Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengembangan Video Pembelajaran Animasi Powtoon Pada KD Menerapkan Metode Dasar Pengolahan Makanan untuk SMA Double Track Tata Boga Diva Dwi Marsanda; Sri Handajani; Lucia Tri Pangesthi; Ila Huda Puspita Dewi
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 2 (2025): Mei
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i2.3326

Abstract

Program double track dirancang untuk membekali peserta didik dengan keterampilan tambahan termasuk Tata Boga, namun pembelajaran masih menggunakan media yang kurang efektif dan menarik. Untuk mendukung pemahaman siswa, dikembangkan media pembelajaran berbasis video animasi Powtoon yang inovatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengembangan, kelayakan materi maupun media, serta respon peserta didik terhadap video pembelajaran animasi powtoon pada KD menerapkan metode dasar pengolahan makanan untuk SMA double track tata boga. Penelitian ini menerapkan jenis penelitian R&D dengan model pengembangan 4D oleh Thiagarajan yang meliputi Pendefinisian, Perancangan, Pengembangan, dan Penyebarluasan, namun dilakukan hanya sampai Pengembangan. Metode untuk mengumpulkan data yaitu memakai lembar validasi dan lembar angket, kemudian diukur menggunakan skala likert. Berdasarkan hasil dari analisis data, menunjukkan: produk yang berhasil dikembangkan yakni video pembelajaran animasi Powtoon pada KD menerapkan metode dasar pengolahan makanan yang dapat diakses melalui link maupun QR code untuk digunakan dalam pembelajaran, kelayakan media memperoleh hasil yang sangat layak (93,55%) dan kelayakan materi juga mendapatkan hasil yang sangat layak (98,26%), serta respon peserta didik menunjukkan hasil yang sangat baik (94,60%). Dapat ditarik kesimpulan, video pembelajaran animasi Powtoon pada KD menerapkan metode dasar pengolahan makanan untuk SMA double track tata boga sangat layak sekaligus dapat diterapkan dalam pembelajaran.
Pengembangan Video Pembelajaran Menggunakan Aplikasi Powtoon pada Materi Pie Dough untuk Siswa Keahlian Kuliner Zabrina Zana Virginia; Nugrahani Astuti; Ila Huda Puspita Dewi; Mauren Gita Miranti
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i3.3344

Abstract

Penelitian ini menerapkan metode Research and Development (R&D) dengan tujuan untuk mengetahui: 1) kelayakan video pembelajaran menggunakan aplikasi powtoon pada materi pie dough ditinjau dari segi materi dan media; dan 2) respon siswa terhadap video pembelajaran menggunakan aplikasi powtoon pada materi pie dough. Model pengembangan yang digunakan ialah model 4D (Define, Design, Develop, Disseminate), tetapi dalam penelitian ini hanya dilaksanakan sampai tahap develop (pengembangan). Data dikumpulkan melalui kuesioner (angket) dengan skala likert yang ditujukan untuk para validator dan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kelayakan materi dan media dinyatakan sangat layak dengan skor perolehan berturut-turut ialah 87% dan 85%; dan 2) respon siswa mendapatkan hasil dengan interpretasi sangat praktis dengan presentase sebesar 83,4%. Dengan demikian video pembelajaran menggunakan aplikasi powtoon pada materi pie dough dinilai sangat layak dan sangat praktis sebagai media pembelajaran sehingga efektif digunakan selama proses pembelajaran pada materi tersebut.
Pengembangan Media Pembelajaran Prezi Materi Keamanan Pangan Siswa Kelas X SMK Negeri 3 Kediri Linggar Rizkita; Mein Kharnolis; Ila Huda Puspita Dewi; Sri Handajani
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i3.3757

