Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN SIROSIS HEPATIS DEKOMPENSATA: PENDEKATAN MODEL ADAPTASI ROY [NURSING CARE FOR PATIENTS WITH DECOMPENSATED CIRRHOSIS: AN APPROACH USING ROY'S ADAPTATION MODEL] Yulia Sihombing
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 11, No 1 (2023): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v11i1.6785

Abstract

Liver cirrhosis is a progressive chronic liver disease characterized by extensive degeneration and destruction of liver parenchymal cells. Patients with liver cirrhosis require quality management as the disease progresses and complications such as hepatic encephalopathy and upper gastrointestinal bleeding arises, which results in frequent hospitalizations. This study aims to obtain an overview of nursing care in an adult patient with decompensated liver cirrhosis using the Roy Adaptation Model. This research is a case study using the nursing process approach. Sampling was taken using purposive sampling technique. The results showed four nursing problems experienced by patients. There were three problems in physiological mode: ‘excess fluid volume’, ‘risk of bleeding’, ‘risk of injury’; and one problem in the role function mode which was ‘ineffective role performance’. The treatment given aimed to alleviate the condition, ability and participation of the patient/family members to manage the patient's condition. Skill enhancement of patients and family members the ability to manage health by patients and families facilitates the ability to adapt to changing health conditions as seen from the appropriate health behaviors displayed by patients and families. Providing health education and empowering health management by patients and their families by nurses are very important to improve adaptation thus  the quality of life of patients with cirrhosis of the liver.BAHASA INDONESIA ABSTRAK Sirosis hepatis adalah penyakit hati kronis progresif yang dicirikan oleh degenerasi luas dan destruksi sel-sel parenkim hati. Pasien sirosis hepatis membutuhkan manajemen kualitas hidup seiring perjalanan penyakit dan komplikasi yang timbul, yakni ensefalopati hepatikum dan perdarahan saluran cerna atas yang mengakibatkan pasien sering menjalani rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran asuhan keperawatan pada 1 pasien dewasa dengan sirosis hepatis dekompensata menggunakan Model Adaptasi Roy. Metode penelitian ini menggunakan studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. Pengambilan sampling menggunakan teknik purposive sampling. Hasil studi mengidentifikasi 4 masalah keperawatan yang dialami pasien yakni tiga masalah pada mode fisiologis: kelebihan volume cairan, risiko perdarahan, risiko cidera; dan satu masalah pada mode fungsi peran yakni tidak efektif performa peran. Penanganan yang diberikan bertujuan untuk meringankan kondisi, kemampuan dan partisipasi pasien/keluarga untuk mengelola kondisi pasien. Peningkatan kemampuan pengelolaan kesehatan oleh pasien dan keluarga memfasilitasi kemampuan adaptasi terhadap perubahan kondisi kesehatan yang terlihat dari perilaku kesehatan yang tepat yang ditampilkan oleh pasien dan keluarga. Tindakan pemberian edukasi kesehatan dan pemberdayaan pengelolaan kesehatan oleh pasien dan keluarga sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan sirosis hepatis.
SEMINAR EDUKASI HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS KE MASYARAKAT KARO DI BANTEN SINULINGGA, ELYSABETH BR; Sihombing, Yulia; Surbakti, Juwita Siska
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 6 (2023): INOVASI PERGURUAN TINGGI & PERAN DUNIA INDUSTRI DALAM PENGUATAN EKOSISTEM DIGITAL & EK
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v6i0.1933

Abstract

Hipertensi, Diabetes Melitus dan Stroke merupakan penyakit tidak menular yang perkembangannya di dunia maupun Indonesia meningkat setiap tahunnya. Hipertensi dan Diabetes Melitus merupakan penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh usia dan gaya hidup khususnya makanan dan masalah psikologis seperti stres. Tujuan untuk menambah pengetahuan, memahami dan melakukan kegiatan gaya hidup sehat tentang mencegah hipertensi dan diabetes melitus, dan bagaimana mengontrol bila sudah ada hipertensi dan diabetes melitus agar dapat mencegah komplikasi. Metode menggunakan metode penyuluhan dengan ceramah dan pemeriksaan fisik yaitu mengukur tekanan darah dan pemeriksaan laboratorium kadar gula darah, dan berumur 50 tahun keatas cek tambahan kolesterol dan asam urat beserta yang memiliki riwayat kolesterol dan asam urat. Pretest dilakukan sebelum seminar dan diakhiri dengan posttest setelah seminar. Hasil pretest didapatkan rerata 53.20 dan posttest rerata 73.6 sedangkan peningkatan nilai setelah edukasi adalah sekitar 20.4 poin. Berdasarkan hasil yang didapat, disimpulkan bahwa seminar ini meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat Karo Banten tentang tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kadar gula darah tinggi (diabetes melitus).
DETEKSI DAN EDUKASI KESEHATAN MASYARAKAT PERKOTAAN PADA JEMAAT IHOP MANGGA BESAR JAKARTA Sihombing, Yulia; Manik, Marisa Junianti; Ingrit, Belet Lydia; Sihaloho, Shinta Marina Josephina; Barus, Novita Susilawati
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 6 (2023): INOVASI PERGURUAN TINGGI & PERAN DUNIA INDUSTRI DALAM PENGUATAN EKOSISTEM DIGITAL & EK
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v6i0.1934

