Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN UMKM BANTEN BERBASIS PRODUK KRIYA Devanny Gumulya
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1138.695 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i2.2865

Abstract

AbstractSmall micro enterprise is one of the important factor in Indonesia economy, due to its capability to employ high number of workers. Product design is one of disciplines that really close to SME in particular handicraft SME. This study is started because product design students often find difficult in looking for artisans near Pelita Harapan University. As a result, they go to Bogor, Bandung, Cirebon and Jakarta for making product. Wira Multi Agung, Bamboo Hat Community, Pelangi Crochet, Pak BudhyWorkshop are the four SMEs studied in this paper. They’re many other handicraft SMEs in Banten. From the study, founded that SMEs really need product designer’s expertise, because mostly the SMEs’ design is from buyers that come to them. Therefore, a system need to be made to connect product design student in Universitas Pelita Harapan danhandicraft SMEs in Banten.  AbstrakUsaha kecil mikro menengah adalah salah satu motor perekonomian negara Indonesia, karena mampu menyerap tenaga kerja yang demikian banyak. Desain Produk adalah salah satu ilmu yang sangat dekat dengan UMKM .khususnya UMKM berbasis Kriya. Kajian ini dilatar belakangi karena kesulitan mahasiswa desain produk untuk mencari pengrajin sekitar kampus Universitas Pelita Harapan, sehingga mereka sering kali harus pergi ke Bogor, Bandung, Cirebon, Jakarta untuk pembuatan produk. UMKM yang distudi adalah Wira Multi Agung, Komunitas Topi Bambu, Rajutan Pelangi, Bengkel Pak Budhy. Mereka adalah sebagian kecil dari UMKM yang ada di Banten. Di dapatkan hasil bahwa UMKM sangat memerlukan bantuan desain produk, karena desain sepenuhnya masih bergantung pada customer yang datang. Rekomendasi daristudi ini adalah perlu dibuat mekanisme terstuktur yang menghubungkandesain produk di Universitas Pelita Harapan dan UMKM Banten berbasis kriya.
PENELITIAN DESAIN FURNITUR BERBASIS PANGKALAN DATA 3D SEBAGAI STRATEGI R&D & MANUFAKTUR PERUSAHAAN STUDI KASUS: CS TRADING SDN BHD, MALAYSIA Susi Hartanto; Devanny Gumulya; Aditya Cipta Sugandhi; Jonathan Ariefianto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1948.789 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i2.2866

Abstract

AbstractOne of the most competitive markets in product design is furniture market. Every company tries to provide the best in terms of products and services. CS Trading is a Malaysian trading house with top US retailer clients such as Topline and Homelegance. CS provides design services, include receive and modify data from clients, and position themselves as a mediator between retailers and manufacturers. All of CS drawings comein 2D CAD or PDF or other 2D form files, which in current industry competition, it has becoming less representative and not visually attractive. This research aims to create 3D database based on CS existing 2D data. 3D data are then categorized according to furniture items and its components, where new designs can be easily extracted. Fromthe research, 294 furniture databases are made. Modularity and carry over strategy are the most suitable R&D and manufacture strategy, because these strategies are good for companies with large product categories. From the research result, CS Trading can accelerate R&D process and manufacturing. In the long run they can excel in terms ofvariety of products and speed of service.  AbstrakIndustri furnitur adalah salah satu industri desain produk terbesar dan dengan persaingan yang sangat kompetitif. Setiap perusahaan berusaha memberikan produk dan servis yang terbaik. CS. Trading Sdn Bhd. adalah perusahaan trading dengan klien peritel dari Amerika seperti Topline dan Homelegance. Proses desain yang mereka lakukan adalah menerima dan atau memodifikasi gambar dari klien dan menjadi mediator antara klien dan manufaktur. Dengan posisinya sebagai mediator, CS mengalami beberapa kendala dalam proses desain, yaitu proses desain yang masih dalam bentuk gambar 2D, sehingga gambar kurang representatif dan tidak menarik. Penelitian ini bertujuan untuk mengubah proses desain CS dengan strategi membuat data 3D desain berdasarkan data gambar 2D yang ada. Data ini dianalisa dan dibuatkan pangkalan data berdasarkan kategori jenis furnitur dan komponennya, dimana desain baru dengan mudah bisa dihasilkan dengan cepat. Hasil penelitian ini adalah pembuatan 294 database furnitur. Strategi R&D dan manufaktur yangtepat diterapkan pada CS Trading adalah strategi modularitas dan strategicarry over detail. Karena kedua strategi ini cocok bagi perusahaan yang memiliki kategori produk yang banyak. Dengan hasil dari penelitian ini proses desain CS Trading menjadi lebih efektif dan efisien dari sebelumnya sehingga memiliki keunggulan dari sisi keragaman produk dan kecepatan servis
PENGEMBANGAN PRODUK ROTAN DI PENGRAJIN ROTAN CURUG DENGAN PENDEKATAN SOCIAL DESIGN Geoffrey Tjakra; Devanny Gumulya; Sheena Liman
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 15 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5598.564 KB) | DOI: 10.25105/dim.v15i1.4202