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) hasil proses pengembangan media pembelajaran Prezi pada materi keamanan pangan, 2) kelayakan materi dan media pada materi keamanan pangan, 3) respon peserta didik setelah menggunakan media pembelajaran berbasis Prezi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian R&D dengan model penelitian 4D (Define, Design, Development, Disseminate), tetapi hanya sampai tahap Development. Berdasarkan hasil dari analisis data penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) produk yang berhasil dikembangkan media pembelajaran berbasis Prezi pada materi keamanan pangan sangat layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran, 2) kelayakan materi memperoleh nilai rata-rata (0,834) dengan kategori sangat layak, dan kelayakan media memperoleh nilai rata-rata (0,928) dengan kategori sangat layak. 3) Uji coba terbatas menunjukkan tingkat respon peserta didik sebesar 83,2%, dengan kategori sangat baik. Dengan demikian, media pembelajaran ini dinyatakan layak dan efektif untuk digunakan dalam proses pembelajaran.
Penerapan E-Modul Bumbu Dasar untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa SMK Kuliner Fase E Salwiyah Abdillah; Mein Kharnolis; Ila Huda Puspita Dewi; Sri Handajani
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 3 (2025): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i3.3814

Abstract

Inovasi pembelajaran digital diperlukan dalam proses belajar mengajar di kelas, untuk meningkatkan mutu hasil belajar siswa pada mata pelajaran SMK kuliner. Dengan adanya pemanfaatan e-modul diharapkan dapat menjadi solusi dalam memfasilitasi kebutuhan pembelajaran. Dalam penelitian ini akan diterapkan media pembelajaran yaitu e-modul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :(1) Peningkatan hasil belajar ranah kognitif dan afektif melalui penerapan menggunakan e-modul materi bumbu dasar, (2) Respon siswa terhadap penerapan e-modul materi bumbu dasar di SMK Negeri 1 Dlanggu Mojokerto. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain Pre Experimental design one group pretest-posttest. Sampel pada penelitian ini adalah siswa kuliner 2 berjumlah 34 siswa dengan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan tes berupa soal pilihan ganda untuk mengukur hasil belajar kognitif, angket penilaian sikap untuk hasil belajar afektif, serta angket respon siswa menggunakan skala likert. Instrumen penelitian divalidasi oleh ahli dan diuji menggunakan rumus Aiken’s V. Teknik analisis data menggunakan uji paired sample t-test serta persentase N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan: (1) adanya peningkatan hasil belajar kognitif dengan presentase N-Gain sebesar 56,87 % dan adanya peningkatan hasil belajar afektif dengan presentase N-Gain sebesar 57,34 %. (2) Respon siswa terhadap penggunaan e-modul mencapai 85% dengan kategori sangat layak.
Implementation of Zero Food Waste in the Buffet Restaurant Service (Case Study: Sheraton Grand Jakarta Hotel) Nabila Hasna; Lilis Sulandari; Ila Huda Puspita Dewi; Mafisa Restami
JTI: Jurnal Teknik Industri Vol 12 No 1 (2026): June 2026
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jti.v12i1.39625

Abstract

This study is motivated by the growing issue of food waste in the hospitality industry, particularly in buffet services, which are characterized by large-scale food production. It aims to analyze the factors causing food waste and to implement the zero food waste concept in buffet restaurant services at Sheraton Grand Jakarta Hotels. The research method is a descriptive qualitative approach, employing observation, interviews, and documentation. The informants in this study include the Chef de Cuisine, Chef de Partie Hot Kitchen, and Chef de Partie Pastry Bakery. The results show that food waste is influenced by operational factors, inventory system factors, and hotel quality standards and regulations. Zero food waste is implemented through the stages of planning and production, serving, monitoring, and reuse and redistribution. The efforts include using occupancy data, implementing batch cooking, controlling serving container size, a gradual refill system, recording waste logs, and collaborating with external organizations to redistribute surplus food that is still suitable for consumption. In conclusion, the implementation of zero food waste has been carried out systematically and in an integrated manner.  Keywords: Zero Food Waste, Buffet Service, Sheraton Grand Jakarta Hotels
Internal and External Factors Affecting Sales Decline of Traditional Bakery Products: A Case Study in East Java Naila Dio Tito Brata Ibrahim; Lilis Sulandari; Ila Huda Puspita Dewi; Nufimbar Susy Anindita
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 4 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara Juli 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i4.10136

