Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search
Journal : eProceedings of Engineering

Pengembangan Model Radiasi Matahari Untuk Kota Bandung Eka Muslim Budiansyah; Mamat Rokhmat; Ery Djunaedi
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Saat ini, nilai radiasi matahari di suatu daerah dapat diketahui dengan menggunakan alat atauteknologi tertentu yang juga dapat memberikan informasi tambahan mengenai temperature, kelembapan(humidity) dan komponen-komponen cuaca lainnya. Namun, hingga saat ini belum terdapat formula yangdapat menghitung nilai radiasi matahari di suatu daerah berdasarkan nilai komponen – komponen cuacayang telah diketahui sebelumnya, sehingga nilai radiasi matahari belum dapat dihitung kapan saja dan dimana saja saat dibutuhkan. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan formula radiasi matahari yangdapat dihitung menggunakan komponen-komponen cuaca yang mudah didapat seperti temperaturedengan derajat pengukuran Celsius (˚C) dan kelembapan (humidity). Menggunakan data variabelkomponen cuaca Kota Bandung dalam satu tahun penuh yang kemudian dipartisi berdasarkan kondisicuaca, peneliti menggunakan software R Studio mengembangkan beberapa formula yang dapat digunakanuntuk menghitung nilai radiasi matahari matahari di Kota Bandung. Kata Kunci: Nilai Radiasi Matahari, Temperatur, Kelembapan, Formula Radiasi Matahari, KotaBandung. AbstractCurrently, the solar radiation value in one place can be known using certain tools or technology that can provide additional information about temperature, humidity, and other weather component. However, there isno formula that can calculate the value of solar radiation cannot be calculated anytime and anywhere whenneeded. This study aims to develop a calculated solar radiation formula using available weather componentssuch as temperature with degrees of Celsius (˚C) and humidity. By applying the weather component variabledata of Bandung City in one full year which is then partitioned based on weather situation, researcher used RStudio software to develop several formula that can be used to calculate the value of solar radiation in BandungCity.Keywords: Solar Radiation Value, Temperature, Humidity, Solar Radiation Formula, Bandung City.
Efek Penempatan Panel Surya Terhadap Produksi Energi Pembangkit Listrik Tenaga Surya Cirata 1 Mw Fuad Fauzi Wibowo; Mamat Rokhmat; Aripriantoni Aripriantoni
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakEnergi alternatif selalu bertumbuh dengan pesat dikarenakan pertumbuhan dan permintaan energi di dunia terus berkembang.Dengan kebutuhan energi yang semakin meningkat bahan fosil lama kelamaan akan menipis dan habis, maka untuk memenuhikebutuhan tersebut perlu memanfaatkan energi terbarukan, salah satunya adalah energi matahari yang dimanfaatkan menjadienergi listrik dengan menggunakan panel surya ( solar photovoltaic panel ). Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Ciratamerupakan pembankit listrik terbesar di pulau Jawa dengan kapasitas 1 MWp, dengan luas kurang lebih 1 hektar. Panel surya yangdigunakan yaitu jenis thin film dengan tipe CIS (Copper Indium Selenium). Ada tiga penempatan instalasi panel surya di PLTSCirata yaitu sistem di atas tanah (ground mounted), rooftop, dan parking shade dipasang menghadap ke arah terbit matahari dengansudut kemiringan 10 ÌŠ dari atas tanah. Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data produksi harian dengan intensitas database per-30 menit, data iradiasi, data temperatur panel surya serta faktor lingkungan. Sehinga didapatkan hasil perbandinganproduksi energi panel surya dengan kapasitas masing-masing percobaan sebesar 20kW, terjadi perbedaan output produksi yaituenergi maksimal sebesar 87,9 kWh pada ground mounted, 83,81 kWh pada parkingshade, dan 81,39 kWh pada rooftop.. Sehinggapanel surya yang terpasang diatas tanah menghasilkan energy yang lebih optimal di Pembangkit Listrik Tenaga Surya Cirata 1MWp. Kata Kunci : Panel