Abstract

Abstract Wira Multi Agung is a SME producing rattan basket who operates near UPH. It has been our responsible as academic to help surrounding community who is in struggle. Their products is good in terms of quality and weaving technique and yet WMA is still struggling when the order is low. Therefore, the objective of this activity is to help the artisans developing product that reflects WMA years of experience in weaving rattan. Together we developed fashion and home accessories. We used social design approach; there are five intense collaboration between the academic team and the artisans. The results are three women bags and two dinner table decorations. With design social approach that emphasize on high level of intensity during the interaction process, the product able to represent the WMA's richness in craftmansip and their local geniuses. Abstrak Wira Multi Agung adalah sebuah UMKM produk rotan yang dekat lokasinya dengan UPH, sudah menjadi kewajiban civitas academica UPH untuk merangkul komunitas sekitar. Produk yang dihasilkan sudah cukup baik dari segi kualitas dan teknik anyamannya dan banyak dibeli pasar lokal maupun internasional. Namun WMA mengalami kendala konsistensi order karena 100% desain dari pembeli, WMA tidak mengembangkan produknya sendiri. Keunikan WMA dari pengrajin rotan di Cirebon adalah mereka fokus pada aneka keranjang dan aksesoris rumah, tidak membuat kursi. Tujuan dari PKM ini adalah membantu mengembangkan produk rotan yang menunjukkan keahlian anyam pengrajin WMA. Metode PKM yang digunakan adalah desain social melalui kolaborasi bekreasi bersama secara intensif sebanyak lima kali kunjungan tim akademisi ke pengrajin. Hasil dari PKM ini tiga tas wanita dan dua aksesoris rumah tangga. Dengan metode desain sosial, yang menekankan intensitas interaksi desainer dan pengrajin maka produk yang dihasilkan mencerminkan keahlian tangan dari WMA.
KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT : Perancangan Sarana Pendidikan Anak Usia Dini Untuk Sekolah Cahaya Al-fuqron, Desa Gunung Sari, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tanggerang Devanny Gumulya; Ryan Adiputra
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 15 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3726.231 KB) | DOI: 10.25105/dim.v15i1.4203