Abstract

Abstract. This study investigates the internal and external factors that contributed to the declining sales of pandan-flavored steamed brownies at PT Citra Kendedes Cake and Bakery, a traditional food-based MSME in Malang, East Java. Using a qualitative single-case study design, the research drew on in-depth semi-structured interviews, direct field observations, and internal sales and production records from 2017 to 2024. The findings show that the decline was shaped by interconnected internal and external pressures. Internally, the product suffered from limited innovation, inconsistent quality control, weak knowledge standardization, and inadequate digital marketing adoption. Externally, the business faced stronger competition from modern bakeries, changing consumer preferences toward novelty and visual appeal, and intensifying market pressure in digitally mediated food retail. Together, these factors explain a sustained sales decrease of approximately 35% over seven years. The study highlights that traditional food-based MSMEs cannot rely on product heritage alone; they must continuously adapt their human resources, product development processes, pricing logic, packaging, and branding strategies to remain relevant. These findings contribute practical insight into how culturally rooted bakery products can be repositioned more effectively in a competitive contemporary market. Keywords: consumer preference shift; internal business factors; local SME bakery; market competition; traditional food products
Karakteristik Sensori Nastar Dengan Proporsi Tepung Terigu Dan Tepung Sagu Aren Rezza Aulya; Lilis Sulandari; Ila Huda Puspita Dewi; Nufimbar Susy Anindita Handayani
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 6 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara November 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i6.11740

Abstract

Nastar merupakan salah satu kue kering yang popular di Indonesia dan umumnya menggunakan tepung terigu sebagai bahan utama. Ketergantungan terhadap tepung terigu impor mendorong perlunya pemanfaatan bahan pangan lokal alternatif, salah satunya tepung sagu aren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh proporsi tepung sagu aren dan tepung terigu terhadap karakteristik sensori nastar serta menentukan formulasi terbaik yang paling disukai panelis. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan empat perlakuan proporsi tepung. Penilaian dilakukan melalui uji organoleptic oleh panelis yang terdiri atas 5 panelis terlatih dan 30 panelis semi terlatih. Parameter yang diamati meliputi warna, bentuk, aroma, rasa, tekstur, dan tingkat kesukaan keseluruhan. Data dianalisis menggunakan uji ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Duncan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan proporsi tepung sagu aren dan tepung terigu berpengaruh nyata terhadap warna, bentuk, rasa, tekstur, dan tingkat kesukaan keseluruhan, namun tidak berpengaruh nyata terhadap aroma. Formulasi S10 (100% tepung sagu aren) memperoleh skor tertinggi dibanding formulasi lainnya. Berdasarkan hasil tersebut, tepung sagu aren berpotensi digunakan sebagai pengganti tepung terigu dalam pembuatan nastar karena mampu menghasilkan karakteristik sensori yang baik dan diterima oleh panelis.
INOVASI KUE LUMPUR BERBAHAN DASAR LABU SIAM DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG KACANG HIJAU Putri Andriana Citra; Lilis Sulandari; Ila Huda Puspita Dewi; Aisyah Nurin Kamiliya
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 6 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara November 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i6.11746

Abstract

Kue lumpur merupakan salah satu jajanan tradisional Indonesia yang umumnya menggunakan kentang sebagai bahan utama. Pemanfaatan labu siam sebagai pengganti kentang dan penambahan tepung kacang hijau sebagai substitusi sebagian tepung terigu merupakan salah satu upaya diversifikasi pangan berbasis bahan lokal yang diharapkan dapat meningkatkan nilai gizi produk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mutu sensori kue lumpur berbahan dasar labu siam dengan penambahan tepung kacang hijau berdasarkan atribut warna, bentuk, aroma, rasa, tekstur, dan kesukaan keseluruhan, serta menentukan formulasi yang paling dapat diterima oleh panelis. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan tiga formulasi, yaitu perbandingan tepung terigu dan tepung kacang hijau sebesar 90%:10%, 80%:20%, dan 70%:30%. Penilaian mutu sensori dilakukan oleh 35 panelis semi terlatih menggunakan uji skoring skala 1–5. Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung kacang hijau berpengaruh signifikan terhadap warna, aroma, tekstur, dan kesukaan keseluruhan, tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap bentuk dan rasa. Formulasi terbaik diperoleh pada perbandingan tepung terigu 90% dan tepung kacang hijau 10% yang menghasilkan warna kuning kecoklatan cukup merata, tekstur lunak dan lembut, rasa manis dan gurih, serta tingkat kesukaan panelis tertinggi. Peningkatan proporsi tepung kacang hijau menyebabkan warna produk menjadi lebih gelap, tekstur lebih padat dan sedikit berpasir, serta aroma khas kacang hijau semakin kuat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan tepung kacang hijau sebanyak 10% merupakan formulasi yang paling optimal untuk menghasilkan kue lumpur berbahan dasar labu siam dengan mutu sensori yang baik dan dapat diterima oleh konsumen. Kata kunci: kue lumpur; labu siam; mutu sensori; tepung kacang hijau; uji sensori.
ANALISIS KONTROL KUALITAS PRODUKSI BERRY COOKIES DENGAN PENDEKATAN FISHBONE DIAGRAM DI PT ABC Risa Safitri Putri Aditya; Lilis Sulandari; Ila Huda Puspita Dewi; Mafisah Restami
JURNAL ILMIAH NUSANTARA Vol. 3 No. 6 (2026): Jurnal Ilmiah Nusantara November 2026
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jinu.v3i6.12020

