Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

“BE YOURSELF” (The Creation of a Music Composition) Haris, Asep Saepul; Supanggah, Rahayu; Sukerta, Pande Made; Sunarto, Bambang
PANGGUNG Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in C
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i4.287

Abstract

AbstractAn artistic workmanship is a creative work process of an artist in creating artworks. Artwork meant by the writer is "Be Yourself", which is related to the establishment of his self-characters that grown up in Sundanese culture. Life journey was a dynamic process and became the will of the Almighty. Gods destiny and life journey made the writer as “urangsumando” (people related by marriage) in Minangkabau. Cross-cultural was a life journey to be (yourself) and the destiny he should do – being in two different culture positions. Such differences did not automatically make the writer soluble in integration – he existed in two conceptions. In the realization, how the concepts are able to deliver other offers which have contribution to the development of artistic creation. The discussion in this article is the artistic forms as the exploration, working material, and forms of performance.Keywords: artistic, workmanship, music work 
PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK KARAWITAN “NGANDUN” Reliansya, Yolanda; Haris, Asep Saepul; Firman, Firman
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 4, No 1 (2018): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v4i1.451

Abstract

“Ngandun” merupakan karya komposisi baru yang berangkat dari rasa musikal yang berbeda antara pola sweri dan tamatam pada kesenian Tabot Bengkulu yang dijumpai pada kegiatan prosesi malam menjara. Dalam penggarapan komposisi “Ngandun” terjadi eksplorasi terhadap musik tradisi, dengan melakukan pengolahan menjadi tekhnik-tekhnik musik konvensional dan penggabungan pengolahan sumber tradisi secara lebih leluasa terjadi pengolahan terhadap materi musikal sweri dan tamatam, baik melalui pengembangan bunyi, tempo terikat dengan sumber tradisi. 
Ikan Sati: Komposisi Musik Programa Abdul Rozak; Martarosa Martarosa; Asep Saepul Haris
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 4, No 2
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.145 KB) | DOI: 10.36982/jsdb.v4i4.792

Abstract

ABSTRACTIkan Sati is a grouping of a prose of the people (legend) contained in the Sungai Janiah. The existence of the legend story Ikan Sati has an important role in society, formerly the story is considered as something unseen and sacred, but now the community and the government work together to utilize the story of legend Ikan Sati is to serve as a tourist destination. The community is consciously aware of the transformation of the legend story of the Ikan Sati, including changes in values, functions, and changes in the shape / structure of the existence of the legend. Background of the transformation of the legend of the Ikan Sati, inspired workers created a work of the composition of descriptive music by collaborating the instrument of convention (orchestra) with traditional instruments. In the use of motive processing techniques using conventional techniques (such as: repetition, sequence, imitation, augmentation, and diminuisi), and wearing a modern harmony. Creation methods undertaken in the realization of this work of art are carried out with several work groupings: Concept Development Method (Observation, Interview, Data Collection, and Concept Formulation); and Conceptualizing Methods (Exploration, Experimentation, and Applications). In the depiction of the transformation of the legend, the work of this musical composition is made in three parts, each titled: Ikek Janji, Salisiah (value transformation, and function), and Inok-an (transformation of form and structure). Furthermore, the work of this composition is presented in the hope of raising awareness of the existence of an oral culture contained in the community, in this case the story of the legend of Ikan Sati Sungai Janiah itself, and as a preservation (revitalization) of local artistic traditions.Keywords : Ikan sati, Transformation, Legend, Programe Music CompositionABSTRAKIkan Sati merupakan sebuah pengelompokan sebuah prosa rakyat (legenda) yang terdapat di Sungai Janiah. Cerita legenda ini dianggap masyarakat benar-benar terjadi pada dahulunya dan diturunkan secara turun-temurun di dalam masyarakat Sungai Janiah. Masyarakat secara sadar menyadari perubahan (transformasi) terhadap cerita legenda Ikan Sati tersebut, perubahan tersebut meliputi perubahan nilai, fungsi, dan perubahan bentuk/struktur terhadap keberadaan cerita legenda. Berlatar belakang dari perubahan (transformasi) terhadap cerita legenda Ikan Sati, pengkarya terinspirasi menciptakan sebuah karya komposisi musik programa/suasana (descriptive) dengan mengkolaborasikan instrumen konvensi (orkestra) dengan instrumen tradisi. Dalam penggunaan teknik pengolahan motif memakai teknik konvensional (seperti: repetisi, sekuen, imitasi, augmentasi, dan diminuisi), serta memakai garapan harmoni modern. Metode penciptaan yang dilakukan dalam perwujudan karya seni ini dilakukan dengan beberapa pengelompokan kerja: Metode Pengembangan Konsep (Observasi, Wawancara, Pengumpulan Data, dan Perumusan Konsep); dan Metode Mewujudkan Konsep (Eksplorasi, Eksperimentasi, dan Aplikasi). Dalam penggambaran transformasi terhadap cerita legenda, karya komposisi musik ini dibuat dalam bentuk tiga bagian, yang masing-masing diberi judul: Ikek Janji, Salisiah (transformasi nilai, dan fungsi), dan Inok-an (transformasi bentuk, dan struktur). Selanjutnya karya komposisi ini disajikan dengan harapan menimbulkan kesadaran terhadap keberadaan sebuah kebudayaan lisan yang terdapat di masyarakat, dalam hal ini cerita legenda Ikan Sati di Sungai Janiah itu sendiri, dan sebagai pelestarian (revitalisasi) terhadap kesenian tradisi lokal.Kata kunci : Ikan sati, Transformasi, Legenda, Komposisi Musik Programa
Hibriditas pada Ronggeng di Minangkabau Aznal Mad’Hattari; Asep Saepul Haris; Asril Asril
Besaung : Jurnal Seni Desain dan Budaya Vol 4, No 2
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.926 KB) | DOI: 10.36982/jsdb.v4i2.594