Abstract

Abstract Early childhood education is one of the most important stages in the process of child growth. This program was designed in order to prepare young children for further education at the elementary school stage. However, many early childhood education facilities, especialy owned by the government located in villages still have unfeasible facilities, based on data from Early Childhood Education Association in 2016. From unfit buildings to inadequate learning facilities. UPH saw this as an oppounity to do community service, since it is necessary to design an appropriate and suitable learning tool for children in their early childhood age, in which case study was conduct on an early childhood education facility located in a village in Mauk area, Cahaya Al Fuqron. The design process begins with researching data through observation to the facility, interviews with the people in the area as well expert on the early childhood education. The results were twenty multifunction furnitures designed and produced for the school. Hopefully in the long run this can be developed to another inadequate early childhood education facilities in other villages and provide appropriate and suitable facilities to the children with lower-middle class target market. The design also supports the home-based furniture industry and as an effort to support and assisting early childhood education nationally.
PERBANDINGAN PERSEPSI PADA MATERIAL-MATERIAL UPCYCLE DO IT YOUR SELF (DIY) DENGAN PENDEKATAN MATERIAL DRIVEN DESIGN Devanny Gumulya
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 15 No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1160.962 KB) | DOI: 10.25105/dim.v15i2.5646

Abstract

AbstractIn the past five years, technology advances and fabrication feasibility like 3d printing has boost the do it your self movement, and it is expanding beyond products to the materials that is labeled as diy-materials. DIY-materials are created through individual or collective through self-production practices that involves a lot of creativity and innovative approach. One of these diy-materials is upcycle material. The pollution on landfill and ocean has encouraged us to be more responsible for the wastewe create by recycling the waste and make it as new material. Egg shells and LPDE plastic bag waste are discussed in this paper. The perception between the two diymaterials upcycle is compared using material driven design approach (MDD). In MDD, sensorial, interpretation, afective and perfomative dimensions shape people's perception and experience toward the materials. This approach is needed, to give waste material a new life and for it to be accepted on the market. Results from studies are thedo and don'ts for product design process using egg shells and ldpe plastic bag waste. Imperfections through pattern, texture and color are the qualities that people seek when interacting with diy-upcycle materials. These qualities can't be found in mass produced industrial made material. Design principle such as balance, contrast, emphasis, movement, pattern, rhythm, and unity/variety are need to be well planned in making pattern, texture and color, because if it is done wrong, the material will beperceived back as waste.  AbstrakDalam lima tahun terakhir kemajuan teknologi informasi dan kemudahanfabrikasi seperti 3d printing mendorong tren do it your self berkembang pesat mulai dari pembuatan produk hingga ke material. Material diy adalah material yang dibuat oleh individu ataupun kolektif melalui prosespengolahan yang inventif. Salah satu material diy yang banyak diulik adalah material daur ulang yang banyak dikenal dengan material upcycle. Tuntutan pencemaran lingkungan di darat dan air mendorong manusia untuk bertanggung jawab dengan sampah yang dihasilkan dengan mencoba mendaur ulang limbah dan menjadikannya material yang dapat dipakai ulang. Dalam paper ini dua material yang dibahas adalah material daur ulang dari limbah cangkang telur dan limbah kantong plastik LDPE. Kedua material ini dibandingkan persepsinya dengan pendekatan material driven design (MDD). Dalam MDD, dimensi sensorial, interpretatif, afektif dan performatif  material membentuk persepsi dan pengalaman orang akan sebuah material. Pendekatan ini dibutuhkan agar material limbah ini dapat keluar persepsinya sebagai limbah yang kotor dan terbuang menjadi material baru yang dapat diterima di pasar. Hasil dari kajian ini adalah rekomendasi bagi perancangan desain produk dengan material limbah cangkang telur dan limbah kantong plastik LDPE. Hal-hal yang perlu ditekankan dari material diy adalah ketidaksempurnaan yang ditandakan melalui pola, tekstur dan warna, karena hal ini tidak ditemui pada material buatan industri massal. Prinsip-prinsipdesain seperti balance, contrast, emphasis, movement, pattern, rhythm, and unity/variety harus direncanakan dengan baik dalam pembuatan pola, tekstur dan warna, karena bila salah material diy dapat dipersepsikan negatif.
KAJIAN TRANSFORMASI SEMANTIK DALAM PORTFOLIO DESAIN PRODUK KEWIRAUSAHAAN SOSIAL Devanny Gumulya; Isabela Elena
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 16 No. 2 (2020)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1334.313 KB) | DOI: 10.25105/dim.v16i2.7058

