Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

The Role of Participatory Communication in Motivational Interviewing in Handling Drug Abusers (Case Study of Clients in the Mild and Moderate Categories at the BNN Primary Clinic in South Kalimantan Province) Muzahid Akbar Hayat; Decky C. Kananto Lihu; Rakhmadiansyah Rakhmadiansyah
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 19, No. 6 : Al Qalam (November 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v19i6.5689

Abstract

Drug abuse is a complex problem that impacts health, social, and economic aspects. Rehabilitation efforts are crucial in addressing it, particularly through an effective and humanistic communication approach. This study aims to explore the role of participatory communication in the Motivational Interviewing (MI) method in the rehabilitation process for mild and moderate drug abusers at the Pratama Clinic of the National Narcotics Agency (BNN) in South Kalimantan Province. Using a qualitative approach with a case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation with six clients and one counselor. The results indicate that participatory communication plays a crucial role in building an equal, empathetic, and inclusive counseling relationship. Clients feel more valued, heard, and encouraged to be active in the recovery process. However, challenges remain, such as differences in socio-cultural backgrounds and client passivity. In conclusion, participatory communication supports the effectiveness of MI in increasing client motivation and engagement, and is an important strategy in creating a more humane and sustainable rehabilitation process.
Health Communication Strategy for Stunting Prevention in Kapuas Barat District, Kapuas Regency Linda Wahyuni; Decky C. Kananto Lihu
Varied Knowledge Journal Vol. 4 No. 1 (2026): Varied Knowledge Journal, August 2026
Publisher : CV. Global Cendekia Inti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71094/vkj.v4i1.420

Abstract

This study examines how health communication is planned, implemented, mediated, and received within the stunting-prevention program in Kapuas Barat District, Kapuas Regency. A descriptive qualitative design was conducted at Mandomai Community Health Center. Data were collected through semi-structured in-depth interviews, direct observation, and documentation involving ten informants representing health professionals, health workers, a posyandu leader, village government, pregnant women, mothers of toddlers, and a newly married community member. Data were analyzed through reduction, display, conclusion drawing, and verification. Lasswell's communication model and Rogers' diffusion of innovations theory guided interpretation. The findings show that communication is active but embedded in routine maternal and child health services rather than organized through a written, segmented, and outcome-based strategy. Trusted face-to-face interaction through health workers and posyandu actors remains the dominant channel, supported by maternal and child health books, posters, leaflets, and limited digital media. Messages are practical and broadly accepted, but preconception audiences, spouses, and families are reached inconsistently. Knowledge and persuasion are more visible than sustained implementation and confirmation because economic conditions, time, distance, and service access constrain action. The study's original contribution is an integrated diagnostic framework that links Lasswell's five communication elements with Rogers' adoption stages to identify where message delivery fails to develop into stable preventive behavior. The study recommends life-stage audience segmentation, coordinated multichannel reinforcement, stronger local communicators, ethical and non-stigmatizing communication, and outcome-based evaluation.
EVALUASI KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK BADAN PUBLIK DI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2025 Decky Lihu
Cangkal : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Mei - Oktober 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Literasi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keterbukaan informasi publik pada badan publik di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2025. Penelitian mencakup tiga kategori badan publik, yaitu pemerintah kabupaten/kota, organisasi perangkat daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, serta instansi vertikal yang berkedudukan di Kalimantan Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data hasil Monitoring dan Evaluasi keterbukaan informasi publik tahun 2025 melalui instrumen Self Assessment Questionnaire. Indikator penilaian meliputi informasi wajib berkala, informasi yang tersedia setiap saat, pengembangan website, informasi pengadaan barang dan jasa, serta aspek kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi tingkat keterbukaan informasi publik antar kategori badan publik. Pemerintah kabupaten/kota sebagian besar berada pada kualifikasi Menuju Informatif dan Informatif, sementara organisasi perangkat daerah Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menunjukkan sebaran kualifikasi yang lebih beragam dengan dominasi kategori Kurang Informatif. Sebaliknya, instansi vertikal relatif menunjukkan kinerja yang lebih baik dengan mayoritas berada pada kualifikasi Informatif. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan tata kelola informasi publik dan komunikasi kelembagaan sebagai upaya strategis untuk meningkatkan keterbukaan informasi publik di tingkat daerah serta memperkaya kajian komunikasi pemerintahan berbasis evaluasi kebijakan informasi publik.
STRATEGI KOMUNIKASI ORGANISASI KOMISI INFORMASI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DALAM MEWUJUDKAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK Decky Lihu
Cangkal : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Mei - Oktober 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Literasi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keterbukaan informasi publik merupakan prasyarat penting bagi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang transparan dan akuntabel. Namun, efektivitas keterbukaan informasi tidak hanya ditentukan oleh regulasi, melainkan juga oleh kualitas layanan informasi publik yang diselenggarakan oleh lembaga publik. Penelitian ini menganalisis strategi komunikasi internal dan eksternal Komisi Informasi Provinsi Kalimantan Selatan serta implikasinya terhadap persepsi publik mengenai keterbukaan informasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi praktik komunikasi organisasi, analisis dokumen dan media digital, serta survei persepsi publik. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dengan teknik triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi internal Komisi Informasi Provinsi Kalimantan Selatan telah berfungsi secara operasional, namun belum didukung oleh standar operasional prosedur dan sistem dokumentasi yang terstruktur. Sementara itu, komunikasi eksternal telah memanfaatkan media digital dan kegiatan sosialisasi, tetapi masih cenderung bersifat satu arah sehingga partisipasi publik belum optimal. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas keterbukaan informasi publik dalam praktik governance kelembagaan dipengaruhi oleh kualitas layanan informasi publik yang dialogis, terstruktur, dan responsif.
KESENJANGAN KETERBUKAAN INFORMASI PADA OPD PEMERINTAH PROVINSI: ANALISIS MIXED METHODS BERBASIS MONEV 2025 Decky Lihu
Cangkal : Jurnal Ilmu Sosial Dan Humaniora Vol. 2 No. 1 (2026): Mei - Oktober 2026
Publisher : Yayasan Pendidikan Literasi Borneo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kesenjangan keterbukaan informasi publik pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi serta menjelaskan faktor komunikasi organisasi yang memengaruhi capaian tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain explanatory sequential, yang mengintegrasikan data kuantitatif hasil Monitoring dan Evaluasi Keterbukaan Informasi Publik Tahun 2025 dengan temuan kualitatif mengenai praktik komunikasi organisasi pada OPD. Data kuantitatif dianalisis secara deskriptif dan komparatif berdasarkan indikator penyediaan informasi berkala, penyediaan informasi setiap saat, dan pengelolaan website badan publik. Data kualitatif diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) serta pengelola website atau informasi pada OPD, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelemahan utama keterbukaan informasi pada OPD terdapat pada pengelolaan website dan penyediaan informasi setiap saat. Temuan kualitatif menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan penerapan standar operasional prosedur, beban kerja dan keterbatasan kapasitas PPID, minimnya dukungan pimpinan, serta budaya organisasi yang masih berorientasi administratif menjadi faktor yang memengaruhi kondisi tersebut. Integrasi kedua jenis temuan menegaskan bahwa peningkatan keterbukaan informasi publik tidak cukup dilakukan melalui regulasi, tetapi memerlukan penguatan komunikasi organisasi, kepemimpinan, kapasitas pengelola informasi, dan budaya transparansi.