Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Repellency Test of Wet Tissue Containing DEET (N,N-diethyl- 3-metatoluamide) and Citronella Oil (Cymbopogon citratus) Againts Aedes Aegypti Mosquitoes Satoto, Tri Baskoro T.; Mulyaningsih, Budi; Sintorini, M.M.; Sugiarto, A.F.; Kesuma, B. A
Kesmas Vol. 5, No. 4
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Demam berdarah merupakan salah satu masalah utama kesehatan di Indonesia. Karena penyakit ini disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti, berbagai cara telah dilakukan untuk memutus rantai pejamu, agen, dan lingkungan, termasuk mencegah kontak manusia dengan vektor dengan menggunakan bermacam-macam pengusir serangga. Uji ini membandingkan waktu proteksi N,N-diethyl-3-metatoluamide (DEET) dengan waktu proteksi minyak sitronella yang terkandungkan dalam tisu basah terhadap Aedes aegypti. Untuk uji ini, dibuat larutan 12,5% DEET dalam etanol dan larutan 20% minyak sitronella. Sejumlah tisu kering dicelupkan ke dalam masing-masing larutan ini, ditiriskan dalam udara terbuka, kemudian dibungkus dengan lembaran aluminium dan disimpan selama satu hari dan satu minggu. Sementara itu, sejumlah nyamuk Aedes aegypti betina yang bebas penyakit ditempatkan dalam sangkar. Tisu basah yang telah disimpan selama satu hari dan satu minggu diusapkan pada bagian tangan (dari sikut sampai pergelangan tangan) relawan, kemudian tangan yang telah diusap itu dimasukkan ke dalam sangkar nyamuk dalam tiga replikasi uji (25 ekor nyamuk per sangkar). Waktu antara pemasukan tangan sampai dengan gigitan nyamuk pertama dinyatakan sebagai waktu usir tisu basah. Ditemukan bahwa waktu usir rata-rata tisu basah 12,5% DEET dan 20% minyak sitronella yang disimpan satu hari masing-masing 4 jam 26 menit dan 14,24 menit, sedangkan untuk tisu basah yang disimpan satu minggu masing-masing 4 jam 6 menit dan 12, 57 menit. Uji Post Hoc menunjukkan bahwa penyimpanan tisu basah satu hari dan satu minggu tidak berbeda secara bermakna (p = 0,524 untuk DEET dan p = 0,681 untuk minyak sitronella). Dengue hemorrhagic fever has been one of the major health problems in Indonesia. As the disease spreads out by Aedes aegypti, a variety of ways has been conducted to disconnect host, agent, and the environment chain including prevention of human contact w ith the vector using by various repellents. The present test compared the complete protection time of N,N-diethyl- 3-metatoluamide (DEET) and citronella oil impregnated in wet tissue against Aedes aegypti. For this test, an ethanol-based 12.5% DEET and 20% citronella oil were prepared, into which dry tissue papers were immersed, drain in open air, and then stored in aluminum foil packs for one day and one week. Meanwhile, a number of disease-free adult female Aedes aegypti were placed in mosquito cages. The prepared one-day and oneweek stored wet tissues were used to swab volunteer adult human hands (from elbow to wrist) which were then inserted into the mosquito cage in three replicates (25 mosquitoes each cage). Elapsed time from first hand insertion to the first mosquito bite was calculated and expressed as repellency time of the impregnated repellent. It was found that the average repellency times of one-day stored 12.5% DEET and 20% citronella oil wet tissues were 4 hour 26 minutes and 14.24 minutes, respectively, while for oneweek stored were 4 hour 6 minutes and 12.57 minutes, respectively. Post Hoc test showed that the repellency time difference between one-day and one-week storage was not statistically significance (p = 0.524 for DEET and p = 0.681 for citronella oil).
Effects of Temperature, Relative Humidity, and DEN-2 Virus Transovarial Infection on Viability of Aedes aegypti Satoto, Tri Baskoro T.; Umniyati, Sitti; Suardipa, Adi; Sintorini, Margareta
Kesmas Vol. 7, No. 7
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan lingkungan memengaruhi hidup dan transmisi virus dengue dalam tubuh nyamuk. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh suhu, kelembaban udara(RH), terhadap transmisi virus DEN-2 pada nyamuk Aedes aegypti. Studi eksperimental dengan desain pre dan post tes control group dilakukan di laboratorium pusat kedokteran tropis, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan pada kelompok Ae. aegypti betina umur 7 hari (F0). Virus DEN-2 diinfeksikan secara transovarial cara membran oral sampai generasi F2. Kelompok lain sebagai kontrol di inkubator temperatur dan suhu tertentu, waktu tertentu, jumlah telur yang dihasilkan, yang menetas dan mengandung virus dicatat. Hasil penelitian menemukan indeks transmisi transovarial generasi F0 dan F1 selama 14 hari masainkubasi adalah 93,3% dan 82,2%, laju tetas telur dari nyamuk F0 yang terinfeksi dan tidak terinfeksi masing-masing 68% dan 85%, sedangkan laju tetas telur dari nyamuk F1 yang terinfeksi dan tidak terinfeksi masing-masing 72,6% dan 76%. Pada tiga kondisi ruang uji, nyamuk berumur 7 hari dalam ruang gelap dan lembab menghasilkan telur paling banyak dibandingkan pada kondisi normal dan pada inkubasi tanpa CO2. Nyamuk umur 14 hari menghasilkan telur tertinggi dalam ruang gelap dan lembab, dibandingkan pada kondisi ruang normal dan dalam inkubasi tanpa CO2. Virus DEN-2 dapat menginfeksi Ae.aegypti secara transovarial dengan laju infeksi lebih tinggi pada F0 daripada F1. Suhu dan kelembaban mempengaruhi kemampuan produksi telur Ae. aegypti untuk hidup dan tumbuh. Environmental changes influenced survival life and virus transmission of dengue virus (DEN) in a mosquito. The purpose of the present study was to define DEN-2 virus transmission dynamic and effect of temperature, relative humidity (RH), and DEN-2 virus infection on viability of Aedes aegypti (Ae. aegypti). This experimental study with pretest-posttest control group design was conducted at the Laboratory of Center for Tropical Medicine, Faculty of Medicine, Gadjah Mada University (UGM), Yogyakarta. Seventh daysold female Ae.aegypti (F0) were infected DEN-2 viaoral membrane and kept until F2 generation by transovarial transmission, number of eggs produced and hatched was recorded. After 14-day incubation was found that trans ovarial transmission rate of DEN-2 virus infection in F0 and F1 were 93.3% and 82.2%, respectivel y. Egg production, hatchingrates from infected and uninfected mosquitoes F0 were 68% and 85%; and F1 were 72.6% and 76%, respectivel y. At defined room condition tests, 7 day adult mosquitoes in dark and humid environment produced highest number of eggs, compared normal environment and in incubated without CO 2. In fourteenth day oldmosquitoesat dark and humid produced highest number of eggs, compare normal environment condition, and in incubated without CO2. DEN-2 virus was able to infect Ae.aegypti by transovarial transmission where the infection rate in F0 was higher than F1 generation. Temperature and humidity affected the abilityof Ae. aegypti eggs to live and grow to adulthood.
H2S EXPOSURE TO WORKERS IN COAL INDUSTRIES (CASE STUDY IN SURALAYA COAL YARD AND EAST KALIMANTAN COAL MINING) Sintorini, Margareta Maria
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Volume 1, Number 1, October 2017
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v1i1.2404