Abstract

AbstractThe market is increasingly more competitive; a brand must have a strong product design identity. Famous brands such as Nike, Apple and Swatch are brands that are good at managing their portfolio strategy for a long time. These brands can form an absolute imagination in the consumer’s mind by orchestrating coherent design characters across their product portfolio. Therefore, a brand must consistently use its design elements without making it dull. Consistent but the novelty element remains essential in every product line. Social enterprise to carry out the societal mission should be able to keep up with other products on the market. Therefore, social enterprise ability to manage their product portfolio strategy is essential. Semantic transformation is the process of changing from language realm into the entity that can be physically seen through design features. It is the process of creating design feature to represent meaning. Three social enterprises: Borneo Chic, Noesa and Du’anyam were selected for semantic transformation analysis across its product portfolio, starting from the brand value into design feature from the product portfolio line. The results suggest that the meanings carried by social enterprises are locality, environmentally friendly and mission to build community capacity. These meanings are transformed into design features such as natural colour combinations, woven and weaving elements as a representation of the product made by local craftsmen and one of a kind not factory-made or mass-produced, use local material and environmentally friendly. The social enterprise is expected to innovate traditional features into something modern that fit to a modern lifestyle. Imperfections in social enterprise’s products are also anticipated because it shows that products are made by humans. AbstrakPersaingan pasar yang semakin ketat membuat sebuah brand harus memiliki identitas desain produk yang kuat. Brand-brand ternama seperti Nike, Apple dan Swatch adalah brand yang pandai mengatur strategi portofolionya sehingga dalam kurun waktu yang lama, brand-brand tersebut bisa membentuk imajinasi yang absolut akan karakter desain dari portofolio produknya. Oleh karena itu, sang brand harus secara konsisten menggunakan elemen-elemen desainnya tanpa membuatnya menjadi membosankan. Konsisten tapi unsur kebaruan tetap penting dalam setiap lini produk. Kewirausahaan sosial untuk menjalankan misi sosialnya, harus mampu bersaing dengan produk-produk lain yang ada di pasar. Oleh karena itu strategi portofolio dari kewirausahaan sosial menjadi sangat penting. Transformasi semantik adalah proses perubahan dari ranah bahasa menjadi wujud entitas yang dapat dlihat secara fisik melalui fitur-fitur desain yang diciptakan untuk merepresentasikan sebuah makna. Tiga kewirausahaan sosial berbasis desain produk: Borneo Chic, Noesa dan Dua’anyam dipilih untuk dianalisa transformasi semantiknya, bermula dari ranah bahasa brand value menjadi karakter desain dari lini portofolio produk. Hasil penelitian adalah makna-makna yang diusung kewirusahaan sosial adalah lokalitas, ramah lingkungan dan misi pembangungan kapasitas komunitas. Makna ini ditranslasikan dalam fitur-fitur desain seperti kombinasi warna natural, elemen anyaman dan tenun sebagai representasi produk yang dibuat oleh perajin lokal dan bukan buatan pabrik atau produksi massa. Material yang digunakan lokal dan ramah lingkungan. Wirausaha sosial diharapkan untuk menginovasi fitur tradisional menjadi sesuatu yang tidak biasa. Ketidaksempurnaan pada produk kewirausahaan juga diantisipasi karena menunjukan bahwa produk dibuat oleh manusia.
FORM GIVING DESIGN EXPLORATION INSPIRED BY The 1980s MEMPHIS DESIGN WITH MORPHOLOGICAL CHART ANALYSIS Devanny Gumulya; Hendrawan Sutikno; Rudy Pramono; Evo Sampetua Hariandja
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 17 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1059.517 KB) | DOI: 10.25105/dim.v17i2.8825