Abstract

Latar Belakang: Pola makan masyarakat kota yang lebih banyak mengonsumsi makanan impor dan olahan, perilaku sedentary, pola kehidupan perkotaan seperti pemukiman kumuh dan kualitas lingkungan yang rendah, serta meningkatnya polusi, berkontribusi terhadap gangguan kesehatan pada masyarakat perkotaan, termasuk penyakit tidak menular (PTM). Upaya preventif mengacu pada tindakan mencegah terjadinya penyakit antara lain melalui deteksi dini dan edukasi kesehatan. Salah satu target masyarakat yang dapat dijangkau adalah melalui kegiatan yang diselenggarakan oleh gereja. Tujuan: Melakukan upaya untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat melalui tindakan preventif yakni deteksi dini dengan pemeriksaan kesehatan (pemeriksaan tekanan darah, tinggi badan, pemeriksaan glukosa, kolesterol dan asam urat) dan edukasi kesehatan. Metode: Deteksi dini dilakukan melalui pemeriksaan, dan edukasi kesehatan diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan. Hasil: Pemeriksaan kesehatan terhadap total 70 orang peserta menunjukkan bahwa peserta paling banyak adalah laki-laki (54,3%), kategori usia terbanyak adalah lanjut usia (41,1%) dan risiko masalah kesehatan yang didapatkan adalah 35,7% peserta mengalami peningkatan tekanan darah; 51,4% mengalami peningkatan berat badan dan 11,4 % peserta memiliki berat badan kurang dari ideal, 2,9% memiliki kadar gula darah rendah dan 4,3% kadar gula darah meningkat, 27,1% kadar kolesterol meningkat dan 8,6% kadar asam urat meningkat. Tiga diagnosis medis terbanyak adalah dispepsia (18,6%), hipertensi (14,3%) dan hiperkolesterolemia (11,4%) Diskusi: Tantangan masalah kesehatan di masyarakat perkotaan membutuhkan penanganan preventif bersifat multisektoral dan berkelanjutan mengingat pola makan dan aktivitas fisik dipengaruhi oleh berbagai faktor. Kesimpulan: Peserta jemaat Gereja IHOP memiliki risiko masalah kesehatan yang membutuhkan pemantauan dan penanganan secara berkelanjutan.
Balutan Kompresi Elastis Untuk Edema Ekstremitas Bawah pada Pasien dengan Carcinoma Mammae Sihombing, Yulia; Juliete Virgie Huwae, Maxelvya; Chiquita Samantha Ay, Merry; Bahru Rizal, Nurochman; Pollatu, Christina
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakakeperawatan.v2i2.688

