Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Potensi Interaksi Obat Pasien Penyakit Saraf di Rumah Sakit X Kabupaten Pidie Aceh: studi deskriptif kuantitatif Salmah Handayani Lubis; Fenny Hasanah; Desy Natalia Siahaan; Cut Intan
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v9i1.1100

Abstract

Background: Drug interactions can increase the risk of side effects and reduce the success of therapy, especially in neurological patients who often receive polypharmacy. Objective: This study aims to determine the effect of administering a combination of drugs as a trigger for potential drug interactions based on their classification (minor, moderate, major) in patients with neurological diseases. Methods: This study is a retrospective quantitative descriptive study with a cross-sectional design. The sample consisted of outpatient neurological patients who received more than two drugs that met the inclusion criteria. Potential drug interactions were analyzed using the https://www.drugs.com/drug_interactions.html. Results: The highest category of drug interactions was moderate (n= 52; 75%) with the following drug combinations: (amlodipine and bisoprolol); (Simvastatin + Miconazole); (Simvastatin + Omeprazole); (Hydrochlorothiazide + Codeine); (Codeine + Amitriptyline). In addition, a major drug interaction category (n=28; 25%) was found in the administration of drug combinations (simvastatin and amlodipine) causing liver damage; (Alprazolam + Codeine); (Diazepam + Codeine); (Codeine + Gabapentin) each of these three drug interactions can cause CNS depression, (Furosemide + Gentamicin) causes additive nephrotoxicity and ototoxicity. Conclusion: Moderate-category interactions were the most common (amlodipine and bisoprolol). These drug interactions included pharmacodynamic interactions, and the combination of these drugs could cause clinical risks (hypotension, bradycardia). These findings indicate the need for pharmacists to perform clinical pharmacy services related to prescription review and drug therapy monitoring for patients receiving more than two drugs, as well as providing information to patients on the appropriate timing and dosage of their medications to avoid moderate and major drug interactions in neurological patients in hospitals.
Edukasi Penggunaan Obat Aman dan Rasional Berbasis Kimia Farmasi pada Siswa SMA Negeri 2 Binjai Rahma Yulia; Dea Anggraini; Muzakkir Muzakkir; Salman salman; Meutia Indriana; Desy Natalia Siahaan; Bunga Rimtam Barus
 Jurnal Abdi Masyarakat Multidisiplin Vol. 5 No. 01 (2026): April: JURNAL ABDI MASYARAKAT MULTIDISIPLIN
Publisher : Asosiasi Dosen Muda Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56127/jammu.v5i01.2977

Abstract

Kemudahan akses informasi obat melalui media sosial, iklan, keluarga, dan sumber digital perlu diimbangi dengan literasi obat yang memadai agar remaja mampu menggunakan obat secara aman dan rasional. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberikan edukasi awal mengenai penggunaan obat yang aman dan rasional, membiasakan siswa memperhatikan informasi dan aturan penggunaan obat, mengenalkan risiko penggunaan obat yang tidak tepat, serta mendorong sikap selektif terhadap sumber informasi obat. Kegiatan dilaksanakan pada 14 Oktober 2025 di SMA Negeri 2 Binjai dengan melibatkan 35 siswa. Metode yang digunakan berupa edukasi dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui penyampaian materi, diskusi, tanya jawab, observasi keterlibatan peserta, dan dokumentasi. Materi meliputi pengenalan obat dan zat aktif, dosis dan aturan pakai, label dan tanggal kedaluwarsa, penyimpanan, efek samping, penggunaan obat rasional, serta swamedikasi bertanggung jawab. Pendekatan kimia farmasi diterapkan menggunakan contoh obat yang familiar, seperti parasetamol, aspirin, CTM, dan antasida, untuk memperkenalkan hubungan sederhana antara zat aktif, struktur kimia, manfaat, risiko, dan aturan penggunaan. Hasil kegiatan menunjukkan keterlibatan peserta melalui perhatian, partisipasi dalam diskusi, serta pertanyaan mengenai aturan pakai, keamanan, efek samping, dan karakteristik zat aktif. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendekatan kimia farmasi dapat digunakan sebagai konteks edukatif yang komunikatif untuk menyampaikan literasi penggunaan obat kepada siswa SMA. Namun, karena evaluasi masih bersifat deskriptif dan tidak menggunakan pre-test dan post-test, hasil kegiatan belum dapat menunjukkan perubahan pengetahuan peserta secara kuantitatif. Kegiatan selanjutnya disarankan menggunakan instrumen evaluasi terstruktur untuk mengukur perubahan pemahaman dan literasi obat secara objektif.