Claim Missing Document
Check
Articles

Designing Website Application as An Academic and Non-Academic Assistive Tool for Students with Slow Learner Devanny Gumulya; Kristian Harijadi
Jurnal Desain Indonesia. Vol 3 No 2 (2021): Desain pada Era New Normal
Publisher : Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52265/jdi.v3i2.137

Abstract

The COVID-19 pandemic has resulted in PSBB (Large-Scale Social Restrictions) regulations that affect all aspects of life, one of which is the education sector. Changes in the education system that have occurred significantly have many schools and are not running smoothly. In this case, the percentage will be even greater for students with special needs, especially students who are included in Slow Learner. The purpose of this research is to innovate in the development of assistive technology, improve the learning experience for students with special needs. The research result is a website application named Temaninklusi is a website application design proposal for lecture to create digital pictorial card as a additional learning material for Slow Learner at University level, as pictorial card has been proven as an effective tool to assist reading comprehension since early age. The website application also connects lecture, mentor and counselor to help slow learner adjusting their academic life.
Peningkatan Kesadaran Mahasiswi Akan Sampah Gelas Minuman Plastik Di Universitas Pelita Harapan Dengan Pendekatan Desain Produk Devanny Gumulya; Irvin Aditya Parapak; Luther Tjunawan; Nabila Andini Nareswari; Indarto Indarto; Yosefin Suhanto
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 2 (2019): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mempersiapkan Masyarakat Menghadapi Era I
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.511 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v2i0.328

Abstract

We currently live in the constantly changing urban life that has created unsurmountable waste, as we used to buy, use, and throw when it reaches its end of life. With this habit, Indonesia has become the second largest plastic waste contributor in the world. The product design students who are millennials generation must be aware of this issue, as they are the future of our nation. With the product design approach, the students are asked to recycle the plastic waste that is polluting UPH’s environment. From the interview and observation, founded that there is 6.000 plastic cup used monthly. The plastic cup is categorized under polypropylene and polyethylene plastic in which both are thermoplastic, a kind of plastic that is pliable when given certain heat. The process starts with collecting, sorting, cleaning; then the waste is ready to be recycled with many exploration techniques with non-heated or heat process using a hot press machine on 1200C - 1600C to get new material that has good aesthetic and structure quality. After the waste is successfully made into functional products, the results are socialized to students from other disciplines through a workshop in which to participate he or she must bring their own plastic waste. This community service has reduced plastic cup waste in UPH by 1% and raising millennials' awareness about plastic waste. Hopefully, the process and the workshop program can change their perception that plastic cups are not waste but as a material that ready to be used again and can be made into functional products.
Implementasi Design Thinking pada Proyek Desain Sosial: Perancangan Buku Anyaman Sebagai Stimulus Untuk Pengrajin Anyaman Rotan di Desa Jambe Devanny Gumulya; Calvin Calvin; I Gede Agastya; Kristian Harijadi; Jordan Surjadi
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 3 (2020): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha Dalam Pemberdayaan Masyarakat Untuk Menyongsong
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (853.907 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v3i0.864

Abstract

Pemikiran desain (design thinking) sudah banyak diaplikasikan pada proyek desain dengan berbagai konteks salah satunya di dalam proyek desain sosial. Paper ini mencoba menstudi bagaimana aplikasi pemikiran desain diimplementasikan dalam perancangan proyek desain sosial bagi pengrajin anyaman rotan di Desa Jambe. Proses pemikiran desain dimulai dari proses empati, definisi masalah, pencarian ide, pembuatan purwarupa dan uji coba. Dari proses empati ditemukan bahwa pengrajin mengalami kendala dalam pengembangan desain, sehingga produk yang dijual tidak berkembang, kalah bersaing, sehingga yang bisa ditawarkan adalah harga yang ekonomis bersaing dengan pengrajin rotan Cirebon yang bisa menawarkan harga yang lebih murah. Oleh karena itu dalam proyek sosial ini dibuat buku mengenai teknik, warna, serta finishing rotan yang sudah dimiliki pengrajin dan bagaimana mengembangkannya. Tujuannya adalah agar pengrajin dapat terinspirasi menemukan bentuk dan pola anyaman yang baru dengan menggunakan buku ini. Akhir dari kegiatan ini, tim sudah mengalami kendala pandemi Covid 19, sehingga buku diujikan melalui video conference kepada komunitas pengrajin rotan Jambe.
HISTORY AS INSPIRATION IN PRODUCT DESIGNWITHDESIGN FORMAT ANALYSIS METHOD: STUDY CASEONFURNITURE DESIGN COLLECTION WITH MEMPHIS DESIGNSTYLE FROM POSTMODERNIS M ERA AS AN INSPIRATION Devanny Gumulya; Cathleen Eiliana; Karen Hartanto
Ide dan Dialog Desain Indonesia (Idealog) Vol 7 No 1 (2022): Jurnal Idealog Vol 7 No 1
Publisher : Universitas Telkom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/idealog.v7i1.4824

