Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Peran Komunitas Gereja terhadap Peningkatan Self Awareness untuk Mencegah Peningkatan HIV/ AIDS: Kajian Literatur [Role of the Church Community in Increasing Self Awareness to Prevent an Increase in HIV/AIDS: Literature Review] Elysabeth Sinulingga; Agung Waluyo; Sri Yona
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 9, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v9i2.4979

Abstract

Background: People infected with HIV (PIWH) are increasing in number in Karo Regency every year. Therefore, all sub-districts or villages contribute the incidence of HIV / AIDS. While the HIV prevention program already exists at KPA GBKP (Commission on HIV /AIDS Prevention of Batak Karo Protestant Church) but has not seen its effect. Methods: Literature review are conducted using the PRISMA model. All studies reviewed were quantitative, with most studies using cross sectional studies (14.29%), using literature reviews (9.52%), using experiments (28.57), using quasi experiments (33.33%, and using Randomized Control Trial/RCT (14.29%). Sample sizes varied from 134 to 1444 participants. The dependent variable is HIV/AIDS prevention. Independent variables are church members, family support, and increased self-awareness. Of the 1173 articles, 21 that met the inclusion and exclusion criteria were selected for the study. The articles were collected from 4 database sources including Proquest, EBSCO-CINAHL, Springer Link and Google Scoler. Result: HIV/AIDS prevention was influenced by self awareness (18.1%), church members (9%), family support (54.5%), and interventions to prevent HIV/AIDS (27.2%). Although some countries had revealed that the promotion of HIV/AIDS health and prevention was improved and the concern of all communities to reduce the stigma of HIV/AIDS. Conclusion: Increased HIV/AIDS prevention was influenced by the role of church members, community, family support, and increased self awareness.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Latar Belakang: Orang yang terinfeksi dengan HIV (ODHA semakin meningkat jumlahnya di Kabupaten Karo setiap tahun. Oleh karena, semua wilayah kecamatan atau desa ikut menyumbangkan angka kejadian penyakit HIV/AIDS. Sementara program pencegahan HIV sudah ada dilakukan di KPA GBKP (Komisi Penangulangan HIV/AIDS Gereja Batak Karo Protestan) tetapi belum terlihat pengaruhnya. Metode: Kajian literatur dilakukan dengan menggunakan model PRISMA. Semua studi yang ditinjau adalah kuantitatif, dengan sebagian besar studi menggunakan studi cross sectional (14,29%), menggunakan tinjauan literatur (9,52%), menggunakan eksperimen (28,57), menggunakan quasi eksperimen (33,33%, dan menggunakan Randomized Control Trial/RCT (14,29%). Ukuran sampel bervariasi dari 134 hingga 1.444 peserta. Variabel dependen adalah pencegahan HIV/AIDS. Variabel yang tidak tergantung adalah anggota gereja, dukungan keluarga, dan peningkatan self awareness. Dari 1.173 artikel, 21 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang dipilih untuk penelitian ini. Artikel-artikel tersebut dikumpulkan dari 4 sumber basis data meliputi Proquest, EBSCO-CINAHL, Springer Link dan Google Scoler. Hasil: Pencegahan HIV/ AIDS dipengaruhi oleh self awareness (18,1%), anggota gereja (9%), dukungan keluarga (54,5%), dan intervensi untuk mencegah HIV/AIDS (27,2%). Meskipun beberapa negara telah mengungkapkan bahwa promosi kesehatan dan pencegahan HIV/AIDS ditingkatkan dan kepedulian semua masyarakat untuk mengurangi stigma HIV/ AIDS. Kesimpulan: Peningkatan pencegahan HIV/ AIDS dipengaruhi oleh peran anggota gereja, komunitas, dukungan keluarga, dan peningkatan self awareness.
Developing Karo Culture-Based Spiritual Intervention Model to Reduce HIV/AIDS Stigma Elysabeth Sinulingga; Agung Waluyo; Sri Yona; Tris Yonado
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 2 No. 6 (2022): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2749.962 KB) | DOI: 10.59188/eduvest.v2i6.483

