Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Penjernihan Air Hujan Yang Telah Berlumut Menggunakan Zeolit Alam Sebagai Media Sorben Erpanda Surya Alam; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air hujan umumnya ditampung agar dapat digunakan kembali, akan tetapi air hujan yang ditampung cukup lama menyebabkan air menjadi keruh dan timbulnya lumut . Oleh karena itu, air hujan harus diolah terlebih dahulu hingga jernih kembali dan tidak berlumut agar dapat digunakan. Pada penelitian ini, air hujan didaerah Ciganitri ditampng selama 3 bulan untuk dijernihkan menggunakan material sorben berupa zeolit dan PAC. Zeolit yang digunakan dicuci terlebih dahulu kemudian dijemur hingga kering. PAC yang digunakan dalam bentuk serbuk dan larutan dengan komposisi 500 gram PAC dan 550 ml aquades. Penggunaan PAC larutan dapat menjernihkan air lebih baik dibandingkan PAC serbuk dengan nilai resistansi 2.2182. Penggunaan zeolit tidak lebih baik dalam menjernihkan air hujan dibandingkan menggunaan PAC dengan nilai resistaansi 2,418. Akan tetapi, PAC mempunyai kekurangan yaitu nilai salinitas tinggi dan adanya koagulasi pada sampel berbentuk endapan. Semetara dengan penggunaan zeolit nilai salinitas tidak berubah (tetap nol) dan tidak adanya endapan. Maka dari itu tujuan dari penilitian ini adalah untuk melihat apakah zeolit mampu menggantikan PAC dalam menjernihkan air hujan. Kata kunci : Zeolit, Teknik pemamanenan air hujan, adsorbsi Abstract Rainwater is generally contained so that it can be reused, but rain water impounded long enough to cause the water to become cloudy and the incidence of lichen. Therefore, the rain water must be prepared in advance to clear back and not mossy to be used. In this study, rainwater in Ciganitri ditampng for 3 months to be cleared up using material sorben form zeolite and PAC. Zeolite used washed first then dried until dry. The PAC is used in form of powder and aqueous solutions with composition of 500 grams of PAC and 550 ml of aquades. The use of a PAC solution can purify water better than PAC powder with the value of the resistance 2.2182. Use of zeolite is not better in the clear water of rain compared to employ the PAC with the value resistaansi 2.418. However, the PAC has a shortage that is high salinity values and the presence of coagulation on a sample shape deposition. Semetara with the use of zeolite salinity value is not changed (fixed zero) and the absence of sediment. Thus the goal of penilitian is to see if zeolite is able to replace the PAC in the purify rain water. Keyword : Zeolite, Adsorbsi, Rainwater harvesting
Optimalisasi Dye Sensitized Solar Cell (dssc) Berbahan Titanium Dioksida Dengan Konfigurasi Tipe Monolitik Ade Istiqomah; Mamat Rokhmat; Natalita Maulani Nursam
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sel surya berbasis dye sensitized (DSSC) banyak dikembangkan dikarenakan berbahan murah dan proses fabrikasi yang sederhana. Beberapa persoalan yang menjadi tantangan dalam fabrikasi DSSC adalah effisiensi yang rendah. Pada penelitian ini dikembangkan DSSC menggunakan konfigurasi tipe monolitik. Metode yang digunakan yaitu metode screen printing dan parameter yang dipelajari meliputi pengaruh variasi ketebalan ZrO2 yaitu 1x, 2x, 3x, dan 6x pelapisan dan pengaruh counter electrode karbon dan platina terhadap efisiensi sel surya. Hasil penelitian ini dikarakterisasi sifat-sifat morfologi permukaan dan nilai sheet resistance masing-masing menggunakan SEM, EDS, dan four point probe. Karakterisasi morfologi dilakukan dengan cara membandingkan morfologi counter electrode karbon dan platina yang menunjukan bahwa karbon memiliki struktur partikel lebih besar daripada platina serta melihat kandungan material ZrO2 yang menunjukan bahwa tidak terdapat material lain selain Zr, O, dan Ti. Hasil karakterisasi sheet resistance menunjukan bahwa nilai rata-rata resistansi karbon sebesar 9,864 Ω/sq dan platina sebesar 10,954 Ω/sq sehingga nilai resistansi karbon lebih rendah daripada platina. Dengan resistansi yang semakin rendah maka performa sel surya semakin baik. Pada hasil karakterisasi I-V memberikan informasi bahwa ketebalan ZrO2 dan jenis counter electrode memiliki pengaruh terhadap nilai efisiensi DSSC monolitik. Dengan menggunakan counter electrode karbon memiliki efisiensi tertinggi pada ketebalan ZrO2 2x yaitu sebesar 0,039 %, sedangkan untuk yang menggunakan counter electrode platina memiliki efisiensi tertinggi pada ketebalan ZrO2 1x yaitu sebesar 0,011 %. Kata kunci : DSSC (Dye Sensitized Solar Cell), Zirconia, counter electrode.