Abstract

Sejarah telah menjadi sumber inspirasi yang tak ada habisnya bagi para desainer. Pendekatan ini telah digunakan oleh perancang busana terkenal dan desainer produk dalammembuat karya desain yang ikonik. Makalah ini membahas bagaimana mendapatkan ide dari gaya desainbersejarah yang diaplikasikan dalam konteks perancangan desain furnitur. Gaya desain bersejarahyang dibahas dalam makalah ini adalah Memphis Design, gaya desain yang muncul antara tahun 1980dan 1988, ditandai dengan warna yang mencolok, pendekatan yang menyenangkan dalambentuk danfungsi, dan kecenderungan untuk menggunakan bahan material yang beragam. Metode digunakandalam penelitian ini adalah design format analysis (DFA). Temuan penelitian adalah beberapa rekomendasi tentang cara mendesain produk dengan menggunakan metode DFA yang mengambil sejarah sebagai inspirasi. Untuk menarik inspirasi dari sejarah, pertama desainer harus memiliki akumulasi pengetahuan yang baik tentang bentuk, konten, dan konteks dari gaya desain bersejarah; kedua desainer harus dapat menentukan elemen desain secara spesifik; dan ketiga desainer harus mengintegrasikan pengetahuan dari masa lalu dan masa sekarang ke dalam desain. Dengan metode DFA, penelitian ini menghasilkan enam ide untuk desain furnitur. Keunikan mendesain dengan metode DFA dari metode lain adalah desainer produk dapat dengan cepat membuat rancangan beberapa desaindengan elemen - elemen desain yang koheren. Kata kunci : sejarah desain, desain furnitur, analisa format desain
Pencarian Identitas Desain Lampu Gentur Cianjur Dengan Pendekatan Teori Semiotik Devanny Gumulya; Liony Amanda
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 33 No 1 (2018): Februari
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v33i1.320

Abstract

Lampu Gentur merupakan lampu asli kota Cianjur. Keberadaan lampu ini sudah ada sejak 1920. Seiring dengan berkembangnya jaman, bahan pembuatan lampu Gentur digantikan dengan bahan kuningan dan juga kaca yang berwarna-warni. Namun sayangnya hal tersebut tidak diiringi dengan perkembangan desainnya. Desain lampu Gentur dari dulu hingga sekarang hanya mencontoh dari lampu-lampu lain, khususnya bentuk klasik Kolonial Belanda dan Timur Tengah. Hal ini sangat disayangkan karena membuat Lampu Gentur tidak memiliki ciri khasnya tersendiri padahal para pengrajin sangat terampil membuat lampu yang berbahan baku kuningan dan kaca ini. Dilatarbelakangi kurangnya identitas desain lampu gentur, maka paper ini mencoba menghubungkan teori semiotic dalam perancangan ini menghubungkan simbol budaya Cianjur yaitu ayam pelung dan lampu gentur. Tujuan dari penulisan paper ini adalah pencarian identitas desain lampu gentur dengan pendekatan teori semiotic, diharapkan paper ini dapat memberikan model bagi desainer, bagaimana mendesain produk yang beridentitas budaya lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan teori semiotic pada proses desain. Hasil yang didapatkan adalah desain lampu gentur baru dengan mengambil ayam pelung sebagai inspirasi.Gentur lamps are one of Cianjur’s finest crafts. These lamps have been produced since 1920. At first, Gentur lamps were made based on the initiative of the Santri (Islamic priest) to make lighting by imitating Dutch people’s lamps that they used in their houses. Unfortunately, from the 1920s until now, Gentur Lamp designs haven’t developed much in terms of identity, always imitating what’s available in the market. On the other hand, Cianjur people are very skillfull in the craft skill of lamp making. From this lack of design identity background, this paper tries to elucidate the design identity of Gentur lamps by using semiotic theory, by connecting the cultural symbology of Cianjur, pelung chicken with gentur lamps. The purpose of this paper is to probe into design identity in Gentur lamp production by way of semiotics theoretical approach. In doing so, this paper postulates a cultural product design model that is meant to provide designers valuable reference material for designing successfully in a cross-cultural product modality. The final result being the new gentur lamp design with Pelung chicken as design inspiration.
A Study On Perceived Risk, Frugal Shopping and Perceived Enjoyment that Affect Customer Attitude To Accept Toy and Equipment Renting For Children Devanny Gumulya
Jurnal Manajemen dan Pemasaran Jasa Vol. 13 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5065.386 KB) | DOI: 10.25105/jmpj.v13i1.5799