Abstract

AbstractThe paper studies how morphological chart that comes from engineering method be applied in a creative design process that promotes both divergent and logical thinking. Morphological chart offers vast of possibility of design exploration that can be very useful for educating nascent designers. On the other hand, history has inspired many designers to create many new things.  Memphis is postmodernism design style happened between 1981-1987 that was characterize by form follow fun paradigm by creating objects that are bizarre from common object during the time.  The paper presents the findings by reviewing four morphological charts, generating 20 new ideas ranging from very similar to less similar style with Memphis. The reviews discovered three key factors affecting design divergence using the morphological chart method: level of variation, which deals how many variations the means can provide, the more variations the more novelty ideas be yielded. Level of unity means show how each element taken from the means be in harmony with each other. Level of abstraction means that the degree how far the idea from the origin inspiration. By having the three level, ideas generated from morphological chart can yield better design.Abstrak Paper ini mempelajari bagaimana chart morfologi yang berasal dari ilmuteknik diterapkan dalam proses desain kreatif yang memungkinkan pemikiran divergen dan logis digunakan bersama-sama. Chart morfologi menawarkan banyak kemungkinan eksplorasi desain yang bisa sangat berguna untuk mendidik mahasiswa desain. Di sisi lain, sejarah telah menginspirasi banyak desainer untuk menciptakan banyak hal baru. Memphis adalah gaya desain postmodernisme yang terjadi antara 1981-1987 yang dicirikan dengan bentuk mengikuti paradigma “form follow fun” dengan menciptakan objek yang aneh dari objek umum di era 1980an. Paper ini menyajikan temuan dengan meninjau empat chart morfologi yang menghasilkan 20 ide baru mulai dari yang sangatmirip dengan gaya Memphis hingga yang berbeda dengan Memphis. Hasilstudi menemukan tiga faktor utama yang mempengaruhi divergensi desain menggunakan metode chart morfologi: tingkat variasi, seberapa banyak variasi elemen ide maka ide yang dihasilkan akan semakin baru. Tingkat kesatuan berarti menunjukkan bagaimana setiap elemen yang diambil selaras satu sama lain. Tingkat abstraksi berarti seberapa jauh ide dari inspirasi asal. Dengan memiliki tiga tingkat ini, ide yang dihasilkan dari chart morfologi akan semakin membaik.
PERANCANGAN WEBSITE APLIKASI UNTUK MAHASISWA AUTIS SPECTRUM DISORDER LEVEL 1 DENGAN ADAPTASI METODE PICTURE EXCHANGE COMMUNICATION SYSTEM Devanny Gumulya; Ernest Irwandi; Kristian Hardijadi
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1574.412 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i2.10224

Abstract

AbstrakPenyandang autis spektrum disorder (ASD) memiliki kesulitan dalam belajar, komunikasi serta gangguan interaksi sosial. Sehingga sulit bagi mereka untuk memahami informasi selama kuliah. Dalam makalah ini sembilan mahasiswa ASD menjadi subjek penelitian dan diwawancarai kesulitan akademik dan non-akademik mereka selama berkuliah. Dengan prinsip Universal design simple and intuitive use and perceptible information situs web berjudul temaninklusi.id dirancang untuk memecahkan masalah ASD. Proses desain web menggunakan pendekatan minimum viable product (MVP) di mana MVP ke-1 dibuat, diuji, dan memberikan umpan balik untuk meningkatkan dan membuat MVP ke-2. Hasil studi adalah prinsip desain universal diimplementasikan dalam interface design situs web yang didominasi oleh ruang putih dan gambar untuk memberikan arah yang jelas bagi ASD. Fitur audio ditambahkan ke informasi teks untuk memfasilitasi transmisi informasi melalui indra penglihatan dan pendengaran. Bahasa Indonesia yang disederhanakan digunakan untuk menggambarkan setiap menu dan tindakan. ASD bereaksi positif terhadap situs web, dan menyukai ide penyampaian materi kuliah melalui gambar, teks, dan audio. AbstractPeople with autism spectrum disorder (ASD) have learning disabilities and communication and social interaction impairment. Making it difficult for them to intercept information during study. In this paper we study nine autism spectrum disorder university students their academic and non-academic difficulties. With universal design principle simple and intuitive use and perceptible information, a website application titled temaninklusi.id is designed to solve the ASD problem. The web design process used minimum viable product (MVP) approach where the 1st MVP is created, tested and give feedback to improve and create the 2nd MVP. The study result is universal design principle is implemented in the design of website interface that is dominated by white space and image to give clear direction for ASD. Audio feature is added to text information to facilitate information delivery through sight and hearing. Simplified Indonesian language is used to describe each menu and actions. ASD reacted positively toward the website, and like the idea of deliver lecture material through image, text, and audio. Keywords: website design, universal design, autism spectrum disorder, inclusive
KAJIAN ELEMEN VISUAL PADA DESAIN KEMASAN PRODUK PERAWATAN KULIT WANITA Devanny Gumulya; Talitha Alysia Onggo
Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain Vol. 1 No. 2 (2016): Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.461 KB) | DOI: 10.25105/jdd.v1i2.1356

