Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Ganti Gelar (Suatu Tinjauan Dogmatis terhadap Tradisi Pergantian Nama untuk Kesembuhan di Desa Buluh Naman, Kecamatan Munthe Kabupaten Karo, dan Relevansinya bagi Jemaat GBKP Runggun Buluh Naman, Klasis Munthe) Cyndi Netania Br Tarigan; Venesia Br Surbakti; Pardomuan Munthe
Jurnal Multidisiplin Teknologi dan Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/motekar.v4i1.8418

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meninjau pemahaman masyarakat Karo di Desa Buluh Naman tentang penggunaan ganti gelar tradisional dan kaitannya dengan iman Kristen. Metode yang digunakan adalah survei terhadap jemaat GBKP Runggun Buluh Naman dengan pendekatan dogmatika teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik penggunaan nama ganti judul masih diyakini dapat memengaruhi kesehatan dan kehidupan seseorang. Namun, secara teologis, pemahaman tersebut berpotensi menimbulkan sinkretisme karena berkat dan penyembuhan sejatinya berasal dari Allah. Oleh karena itu, gereja perlu memberikan pemahaman yang benar kepada jemaat agar transformasi identitas dalam kehidupan Kristen tetap bersifat teosentris.
Adat Kematian: Suatu Tinjauan Dogmatis Mengenai Pemahaman Warga Desa Parlombuan Tentang Manghunti Mudar dan Implikasinya Bagi Jemaat GKPI Parlombuan Mei Triana Pakpahan; Pardomuan Munthe
Jurnal Multidisiplin Teknologi dan Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/motekar.v4i1.8420

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa praktik manghunti mudar dalam pesta adat saur matua bukan sebagai bentuk penghormatan kepada orangtua yang telah meninggal, melainkan simbol pernyataan kesiapan mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai keturunan. Metode yang digunakan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan praktik manghunti mudar masih dilaksanakan masyarakat sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah meninggal. Penulis menyimpulkan bahwa penghormatan sejati kepada orangtua harus diwujudkan saat mereka masih hidup melalui kasih, pelayanan, dan ketaatan bukan melalui darah kerbau atau ritual adat tertentu. Praktik ini sebaiknya dipahami sebagai simbol pernyataan kesiapan mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai keturunan yang ditinggalkan. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar pelayan GKPI Parlombuan memberikan bimbingan teologis yang jelas kepada jemaat, sehingga praktik manghunti mudar dipahami sebagai tradisi budaya dengan makna simbolik, tanpa menimbulkan kesalahpahaman mengenai ajaran iman Kristen.
Menanggung Dosa (Tinjauan Dogmatis terhadap Pemahaman Jemaat tentang Tanggung Jawab Dosa setelah Peneguhan Sidi di GKPS Sinar Baru, Desa Sinar Baru, Kabupaten Simalungun, serta Implikasinya bagi Kehidupan dan Pemahaman Iman Jemaat) Geovani Febrianty Purba; Pardomuan Munthe
Jurnal Multidisiplin Teknologi dan Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/motekar.v4i1.8460

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa seseorang menanggung dosanya sendiri tidak harus menunggu naik sidi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui wawancara dan kuantitatif melalui penyebaran angket kepada jemaat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian jemaat memahami peneguhan sidi sebagai awal tanggung jawab pribadi terhadap dosa yang dipengaruhi oleh tradisi dan lingkungan keluarga. Secara biblis dan dogmatis, peneguhan sidi merupakan proses pengakuan iman dan pendewasaan rohani, bukan perpindahan tanggung jawab dosa. Oleh karena itu, gereja disarankan memperkuat pembinaan iman melalui katekisasi agar jemaat memiliki pemahaman yang benar mengenai makna peneguhan sidi.
Hidup Selibat (Suatu Tinjauan Dogmatis Tentang Hidup Selibat Diperhadapkan Dengan Adat Batak Toba, Khususnya di Desa Matio) Felix Sander Boligat Panjaitan; Pardomuan Munthe
Jurnal Multidisiplin Teknologi dan Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/motekar.v4i1.8461

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendukung selibat dalam konteks Kerahipan tapi tidak konteks adat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara dan kuantitatif dengan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidup Selibat telah dikenal dan dipahami sebagai pilihan hidup, namun penerimaannya masih terbatas karena kuatnya tuntutan adat yang menekankan pernikahan. Kesimpulannya adalah bahwa Selibat merupakan panggilan rohani yang sah dalam kekristenan, tetapi sering dipandang kurang sesuai dalam konteks adat Batak toba. Oleh karena itu, disarankan agar gereja memberikan pemahaman teologis yang kontekstual dan masyarakat lebih terbuka dalam menghargai pilihan hidup selibat.
Penghormatan Orang Meninggal Saur Matua: Suatu Tinjauan Dogmatis Terhadap Pelaksanaan Roto Gajah Lumpat Ditengah Masyarakat Angkola yang Berada di Desa Sumber Melati Diski dan Implikasihnya Terhadap Kehidupan Jemaat di GKPA Parlagutan Diski Mutiara Esflina Matondang; Pardomuan Munthe
Jurnal Multidisiplin Teknologi dan Arsitektur Vol. 4 No. 1 (2026): Mei 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/motekar.v4i1.8462