Surya, PLTS. AbstractAlternative energy is always growing rapidly because of the growth and demand of energy in the world continues to grow. With theincreasing energy needs of fossil materials over time will be depleted and depleted, then to meet these needs it is necessary to userenewable energy, one of which is solar energy that is used as electrical energy using solar panels (solar photovoltaic panels). CirataSolar Power Plant (PLTS) is the largest electricity bank in Java with a capacity of 1 MWp, with an area of approximately 1 hectare. Thesolar panels used are thin film with type CIS (Copper Indium Selenium). There are three solar panel installations in Cirata PLTS,namely a ground mounted, rooftop, and parking shade system mounted facing the rising sun with a slope of 10 from the ground. Thedata used in this study are daily production data with intensity data bases per 30 minutes, irradiation data, solar panel temperature dataand environmental factors. So that the results of the comparison of solar panel energy production with the capacity of each experiment is20kW, there is a difference in production output, namely maximum energy of 87.9 kWh on ground mounted, 83.81 kWh on parkingshade, and 81.39 kWh on rooftop. solar panels installed on the ground produce more optimal energy in the Cirata 1 MWp Solar PowerPlant.Keywords: Solar Panel, PLTS.
Analisis Efisiensi Output Produksi Plts Berbasis Fix Mounting Dan Single Axis Solar Tracker Di Pt Pjb Cirata Akmal Faizal; Mamat Rokhmat; Aripriantoni Aripriantoni
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKebutuhan energi yang semakin meningkat dan bahan fosil lama kelamaan akan menipis dan habis, maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut perlu memanfaatkan energi terbarukan, salah satunya adalahenergi matahari. Sel surya merupakan sebuah perangkat yang dapat merubah energi sinar matahari ke energilistrik dengan proses efek fotovoltaik dengan berbahan semi konduktor, komponen panel surya atau solarcell ini sangat penting bagi sistem pembangkit listrik tenaga surya yang dimanfaatkan menjadi energi listrikdengan menggunakan panel surya ( solar photovoltaic panel ). Dengan berkembangnya teknologi banyakjenis-jenis sistem PLTS yang membuat ada beberapa tipe pemasangan PLTS yaitu dengan fix mounting,single axis tracker. Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah perbandingan efisiensi data output produksiharian dengan intensitas data base per-15 menit dan data iradiasi matahari. Hasil perbandingan persentaseproduksi energi panel surya sistem single axis solar tracker dan fix mounting selama 17 hari yaitu single axislebih besar 13,171 % terhadap fix mounting. Maka sistem PLTS yang digunakan lebih baik menggunakansistem Single axis yang menghasilkan energi paling maksimal.Kata kunci : Panel Surya, PLTS,single axis,fix mounting. AbstractIncreasing energy needs and fossil materials will gradually thin out and run out, so to meet these needs it is necessary to utilize renewable energy, one of which is solar energy. Solar cells are devices thatcan convert sunlight energy into electrical energy by the process of photovoltaic effects using semiconductors,solarpanelcomponentsorsolarcellsthatareveryimportantforsolarpowergenerationsystemsthatareusedaselectricalenergyusingsolarpanels(solarphotovoltaic)panel).WiththedevelopmentoftechnologymanytypesofsolarpowersystemsthatmakethereareseveraltypesofPLTSinstallation,namelyfixmounting, single axis tracker. The data used in this study is a comparison of the efficiency of dailyproduction output data with a 15-minute data base intensity and solar irradiation data. The results of thecomparison of the percentage of energy production of single axis solar tracker solar panel systems and fixmounting for 17 days, namely a single axis greater 13.171% against fix mounting. Then the PLTS system isused to better use a single axis system that produces the most energy.Keywords: Solar Panel, PLTS, single axis, fix mounting.
