Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISA KUALITAS ESTETIS BRANDED GOODS DENGAN TEORI DESIGN SYNTACTIC FORM Devanny Gumulya
Jurnal Da Moda Vol 1 No 2 (2020): Jurnal Da Moda Mei 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/damoda.v1i2.70

Abstract

Product with good aesthetic appearance increases the consumer attractiveness and create memorable product experience. The paper discusses how the design element and the configuration can shape someone’s visual perception with syntactic design form theory, gestalt theory, and product gist method. Using these three approaches, two international bag brand is selected as study cases: Anya Hindmarch and Kate Spade. The study results are material, and the color design element can be continuously changed according to the trend, but the shape proportion and the configuration between the design elements need to be consistent. So the brand will still look coherent visually. By using this strategy, these two brands stay competitive and favorable in the market.
PERANCANGAN LAMPU LANTAI DENGAN INSPIRASI GAYA DESAIN MEMPHIS DI ERA TAHUN 1981 DENGAN METODE MORPHOLOGICAL CHART Clemencia Gloriana Sharon; Devanny Gumulya
Jurnal Da Moda Vol 2 No 1 (2020): Jurnal Da Moda Oktober 2020
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/damoda.v2i1.113

Abstract

Desain produk adalah sebuah proses menghasilkan ide, mengembangkan konsep, mengevaluasi ide, hingga merealisasikan ide tersebut menjadi produk. Produk yang dipilih dalam rancangan ini adalah lampu lantai. Lampu telah menjadi kebutuhan hidup manusia dan selalu digunakan untuk setiap kegiatan manusia karena adanya penerangan yang diberikan. Namun, saat ini lampu bukan hanya sekedar alat penerangan biasa tetapi juga menjadi tambahan nilai estetika dalam desain yang digunakan. Salah satu gaya desain yang kembali diminati sekarang adalah gaya desain era post-modern tahun 1981 yaitu Memphis. Gaya desain Memphis merupakan gaya desain tahun 1981-1987 yang berasal dari Italia yang bertentangan dengan desain-desain modern yang minimalis, simpel, dan tidak mencolok. Proses desain perancangan ini menggunakan metode morphological chart yaitu metode diagram yang dapat digunakan untuk menghasilkan ide dan konsep desain baru dengan menggabungkan desain produk Memphis dan preferensi pribadi penulis. Metode ini menghasilkan 5 ide desain baru dengan 1 desain pilihan dari gabungan antara ide produk Memphis yang sudah ada dengan bentuk-bentuk dari preferensi pribadi penulis.
EKSPLORASI BIOMORDAN PADA PEWARNA ALAMI DAN APLIKASINYA PADA MAINAN ANAK – ANAK Devanny Gumulya
Jurnal Da Moda Vol 2 No 2 (2021): Jurnal Da Moda Mei 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/damoda.v2i2.170

Abstract

Pewarna sintetis mendominasi dalam pewarnaan tekstil memiliki limbah air dengan kandungan kimia yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Salah satu alternatif yang lebih ramah lingkungan dan aman digunakan adalah pewarna alami. Pewarna alami dapat memberikan variasi warna yang beragam. Namun, pewarnaan alami saat ini dalam prosesnya terkadang masih menggunakan mordan logam yang tidak aman. Metode penelitian yang digunakan berupa eksplorasi material antara lain menggunakan metode aqueous dalam ekstraksi warna dan metode pre, simultaneous, post untuk proses mordanting. Sedangkan media yang digunakan adalah kain serat alami. Serta Sebagai pengganti mordan logam, mordan alami (biomordan) yang digunakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa warna yang dihasilkan sangat beragam dan cenderung ke arah warna pastel. Perlakuan dengan mordan alami dapat membantu penyerapan warna yang lebih baik pada kain. Serta salah satu aplikasi produk yang dapat diterapkan adalah mainan bayi.Penelitian menunjukan bahwa perlakuan mordan paling baik adalah pre mordanting dengan garam. Sedangkan jenis kain yang paling baik dalam penyerapan dan kerataan warna adalah rami. Dari sumber-sumber yang digunakan, kulit dan biji alpukat, kunyit, dan bunga telang yang paling baik dalam memberikan warna primer. Selain itu dikarenakan bahan-bahan yang digunakan natural, maka proses dan limbahnya pun juga aman.
TEKNIK TRENCANDIS MOZAIC ART NOUVEAU BERTEMU DENGAN JALAK BALI DENGAN METODE ATUMICS Devanny Gumulya; Eleonora Jovita Halim Lam
Jurnal Da Moda Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Da Moda Oktober 2021
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/damoda.v3i1.199