Reduksi Kandungan Besi (fe) Dan Mangan (mn) Pada Air Tanah Menggunakan Arang Kayu Zahara Ramadhayanti Karyuni; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air tanah yang terdapat di daerah sekitar Telkom University mengandung Fe dan Mn yang melebihi kadar standar yangtelah ditentukan. Oleh karena itu, perlu diolah lagi agar aman digunakan untuk keperluan sehari-hari. Pada penelitian ini, air tanah diolah dengan metode adsorbsi menggunakan arang kayu yang dapat menyerap Fe dan Mn. Diamati pengaruh aktivasi arang terhadap daya adsorbsinya dan pengaruh kejernihan pada air. Aktivasi dilakukan dengan metode kimia-fisika dengan merendam arang terlebih dahulu ke dalam larutan 5% Na2CO3 selama 24 jam lalu dipanaskan pada tanur bertemperatur 400°C selama 30 menit. Bentuk arang juga dibedakan menjadi dua macam, yaitu serbuk dan ukuran 1 cm. Penjerapan arang kayu yang diaktivasi lebih baik dibandingkan dengan arang kayu tanpa perlakuan. Hasil analisis menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (SSA) dalam penggunaan arang kayu serbuk yang diaktivasi dapat mengurangi ion logam besi dan manga masingmasing sebesar 95,52 % dan 99,64 %. Sedangkan untuk persentase daya penjernihan terbaik yang diukur menggunakan Fotometer, ditunjukkan oleh arang kayu yang telah diaktivasi dan berbentuk serbuk dapat mereduksi warna air sebesar 50,368%. Kata Kunci: arang kayu, logam besi, logam mangan, metode adsorpsi, aktivasi kimia-fisika, efisiesi. Abstract Groundwater available in the area around Telkom University contains Fe and Mn that exceed the specified standard levels. Therefore, water needs to be processed again for safe use for everyday purposes. In this study, groundwater was treated by adsorption method using charcoal wood which can absorb Fe and Mn. In addition, this study also observed the effect of charcoal activation on its adsorption power and the clarity effect on water. Activation is carried out by chemical-physical method by immersing the charcoal first into a 5% Na2Co3 solution for 24 hours and then heated to a 400oC temperature furnace for 30 minutes. Charcoal shape is also divided into two kinds, namely powder and size 1 cm. The absorption of activated charcoal is better than charcoal without treatment. The results of the analysis efficiency using Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) in the use of activated wood powder charcoal can reduce iron metal and manga ions respectively by 95.52% and 99.64%. Whereas for the best percentage of purification power measured using Photometer, indicated by the activated charcoal and powder form can reduce water color by 50,368%. Keyword: wood charcoal, ferrous metal, manganese metal, adsorption method, chemical-physics activation, efisiensi
Degradasi Kandungan Metilen Blue Pada Air Menggunakan Sekam Padi Iqbal Dwi Cahyo; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Limbah air pada pabrik tekstil umumnya masih banyak mengandung Metilen Blue (MB). Oleh Karena itu, air limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu agar aman dibuang dan tidak mencemari lingkungan. Pada penelitian ini, sekam padi ditambahkan pada limbah air Metilen blue untuk mereduksi konsentrasinya. Air limbah Metilen blue yang digunakan adalah sampel yang dibuat dari campuran Aquadest dengan Metilen blue. Pengujian dilakukan dengan membandingkan sampel air yang telah diberi sekam padi kering (telah dijemur selama 8 jam) dan sekam padi yang direbus (selama 15 menit). Penjerapan pada sekam padi yang direbus lebih baik dibanding sekam padi yang dijemur. Penggunaan sekam padi yang direbus dapat mengurangi kadar Metilen blue sebesar 89 %. Selain itu pada penelitian ini juga diamati pengaruh masa sekam padi terhadap penjerapan metilen blue. Penggunaan sekam padi yang dijemur dengan massa 5 gram lebih baik dibanding penggunaan sekam padi dengan massa 2,5 gram. Sekam padi dengan massa 5 gram dapat mengurangi kandungan metilen blue sebesar 84% sedangkan sekam padi dengan massa 2,5 gram dapat mengurangi kandungan metilen blue sebesar 73%. Kata kunci: Limbah air Metilen blue, Sekam padi, adsorpsi. Abstract Waste water in textile factories generally still contains