Fabrikasi Inter Layer Counter Electrode Karbon Untuk Dye-sensitized Solar Cell Diky Meidianto; Mamat Rokhmat; Shobih Shobih
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) tipe monolitik yang hanya memiliki satu substrat banyakdikembangkan karena harga fabrikasi yang murah dan proses fabrikasi yang sederhana.Namun, efisiensi yang rendah merupakan salah satu kelemahannya. Salah satu penyebabnyaadalah counter electrode yang digunakan sebagai lapisan untuk meningkatkankonduktivitas substrat kaca FTO, tidak menempel kuat pada substrat kaca FTO, sehinggadiperlukan lapisan inter layer yang dapat meningkatkan konduktivitas lapisan counterelectrode serta meningkatkan adhesivitas antara counter electrode dengan substrat kacaFTO. Pada penelitian ini, bahan counter electrode yang diguankan adalah karbon dan bahaninter layer yang digunakan adalah karbon dan TiO colloid yang berfungsi sebagai binder.Pendeposisian setiap lapisan DSSC tipe monolitik dilakukan dengan teknik screen printing. Lapisan pertama karbon 1 (Inter Layer) memiliki komposisi 0,13 gr grafit, 0,2 ml TiO2colloid, 0,2 ml Triton 10% dan 0,25 ml terpineol dan karbon 2 (Counter Electrode) memilikikomposisi 0,5 gr carbon nanopowder, 2 gr bubuk grafit, 0,3 gr ethyl-cellulose, 0,25 gr TiOP25,dan 4,25 gr terpineol. Kedua lapisan karbon tersebut komposisinya dikali 10 untukmemperbanyak pasta yang dihasilkan. Massa grafit pada karbon 1 (Inter Layer)divariasikan menjadi 5 variasi yaitu 0,9 gr (A), 1,1 gr (B), 1,3 gr (C), 1,5 gr (D), dan 1,7 gr(E). Setelah inter layer karbon difabrikasi, dilakukan karakterisasi morfologi, pengukuranresistansi sheet, uji adhesivitas dan uji transmitansi serta karakterisasi I-V pada DSSC tipemonolitik yang telah difabrikasi. Hasilnya, pada morfologi inter layer karbon yangdikarakterisasi menggunakan SEM, diperoleh bahwa lapisan inter layer sampel B memilikipenyebaran grafit yang merata dan hanya sedikit terlihat adanya aglomerasi pada karbon.Selain itu, pada uji resistansi sheet menggunakan four point probe diperoleh hasil bahwa sampel B memiliki Rs yang stabil dengan rata rata 12,097±0,054 Ω/sq. Pada uji adhesivitas,terlihat bahwa lapisan karbon 1 yang melekat kuat pada substrat kaca FTO secara visual, dan pada uji transmitansi menggunakan UV-VIS, sampel B memiliki rasio transmitansiterkecil antara sesudah dan sebelum uji adhesivitas sebesar 1,963. Hasil karakterisasi I-VDSSC tipe monolitik, diperoleh efisiensi terbesar berasal dari sampel B yang memiliki massa1,1 gr grafit pada TiO colloid sebesar 1,258 %. Sehingga penambahan inter layer karbonantara counter electrode karbon dan substrat kaca FTO dapat meningkatkan efisiensi dariDSSC tipe monolitik 2Kata kunci: DSSC tipe monolitik, karbon, grafitAbstract Dye-Sensitized Solar Cell (DSSC) monolithic type which has only one substrate developed a lotbecause of the low price of fabrication and a simple fabrication process. However, lowefficiency is one of its weaknesses. One reason is the counter electrode which is used as a layerto increase the conductivity of the FTO glass substrate, not firmly attached to the FTO glasssubstrate, so that an inter layer is needed that can increase the conductivity of the counterelectrode layer and increase the adhesivity between the counter electrode and the FTO glasssubstrate. In this study, the material of counter electrode was used carbon and the inter layermaterial was used carbon and TiO2 colloid which functioned as binders. Deposition of eachmonolithic type DSSC layer is done by screen printing techniques. The first layer of carbon 1 (Inter Layer) has a composition of 0,13 gr graphite, 0,2 ml TiO2 