Abstract

Aims: This study is aimed to identify the hazards and occupational risk factors of Hydrogen sulfide as one of the most dangerous gas exposures for employees coming from coal, oil and gas companies. Hydrogen sulfide is a toxic colourless gas with a characteristic odor, soluble in various liquids including water. This gas is irritant and asphyrant that can be absorbed through lung into blood. Its inhalation exerts hard damage of respiratory tract. Methodology and Result: The method used is the analysis of questionnaires with logistic regression statistics. The numbers of respondents are 170 people from the employment population who work in coal mining and Pertamina production units. Results obtained from workers' observations and H2S sampling suggest that the most dominant source of H2S exposure hazard comes from the skim tank and DAF areas. The variables associated with shortness of breath was age (P = 0.006). As many as 17.3% of workers did not apply proper work procedures, and 30.58% of workers had experienced work accidents. Conclusion, significance and impact study: H2S are not related to complaints of dizziness or shortness of breath of workers. Specific factors related to occupational safety are long-term exposure of work factors related to complaints of shortness of breath (OR = 2,061), and factors not using PPE associated with dizziness (OR = 3,484)
Analisa Pelaksanaan Audit Lingkungan pada Industri Plastik Kemasan di PT. Emblem Asia Sudibjo, Yudia Ihsanat; Moerdjoko, Sintorini; Suswantoro, Endro
Jurnal Indonesia Sosial Teknologi Vol. 3 No. 05 (2022): Jurnal Indonesia Sosial Teknologi
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.576 KB) | DOI: 10.59141/jist.v3i05.468