a lot of methylene blue. Therefore, the water must be processed first so that the waste water is safely removed and does not pollute the environment. In this study, the husk was immersed in Methylene blue water waste to determine its adsorbs power. Methylene blue waste water used is a sampel made from aquadest mixture with Methylene blue. The test was carried out by comparing the yield of water from rice husk which had been dried for 8 hours and rice husk which was boiled for 15 minutes. Absorption of boiled rice husk is better than dried rice husk. The use of boiled rice husk can reduce the amount of Metilen blue by 89%. In addition, this study also looked at the effect of rice husk on absorption. The use of rice husks which are dried at 5 grams is better than the use of rice husks with a mass of 2.5 grams. Rice husk with a mass of 5 grams can reduce the content of methylene blue by 84% while rice husk with a mass of 2.5 grams can reduce the content of methylene blue by 73% Keywords: Waste water,Methylene blue, Rice husk, adsorption.
Analisis Pengaruh Kemiringan Sudut Atap Kaca Dan Penambahan Cermin Pada Alas Basin Terhadap Laju Penguapan Air Garam Dalam Distilator Tenaga Surya Eriz Aprizki; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Desain destilator adalah salah satu faktor yang mempengaruhi laju penguapan pada destilator. Oleh karena itu destilator perlu di disain sebaik mungkin agar produksi air yang didapat maksimal. Pada penelitian ini telah dilakukan variasi kemiringan atap destilator. Selain itu alas basin destilator juga dimodifikasi dengan menambahkan reflector cermin. Dalam penelitian ini pengujian destilator dilakukan pada sekala laboratorium menggunakan dua lampu bohlam yang pancaran energinya dianggap konstan. Adapun sempel air garam 33 ppt yang dibuat dengan mencampurkan air minum kemasan dengan sejumlah garam. Penggunaan reflector menyebabkan produksi air meningkat sebasa 36,5%. Selain itu penggunaan atap dengan sudut 35o menghasilkan air lebih banyak dibandingkan dengan atap 30o dan 40o yaitu 320 ml. Kata Kunci: Alumina, nanopartikel, viskositas, konduktivitas termal, konsentrasi, dan koefisien kinerja. Abstract The destilator design is one of the factors affecting the evaporation rate of the distillator. Therefore, the destilator needs to be designed in the best possible way for maximum water production. In this research has been done variation of roof tilt destilator. The base of the destilator basin is also modified by adding a mirror reflector. In this research, the destilator testing is done at the laboratory using two bulb lamps whose energy emission is considered constant. The 33 ppt brine sempel is made by mixing the bottled drinking water with some salt. The use of reflector causes water production to increase as 36.5%. In addition, the use of the roof with 35o angle to produce more water compared with the roof of 30o and 40o is 320 ml. Keywords: Alumina, nanoparticles, viscosity, thermal conductivity, concentration, and coefficient of performance
Pembuatan Sel Surya Berbahan Tio2 Dengan Penyisipan Partikel Emas Menggunakan Metode Elektroplating Faris Hanif Rahman; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada Penelitian ini dipelajari pengaruh penyisipan partikel logam emas pada Sel Surya TiO2. Penyisipan partikel logam emas pada lapisan TiO2 dilakukan dengan menggunakan metode elektroplating. Material TiO2 yang dicampurkan dengan aquades lalu dideposisikan pada FTO menggunakan metode doctor blade. Lapisan TiO2 disisipi partikel logam emas dengan metode elektroplating sehingga membentuk lapisan kontak logam yang menjadi lintasan bagi elektron untuk mengalir lebih cepat menuju elektroda (FTO). Polimer elektrolit digunakan sebagai transport hole yang tersusun atas campuran LiOH dan PVA. Struktur sel surya yang telah dibuat dikarakterisasi dengan menggunakan I-V meter Keithley 617 untuk mengetahui performansi sel surya. Karakteristik I-V menunjukkan terjadi peningkatan efisiensi sel surya TiO2 setelah disisipi partikel logam emas menggunakan metode elektroplating. Pemberian tegangan 2 Volt dan waktu 5 detik saat elektroplating merupakan tegangan dan waktu