Abstract

Introduction: People living with HIV/AIDS (PLWHA) experience various problems after being diagnosed with HIV, both physically and psychosocially. These problems cause PLWHA to close themselves so that they are not known to others because they feel stigmatised. This problem can cause PLWHA to continue stigmatising themselves and transmit HIV again to their partners or other people. This study aimed to develop a Karo culture-sensitive spiritual intervention model to prevent HIV stigma. Methods: Developing an intervention using the PATH (Problem – Analysis – Test – Help) method proposed by Buunk and Vugt (2008). Result: This model was developed based on cultural care theory and input from experts. Before the model development, the researcher had conducted preliminary studies both in qualitative and quantitative studies. The qualitative research established 14 themes, while the multivariant analysis found religiosity prevent HIV prevention dominantly. Conclusion: Developing a Karo culture-sensitive spiritual intervention model produces models, modules and pocketbooks in Karo culture-sensitive spiritual intervention to prevent HIV stigma.
Hubungan Antara Religiusitas dengan Perilaku Mencegah HIV Pada Warga Jemaat GBKP di Kabupaten Karo Elysabeth Sinulingga; Agung Waluyo; Sri Yona; Tris Eryando
JKM : Jurnal Keperawatan Merdeka Vol 2 No 1 (2022): Jurnal Keperawatan Merdeka
Publisher : Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.003 KB) | DOI: 10.36086/jkm.v2i1.1245

Abstract

HIV dan AIDS sampai saat ini angka yang positif selalu meningkat, vaksin AIDS juga belum ada, obat yang diminum hanya mengurangi virus, belum ada obatnya. Oleh karena itu perlu mencegah penyebaran HIV/AIDS pada komunitas warga GBKP di Kabupaten Karo. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adakah hubungan antara tingkat religiusitas dengan perilaku pencegahan HIV/AIDS di Komunitas Warga GBKP Metode: Desain penelitian ini adalah korelasi dengan cross sectional. Populasinya komunitas gereja GBKP yang memenuhi kriteria inklusi, besar sampel 420 responden yang diambil dengan accending sample. Variabel independent adalah tingkat religiusitas dan variable dependennya perilaku pencegahan HIV/AIDS. Instrumen pada penelitian ini menggunakan kuesioner dan dianalisa dengan uji korelasi chi Square. Hasil: Dari hasil uji korelasi diperoleh nilai p=0,0005. Kesimpulan: Hasil uji statistik didapatkan ada hubungan yang signifikan antara religiusitas dengan perilaku pencegahan HIV/AIDS.
Pengaruh Model Supporting, Action, Well-Being, Education & Training, Holistic (Sabeth) Dalam Meningkatkan Self Awareness Untuk Mencegah HIV: Analisis Statement Elysabeth Sinulingga
JKM : Jurnal Keperawatan Merdeka Vol 2 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan Merdeka
Publisher : Jurusan Keperawatan, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.232 KB) | DOI: 10.36086/jkm.v2i2.1442

