Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pembuatan Mie dengan Subtitusi Tepung Ampas Tahu Rarastiti, Chairunisa Nur; Hidayat, Umar; Sudrajat, Agus; Sundari, Santy; Mardika, Intan Ayu
Manggali Vol 3 No 2 (2023): Manggali
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31331/manggali.v3i2.2783

Abstract

Diversifikasi pangan merupakan salah satu program pemerintah yang berfokus pada penganekaragaman bahan pangan. Kebijakan ini diperlukan demi mendukung terwujudnya ketersediaan aneka ragam pangan berbasis lokal dan sebagai strategi mengatasi ketergantungan masyarakat terhadap bahan pangan seperti tepung terigu. Upaya tersebut dapat didukung dengan memanfaatkan ampas tahu. Tepung ampas tahu memiliki sifat fisik yang sama dengan tepung pada umumnya, namun memiliki kandungan gizi lebih tinggi. Produk pangan yang digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia adalah mie, dimana bahan dasar mie adalah tepung terigu. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan kepada remaja tentang pemanfaatan sumber daya pangan lokal dan berinovasi dalam pembuatan makanan dengan sumber yang lebih bergizi. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah dengan metode ceramah, penyampaian materi dan tanya jawab. Adapun hasil pengabdian diperoleh bahwa penyuluhan yang disertai dengan diskusi dengan para siswa SMP Negeri 8 Kota Semarang berdampak positif terhadap pemahaman dan sikap siswa dalam memanfaatkan sumber pangan lokal.
Pemberian Edukasi Mengenai Ragam Makanan Sehat Siswa SMP Negeri 8 Semarang Hidayat, Umar; Rahmawati, Fiqhi Cahyaningrum; Agina, Grace; Chaerunnisa, Zahra Rizqika
Manggali Vol 2 No 2 (2022): Manggali
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31331/manggali.v2i2.2237

Abstract

Adolescence is the stage at which age begins to be physically active compared to previous periods. Many factors affect the nutritional status of this group, both directly and indirectly. The food factor consumed is a direct determinant of nutritional status in addition to a history of illness or disease. At this age, the level of knowledge of a variety of healthy snacks and adequate nutritional content is still low, so it is necessary to provide education to this age group. SMP Negeri 8 Semarang was chosen as a place of service because the school was adjacent to an area that sells various kinds of food and becomes a gathering place for students after school. Various high-calorie, high-sugar, and low-fiber snacks are sold there. Education was provided online using the Zoom Meeting due to the COVID-19 pandemic situation. The educational activities was successful and conducive. The achievement of the target and the output of this activity has been achieved, namely the feedback from the participants and the question and answer session went well. This shows that there was a change in the level of adolescent knowledge of the material provided. Providing education about this material should be done regularly in schools. This is in view of the importance of knowledge about types of nutritious food and the fulfillment of a balanced nutritional diet, as well as its impact on adolescent growth and development, degenerative diseases, and the menstrual cycle at a young age, so that future health can always be maintained.
Edukasi Pencegahan Stunting dengan Ragam Protein Hewani Rarastiti, Chairunisa Nur; Hidayat, Umar; Sundari, Santy; Sudrajat, Agus; Mukti, Akbar Rizza
Manggali Vol 3 No 1 (2023): Manggali
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Ivet