Abstract

AbstractVisual Element Analysis of Skin Care Product Packaging Design. In Indonesia, there has been little study conducted into packaging design recommendations. As a result when developing packaging, designers may use their own judgment to design. On the other hand, skin care product is a fast growing industry. We often find brands changing their packaging very often. Many international research are done in this theme, therefore astudy is needed for evaluating consumer perception on Indonesian skin care packaging,     whether existing packaging already convey the product benefits effectively. A combinationof literature study and quantitative data from semi structured questionnaires will collect experiential data accessing participant engagement in perceiving a range of packagingsamples from selected Indonesian skin care brand: Martha Tilaar, Sariayu, Viva, and Citra. The result of this study is the design recommendation for future packaging design.AbstrakKajian Elemen Visual pada Desain Kemasan Produk Perawatan Kulit Wanita. Di Indonesia, studi mengenai desain kemasan masih sangat minim.Akibatnya pada saat mengembangkan desain kemasan, desainer menggunakan insting pribadinya untuk mendesain. Di sisi lain, ind stri produk perawatan kulit bertumbuh pesat. Seringkali ditemukan perusahaan mengganti kemasannya secara berkala, maka penelitian internasional banyak dilakukan pada desain kemasan. Oleh karena itu, studi skala lokal perlu dilakukan untuk meneliti persepsi konsumen pada kemasan produk, apakah kemasan yang ada sudah menyampaikan manfaat produk secara efektif. Metodeyang digunakan adalah studi literatur dan penyebaran kuesioner semi terstruktur menggabungkan metode kualitatif dan kuantitatif. Brand yang dipilih adalah Martha Tilaar, Sariayu, Viva, dan Citra. Hasil akhir dari studi ini adalah rekomendasi desain kemasan yang menarik konsumen.
DESAIN KEMASAN RAMAH LINGKUNGAN DARI LIMBAH KARDUS DENGAN METODE DESIGN DRIVEN MATERIAL INNOVATION Devanny Gumulya
Jurnal Nawala Visual Vol 4 No 2 (2022): Jurnal Nawala Visual Oktober 2022
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Desain dan Bisnis Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35886/nawalavisual.v4i2.367

Abstract

Businesses' strategies have shifted to more eco-friendly and sustainable paths as customer expectations toward eco-friendly products continue to progress. Many industries have preferred sustainable packaging in recent years. Because paper waste is abundant around us, recycling it will be very beneficial to the environment. The goal of this research is to look into how to recycle paper waste using design driven material innovation (DDMI) methods. The study employs a qualitative, research-through-design approach, in which researchers conduct research by developing a design project. The research findings are prototypes of snack packaging designs made from recycled paper using the DDIM method. Furthermore, the study's findings indicate that several factors are important to DDIM: knowledge of production technology, knowledge of market trends, and knowledge integration. The study adds to the body of knowledge in product design by instructing product designers on how to create new innovative DIY materials using the DDMI method.packaging design, diy material, material innovation