Abstract

Mempelajari sejarah adalah hal yang penting dalam proses desain, karena bila ingin menciptakan kemajuan maka perlu mempelajari hal yang sudah ada. Art Nouveau adalah gaya yang ingin membawa seni baru di tengah paska revolusi industri yang diawali di Paris di tahun 1880. Art Nouveau dengan semangatnya ingin menciptakan kebaruan maka Art Nouveau banyak mengambil elemen dari berbagai budaya seperti Jepang, Seni Moorish, alam, dan eksplorasi material. Gaya ini tersebar se dan cara internasional dan masuk ke Spanyol yang dikenal dengan nama modernism dan salah satu tokohnya adalah Antonio Gaudi yang mengeksplorasi teknik trecandis,eksplorasi mosaic dari material sisa dari pabrik dan bangunan. Metode dari jurnal ini adalah ATUMICS, metode yang menjelaskan bagaimana menurunkan inspirasi dari artefak secara terstruktur per elemennya technique, utility, material, icon, concept dan shape. Kebaruan jurnal ini ada pada penggabungan dua artefak yaitu teknik trecandis Gaudi dan fauna Bali yaitu Jalak Bali, dimana dari interaksi dari keduanya dihasilkan karya desain produk berupa fesyen aksesoris dengan inspirasi Jalak Bali dibuat dengan teknik trecandis dari limbah CD. Dari proses ini disimpulkan bahwa untuk merancang desain dengan hybrid budaya dengan metode ATUMICS, elemen yang berperan adalah technique, icon relasional dan concept. Dimana pada ketiga elemen, hubungan timbal balik antara artefak pada level makna saling memberikan inspirasi pada perancang.
EKSPLORASI MATERIAL INSPIRASI GAYA ART NOUVEAU BERTEMU DENGAN IKON INDONESIA DENGAN METODE ATUMICS Devanny Gumulya
Jurnal Da Moda Vol 3 No 2 (2022): Jurnal Da Moda Mei 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/damoda.v3i2.319

Abstract

History is very essential in design process because to create progress. It requires an understanding of what has already been accomplished. This paper is a learning outcome of history of product design courses in product design of Pelita Harapan University. Art Nouveau is a style that aimed to introduce new art during the 1880s post-industrial revolution in Paris. With its obsession with novelty, Art Nouveau incorporates elements from a variety of cultures, including Japan, Moorish art, nature, and numerous material explorations. Emile Galle, one of the Art Nouveau figures in Paris. He explored and invented numerous new glass techniques such as wheel cutting, acid etching (frosted glass), and glass casing layering. The journal uses of ATUMICS, a method for deriving structured inspiration from artifacts that incorporate technique, utility, material, icon, concept, and shape. The novelty of this journal stems from the combination of two artifacts: the cameo glass technique and an Indonesian icon, the national monument and the rafflesia Arnoldi flower, where the interaction of the two resulted in product design works in fashion accessories. This process demonstrates that the elements that play important role when two artefacts are interacting using the ATUMICS method are technique, relational icon, and concept. Whereas the reciprocal relationship between artifacts on a symbolic level inspires each other in all three dimensions.
Designing Website Application as An Academic and Non-Academic Assistive Tool for Students with Slow Learner Devanny Gumulya; Kristian Harijadi
Jurnal Desain Indonesia. Vol 3 No 2 (2021): Desain pada Era New Normal
Publisher : Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52265/jdi.v3i2.137