optimal yang menghasilkan efisiensi terbaik pada Sel Surya TiO2/Au, yaitu sebesar 0,08%. Kata kunci: Sel Surya, TiO2, Elektroplating, Emas (Au) Abstract This research studied the effect of gold paticle inserted in TiO2 solar cells. Insertion of gold particle in TiO2 layer using electroplating method. TiO2 material is mixed with distilled water and then deposited on FTO using doctor blade method. TiO2 layer inserted gold particle with electroplating method to form a metal contact layer electrons to flow faster to the electrode (FTO). Polymer electrolyte was dedicated as a hole transport is composed of a mixture of LiOH and PVA. Structure of solar cell has been characterization by using a Keithley 617 meter to determine the performance of solar cell. I-V characteristic showed an increase in the efficienncy of solar cell with TiO2 inserted gold particlce using electroplating method at 0,08%.compared with solar cell TiO2 without inserted gold particlce at 0,002%. Keywords: Solar cell, TiO2, Electroplating, Gold.
Pembuatan Sel Surya Berbahan Titanium Dioksida Dengan Pendeposisian Partikel Perak Menggunakan Metode Elektroplating Wahyu Kurniawan; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sel surya merupakan pembangkit listrik ramah lingkungan yang memanfaatkan cahaya matahari. Pada perkembangannya, sel surya telah sampai pada generasi ketiga. Penyerapan foton pada sel surya generasi ketiga biasanya menggunakan bahan TiO2 (Titanium Dioksida) atau ZnO (Seng Oksida). Bahan TiO2 digunakan dalam penelitian ini karena memiliki kemampuan penyerapan cahaya yang baik dalam kondisi sedikit cahaya dan pada kondisi teduh. Beberapa penelitian menyatakan untuk fotokatalis dan pembuatan sel surya terbaik menggunakan kristalin anatase. Namun, TiO2 anatase memiliki energi gap yang besar (3,2 ev) sehingga dibutuhkan pendeposisian logam tertentu dengan tujuan agar efisiensi dapat meningkat. Pada penelitian digunakan pendeposisian partikel Ag karena nilai konduktifitas Ag lebih besar dari Cu dan Au sehingga diharapkan efisiensinya menjadi lebih baik. Pendeposisian TiO2 pada FTO menggunakan metode doctor blade dan pendeposisian partikel Ag pada FTO/TiO2 menggunakan metode elektroplating. Pendeposisian partikel Ag diharapkan dapat mengurangi laju rekombinasi pada sel surya TiO2. Massa partikel Ag yang terdeposisi pada FTO/TiO2 sebanyak 0,001566 gram saat diberikan tegangan sebesar 1,5 volt selama 7 detik. Nilai efisiensi yang didapatkan sel surya TiO2 adalah 0,00176%, sedangkan nilai efisiensi TiO2/Ag yang didapatkan adalah sebesar 0,09938% yang menunjukkan kenaikan 56,46 kali lebih baik saat dideposisi partikel Ag. Kata Kunci: Sel surya TiO2, AgNO3, LiOH, doctor blade dan elektroplating. Abstract Solar cells are environmentally friendly power plants that utilize by sunlight. In its development, solar cells have arrived at the third generation. Photon absorption in third generation of solar cells usually used TiO2 (Titanium Dioxide) or ZnO (Zinc Oxide) materials. TiO2 material is used in this study because it has good light absorption capability in light conditions and under shaded conditions. Several studies have stated that photocatalysts and the manufacture of the best solar cells use crystalline anatase. However, anatase TiO2 has a large energy gap (3,2 ev) so that the deposition of certain metals is needed in order to increase efficiency. In this study Cu was replaced with Ag particles because the conductivity value of Ag material is greater than Cu and Au, so it is expected that efficiency can be increased. The deposition of TiO2 in the FTO using the doctor blade method and the deposition of Ag particles using the electroplating method. The depositing of Ag particle is expected to reduce the recombination in TiO2 solar cells. The particle mass of Ag which is deposited on FTO/TiO2 is 0,001566 grams when given a voltage of 1,5 volts for 7 seconds. The efficiency value obtained by TiO2 solar cells is 0,00176%, while the efficiency value of TiO2/Ag obtained is 0,09938% which shows an increase of 56,46 times better when deposited by Ag. Keywords: TiO2 solar cells, AgNO3, LiOH, doctor blade method and electroplatin.