Abstract

Emblem Asia is a plastic manufacturing company that is located in Karawang Industrial Area MM2100 Cikarang. The objective of this research is to analyze the implementation of environmental management system ISO 14001:2015 that is done by the company. The research was carried out in the period of February –July 2022. The analysis uses quantitative methods which focuses on gap analysis method. A questionnaire with 31 questions about employe performance regarding EMS implementation, which where arranged trough validity and reliability tests, was addressed trough the respondents for research purposes. For the calculation of gap analysis, the questionnaires where distributed to 31 respondents from various levels of office, which results in 20% gap. From the results of this study, it can be concluded that implementation of EMS in PT. Emblem asia was monitored according to the international standards for ISO 14001. Suggestions to improve the performance of implementing EMS ISO 14001:2015 are to maintain everything that has been achived in implementing EMS ISO 14001:2015.
PENYULUHAN DAN PEMANTAUAN KUALITAS AIR TANAH DI SMAN 2 JAKARTA Marendra, Sheilla Megagupita Putri; Sintorini, Margareta Maria; Winarni, Winarni; Aphirta, Sarah; Fauzi, Reza; Annisa, Tiara Nur; Nulhakim, Muhammad Fiqri Rahman; Laurentia, Dmitri; Buana, Chandiaga Sam
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.37166

Abstract

Air tanah merupakan air yang mengalir di bawah permukaan tanah. 70% kebutuhan air bersih penduduk berasal dari air tanah. Penggunaan air tanah berlebihian dan jarak air tanah dengan sumber pencemar akan mengakibatkan turunnya kualitas air tanah. Adanya generasi muda saat ini dihimbau untuk dapat memahami dan peduli terhadap lingkungan. Tiga parameter yang perlu diuji untuk mengetahui kualitas air adalah parameter fisika, kimia dan biologi. Tujuan dari kegiatan Kegiatan PKM ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bagi para siswa dalam mengidentifikasi masalah lingkungan, khususnya pencemaran air tanah. Siswa SMAN 2 Jakarta sebagai sasaran pembinaan. Siswa SMA dianggap sebagai salah satu stakeholders dalam upaya transfer ilmu pengetahuan dan generasi muda penerus ilmu dalam memperkenalkan pemantauan kualitas air. Metode yang digunakan penyuluhan, pemberian materi dan melakukan demonstrasi uji parameter secara langsung pada lokasi penyuluhan dengan mengambil sampel air tanah pada lokasi tersebut. Parameter yang akan diuji adalah pH, padatan terlarut (TDS), dan kekeruhan dengan menggunakan pH meter, TDS meter dan Turbidymeter untuk mengetahui kualitas fisik air tanah secara langsung. Kegiatan dilakukan di Aula dengan jumlah 90 siswa dari kelas 11 IPA. Hasil persentase pengisian kuesioner bahwa 100% siswa mengetahui bahaya pencemaran air, namun 76% baru mengetahui parameter fisik yang diuji secara insitu. Kegiatan PKM ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman bagi para siswa dalam mengidentifikasi masalah lingkungan, khususnya pencemaran air tanah.
Sanitasi Lingkungan Sebagai Upaya Penanggulangan Kesehatan Lingkungan Dickals, Essafiora Pratama; Sintorini, Margareta Maria; Purwaningrum, Pramiati
INFOMATEK Vol 25 No 2 (2023): Volume 25 No. 2 Desember 2023
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/infomatek.v25i2.9765

Abstract

Data BPS Kecamatan Penjaringan tahun 2020 jumlah penduduk sebesar 321.802 ribu jiwa. Pada tahun 2021 jumlah penduduk sebesar 355.000 ribu jiwa. Peningkatan jumlah penduduk ini akan menyebabkan terjadinya permasalahan sanitasi, terutama limbah padat dan limbah cair yang dihasilkan oleh warga. Pada daerah Kecamatan Penjaringan banyak masyarakat yang membuang limbah sampahnya secara sembarangan yang akan menyebabkan penyebaran penyakit oleh lalat yang hinggap pada penumpukan limbah sampah di wilayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi, memetakan kondisi eksisting sanitasi, menetapkan wilayah prioritas perbaikan sanitasi, serta merencanakan prasarana sanitasi di wilayah prioritas perencanaan. Metode yang dipakai dalam perencanaan ini dalam penyebaran kuesioner adalah deskriptif analitif dengan metode proportionate random sampling. Kuesioner mempunyai responden sebanyak 123 responden. Pengambilan sampel sampah menggunakan metode stratified random sampling 45 sampel. Sebanyak 96% mempunyai wadah sampah indoor, tetapi tidak memiliki wadah di depan rumahnya sehingga terjadi penumpukan sampah di depan rumahnya, sementara pengetahuan masyarakat mengenai sampah juga masih kecil sebesar 64% sehingga banyak yang membuang sampah secara sembarangan. Lokasi prioritas perencanaan terdapat pada RW 10, Kelurahan Penjaringan dikarenakan menurut penyebaran kuesioner terdapat kasus diare terbanyak yaitu sebanyak 4 kasus. Solusi yang tepat untuk lingkungan ini adalah merencanakan 1 wadah sampah komunal berkapasitas 660 liter dan bank sampah untuk mereduksi sampah yang dihasilkan masyarakat sehingga penyebaran penyakit yang disebabkan oleh lalat akan berkurang.