colloid, 0,2 ml Triton 10% and0,25 ml terpineol and carbon 2 (Counter Electrode) has a composition of 0,5 gr carbonnanopowder, 2 gr graphite powder, 0,3 gr ethyl-cellulose, 0,25 gr TiO2-P25, and 4,25 grterpineol. The two carbon layers are multiplied by 10 to multiply the resulting paste. Graphitemass at carbon 1 (Inter Layer) varied into 5 variations, namely 0,9 gr (A), 1,1 gr (B), 1,3 gr (C),1,5 gr (D), and 1,7 gr (E). After fabricated inter layer carbon, soma characterizations weredone, like morphological characterization, sheet resistance measurement, adhesivity test andtransmittance test and I-V characterization on monolithic type DSSC were fabricated. As aresult, in the inter layer carbon morphology characterized using SEM, it was found that theinter layer of sample B had a uniform spread of graphite and only a small amount of carbonagglomeration was seen. In addition, the sheet resistance test using four point probes shows thatsample B has a stable Rs with an average of 12,097±0,054 Ω/ sq. In the adhesion test, it can be seen that the carbon 1 layer is firmly attached to the FTO glass substrate visually, and in thetransmittance test using UV-VIS, sample B has the smallest transmittance ratio between afterand before the adhesive test of 1,963. The results of the monolithic type I-V DSSCcharacterization, obtained the greatest efficiency derived from sample B which has a mass of 1.1gr graphite on the colloid TiO2 of 1,258%. So that the addition of the inter layer carbon betweenthe carbon electrode counter and the FTO glass substrate can improve the efficiency of themonolithic type DSSC Keywords: monolithic type DSSC, carbon, graphite 
Analisis Perbandingan Suhu Sistem Terkontrol Dan Sistem Konvensional Pada Pertumbuhan Tanaman Kangkung Hidroponik Sistem Rakit Apung Fathur Rahman; Mamat Rokhmat; Indra Wahyudin Fathonah
eProceedings of Engineering Vol 7, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tugas akhir ini membahas tentang pengaruh temperatur permukaan sel surya terhadap kapasitas daya keluaran dengan suatu hipotesis yang mengatakan pada pukul 12.00 – 16.00 output dalam kondisi optimal tetapi ada penurunan kinerja sel surya sebagai akibat dari meningkatnya temperatur pada rentang waktu tersebut. Penelitian ini dilakukan di rooftop Gedung P (Deli) Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom dengan mengambil beberapa data menggunakan alat ukur temperatur permukaan sel surya dan arus yang dihasilkan sehingga mendapatkan data yang lebih akurat dan kontinu. Pengambilan data temperatur dilakukan pada tiga titik untuk memperoleh nilai temperatur permukaan panel surya. Selain itu, penelitian juga mengambil data intensitas cahaya. Pada penelitian ini, diperoleh nilai intensitas yang sama namun memiliki nilai arus dan temperature yang berbeda. Nilai daya keluaran pada panel surya dari pukul 12.00 hingga 16.00 menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan sebesar 2,8991 W setiap 15 menit atau setara 0,1932 W/menit. Dengan kesimpulan bahwa temperatur memiliki pengaruh terhadap besar kapasitas daya yang dihasilkan oleh panel surya dengan pengaruh rata-rata sebesar 2,42 W/oC. Semakin tinggi temperatur panel surya maka kinerja panel surya akan menurun. Kata Kunci : Sel surya, temperature, energi terbarukan Abstract This final project discusses the change in the temperature of the solar cell with respect to capacity of the output power with the hypothesis that at 12.00 – 16.00 the output is in optimal conditions but there is a decrease in the solar cell as a result of the temperature in the specified time span. This research was conducted