Abstract

Kanker payudara merupakan kondisi dimana terdapat tumor ganas (benjolan abnormal) yang tumbuh di jaringan payudara yaitu saluran kelenjar, kelenjar susu, dan jaringan penunjang payudara. Kondisi keganasan menyebabkan kaheksia dan kehilangan massa protein sehingga terjadi penurunan produksi albumin yang memicu terjadinya edema. Salah satu intervensi bersifat terapi komplementer yang dapat digunakan dalam mengurangi edema adalah terapi kompresi elastis perban. Studi kasus ini adalah untuk mengidentifikasi penggunaan terapi kompresi elastis perban sebagai intervensi edema ekstremitas bawah pada pasien dengan kanker payudara meta hepar yakni menggunakan pendekatan proses keperawatan dengan pengambilan sampling menggunakan teknik purposive sampling. Hasil studi kasus didapatkan bahwa balutan kompresi elastis dapat diimplementasikan sebagai salah satu intervensi untuk penatalaksanaan edema ekstremitas bawah grade 2+ pada seorang pasien Wanita insial R (39 tahun) dengan kanker payudara meta hepar. Elastis perban meningkatkan aliran balik dan tekanan vena sehingga cairan tubuh akan kembali ke dalam sirkulasi dan mengurangi edema. Penerapan terapi kompresi elastis perban ini dapat diterapkan sebagai tindakan mandiri yang dapat dilakukan perawat untuk mengatasi edema ekstremitas bawah.
Gambaran Karakteristik Pasien Pasca CABG yang Mengalami Rehospitalisasi di Salah Satu Rumah Sakit Jantung Indriani, Wulan; Adriana, Yulia; Silalahi, Rosanti; Sihombing, Yulia; Sinaga, Chriska
Journal of Language and Health Vol 5 No 3 (2024): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v5i3.5544

Abstract

Coronary Artery Bypass Graft (CABG) merupakan tindakan operasi paling efektif untuk mengobati CAD (coronary artery disease). Rehospitalisasi pasca CABG di salah satu rumah sakit jantung di Jakarta adalah sebesar 12% pada tahun 2021-2022. Hal ini membutuhkan perhatian penting dalam perawatan jantung sebab dapat mengindikasikan kualitas hasil pembedahan dan manajemen pasien secara keseluruhan. Mengidentifikasi karakteristik pasien pasca CABG yang mengalami rehospitalisasi. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif dan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi data rekam medis pasien meliputi karakteristik, profil klinis pasien masa perawatan CABG dan masa perawatan rehospitalisasi pasca CABG sebanyak 131 dokumen rekam medis. Hasil analisis univariat dalam bentuk frekuensi dan persentase. Karakteristik demografi pasien yang mengalami rehospitalisasi pada rentang usia 60 tahun ke atas (56,5%), berjenis kelamin laki- laki (77,1%), berpendidikan tinggi (48,1%), suku Jawa (21,4%), pegawai swasta (36,6%) dan menggunakan JKN PBI (39,7%). Hasil profil klinis masa perawatan menunjukkan bahwa pasien paling banyak memiliki IMT gemuk (32,1%), mempunyai komorbid 1-3 (96,9%), diberikan discharge planning, barthel index kategori mandiri (85,5%) dan mendapatkan 5 kombinasi obat dan obat DM (55,7%). Hasil profil klinis saat rehospitalisasi yang paling banyak adalah pasien dengan keluhan lemas (47,3%), diagnosa medis ADHF (48,9%) dan lama rawat rehospitalisasi 1-9 hari (85,5%). Memahami karakteristik pasien dan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap rawat inap ulang sangat penting untuk meningkatkan hasil akhir pasien, pengembangan praktik perawatan pasien dan manajemen sumber daya perawatan kesehatan.
Kombinasi Contrast Bath Hydrotherapy dan Elevasi Kaki 15? pada Pasien dengan Edema Ekstremitas Bawah Bilateral Parera, Gabriella Fioren; Lubis, Helena; Situmorang, Heri Jordan Finaldo; Sihombing, Yulia; Milka
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 3 No 2 (2024): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakakeperawatan.v3i2.877

Abstract

Edema merupakan penumpukan cairan berlebih ketika cairan keluar dari pembuluh darah dan masuk ke dalam ruang antar sel atau ruang interstitial yang melibatkan gangguan keseimbangan antara tekanan hidrostatik dan onkotik di dalam pembuluh darah serta kemampuan jaringan untuk menahan cairan. Edema ekstremitas bagian bawah dapat berdampak pada meningkatnya ketergantungan dalam kemampuan pemenuhan Activity Daily Living (ADL), risiko gangguan integritas kulit (cellulitis), dan komplikasi lainnya. sehingga perlu adanya upaya dalam menurunkan derajat edema. Terapi non farmakologis yang dapat diterapkan kepada pasien dengan edema diantaranya contrast bath hydrotherapy dan elevasi kaki 15?. Studi kasus ini bertujuan untuk mengidentifikasi keefektifan kombinasi contrast bath hydrotherapy dan elevasi kaki 15? dalam menurunkan edema ekstremitas bawah bilateral pada pasien dengan transitional cell carcinoma, congestive heart failure dan hipoalbuminemia. Tn. N, berusia 60 tahun dengan diagnosa medis transitional cell carcinoma, congestive heart failure dan hipoalbuminemia masuk rumah sakit dengan keluhan nyeri pada bagian perut dan kaki kanan, tedapat pitting edema pada kedua ekstremitas bawah derajat 2, dan ADL dibantu penuh. Kombinasi contrast bath hydrotherapy dan elevasi kaki 15? terbukti efektif untuk diterapkan sebagai intervensi dalam manajemen edema ekstremitas bawah karena dapat menurunkan tekanan hidrostatik sehingga menurunkan derajat edema pada ekstremitas bawah. Perawat dapat menerapkan kombinasi hydrotherapy dan elevasi kaki 15? dan mengedukasi serta melibatkan keluarga guna menunjang perawatan pasien selanjutnya.    
PENINGKATAN PENGETAHUAN CAREGIVER FORMAL PEMULA DALAM MERAWAT ORANG SAKIT MELALUI EDUKASI KESEHATAN Yulia Sihombing; Theresia Theresia; Elysabeth Sinulingga; Adventina Delima Hutapea; Mega Sampepadang; Gracia Aktri Margareth Manihuruk
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 6 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i6.26770