Abstract

The COVID-19 pandemic has resulted in PSBB (Large-Scale Social Restrictions) regulations that affect all aspects of life, one of which is the education sector. Changes in the education system that have occurred significantly have many schools and are not running smoothly. In this case, the percentage will be even greater for students with special needs, especially students who are included in Slow Learner. The purpose of this research is to innovate in the development of assistive technology, improve the learning experience for students with special needs. The research result is a website application named Temaninklusi is a website application design proposal for lecture to create digital pictorial card as a additional learning material for Slow Learner at University level, as pictorial card has been proven as an effective tool to assist reading comprehension since early age. The website application also connects lecture, mentor and counselor to help slow learner adjusting their academic life.
Peningkatan Kesadaran Mahasiswi Akan Sampah Gelas Minuman Plastik Di Universitas Pelita Harapan Dengan Pendekatan Desain Produk Devanny Gumulya; Irvin Aditya Parapak; Luther Tjunawan; Nabila Andini Nareswari; Indarto Indarto; Yosefin Suhanto
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 2 (2019): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mempersiapkan Masyarakat Menghadapi Era I
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.511 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v2i0.328

Abstract

We currently live in the constantly changing urban life that has created unsurmountable waste, as we used to buy, use, and throw when it reaches its end of life. With this habit, Indonesia has become the second largest plastic waste contributor in the world. The product design students who are millennials generation must be aware of this issue, as they are the future of our nation. With the product design approach, the students are asked to recycle the plastic waste that is polluting UPH’s environment. From the interview and observation, founded that there is 6.000 plastic cup used monthly. The plastic cup is categorized under polypropylene and polyethylene plastic in which both are thermoplastic, a kind of plastic that is pliable when given certain heat. The process starts with collecting, sorting, cleaning; then the waste is ready to be recycled with many exploration techniques with non-heated or heat process using a hot press machine on 1200C - 1600C to get new material that has good aesthetic and structure quality. After the waste is successfully made into functional products, the results are socialized to students from other disciplines through a workshop in which to participate he or she must bring their own plastic waste. This community service has reduced plastic cup waste in UPH by 1% and raising millennials' awareness about plastic waste. Hopefully, the process and the workshop program can change their perception that plastic cups are not waste but as a material that ready to be used again and can be made into functional products.
Implementasi Design Thinking pada Proyek Desain Sosial: Perancangan Buku Anyaman Sebagai Stimulus Untuk Pengrajin Anyaman Rotan di Desa Jambe Devanny Gumulya; Calvin Calvin; I Gede Agastya; Kristian Harijadi; Jordan Surjadi
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 3 (2020): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Menyongsong
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (853.907 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v3i0.864

Abstract

Pemikiran desain (design thinking) sudah banyak diaplikasikan pada proyek desain dengan berbagai konteks salah satunya di dalam proyek desain sosial. Paper ini mencoba menstudi bagaimana aplikasi pemikiran desain diimplementasikan dalam perancangan proyek desain sosial bagi pengrajin anyaman rotan di Desa Jambe. Proses pemikiran desain dimulai dari proses empati, definisi masalah, pencarian ide, pembuatan purwarupa dan uji coba. Dari proses empati ditemukan bahwa pengrajin mengalami kendala dalam pengembangan desain, sehingga produk yang dijual tidak berkembang, kalah bersaing, sehingga yang bisa ditawarkan adalah harga yang ekonomis bersaing dengan pengrajin rotan Cirebon yang bisa menawarkan harga yang lebih murah. Oleh karena itu dalam proyek sosial ini dibuat buku mengenai teknik, warna, serta finishing rotan yang sudah dimiliki pengrajin dan bagaimana mengembangkannya. Tujuannya adalah agar pengrajin dapat terinspirasi menemukan bentuk dan pola anyaman yang baru dengan menggunakan buku ini. Akhir dari kegiatan ini, tim sudah mengalami kendala pandemi Covid 19, sehingga buku diujikan melalui video conference kepada komunitas pengrajin rotan Jambe.
HISTORY AS INSPIRATION IN PRODUCT DESIGNWITHDESIGN FORMAT ANALYSIS METHOD: STUDY CASEONFURNITURE DESIGN COLLECTION WITH MEMPHIS DESIGNSTYLE FROM POSTMODERNIS M ERA AS AN INSPIRATION Devanny Gumulya; Cathleen Eiliana; Karen Hartanto
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Idealog Vol 7 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v7i1.4824