on the roof of P Building (Deli), Faculty of Electrical Engineering, Telkom University by taking some data using solar cell temperature measurement device and the resulting current so as to obtain more accurate and continuous data. Temperature data collection was carried out at three points to obtain the surface temperature value of the solar panel. In addition, the study also took light intensity data. In this study, we obtained the same intensity value but had different values for current and temperature. The value of the output power on the solar panel from 12.00 to 16.00 shows a decrease with an average decrease of 2,8991 W every 15 minutes or the equivalent of 0,1932 W/minute. In conclusion that temperature has an influence on the power capacity generated by solar panels with an average effect of 2,42 W/oC. The higher the temperature of the solar panels, the lower the performance of the solar panels. Key word : solar cell, temperature, renewable energy
Analisis Pengaruh Temperatur Permukaan Panel Surya Terhadap Kapasitas Daya Keluaran Fathur Rahman; Mamat Rokhmat; Indra Wahyudin Fathonah
eProceedings of Engineering Vol 7, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Tugas akhir ini membahas tentang pengaruh temperatur permukaan sel surya terhadap kapasitas daya keluaran dengan suatu hipotesis yang mengatakan pada pukul 12.00 – 16.00 output dalam kondisi optimal tetapi ada penurunan kinerja sel surya sebagai akibat dari meningkatnya temperatur pada rentang waktu tersebut. Penelitian ini dilakukan di rooftop Gedung P (Deli) Fakultas Teknik Elektro Universitas Telkom dengan mengambil beberapa data menggunakan alat ukur temperatur permukaan sel surya dan arus yang dihasilkan sehingga mendapatkan data yang lebih akurat dan kontinu. Pengambilan data temperatur dilakukan pada tiga titik untuk memperoleh nilai temperatur permukaan panel surya. Selain itu, penelitian juga mengambil data intensitas cahaya. Pada penelitian ini, diperoleh nilai intensitas yang sama namun memiliki nilai arus dan temperature yang berbeda. Nilai daya keluaran pada panel surya dari pukul 12.00 hingga 16.00 menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan sebesar 2,8991 W setiap 15 menit atau setara 0,1932 W/menit. Dengan kesimpulan bahwa temperatur memiliki pengaruh terhadap besar kapasitas daya yang dihasilkan oleh panel surya dengan pengaruh rata-rata sebesar 2,42 W/oC. Semakin tinggi temperatur panel surya maka kinerja panel surya akan menurun. Kata Kunci : Sel surya, temperature, energi terbarukan Abstract This final project discusses the change in the temperature of the solar cell with respect to capacity of the output power with the hypothesis that at 12.00 – 16.00 the output is in optimal conditions but there is a decrease in the solar cell as a result of the temperature in the specified time span. This research was conducted on the roof of P Building (Deli), Faculty of Electrical Engineering, Telkom University by taking some data using solar cell temperature measurement device and the resulting current so as to obtain more accurate and continuous data. Temperature data collection was carried out at three points to obtain the surface temperature value of the solar panel. In addition, the study also took light intensity data. In this study, we obtained the same intensity value but had different values for current and temperature. The value of the output power on the solar panel from 12.00 to 16.00 shows a decrease with an average decrease of 2,8991 W every 15 minutes or the equivalent of 0,1932 W/minute. In conclusion that temperature has an influence on the power capacity generated by solar panels with an average effect of 2,42 W/oC. The higher the temperature of the solar panels, the lower the performance of the solar panels. Key word : solar cell, temperature, renewable energy