Abstract

Latar belakang: Self awarenes atau kesadaran diri merupakan salah satu konsep yang dapat dikembangkan dalam upaya pencegahan HIV. Salah satu kegiatan yang bisa menimbulkan kesadaran diri yaitu sadar diri kita ini manusia yang memiliki hubungan dengan Tuhan. Kesadaran diri untuk mencegah perilaku HIV adalah direncanakan melalui Program Supporting, Action, Well-Being, Education and Training (SABETH). Metode: dari konsep yang digunakan dalam penelitian dirumuskan statemen dengan langkah: menseleksi statement untuk dianalisis: penyederhanaan statemen; mengklasifikasi statement; menguji konsep dalam statement untuk definisi dan validasi; menentukan hubungan antar konsep berdasarkan tipe, tanda dan kesimitrian, menguji kelogisan dan memutuskan testabilitas. Hasil: Program SABETH adalah suatu paket intervensi keperawatan holistik yang berorientasi pada membantu pasien, keluarga atau masyarakat dalam mengidentifikasi dalam kebutuhan dan kemampuan dalam meningkatkan pengetahuan, skill, sikap dan kemudian melaksanakan pengelolaan dirinya. Suporrting: Informasi tentang pencegahan HIV dan perawatan diri; Action: Memelihara kemampuan pasien dalam merawat diri dan mencegah penularan HIV. Well-being: Mampu meningkatkan efikasi diri dengan mengidentifikasi hambatan; Education: meningkatkan pengetahuan tentang pencegahan HIV; Training: Pelatihan yang ditujukan untuk meningkatkan self awareness bagi pasien, keluarga, masyarakat agar pasien HIV hidup berkualitas; Holistic: mandiri dalam perawatan diri fisik, psikologi, sosial, budaya dan spiritual dengan dukungan keluarga dan masyarakat.
OUTCOME PASIEN POST OPERASI JANTUNG YANG MENDAPATKAN EDUKASI PRA OPERASI DI INTENSIVE CARDIAC CARE UNIT [OUTCOME OF POST-HEART SURGERY PATIENTS RECEIVING PRE-OPERATIVE EDUCATION IN THE INTENSIVE CARDIAC CARE UNIT] Hasibuan, Elizabeth Friska; Adi, Vincentia Puspasari; Susanti, Sri Budi; Manik, Marisa Junianti; Sinulingga, Elysabeth
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 12, No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i1.8339

Abstract

Cardiac surgery is an intervention to correct and improve the anatomy and function of the heart. The preparations made by the nurse include conducting an orientation involving introduction to the operating room and post-surgery, education to deal with anxiety and postoperative pain, deep breathing exercises and effective coughing, spirometry incentive exercises, and early mobilization so that the patient understands what will be experienced before and after the procedure in the intensive care unit. This study aimed to determine the outcome of post-cardiac surgery patients who received care education in a pre-operative orientation at the ICCU, a private hospital in western Indonesia. This research used a quantitative descriptive design and univariate statistical analysis with a sample size of 15 participants using an accidental sampling technique. The instruments used were pain measurement observation sheets with a numerical scale, spirometry to measure lung volume capacity, and mobilization observation checklists, as well as the Hospital Anxiety Depression Scale questionnaire to measure anxiety. All participants received preoperative education. The results showed that all participants experienced decreased pain levels and could mobilize early, gradually from 24 to 72 hours post-surgery. A total of 10(66.67%) participants had a mild level of anxiety 24 hours after heart surgery, and 11(73.34%) participants experienced a consistent increase in lung volume capacity. Pre-cardiac surgery education provides the expected post-operative outcomes: decreasing pain and anxiety levels, increasing lung volume capacity, and gradual mobilization. BAHASA INDONESIA Bedah jantung adalah suatu tindakan operasi untuk mengoreksi dan memperbaiki anatomi dan fungsi jantung. Persiapan yang dilakukan perawat adalah melakukan orientasi meliputi pengenalan ruangan tindakan dan post operasi, edukasi untuk mengatasi kecemasan dan nyeri post operasi, latihan nafas dalam dan batuk efektif, latihan insentive spirometri serta mobilisasi dini, sehingga pasien memahami apa yang akan dialami sebelum dan sesudah tindakan operasi di ruangan intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran outcome pasien post operasi jantung yang menerima edukasi perawatan dalam orientasi pre operasi di ICCU salah satu rumah sakit swasta di Indonesia bagian barat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dan analisis statistik univariat dengan jumlah sampel 15 partisipan menggunakan tehnik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi pengukuran nyeri dengan skala numerik, spirometri untuk mengukur kapasitas volume paru, dan ceklis observasi mobilisasi, serta kuesioner Hospital Anxiety Depression Scale untuk mengukur kecemasan. Seluruh partisipan  mendapatkan edukasi pre operasi. Hasil menunjukkan seluruh partisipan mengalami penurunan tingkat nyeri dan mampu mobilisasi dini bertahap dari 24 jam sampai 72 jam post operasi. Sebanyak 10(66,67%) partisipan memiliki kecemasan tingkat ringan pada 24 jam post bedah jantung, dan 11(73,34%) partisipan mengalami kenaikan kapasitas volume paru secara konsisten. Edukasi pre operasi jantung memberikan outcome post operasi yang diharapkan yakni penurunan tingkat nyeri dan kecemasan, kenaikan kapasitas volume paru dan mobilisasi secara bertahap.  
SEMINAR EDUKASI HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS KE MASYARAKAT KARO DI BANTEN SINULINGGA, ELYSABETH BR; Sihombing, Yulia; Surbakti, Juwita Siska
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 6 (2023): INOVASI PERGURUAN TINGGI & PERAN DUNIA INDUSTRI DALAM PENGUATAN EKOSISTEM DIGITAL & EK
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v6i0.1933