Abstract

Sejarah telah menjadi sumber inspirasi yang tak ada habisnya bagi para desainer. Pendekatan ini telah digunakan oleh perancang busana terkenal dan desainer produk dalammembuat karya desain yang ikonik. Makalah ini membahas bagaimana mendapatkan ide dari gaya desainbersejarah yang diaplikasikan dalam konteks perancangan desain furnitur. Gaya desain bersejarahyang dibahas dalam makalah ini adalah Memphis Design, gaya desain yang muncul antara tahun 1980dan 1988, ditandai dengan warna yang mencolok, pendekatan yang menyenangkan dalambentuk danfungsi, dan kecenderungan untuk menggunakan bahan material yang beragam. Metode digunakandalam penelitian ini adalah design format analysis (DFA). Temuan penelitian adalah beberapa rekomendasi tentang cara mendesain produk dengan menggunakan metode DFA yang mengambil sejarah sebagai inspirasi. Untuk menarik inspirasi dari sejarah, pertama desainer harus memiliki akumulasi pengetahuan yang baik tentang bentuk, konten, dan konteks dari gaya desain bersejarah; kedua desainer harus dapat menentukan elemen desain secara spesifik; dan ketiga desainer harus mengintegrasikan pengetahuan dari masa lalu dan masa sekarang ke dalam desain. Dengan metode DFA, penelitian ini menghasilkan enam ide untuk desain furnitur. Keunikan mendesain dengan metode DFA dari metode lain adalah desainer produk dapat dengan cepat membuat rancangan beberapa desaindengan elemen - elemen desain yang koheren. Kata kunci : sejarah desain, desain furnitur, analisa format desain
Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur Dengan Pendekatan Teori Semiotik Devanny Gumulya; Liony Amanda
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.320

Abstract

Lampu Gentur merupakan lampu asli kota Cianjur. Keberadaan lampu ini sudah ada sejak 1920. Seiring dengan berkembangnya jaman, bahan pembuatan lampu Gentur digantikan dengan bahan kuningan dan juga kaca yang berwarna-warni. Namun sayangnya hal tersebut tidak diiringi dengan perkembangan desainnya. Desain lampu Gentur dari dulu hingga sekarang hanya mencontoh dari lampu-lampu lain, khususnya bentuk klasik Kolonial Belanda dan Timur Tengah. Hal ini sangat disayangkan karena membuat Lampu Gentur tidak memiliki ciri khasnya tersendiri padahal para pengrajin sangat terampil membuat lampu yang berbahan baku kuningan dan kaca ini. Dilatarbelakangi kurangnya identitas desain lampu gentur, maka paper ini mencoba menghubungkan teori semiotic dalam perancangan ini menghubungkan simbol budaya Cianjur yaitu ayam pelung dan lampu gentur. Tujuan dari penulisan paper ini adalah pencarian identitas desain lampu gentur dengan pendekatan teori semiotic, diharapkan paper ini dapat memberikan model bagi desainer, bagaimana mendesain produk yang beridentitas budaya lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan teori semiotic pada proses desain. Hasil yang didapatkan adalah desain lampu gentur baru dengan mengambil ayam pelung sebagai inspirasi.Gentur lamps are one of Cianjur’s finest crafts. These lamps have been produced since 1920. At first, Gentur lamps were made based on the initiative of the Santri (Islamic priest) to make lighting by imitating Dutch people’s lamps that they used in their houses. Unfortunately, from the 1920s until now, Gentur Lamp designs haven’t developed much in terms of identity, always imitating what’s available in the market. On the other hand, Cianjur people are very skillfull in the craft skill of lamp making. From this lack of design identity background, this paper tries to elucidate the design identity of Gentur lamps by using semiotic theory, by connecting the cultural symbology of Cianjur, pelung chicken with gentur lamps. The purpose of this paper is to probe into design identity in Gentur lamp production by way of semiotics theoretical approach. In doing so, this paper postulates a cultural product design model that is meant to provide designers valuable reference material for designing successfully in a cross-cultural product modality. The final result being the new gentur lamp design with Pelung chicken as design inspiration.