Abstract

The industrialisation and urbanisation have made goods affordable and quickly to obtain. These create  hyper-consumption where we are used to buying more than we need, and so fast discarding the things that we buy. Access-based consumption is a trend that gains more popular in today society, in which consumer can have access to new and various items without having to own them. One of access-based consumption is renting, and this concept has been applied in many sectors such fashion, property and recently applied in items for children, as now more Millenials are living in limited space, so they really need to very critical in choosing which product to own. The study aims to research the relationship between perceived risk, frugal shopping, perceived enjoyment and attitude toward renting items for children. The online questionnaire was administered to 100 participants. The results showed that psychological risk affects attitude negatively, perceived enjoyment affect attitude positively, and frugal shopping affects perceived enjoyment and attitude positively. Marketing strategies are suggested for renting business owners by embracing the enjoyment feeling from renting as follows: promoting that by renting consumer’s house will less clutter with unwanted items; the benefit of getting new items regularly without having to buy; the benefit of playing and using items beyond their usual shopping budget; and that by renting the lifetime of one item is maximized.
KAJIAN TEORI EMOTIONAL DESIGN Devanny Gumulya; Prisca Nastasia
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 12 No. 2 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.289 KB) | DOI: 10.25105/dim.v12i2.41

Abstract

AbstractTechnological changes transform product design rapidly. This made productsbecome cheaper and produced in mass quantity. Very often we found productdesigned with similar style offered in the same price. On The other hand,functionality is more and more taken for granted in products, and users arelooking for fulfillment at an altogether different level of appreciation. Emotionaldesign is design that concerned with consumer's emotional response.Emotional response becomes a unique point that make a difference from otherproduct within the same cata gory. This paper tries to provide the generaloverview about emotional design covering from historical point of view,expert's theories and research method. From the study can be concluded thataesthetic and consumer's factor are very essential in emotional design. AbstrakKemajuan teknologi yang ada saat ini membuat produk menjadi lebihmurah dan massal, dengan keberagaman variasi yang hampir serupa.Hal inilah yang membuat orang akhirnya bosan terhadap produk yangitu-itu saja dan akhirnya, konsumen mengalami perubahan sikap danpersepsi pada produk, yaitu mereka mencari produk yang memilikinilai emosi yang mengena kepada mereka. Pendekatan emotional designadalah desain dengan memperhatikan respon emosional konsumenpada perancangan produk, faktor emosi dijadikan nilai tambah yangmenjadi pembeda antara produk-produk yang memiliki fungsi sama.Paper ini mencoba memamparkan perkembangan teori emotional designmulai dari sejarah, teori-teori dari beberapa pakar emotional design, alatdan metode penelitiannya. Kesimpulan yang didapat dari studi iniadalah bahwa faktor estetika dan faktor orang sangat berpengaruhdalam menghasilkan desain yang dapat berbicara secara emosionalkepada penggunanya.
GAYA ART NOUVEAU SEBAGAI INSPIRASI DALAM PERANCANGAN DESAIN PRODUK Devanny Gumulya; Richard Santio
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 11 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (963.528 KB) | DOI: 10.25105/dim.v11i2.109