Fabrikasi Dan Karakterisasi Mortar Semen Yang Dilapisi Lapisan Tio2 Bersifat SelfCleaning Widiansyah, Irvan Taufiq; Rokhmat, Mamat; Wibowo, Edy
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan industri menyebabkan jumlah polutan meningkat dan berdampak buruk bagilingkungan terutama pada bangunan-bangunan di sekitar. Oleh karena itu dibutuhkan membuat mortarsemen yang anti kotoran atau yang bersifat selfcleaning untuk melindungi mortar dari debu, kotoran,dan serapan air yang dapat merusak. Salah satu upayatersebut ialah dengan memanfaatkan efek fotokatalis smart material berbasis titanium dioksida (TiO2).Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik lapisan TiO2 terhadap pengaruh kondisi lingkungan,pengaruh pada sudut kontak yang terbentuk pada selfcleaning, pengaruh fotokatalis pada self-cleaning,serta mengetahui pengaruh komposisi TiO2 yang ideal.Komposisi lapisan TiO2 dibuat bervariasi, yaitu 2gram, 4 gram, dan 6 gram, dan variasi tambahandengan mencampurkan 1 gram PEG 4000 dari setiapkomposisi TiO2 tersebut. Dan komposisi TiO2dicampurkan langsung pada mortar semen, yaitu 50gram, 100 gram, dan 150 gram. Pengujian selfcleaning menggunakan jenis pengotor Methylene Blue.Hasil terbaik kondisi permukaan mortar semen akibatproses fotokatalis bersifat self-cleaning didapatkanpada sampel dengan lapisan TiO2 komposisi 6 grampada penjemuran di bawah matahari denganpersentase rata-rata tingkat kepekatan warna zatpengotor sebesar 35,12%. Sedangkan hasil pengujiansudut kontak pada permukaan mortar semen bersifathidrofilik, dengan sudut kontak 19,5º pada mortarsemen yang dicampurkan langsung TiO2 dengankomposisi 150 gram. Kata Kunci - Fotokatalis, self-cleaning, mortar semen, sudut kontak, TiO2.
Penggunaan Titanium Dioksida (Tio2) Untuk Material Anti Kotor Alviona, Vonny Aulia; Rokhmat, Mamat; Wibowo, Edy
eProceedings of Engineering Vol. 11 No. 2 (2024): April 2024
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Indonesia banyak gedung perkantoran,rumah bertingkat yang mempunyai kaca atau dinding besar.Dengan cuaca tropis Indonesia menyebabkan noda mudahberkembang pada kaca atau dinding. Maka dibutuhkan inovasidalam pembersihan kaca atau dinding tersebut denganmelapiskan material TiO2 pada kaca atau dinding agar kotorantidak mudah menempel pada kaca (self-cleaning). Self-cleaningdapat dihasilkan dengan memanfaatkan sifat fotokatalis dariTiO2 yang aktif jika terkena cahaya matahari. Pengukuranyang digunakan yaitu pengukuran fotokatalis dan sudutkontak. Pengukuran sudut kontak bertujuan untuk mengetahuisifat self-cleaning yang didapat hidrofilik atau hidrofobik.Pelapisan larutan TiO2 dan Aquades pada substrat kaca denganukuran 2 cm x 2 cm dengan tebal kaca 5 mm dilakukan denganteknik spray. Penelitian yang telah dilakukan saat prosesfotokatalis mendapatkan komposisi terbaik yaitu komposisilapisan TiO2 sebanyak 6-gram, baik dengan lapisan TiO2-PEGmaupun lapisan TiO2-Tanpa PEG. Komposisi TiO2 sebanyak 6-gram yang mendegradasi dan menghilangkan pengotor lebihcepat 5 sampai 10 menit dibandingkan komposisi lapisan TiO2sebanyak 2-gram dan 4-gram dengan nilai rata-rata persentasehilangnya pengotor Methylene Blue pada permukaan lapisanTiO2-PEG yaitu 37% dan rata-rata intensitas cahaya 99498 lux.Kemudian sifat self-cleaning yang didapat merupakan sifathidrofilik karena memiliki sudut kontak kurang dari 900. Kata kunci— Fotokatalis, PEG, Self-Cleaning, TiO2