Abstract

Hipertensi, Diabetes Melitus dan Stroke merupakan penyakit tidak menular yang perkembangannya di dunia maupun Indonesia meningkat setiap tahunnya. Hipertensi dan Diabetes Melitus merupakan penyakit degeneratif yang dipengaruhi oleh usia dan gaya hidup khususnya makanan dan masalah psikologis seperti stres. Tujuan untuk menambah pengetahuan, memahami dan melakukan kegiatan gaya hidup sehat tentang mencegah hipertensi dan diabetes melitus, dan bagaimana mengontrol bila sudah ada hipertensi dan diabetes melitus agar dapat mencegah komplikasi. Metode menggunakan metode penyuluhan dengan ceramah dan pemeriksaan fisik yaitu mengukur tekanan darah dan pemeriksaan laboratorium kadar gula darah, dan berumur 50 tahun keatas cek tambahan kolesterol dan asam urat beserta yang memiliki riwayat kolesterol dan asam urat. Pretest dilakukan sebelum seminar dan diakhiri dengan posttest setelah seminar. Hasil pretest didapatkan rerata 53.20 dan posttest rerata 73.6 sedangkan peningkatan nilai setelah edukasi adalah sekitar 20.4 poin. Berdasarkan hasil yang didapat, disimpulkan bahwa seminar ini meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat Karo Banten tentang tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kadar gula darah tinggi (diabetes melitus).
Studi Literatur Faktor yang berhubungan dengan Perempuan dengan HIV/AIDS : Lingkaran kekerasan Sinulingga, Elysabeth; Irene Purimahua, Dora
Jurnal Pustaka Keperawatan (Pusat Akses kajian Keperawatan) Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Pustaka Keperawatan
Publisher : Pustaka Galeri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55382/jurnalpustakakeperawatan.v2i2.671

Abstract

Prevalensi infeksi intimate Partner Violence (IPV) dan HIV di kalangan perempuan bervariasi secara global, jumlah perempuan yang terinfeksi HIV meningkat setiap tahunnya. Laki-laki melakukan hubungan seksual tak aman atau beresiko terkena HIV maka perempuan pasangan seksualnya tertular. Tujuan dari penelitian ini ntuk mengetahui faktor yang berhubungan antara kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh pasangan intim dan risiko infeksi HIV. Metode yang menggunakan survei literatur terhadap delapan jurnal diantaranya empat jurnal dalam negeri, dan empat jurnal internasional sebagai data yang akan dianalisis. Analisis data menggunakan analisis anotasi bibliografi (annotated bibliography). Angka kejadian HIV/AIDS yang dialami perempuan masih cukup tinggi, meliputi masalah ekonomi, kekerasan fisik, masalah seksual, masalah psikis, diskriminasi akibat stigma HIV, sterilisasi paksa, serta aborsi yang mengancam nyawa. Kekerasan ekonomi (30,2%) merupakan porsi kekerasan terbesar, dibandingkan kekerasan lainnya. Kemungkinan hubungan antara gangguan stres pasca trauma terkait kekerasan dan depresi komorbiditas terhadap kekebalan terhadap penularan HIV dan perkembangan penyakit HIV memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Perempuan berperilaku risiko tertular infeksi HIV/AIDS sebaiknya menjalani pemeriksaan test ELISA paling lambat 6 bulan sekali di fasilitas pelayanan kesehatan
OUTCOME PASIEN POST OPERASI JANTUNG YANG MENDAPATKAN EDUKASI PRA OPERASI DI INTENSIVE CARDIAC CARE UNIT [OUTCOME OF POST-HEART SURGERY PATIENTS RECEIVING PRE-OPERATIVE EDUCATION IN THE INTENSIVE CARDIAC CARE UNIT] Hasibuan, Elizabeth Friska; Adi, Vincentia Puspasari; Susanti, Sri Budi; Manik, Marisa Junianti; Sinulingga, Elysabeth
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 1 (2024): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i1.8339