Abstract

Quality control is a key managerial function in the food industry to ensure that products consistently conform to established standards. This study aims to analyze the quality control of Berry Cookies production at PT ABC, a gluten-free, dairy-free, and preservative-free cookie product, across three processing phases: preparation, main processing, and final processing. The problem examined is the recurring non-conformance of product moisture content against the company standard of 3.5%, which triggered consumer complaints regarding a rancid odor upon opening the package. A descriptive qualitative method was applied through direct observation, structured interviews with the Quality Control manager, QC staff, and production operators, as well as documentation of quality standards, standard operating procedures, and process records. Data were analyzed using a fishbone diagram limited to three categories, namely machine, method, and man (3M). The results show that the machine factor is dominated by unstable oven temperature, which dropped from 147°C to 135°C at the 35th minute of baking, and by inconsistent dough weight produced by the depositing machine during startup, reaching 16 grams against a 12-gram standard. The method factor reveals the absence of a standard operating procedure for the initial operation of the depositing machine, an oven temperature recording system that does not reflect actual field conditions, and inconsistent product temperature management prior to packaging, which causes water vapor condensation inside the package. The man factor indicates operator non-compliance with oven operating procedures, driven by insufficient training for new operators and uncontrolled overtime fatigue, together with a delayed response from the QC team. These three factors interact and jointly contribute to the moisture content deviation of Berry Cookies. Keywords:Fishbone Diagram; Gluten Free Cookies; Moisture Content; Quality Control; Standard Operating Procedure.
INOVASI KLEPON LABU KUNING DENGAN SUBTITUSI TEPUNG UBI PORANG SEBAGAI ALTERNATIF KUE TRADISIONAL Rizal Dwi Setyawan; Ita Fatkhur Romadhoni; Ila Huda Puspita Dewi; Mafisa Restami
JURNAL ILMIAH PENELITIAN MAHASISWA Vol 4 No 4 (2026): Agustus
Publisher : Kampus Akademik Publiser

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jipm.v4i4.2815

Abstract

Klepon is a traditional snack made from glutinous rice flour with limited nutritional content. This study aims to analyze the effect of porang flour substitution and pumpkin addition on the organoleptik quality of klepon and to determine the best formulation. The study used an experimental method with a single-factor Completely Randomized Design (CRD) with a single factor was employed, conducted in two experimental stages: varying the substitution of porang flour and varying the addition of pumpkin, performed separately. A hedonic test on a 1 to 5 scale was conducted on six formulations by 30 panelists (5 trained and 25 semi-trained panelists), covering the attributes of color, aroma, taste, texture, and overall liking. Data were analyzed using one-way ANOVA followed by Duncan's test. The results showed that porang flour substitution and pumpkin addition had a significant effect (p < 0.05) on all organoleptik attributes. Increasing porang flour substitution reduced the texture chewiness and product acceptance, while pumpkin addition improved color brightness, aroma, and taste. The best formulation was obtained in sample 542 (20 g porang flour substitution and 40 g pumpkin) with the highest overall liking score (4.33) and the best texture (4.30). This formulation has the potential to be developed as an innovative local-based klepon product.