Abstract

AbstractArt Nouveau is an art movement originated from France. The word "Art Nouveau" in French means "New Art". Art Nouveau reached its peak popularity in the early 20th century. Art Nouveau brought "Back to Nature" theme. Therefore, the Art Nouveau lines and shapes are not far from natural lifeincluding plants and animals. In our country Indonesia, The Art Nouveau is not as popular as The Art Deco, one of the factors because the country of Indonesia is an ex Dutch colony country. Buildings built by Dutch architect were Art Deco style buildings. On the other hand there is an increase of market interest in classic contemporary interior. PT. Dempsey Nusantara is one ofexample of furniture manufacture with classic contemporary style. In this paper we try understand the design spirit of Art Nouveau from the definition, character, and its application in many countries. After understanding the thinking and visual character of Art Nouveau, it is used as an inspiration fordesigning dining set as an apprentice project in Dempsey.AbstrakArt Nouveau merupakan gerakan seni yang berasal dari Perancis. Kata “Art Nouveau” sendiri dalam bahasa Perancis berarti “Seni Baru”. Art Nouveau mencapai puncak popularitas pada awal abad 20. Seni Art Nouveau membawa tema “Kembali ke Alam”. Maka dari itu, tarikan garis dan bentuk Art Nouveau diambil dari alam meliputi flora dan fauna. Di Indonesia sendiri, Seni Art Nouveau tidaklah sepopuler Seni Art Deco. Salah satu faktor adalah karena negara Indonesia merupakan negara jajahan Belanda dimana bangunan-bangunan yang didirikanarsitek Belanda bergaya Art Deco. Disisi lain ada peningkatan minat pasar pada interior klasik kontemporer salah satu produsen adalah PT. Dempsey Nusantara. Di makalah ini kami mencoba membahas apa yang menjadi semangat desain Art Nouveau ini mulai dari definisi, karakter, dan aplikasinya di berbagai negara. Karena dengan memahami, barulah bisa dijadikan inspirasi untuk merancang set furnitur ruang makan sebagai proyek magang di Dempsey.
PERANCANGAN DESAIN PRODUK DENGAN KONSEP SILANG BUDAYA: Studi Kasus Perancangan Tas Dengan Konsep Silang Budaya Cina Peranakan dan Kontemporer Devanny Gumulya; Merdy Batangtaris; Nathalisa Octavia
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 10 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2024.394 KB) | DOI: 10.25105/dim.v10i2.473

Abstract

Abtract Local culture applied to product design great potential for value enhancement and global market recognition, this known as cross cultural design. The purpose of this paper is to explore the meaning of cultural objects from cultures and to extract their cultural values into design elements. The particular cultural object chosen for this study was fashion objects of China cross breed with study focuses on analyzing the apperance , how they are used and their cultural symbolic meaning. Finally , this paper establishes a study case to provide product designers with a valuable reference for designing a succesful cross cultural product. The results presented herein are framework for designer to use cultural objects as inspiration in the design process Abstrak Seni budaya lokal diaplikasikan pada desain produk semakin digemari di pasar global, hal ini berisi penjabaran metode bagaimana proses transformasi nilai dan makna dari objek budaya menjadi elemen desain. Busana Cina Perankan diambil sebagai contoh objek budaya dengan kajian fokus pada tampilan, kegunaan dan makna simbolik budaya dan aplikasinya dalam proses perancangan deain produk. Hasil akhir yang dalam mendesain produk berkonsep silang budaya yang baik.
KAJIAN BUDAYA MINUM KOPI INDONESIA Devanny Gumulya; Ivana Stacia Helmi
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 13 No. 2 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1350.678 KB) | DOI: 10.25105/dim.v13i2.1785

Abstract

ABSTRACTCoffee plant was brought in Indonesia during the Dutch colonialsm, which has successfully made Indonesia as one of the main coffee producer in the world today. But Dutch capitalism and world’s globalitation towards Indonesia caused the coffee culture in this country left underdeveloped and only being appreciated by a view people. It felt so ironic if the uniqueness of Indonesian coffee that has spread throughout the globe being unknown to the people of Indonesia itself. This design process aim to introduce the coffee culture of Indonesia message so the Indonesian people can appreciate it more. Important finding is that Coffee culture in Indonesia is heavily influenced by Europe (Italy), Cina, Malay and local culture i.e Java and Sumatra in terms ABSTRAKTanaman Kopi dibawa masuk ke Indonesia pada masa kolonial Belanda, yang berhasil membuat Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kopi utama di dunia hingga kini. Namun akibat arus globalisasi dan kapitalisme Belanda yang diterima Indonesia, budaya kopi Indonesia hanya menjadi bagian dari keseharian dan tidak banyak diapresiasi masyarakat lokal. Sungguh sangat disayangkan bila keunikan kopi Indonesia yang sudah mendunia ini tidak diketahui masyarakat Indonesia sendiri. Kajian  ini berusaha untuk mengenalkan budaya kopi Indonesia, sehingga masyarakat awam dapat lebih mengapresiasinya. Temuan penting dari kajian ini adalah budaya kopi yang ada di Indonesia mendapatkan banyak pengaruh dari Eropa (Italia), Cina, Melayu, dan budaya lokal (seperti Jawa, Sumatra, dll); baik dalam hal pengolahan maupun dalam penyajian