Aktivasi Zeolit Alam Jenis Clinoptilolite Menggunakan Medan Listrik Searah Untuk Meningkatkan Adsorptivitas Terhadap Ion Garam Dalam Air Laut Rahman Aditya; Edy Wibowo; Mamat Rokhmat
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Telah dilakukan aktivasi zeolit alam jenis clinoptilolite dengan menggunakan medan listrik searah. Aktivasi dilakukan untuk meningkatkan kemampuan adsorpsi zeolit terhadap ion garam terlarut dalam air. Pengujian dilakukan dengan cara membandingkan hasil pengurangan besar salinitas antara zeolit teraktivasi dan zeolit tidak teraktivasi. Air yang digunakan adalah sampel air garam 35,20 ppt yang dibuat dengan cara mencampurkan 400 ml air mineral dengan 14,80 gram garam. Perlakuan aktivasi dengan pemberian medan listrik searah terbukti dapat meningkatkan efisiensi sebesar 5,39% untuk pada zeolit dengan ukuran serbuk dan 2 mm, yang diberi tegangan 8 volt selama 15 menit. Selain variasi ukuran zeolit, pada penelitian ini dilakukan variasi besar tegangan dan lama waktu aktivasi. Penambahan besar tegangan dan lama waktu aktivasi cenderung menurunkan efisiensi zeolit. Selain itu, pada penelitian ini teramati bahwa nilai salinitas mempengaruhi daya efisiensi adsorpsi zeolit. Kata kunci: zeolit alam, clipnoptilolite, medan listrik, adsroptivitas, ion garam. Abstract In this study the activation of clinoptilolite zeolite by using unidirectional electric field was carried out. Activation is done to improve the ability of the zeolite to ion adsorption of dissolved salts in water. In this study, testing was carried out by comparing the results of the reduction in salinity between activated zeolites and non-activated zeolites. The water used is a sample of salt water 35,20 ppt which is made by mixing 400 ml mineral water with 14,80 gram salt. The treatment of activation using the unidirectional electric field method has been shown to increase the efficiency of zeolite adsorption against dissolved salt ions, with an efficiency of 5.39% in activated zeolites with powder size and 2 mm, which is given a voltage of 8 volts and 15 minutes activation time. In addition to variations in zeolite size, in this study variations in stress values and length of activation were carried out. Addition of voltage and activation time tends to reduce zeolite efficiency. Additionally, in this study it was observed that the value of salinity affect the zeolite adsorption efficiency. Keywords: natural zeolite, clinoptilolite, electric field, adsorptivity, salt ion.