Abstract

Abstrak: Kebutuhan akan caregiver meningkat terkait lebih banyak prevalensi penyakit tidak menular dan degeneratif serta populasi orang tua. Caregiver adalah orang yang membantu orang memenuhi kebutuhan sehari-hari dan terlibat dalam perawatan dan pengobatan orang yang sakit dan menderita disabilitas akibat penyakitnya. Caregiver formal merupakan caregiver yang membantu pasien selain caregiver informal/familial caregiver. Kebutuhan akan jasa pendamping orang sakit (caregiver) formal semakin meningkat disebabkan oleh keluarga yang belum siap/mampu berperan sebagai familial caregiver. Tujuan PkM: Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan caregiver formal pemula yang berasal dari yayasan dalam merawat orang sakit. Metode: Metode pelaksanaan PkM adalah dengan memberikan edukasi tentang cara merawat orang sakit melalui seminar daring dan edukasi diberikan oleh anggota tim PkM. Kegiatan ini diikuti oleh caregiver formal yang berasal dari tiga mitra berlokasi di Jakarta, Tangerang dan Bali berjumlah 59 orang. Kegiatan dievaluasi dengan pre-posttest masing-masing sebanyak 10 pertanyaan. Hasil: Kegiatan PKM dilakukan dengan baik dan tepat waktu. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan caregiver formal pemula tentang merawat orang sakit meningkat, naik dari nilai rata-rata pretest 38.17 menjadi nilai rata-rata posttest 49.75. Kegiatan dirasakan berdampak bagi caregiver dengan respon antusias dalam pengajuan pertanyaan dalam sesi diskusi. Pelatihan ini dapat dilakukan berkelanjutan dengan pemberian pelatihan yang melatih keterampilan dan psikomotorik sesuai panduan kementrian kesehatan.Abstract: The The need for caregivers is increasing due to the greater prevalence of non-communicable and degenerative diseases and the aging population. Caregivers are people who help people fulfill their daily needs and are involved in the care and treatment of people who are sick and suffer from disabilities due to their illness. Formal caregivers are caregivers who assist patients in addition to informal/familial caregivers. The need for formal caregiver services is increasing due to families who are not able to act as familial caregivers. PkM Objectives: The purpose of this activity is to increase the knowledge of novice formal caregivers from foundations in caring for the sick. Methods: The method of implementing PkM is by providing education on how to care for the sick through online seminars and education provided by PkM team members. This activity was attended by formal caregivers from three partners located in Jakarta, Tangerang and Bali totaling 59 people. The activity was evaluated with a pre-posttest. Results: PKM activities are carried out well and on time. The results of the activity showed that the level of knowledge of novice formal caregivers about caring for the sick increased, rising from the pretest mean score of 38.17 to the posttest mean score of 49.75. The activity was felt to have an impact on caregivers with an enthusiastic response in asking questions in the discussion session. This training can be carried out continuously by providing training that trains skills and psychomotor skills according to the Ministry of Health guidelines.
Edukasi Cara Merawat Orang dengan HIV/AIDS pada Caregiver di Kabupaten Tanah Karo: Educating Tanah Karo District Caregivers on How to Take Care for Individuals with HIV/AIDS Sihombing, Yulia; Theresia, Theresia; Sinulingga, Elysabeth; Sampepadang, Mega; Debby, Chryest
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 11 (2025): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v10i11.9660

