Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : KEMBARA

REPRESENTASI BAHASA HUMOR DALAM ACARA STAND UP COMEDY DI METRO TV Firmansyah, M. Bayu
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 2, No 2 (2016): Oktober
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (40.396 KB) | DOI: 10.22219/kembara.v2i2.4004

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan representasi bahasa humor Raditya Dhika dalam acara Stand Up Comedy di Metro TV. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini merupakan monolog dari Raditya Dhika dalam acara Stand Up Comedy di Metro TV yaitu berupa kata dan kalimat yang terkait dengan tindak tutur dalam pragmatik. Sumber data pada penelitian ini adalah keseluruhan bahasa humor Raditya Dhika dalam acara Stand Up Comedy di Metro TV yang menimbulkan kejenakaan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi tidak langsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tindak tutur bahasa humor Raditya Dhika dalam acara Stand Up Comedy di Metro Tv merupakan representasi kejenakaan, yaitu: (1) Tindak tutur lokusi merepresentasikan kejenakaan dengan menggunakan kata dan kalimat-kalimat memutuskan, mendoakan, merestui, dan menuntut tanpa adanya tendensi apapun. (2) Tindak tutur ilokusi merepresentasikan kejenakaan dengan menggunakan kata dan kalimat-kalimat pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan, dengan adanya tendensi dari mitra tuturnya seperti, tepuk tangan, teriakan serta tawa yang timbul. (3) Tindak tutur perlokusi merepresentasikan kejenakaan dengan menggunakan kalimat-kalimat menipu, membesarkan hati, menganjurkan, meyakinkan, menjengkelkan, membingungkan, mengganggu, memengaruhi, memalukan, dan menarik perhatian serta adanya pengaruh yang didapat oleh mitra tuturnya seperti memikirkan apa yang diucapkan oleh Raditya Dhika.
DIMENSI SOSIAL DALAM NOVEL NEGERI PARA BEDEBAH KARYA TERE LIYA (PERSPEKTIF ANALISIS WACANA KRITIS) Firmansyah, Muhammad Bayu
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 4, No 1 (2018): April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.127 KB) | DOI: 10.22219/kembara.v4i1.5686

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dimensi sosial Fairclough dengan menggunakan prosedur analisis wacana kritis yang digambarkan secara simultan. Berdasarkan tujuan tersebut mendorong peneliti untuk mengkaji dalam sebuah studi pustaka berjudul “Dimensi Sosial dalam Novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye (Perspektif Analisis Wacana Kritis). Metode tulisan ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil tulisan menunjukkan bahwa terdapat tiga dimensi sosial: pertama, dimensi teks bahasa sebagai piranti linguistik yang di dalamnya tersembunyi ideologi dan kekuasaan. Kedua, dimensi praksis wacana sebagai interpretasi teks dan interpretasi konteks. Ketiga, dimensi praksis sosiokultural dimana wacana ditentukan oleh proses sosial dan praksis sosial.
REPRESENTASI BAHASA HUMOR DALAM ACARA STAND UP COMEDY DI METRO TV M. Bayu Firmansyah
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 2 No. 2 (2016): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v2i2.4004

Abstract

Penelitian ini mendeskripsikan representasi bahasa humor Raditya Dhika dalam acara Stand Up Comedy di Metro TV. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Data penelitian ini merupakan monolog dari Raditya Dhika dalam acara Stand Up Comedy di Metro TV yaitu berupa kata dan kalimat yang terkait dengan tindak tutur dalam pragmatik. Sumber data pada penelitian ini adalah keseluruhan bahasa humor Raditya Dhika dalam acara Stand Up Comedy di Metro TV yang menimbulkan kejenakaan. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi tidak langsung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tindak tutur bahasa humor Raditya Dhika dalam acara Stand Up Comedy di Metro Tv merupakan representasi kejenakaan, yaitu: (1) Tindak tutur lokusi merepresentasikan kejenakaan dengan menggunakan kata dan kalimat-kalimat memutuskan, mendoakan, merestui, dan menuntut tanpa adanya tendensi apapun. (2) Tindak tutur ilokusi merepresentasikan kejenakaan dengan menggunakan kata dan kalimat-kalimat pemberian izin, mengucapkan terima kasih, menyuruh, menawarkan, dan menjanjikan, dengan adanya tendensi dari mitra tuturnya seperti, tepuk tangan, teriakan serta tawa yang timbul. (3) Tindak tutur perlokusi merepresentasikan kejenakaan dengan menggunakan kalimat-kalimat menipu, membesarkan hati, menganjurkan, meyakinkan, menjengkelkan, membingungkan, mengganggu, memengaruhi, memalukan, dan menarik perhatian serta adanya pengaruh yang didapat oleh mitra tuturnya seperti memikirkan apa yang diucapkan oleh Raditya Dhika.
DIMENSI SOSIAL DALAM NOVEL NEGERI PARA BEDEBAH KARYA TERE LIYA (PERSPEKTIF ANALISIS WACANA KRITIS) Muhammad Bayu Firmansyah
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 4 No. 1 (2018): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v4i1.5686