Pengaruh Penambahan Karbon Pada Fotokatalist Berbahan Dasar Tio2 Untuk Mendegradasi Methylene Blue Nabilla Syahvalensi; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Salah satu pencemaran lingkungan yang terjadi saat ini adalah pencemaran yang disebabkan oleh limbah industri tekstil. Oleh karena itu sebelum dibuang, limbah tersebut harus diolah terlebih dahulu agar tidak langsung mencemari lingkungan, karena limbah tekstil sangat berbahaya bagi kesehatan masyarak at, karena masih banyak mengandung Methylene Blue (MB). Pada penelitian ini, TiO2 sebagai fotokatalis proses degradasi MB dicampurkan dengan karbon aktif yang konsentrasinya divariasikan sebesar 0,2%, 0,4% , 0,6% , 0,8% , dan 1% dari jumlah TiO2 yang digunakan. Kemudian ditempelkan pada permuk aan kertas plastik lalu dipotong dengan ukuran 1cm x 1cm dan ditambahkan pada limbah air MB untuk mendegradasi air limbah MB dengan menjemur air limbah MB yang telah ditaburi dengan TiO2 dan karbon tersebut di bawah lampu halogen 250 Watt. Sampel yang digunakan sebagai air limbah MB adalah campuran air dengan MB. Pengujian pada penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan sampel air limbah MB yang telah diberi TiO2 dan karbon aktif 0,2% , 0,4% , 0,6% , 0,8% dan 1% setiap 5 jam, selama 40 jam. Penggunaan lembar plastik yang ditempeli TiO2 dengan sisipan bubuk karbon sebanyak 0,4% adalah yang paling efektif untuk mendegradasi sampel air limbah Methylene blue. Kata kunci: Limbah air Metilen blue, TiO2, karbon, fotodegradasi. Abstract One of the environmental pollutions that occur today is pollution caused by textile industry waste. Because before being disposed of, the waste must be processed first so as not to directly pollute the Environmen t, because textile waste is very dangerous for public health because it still contains a lot of Methylene Blue (MB). In this study, TiO2 as a degradation process of MB was mixed with activated karbon whos e concentration varied by 0.2% , 0.4% , 0.6% , 0.8% , and 1% of the amount of TiO2 used. Then it was affixed to the surface of the plastik paper and then cut to a size of 1 cm x 1 cm and added to MB wastewater to degrade MB wastewater by drying MB wastewater that had been sprinkled with TiO2 and karbon under 250 Watt halogen lamps. The sample used as MB wastewater is a mixture of water with MB. Tests in this study were carried out by comparing MB wastewater samples that were given TiO2 and activated karbon 0.2% , 0.4% , 0.6% , 0.8% and 1% every 5 hours, for 45 hours. The use of plastic sheets contained TiO2 with 0.4% carbon powder inserts is the most effective way to degrade Methylene blue wastewater samples Keywords: Methylene blue waterwaste, TiO2, carbon, photodegradation.
Pelapisan Titanium Dioksida Pada Plastik Sebagai Fotokatalis Untuk Mendegradasi Metilen Biru Wildan Bagus Firmansyah; Mamat Rokhmat; Edy Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Air limbah tekstil pada umummnya berwarna keruh dan berbahaya bagi lingkungan jika dibuang ke sembarang tempat. Oleh karena itu, air limbah tekstil harus dijernihkan atau di degradasi terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Pada penelitian ini air limbah tekstil dijernihkan dengan material TiO2 yang digunakan sebagai fotokatalis atau menggunakan bantuan cahaya. TiO2 yang digunakan di deposisi ke dalam plastik transparansi dengan menggunakan metode thermal coating. Pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 3 variasi methylene blue yang digunakan sebagai limbah cair serta penyinaran selama 40 jam . Pada variasi pertama yaitu 7,8125 mg/l di dapatkan hasil degradasi atau penurunan sebanyak 51%, sedangkan dua variasi lainnya yakni 31,25 mg/l dan 15,625 mg/l didapatkan hasil masing masing 9% dan 38%. Kata Kunci : TiO2, Fotokatalis , Degradasi, Methylene Blue, Limbah tekstil Abstract Textile waste water generally is dirty and dangerous for the environment if it is thrown away of anywhere. Therefore, textile waste water must be purified or degraded before being discharged into the environment. In this study textile waste water was purified with TiO2 material used as a photocatalyst or using light. TiO2 used in deposition into transparency plastic using thermal heating method. In this study, 3 variations of methylene blue were used as liquid waste and 40 hours of irradiation. In the first variation, which is 7,8125 mg/l of methylene blue, the results of degradation or decline are 51%, while the other two variations, 31,25 mg/l and 15,625 mg/l, are 9% and 38%. Keynote : TiO2, photocatalyst , Degradation , Methylene Blue, Textile Waste Water