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31331/manggali.v3i1.2528

Abstract

Masalah gizi yang masih menjadi fokus di Indonesia adalah stunting. Stunting sering tidak disadari oleh masyarakat karena tidak adanya indikasi seperti penyakit pada umumnya. Oleh karena itu, penanggulangan masalah stunting harus dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan dan bahkan sejak remaja untuk dapat memutus rantai stunting dalam siklus kehidupan. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan kepada remaja sekolah menengah atas, terkait pencegahan stunting dan ragam protein hewani. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah dengan metode ceramah, penyampaian materi dan tanya jawab. Adapun hasil pengabdian diperoleh bahwa penyuluhan yang disertai dengan diskusi dengan para siswa SMK Darussalam Kabupaten Semarang berdampak positif terhadap pemahaman dan sikap siswa dalam pemenuhan ragam protein hewani untuk mendukung upaya pencegahan stunting.
Sosialisasi Peran Gizi Seimbang bagi Kesehatan Remaja di SMP Negeri 8 Kota Semarang Chairunisa Nur Rarastiti; Umar Hidayat; Agus Sudrajat; Catur Retno Lestari
BERBAKTI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 05 (2025): ISSUE JUNI
Publisher : PT. Mifandi Mandiri Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pola makan pada remaja akan menentukan jumlah zat gizi yang diterima oleh remaja untuk pertumbuhan serta perkembangannya. Jumlah makanan yang sesuai dengan kebutuhan akan menyediakan zat gizi yang cukup pula bagi remaja guna menjalankan kegiatan atau aktivitas fisik sehari-hari. Remaja sering tidak memperhatikan asupan gizi yang dikonsumsinya serta suka mengonsumsi makan-makanan cepat saji. Remaja juga kerap mengikuti trend terhadap jenis makanan yang dikonsumsi. Remaja sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. Remaja sebagai generasi penerus bangsa berperan penting untuk kemajuan negara di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pengetahuan tentang perilaku dan gaya hidup sehat demi terpenuhinya gizi seimbang harus dimulai sejak dini agar terhindar dari berbagai permasalahan kesehatan. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan kepada remaja pentingnya gizi seimbang bagi kesehatan remaja. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah dengan metode ceramah, penyampaian materi dan tanya jawab. Adapun hasil pengabdian diperoleh bahwa penyuluhan yang disertai dengan diskusi dengan para siswa SMP Negeri 8 Kota Semarang berdampak positif terhadap pemahaman dan sikap siswa dalam pentingnya gizi seimbang dan makanan sehat. Pentingnya penguatan dari orang yang dianggap penting menjadikannya lebih berkomitmen untuk merubah perilaku untuk perubahan perilaku.
Differences in Sugar Concentration on Flavonoid Levels in Roselle Kombucha (Hibiscus sabdariffa L.) As An Antioxidant Beverage Izza, Arifah Nurul; Lestari, Catur Retno; Hidayat, Umar
Journal of Biomedical Sciences and Health Vol. 3 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Karya Husada Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34310/jbsh.v3.i1.308

Abstract

Background: Kombucha is a fermented tea beverage produced using a symbiotic culture of bacteria and yeast (SCOBY). Sugar concentration plays an essential role in the fermentation process as it influences microbial metabolism and the formation of bioactive compounds. Roselle (Hibiscus sabdariffa L.) is rich in flavonoids and anthocyanins, which act as natural antioxidants. Objective: This study aimed to determine the effect of different sugar concentrations on flavonoid levels in roselle kombucha. Methods: This was an experimental study using a completely randomized design (CRD) with one factor, namely sugar concentration: F1 (15%), F2 (25%), and F3 (35%). Fermentation was carried out with the addition of SCOBY for 14 days at room temperature. Flavonoid levels were analyzed using a spectrophotometric method with quercetin as the standard. Data were analyzed using the Kruskal-Wallis test followed by the Mann-Whitney test. Results: The highest average flavonoid level was found in F1 (sugar concentration 15%) at 0.015690%, while the lowest was in F3 (sugar concentration 35%) at 0.011364%. The Kruskal-Wallis test showed a significant difference among treatments (p = 0.002, p < 0.05). The Mann-Whitney test confirmed that all pairwise comparisons between treatments were significantly different. Sugar concentration significantly affects flavonoid levels in roselle kombucha. Conclusion: The 15% sugar concentration produced the highest flavonoid content, suggesting that low sugar formulation is preferable to maintain bioactive compounds and enhance antioxidant potential. Therefore, roselle kombucha with lower sugar concentration can be developed as a functional beverage to prevent degenerative diseases related to oxidative stress.
Analisis Kandungan Protein dan Karakteristik Organoleptik pada Flakes Ampas Tahu sebagai Alternatif Sarapan Sehat Risna Dwi Kirani; Umar Hidayat; Chairunnisa Nur Rarastiti
Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi Vol. 3 No. 4 (2025): November: Antigen : Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Gizi
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/antigen.v3i4.860

Abstract

This study aims to determine the effect of tofu pulp flour formulation with the addition of corn flour on protein content and organoleptic characteristics in flakes products. There were 6 treatments in this study with differences in the concentration of tofu pulp flour and corn flour of F0 = 0%: 100%, F1 = 50%: 50%, F2 = 55%: 45%, F3 = 60%: 40%, F4 = 65%: 53%, F5 = 70%: 30%. Protein levels were tested using the kjeldahl method, then the data were analyzed with  the One Way Analysis of Variance (ANOVA) parametric test. The analysis of hedonic organoleptic data used was Kruskall-Wallis with color, aorma, taste and texture parameters. The results of the study showed that the highest protein content was found in the F2 formulation with an average of 4.505%. Organoleptic tests showed that the F2 formulation had the highest level of preference in color, aroma, taste and texture parameters.