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dimensi sosial Fairclough dengan menggunakan prosedur analisis wacana kritis yang digambarkan secara simultan. Berdasarkan tujuan tersebut mendorong peneliti untuk mengkaji dalam sebuah studi pustaka berjudul “Dimensi Sosial dalam Novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye (Perspektif Analisis Wacana Kritis). Metode tulisan ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil tulisan menunjukkan bahwa terdapat tiga dimensi sosial: pertama, dimensi teks bahasa sebagai piranti linguistik yang di dalamnya tersembunyi ideologi dan kekuasaan. Kedua, dimensi praksis wacana sebagai interpretasi teks dan interpretasi konteks. Ketiga, dimensi praksis sosiokultural dimana wacana ditentukan oleh proses sosial dan praksis sosial.
Integrating Functional Conjunction Instruction within Bilingual Children’s Story Texts: Effects of the Index Card Match Learning Model Ridwan, M.; Firmansyah, Mochamad Bayu
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 11 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v11i2.41512

Abstract

The ability to understand functional conjunctions is essential in building a cohesive and coherent discourse, but this aspect is still underappreciated in bilingual learning in elementary schools. Many students have difficulty contextualizing conjunctions because learning focuses on grammatical forms rather than functions in authentic texts. This study aims to test the effectiveness of integrating functional conjunction instruction from bilingual texts into the Index Card Match learning model in improving students' grammatical comprehension. The research design used was a quasi-experiment with a pretest-posttest non-equivalent control group approach, involving 60 students in class V who were randomly divided into experimental and control groups. The experimental group received conjunction learning through bilingual text-based Index Card Match activities, while the control group used conventional methods. Data was collected through a multiple-choice test of 30 questions and then analyzed using validity, reliability, normality, homogeneity, ANOVA, and t-test. The results showed a significant increase in post-test scores in the experimental group (M = 82.43; SD = 6.12) compared to the control group (M = 74.10; SD = 7.55) with p < 0.001. These findings show that integrating functional linguistic features through interactive and collaborative strategies effectively strengthens students' conceptual understanding. The novelty of this study lies in the explicit incorporation of micro-elements of discourse into cooperative learning models, which have not been widely applied in grammatical learning in bilingual contexts. The practical implications support the development of contextual, inclusive, and discourse-oriented grammar teaching strategies in multilingual classrooms.
Multimodal Learning Practices in Psychology of Literature Courses in Higher Education Firmansyah, Muhammad Bayu; Ridwan, M.
KEMBARA: Jurnal Keilmuan Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 11 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/kembara.v11i2.41557

Abstract

The practice of teaching Literary Psychology in higher education often faces challenges due to the lack of pedagogical strategies capable of bridging the complexity of literary texts with the psychological dynamics embedded within them. Students frequently struggle to grasp the emotional and cognitive depth of narrative meaning because the dominant teaching approach remains monomodal. This study aims to explore students' perceptions of the application of multimodal learning in Literary Psychology courses and to examine the extent to which multimodal resources can promote the development of data, technology, and human literacy in the classroom. The research method used is a descriptive qualitative approach with data collection techniques through in-depth interviews, direct observation of the teaching and learning process, and documentation of student learning outcomes. The research subjects were students and faculty members from the literature program at one of Indonesia's state universities. The research findings indicate that the integration of multimodal resources—such as infographics, character analysis videos, and digital forums—significantly enhances active participation, psychological understanding of literary texts, and students' reflective sensitivity. Furthermore, these findings show that multimodal learning not only impacts material comprehension but also shapes an inclusive and transformative learning ecosystem. The conclusion of this study confirms that the multimodal approach is an adaptive and effective pedagogical strategy for developing the interpretive, critical, and literary abilities of literature students in the digital age.