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa pelaksanaan Roto Gajah Lumpat adalah tanda penghormatan terakhir kepada orang tua yang telah meninggal dunia, khususnya bagi yang telah mencapai saur matua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui wawancara dan kuantitatif dengan penyebaran dengan pendekatan dogmatis teologis dan penyebaran angket kepada jemaat GKPA Parlagutan Diski di Desa Sumber Melati Diski, Kecamatan Sunggal. Hasilnya mayoritas masyarakat memandang Roto Gajah Lumpat sebagai bentuk penghormatan terakhir yang penting dan masih layak dipertahankan. Maka dapat disimpulkan bahwa Roto Gajah Lumpat memiliki nilai budaya dan sosial yang kuat, tetapi pelaksanaannya harus tetap berpusat pada kemuliaan nama Allah. Untuk itu disarankan agar masyarakat dan gereja bersama-sama menjaga nilai budaya ini.
Yesus Duduk di Sebelah Kanan Allah Bapa (Suatu Analisis Dogmatis Terhadap Kristologi dan Bahasa Antropomorfis Serta Implikasinya Bagi Jemaat HKI Emplasmen Mayang) Juanda Enzel Siregar; Pardomuan Munthe
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8509

Abstract

Tujuan penulisan ini ialah membahas pemahaman jemaat terhadap kristologi dan memaknai frasa antropomorfis mengenai “Yesus Duduk di Sebelah Kanan Allah Bapa” dalam pelita ajaran Alkitab, kajian dogmatis, serta pengakuan iman Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) yang befokus pada jemaat HKI Emplasmen Mayang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui dengan menyebarkan angket dan metode kualitatif melalui proses wawancara terhadap jemaat dan pelayan gereja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas jemaat masih belum memahami doktrin gereja secara total tentang “Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa” yang sering terjerat pada pemahaman keliru terhadap Alkitab. Analisis biblis, dogmatis, dan denominasi HKI mengemukakan bahwa frasa “Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa” menunjuk pada kuasa Yesus sebagai Raja yang membela dan penyelamat manusia, kehormatan-Nya, dan kemuliaan-Nya di bumi dan di surga. Penulis menyarankan agar gereja memberikan pengajaran yang mendalam mengenai bagi jemaat supaya iman jemaat tetap murni dan terjaga sesuai dalam terang ajaran Kristen.
Aek Sipitu Dai di Kecamatan Sianjur Mula-Mula, Kabupaten Samosir Dolvin Mardimpu Pakpahan; Pardomuan Munthe
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8590

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi oleh adanya pemahaman warga Desa Sibingke, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara mengenai kuasa penyembuhan dari Aek Sipitu Dai. Tujuan penelitian ini untuk menegaskan dari sisi Dogmatika Kristen bahwa Aek Sipitu Dai adalah salah satu sarana kesembuhan. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan wawancara dan kuantitatif dengan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warga masih meyakini Aek Sipitu Dai sebagai sarana kesembuhan, namun tetap percaya bahwa sumber kesembuhan sejati berasal dari Tuhan. Penulis menyimpulkan bahwa Aek Sipitu Dai dapat dipandang sebagai sarana atau media yang dipakai Tuhan, bukan sebagai sumber kuasa penyembuhan. Oleh karena itu, disarankan kepada gereja perlu memberikan pemahaman teologis yang benar dan membimbing jemaat agar tetap beriman kepada Tuhan dan menegaskan Aek Sipitu Dai hanya sarana atau tempat yang memiliki kuasa ilahi.
Budaya Marsiadapari di Simpang Raya Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun Alvin Prayer Purba; Pardomuan Munthe
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8595

Abstract

Penelitian ini di latarbelakangi oleh lunturnya budaya marsiadapari di desa simpang raya kecamatan Panei. Tujuannya untuk menegaskan dari perspektif dogmatika kristern bahwa marsiadapari itu adalah praktik kegotongroyongan yang baik dilakukan masyarakat petani. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menyebarkan angket dan kualitatif dengan wawancara. Hasil temuan lapangan bahwa budaya marsiadapari sudah luntur. Karena pengaruh budaya modern yang mnerapkan sistem transaksional, yaitu pengupahan. Kesimpulan bahwa tradisi marsiadapari harus dihidupkan dengan pendekatan teologi lokal-kontekstual dengan berlandaskan Galatia 6:2, Yaitu perintah bertolong-tolongan Oleh karena itu, disarankan agar gereja mensukseskan kembali tradisi marsiadapari.
Tradisi Mangupa (Suatu Tinjauan Dogmatis Terhadap Penghormatan kepada Leluhur Mengenai Praktik Mangupa-Upa dalam Kehidupan Masyarakat di Desa Marihat Sionggang dan Implikasinya bagi Jemaat HKI Marihat Sionggang) Sri Wahyu Ningsih Manik; Pardomuan Munthe
Journal of Education Religion Humanities and Multidiciplinary Vol. 4 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jerumi.v4i1.8629

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa praktik Mangupa-upa adalah tradisi budaya yang dimaknai sebagai doa. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif melalui angket dan wawancara, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa mangupa-upa masih dilakukan dan dipahami sebagai doa dan penguatan hidup, tetapi pelaksanaannya masih dikaitkan dengan kepercayaan kepada leluhur. Dapat disimpulkan bahwa praktik mangupa-upa dapat diterima sebagai tradisi budaya selama dimaknai dalam Terang iman kristen, bahwa Tuhanlah yang memberikan perlindungan dan berkat. Oleh karena itu, disarankan gereja perlu memberikan pembinaan iman yang benar agar tidak terjadi pencampuran kepercayaan.