Abstract

Cardiac surgery is an intervention to correct and improve the anatomy and function of the heart. The preparations made by the nurse include conducting an orientation involving introduction to the operating room and post-surgery, education to deal with anxiety and postoperative pain, deep breathing exercises and effective coughing, spirometry incentive exercises, and early mobilization so that the patient understands what will be experienced before and after the procedure in the intensive care unit. This study aimed to determine the outcome of post-cardiac surgery patients who received care education in a pre-operative orientation at the ICCU, a private hospital in western Indonesia. This research used a quantitative descriptive design and univariate statistical analysis with a sample size of 15 participants using an accidental sampling technique. The instruments used were pain measurement observation sheets with a numerical scale, spirometry to measure lung volume capacity, and mobilization observation checklists, as well as the Hospital Anxiety Depression Scale questionnaire to measure anxiety. All participants received preoperative education. The results showed that all participants experienced decreased pain levels and could mobilize early, gradually from 24 to 72 hours post-surgery. A total of 10(66.67%) participants had a mild level of anxiety 24 hours after heart surgery, and 11(73.34%) participants experienced a consistent increase in lung volume capacity. Pre-cardiac surgery education provides the expected post-operative outcomes: decreasing pain and anxiety levels, increasing lung volume capacity, and gradual mobilization. BAHASA INDONESIA Bedah jantung adalah suatu tindakan operasi untuk mengoreksi dan memperbaiki anatomi dan fungsi jantung. Persiapan yang dilakukan perawat adalah melakukan orientasi meliputi pengenalan ruangan tindakan dan post operasi, edukasi untuk mengatasi kecemasan dan nyeri post operasi, latihan nafas dalam dan batuk efektif, latihan insentive spirometri serta mobilisasi dini, sehingga pasien memahami apa yang akan dialami sebelum dan sesudah tindakan operasi di ruangan intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran outcome pasien post operasi jantung yang menerima edukasi perawatan dalam orientasi pre operasi di ICCU salah satu rumah sakit swasta di Indonesia bagian barat. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dan analisis statistik univariat dengan jumlah sampel 15 partisipan menggunakan tehnik accidental sampling. Instrumen yang digunakan berupa lembar observasi pengukuran nyeri dengan skala numerik, spirometri untuk mengukur kapasitas volume paru, dan ceklis observasi mobilisasi, serta kuesioner Hospital Anxiety Depression Scale untuk mengukur kecemasan. Seluruh partisipan  mendapatkan edukasi pre operasi. Hasil menunjukkan seluruh partisipan mengalami penurunan tingkat nyeri dan mampu mobilisasi dini bertahap dari 24 jam sampai 72 jam post operasi. Sebanyak 10(66,67%) partisipan memiliki kecemasan tingkat ringan pada 24 jam post bedah jantung, dan 11(73,34%) partisipan mengalami kenaikan kapasitas volume paru secara konsisten. Edukasi pre operasi jantung memberikan outcome post operasi yang diharapkan yakni penurunan tingkat nyeri dan kecemasan, kenaikan kapasitas volume paru dan mobilisasi secara bertahap.  
EFEKTIVITAS TERAPI AUTOGENIK DALAM MENGURANGI NYERI PADA PASIEN POST EKSISI FAM DI SALAH SATU RUMAH SAKIT SWASTA DI BEKASI, JAWA BARAT Sinulingga, Elysabeth; Zendrato, Joni Idola; Gulo, Netral
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 2 (2024): December
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i2.8538

