100km/h. At the result we can see that Channel Estimation AACE have better performance than Channel Estiamtion Minimum Mean Square Error MMSE, if in high speed receiver condition Keywords: DVB-T2 , OFDM , AACE , MMSE
Implementasi Dan Analisis Pengaruh Ukuran Fft Ofdm Pada Dvb-t2 Berbasis Software Gnuradio Sania Asri Monica; Achmad Ali Muayyadi; Hurianti Vidyaningtyas
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Kebutuhan penyiaran konten televisi digital di Indonesia semakin meningkat. Transisi teknologi analog ke digital memberikan kosekuensi untuk menyediakan program televisi yang lebih dalam kuantitasnya. Siaran berteknologi digital harus bisa mengatasi masalah keterbatasan frekuensi untuk menciptakan program televisi yang baru. Penyelenggaraan sistem penyiaran TV digital mengalami perubahan terhadap segi pemanfaatan kanal. Sehingga dibutuhkan efisiensi pengunaan kanal frekuensi seperti pemakaian satu kanal untuk lebih dari satu program TV. Namun efisiensi penggunaan spectrum frekuensi menjadikan jarak antar kanal cukup berdekatan sehingga memungkinkan tejadinya ICI. Solusinya yaitu teknologi DVB-T2 dengan menggunakan modulasi OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) teknologi DVB-T2. OFDM adalah suatu teknik transmisi yang menggunakan beberapa buah frekuensi pembawa (multicarrier) dalam satu saluran dimana setiap frekuensi pembawa saling tegak lurus (orthogonal). Namun OFDM memiliki tantangan yaitu tingginya PAPR yang menyebabkan efisiensi daya menjadi buruk. Pada tugas akhir ini, implementasian system OFDM menggunakan software GnuRadio yang mana sinyal carrier dengan variasi ukuran FFT (1K,2K,4K,8K,16K,32K), konstelasi 16 QAM dan coderate 1/2. Sinyal yang diimplementasikan dengan sistem OFDM dan Spectrum Analyzer mengukur kualitas sinyal ditransmisikan pada RF Front End yang menggunakan USRP N210. Daya sinyal carrier yang diterima dibandingkan terhadap noise. Sehingga, dapat diketahui kinerja sistem OFDM dengan pengaruh ukuran FFT terhadap hasil akhir sinyal dikirim. Berdasarkan hasil penelitian ukuran FFT yang terbaik adalah 16 K dengan hasil perhitungan sebesar 42.06766289 dB dan Eb/No sebesar 36.40179 dB.Untuk nilai PAPR terbesar terdapat pada ukuran FFT 32K yaitu sebesar 8.738547 dB. Kata kunci: DVB-T2, OFDM, Ukuran FFT, GnuRadio. Abstract The need for digital television content broadcasting in Indonesia is increasing. The transition of analogue to digital technology provides the consequence of providing more television programs in its quantity. Broadcast digital technology should be able to overcome the problem of frequency limitations to create a new television program. The organization of the digital TV broadcasting system has changed in terms of channel utilization. So it takes the efficiency of using frequency channels such as the use of one channel for more than one TV program. However, the frequency spectrum usage efficiency makes the inter-channel distance close enough to allow ICI to occur. The solution is DVB-T2 technology by using OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing) modulation of DVB-T2 technology. OFDM is a transmission technique that uses multiple carrier frequencies (multicarriers) in one channel where each carrier frequency is perpendicular (orthogonal). However OFDM has a challenge namely the high PAPR that causes power efficiency to be bad. In this final project, the implementation of OFDM system using GnuRadio software which signal carrier with variation of FFT size (1K, 2K, 4K, 8K, 16K, 32K), constellation 16 QAM and coderate 1/2. Signals implemented with OFDM and Spectrum Analyzer systems measure signal quality transmitted on RF Front End using USRP N210. The received carrier signal power is compared to the noise. Thus, it can be seen the performance of OFDM system with the effect of FFT size on the result of signal sent. Based on the result of FFT size, the best is 16 K with 42.06766289 dB and Eb / No is 36.40179 dB. For the biggest PAPR value, it is found in FFT size 32K which is 8.738547 dB. Keyword: DVB-T2, OFDM, FFT size, GnuRadio.