Abstract

People living with HIV/AIDS (PLWHA) often experience stigma and discrimination in the community, so they usually keep their HIV/AIDS status a secret and experience rejection by both family and the community. An informal caregiver is a companion, consisting of friends, neighbors, or volunteers, who take care of PLWA who are excluded by their family and need help/assistance to carry out activities related to daily needs and medication. The Commission for HIV/AIDS and Drug Control (KPA) GBKP Moderamen Tanah Karo shelters and assists volunteers who act as caregivers of PLWHA. The purpose of this PKM is to provide health education related to PLWHA assistance, aiming to increase caregiver capacity and enrich the knowledge of KPA GBKP staff. The method of conducting PKM is by educating caregivers on how to care for people living with HIV/AIDS through online seminars delivered by PKM team members. The results of this PKM showed an increase in knowledge, as indicated by a rise in the pretest mean from 66.8 to 80.5 in the posttest. Health education increases caregiver knowledge, as evidenced by the posttest average, which shows a significant increase in knowledge.
Penerapan Active Cycle of Breathing Technique pada Pasien dengan Hemoptisis Post Tuberculosis: Studi Kasus Sihombing, Yulia; Priscalini Dano, Cindy; Naomi Marchilia Da Costa, Audrey; Nalle, Yohana
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 4 No 2 (2025): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakakeperawatan.v4i2.1538

Abstract

Background: Hemoptysis is coughing up blood originating from the lungs or tracheobronchial tract, which can be found in patients with active or inactive tuberculosis (TB) infection. Untreated hemoptysis can lead to hypovolemic shock, atelectasis, asphyxia, anemia, and even death due to sputum retention, which causes airway obstruction and impairs airway patency. One intervention that can be given to keep the patient's airway patent is the active cycle of breathing technique (ACBT). ACBT is an airway clearance technique with the ultimate goal of increasing lung expansion and sputum removal, thus reducing airway obstruction. Objective: to determine the effect of applying the active cycle of breathing technique (ACBT) on the removal of retained secretions and increased lung expansion. Method: The method used in this study was a case study of one patient with haemoptysis and a history of post-TB who was treated in the ward. Monitoring was conducted before and after intervention for three days using the following instruments: vital signs (respiratory rate, oxygen saturation), coughing ability and sputum production, airway patency, breath sounds, and patient complaints. The results: After the intervention, coughing decreased, sputum output increased, physiological parameters such as respiratory rate and oxygen saturation improved, and patient comfort increased. Discussion: ACBT is effective as an intervention in maintaining airway clearance in patients with haemoptysis who are treated in the inpatient ward.
Penerapan Intervensi Gratitude Journal pada Pasien Light Chain Amyloidosis dengan Risiko Bunuh Diri: Studi Kasus Sihombing, Yulia; Idaman Wati Hulu, Hasrat; Gresia Waruwu, Ike; Tifani Simangunsong, Imala; Sihombing, Ratna
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 5 No 1 (2026): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Light Chain Amyloidosis is a serious, chronic, progressive disease that causes multisystem disorders and physical weakness. Individuals with Amyloidosis face physical, financial, and psychological burdens lead to hopelessness, anxiety, and depression and even an increased risk of suicide. An intervention that can be used to help prevent the risk for suicide is Gratitude Journal. This study employed a single-case study design involving a patient with light chain amyloidosis with the nursing diagnosis “risk for suicide.” Monitoring was conducted before and after the intervention over a three-day period using the following instruments: the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), as well as the patient’s verbal expressions regarding suicidal ideation, suicidal threats, and suicide plans. Results: The intervention resulted in a decrease in the PHQ-9 score from 26 to 25, indicating an improvement in the category of “feeling unmotivated to do anything”; there were no verbal expressions of suicidal ideation, suicidal cues, suicidal threats, or suicide plans. The Gratitude Journal intervention was administered over three days through the development of a therapeutic relationship, education, Gratitude Journal writing, and daily evaluation. Patients demonstrated positive responses, including the ability to identify things for which they could still be grateful, greater openness in expressing their feelings, and an increase in life expectancy. Gratitude Journal has the potential as a simple and easily implementable psychosocial-spiritual nursing intervention to help increase gratitude, life expectancy, and psychological well-being in patients who are at risk of suicide. Consistent use of Gratitude Journal is necessary to achieve optimal results.