Abstract

BAHASA Fibroadenoma mammae atau FAM merupakan benjolan yang terdapat pada payudara dan merupakan tumor jinak. Salah satu penatalaksanaan medis pada FAM ialah dengan eksisi bedah. Salah satu efek samping yang timbul setelah eksisi bedah adalah nyeri. Penatalaksanaan nyeri dapat dilakukan dengan teknik farmakologi dan non-farmakologi. Salah satu intervensi keperawatan dalam mengurangi nyeri dengan teknik non-farmakologi ialah terapi autogenik. Terapi autogenik merupakan salah satu terapi relaksasi yang berdasarkan konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri dan mempunyai manfaat dalam menurunkan nyeri, mengurangi stres dan ketegangan otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari terapi autogenik dalam mengurangi nyeri pada pasien post eksisi FAM dengan pendekatan asuhan keperawatan. Penelitian ini dilakukan kepada salah satu pasien post eksisi FAM dengan keluhan nyeri skala 5 saat beraktivitas dan skala 4 saat istrahat dengan indikator Numeric Rating Scale (NRS). Implementasi keperawatan terapi autogenik dilakukan kepada pasien selama 3 hari dengan durasi terapi 10 menit dan dilakukan 3 kali dalam sehari. Evaluasi yang didapatkan pada hari pertama nyeri pasien berkurang dari skala 5/4 menjadi skala nyeri 3/2, evaluasi hari kedua menjadi skala nyeri 2/1, evaluasi hari ketiga menjadi skala nyeri 1/0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi autogenik efektif dalam mengurangi nyeri pada pasien post eksisi FAM.   Fibroadenoma mammae (FAM) is a benign breast tumor that presents as a lump. One of the medical treatments for FAM is surgical excision. A common side effect following surgical excision is pain. Pain management can be achieved through pharmacological and non-pharmacological methods. One non-pharmacological nursing intervention for pain relief is autogenic therapy. Autogenic therapy is a relaxation technique based on passive concentration and body perception, facilitated by self-suggestion, with proven benefits in reducing pain, stress, and muscle tension. This study aims to evaluate the effectiveness of autogenic therapy in reducing pain in patients following FAM excision, using a nursing care approach. The research was conducted on a post-FAM excision patient who reported pain at a level of 5 during activity and 4 at rest, as measured using the Numeric Rating Scale (NRS). The nursing implementation of autogenic therapy was carried out for 3 days, with each session lasting 10 minutes, performed three times a day. On the first day, the patient's pain decreased from a 5/4 scale to a 3/2 scale, on the second day it decreased to a 2/1 scale, and by the third day, the pain was reduced to a 1/0 scale. The results indicate that autogenic therapy is effective in reducing pain in post-FAM excision patients.  
EDUKASI HENTI JANTUNG PARU DAN PELATIHAN HANDS-ONLY CPR: BE A LIFESAVER Sinulingga, Elysabeth; Saputra, Bima Adi; Meriana, Septa; Surbakti, Juwita Fransiska Br; Pailak, Heman
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 7 (2024): PKMCSR2024: Kolaborasi Hexahelix dalam Optimalisasi Potensi Pariwisata di Indonesia: A
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v7i0.2272

Abstract

Cardiopulmonary resuscitation (CPR) is an attempt to restore spontaneous circulation through high-quality uninterrupted chest compressions combined with respiratory support. A 2010 study by the American Heart Association (AHA) reported that adults who received compression-only CPR from a person survived better than those who did not receive any type of CPR. Other studies have also shown that the survival rates of adults who have cardiac arrest and are helped by someone who is not a health worker are similar, both Hands-Only CPR and conventional CPR (AHA, 2017). The purpose of this PkM is to increase knowledge, and skills in helping cardiac arrest and respiratory arrest in lay people before health workers come to help the methods used are starting with registration, pre-test, heart health education, cardiac arrest and respiratory arrest education, hands-only CPR education, and ending with a demonstration of hands-only CPR and post test. In the results of the pre-test and post-test education, the mean pre-test was 64 and the mean post-test was 83. The value added after the training was around 19 points for the seminar. Based on the results obtained, it can be concluded that this education increased knowledge and understanding of hands-only CPR.