Abstract

AbstractHumans are creatures that are always voluntarily volunteered or coerced. From prehistoric times it has been mentioned that humans are always looking for new areas, if in the areas began to be short of food supply or hit by disasters. It also happens on this day. The reasons are also related to finding better livelihoods, seeking better education which is also related to livelihoods, as well as other problems such as war or natural disasters. More interestingly, some ethnics have a tradition of migrating like merantau as it is in the Minangkabau tribe. This is called hybridity. Hybridity can also show that every cultural process contains mixed and cross-border interactions. There is no culture that is completely genuine and pure, which is found in the ronngeng pasaman. Ronggeng pasaman is present in the community due to several factors such as the movement of the population to a place that will merge into one and make the region into a multi-cultural area.Keywords : Hybridity, Ronggeng, Pasaman, Multi-culturalAbstrakManusia adalah makhluk yang selalu berpindah baik secara sukarela maupun karena paksaan.Dari zaman prasejarah telah disebutkan bahwa manusia selalu mencari daerah baru jika di daerah tempatnya berada sebelumnya mulai kekurangan bahan pangan atau dilanda bencana.Hal itu juga terjadi hingga saat ini.Alasannya juga berhubungan dengan mencari mata pencaharian yang lebih baik, mencari pendidikan yang lebih baik yang nantinya juga terkait dengan mata pencarian, serta masalah lainnya seperti peperangan atau bencana alam.Lebih menarik lagi, beberapa etnis memiliki tradisi berpindah itu dengan istilah merantau seperti yang terdapat di dalam suku Minangkabau.Hal ini disebut dengan hibriditas. Hibriditas juga dapat menunjukkan bahwa setiap proses budaya mengandung percampuran dan interaksi lintas batas. Tidak ada suatu kebudayaan yang sepenuhnya asli dan murni, salah satunya terdapat pada ronngeng pasaman. Ronggeng pasaman hadir ditengah masyarakat dikarenakan oleh beberapa faktor seperti perpindahan penduduk ke suatu tempat yang nantinya melebur menjadi satu dan menjadikan wilayah tersebut menjadi daerah yang multi-kultural.Kata kunci : Hibriditas, Ronggeng, Pasaman, Multi-Kultural
ESTETIKA TEKS DENDANG KAMPAR BASIANG: CERMINAN BUDAYA MASYARAKAT AGRARIS DI MINANGKABAU (ANALISIS TEKS) Hendri Koto; Andar Indra Sastra; Asep Saepul Haris
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v7i2.11033

Abstract

AbstrakDendang kampar basiang adalah salah satu dendang yang terdapat pada kesenian saluang dendang di Minangkabau. Dendang tersebut dinilai memiliki aspek estetis pada teks yang membangun struktur pantunnya. Dilihat dari frase kalimat sampiran maupun isi, kecenderungan dalam teks pantun dendang kampar basiang memiliki kata maupun kalimat yang mengambarkan fenomena kehidupan masyarakat agraris. Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis teks yang terdapat pada dendang kampar basiang yang dihubung-kaitkan dengan aspek sosial masyarakat Minangkabau pada umumnya. Dalam mengkaji fenomena tersebut, digunakan beberapa pendekatan telaah sastra dan estetika paradoks, serta dengan metode kualitatif. Terkait dengan hasil penalaahan teks dendang kampar basiang, maka didapati bahwa dendang tersebut merupakan sebuah cerminan dari kehidupan masyarakat agraris di Minangkabau.           Kata Kunci: estetika, agraris, dendang kampar basiang AbstractKampar basiang dendang is a kind of songs in Minangkabau saluang dendang. This Dendang is considered to have aesthetic aspects of the text that build the rhyme structure. Seeing from the sentences phrase ofsampiran, as well as it’s content, the tendency of dendang kampar basiangrhyme has a word or phrase that describes the phenomenon of agrarian society. This research intends to analyze the texts contained inkampar basiang dendang which is related to social aspect of Minangkabau society in general. Several approaches are used to examine this phenomenon, which is literary studies and paradox aesthetic, as well as qualitative methods.In relation to the study about the text of  kampar basiang dendang, it has been found that dendang is a kind of reflection about the life of agrarian society in Minangkabau  Keywords: aesthetic, agrarian, kampar basiang dendang
BASOSOH: KOMPOSISI MUSIK ALEATORIC DALAM FORMAT ORKESTRA FLUXUS Hadi Suhendra; Martarosa Martarosa; Asep Saepul Haris
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v7i2.11032

Abstract

AbstrakBasosoh merupakan karya seni bunyi yang terinspirasi dari fenomena ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat. Basosoh merupakan kata sifat yang frontal, biasanya diungkapkan dengan berbagai media seperti permainan musik, mengguncang atau mengarak benda seperti Tabuik dengan meneriakan kata Sosoh. Seiring berkembangnya teknologi, Tabuik di tengah-tengah masyarakat telah terkontaminasi oleh desakan otonomi daerah, desakan pariwisata dan otoriter pemerintah yang lebih menggairahkan untuk menunjang sektor kepariwisataan. Posisi dan tujuan untuk pariwisata telah menjadikan Tabuik berubah dari ‘ritual’ menjadi sekuler. Adanya sekularitas masyarakat secara sadar menyadari perubahan (transformasi) terhadap nilai, fungsi dan makna dalam ritual Tabuik. Berlatar belakang dari transformasi ritual Tabuik, pengkarya terinspirasi untuk menciptakan sebuah karya musik Aleatoric dengan memakai teknik komposisi avant garde serta teknik tradisional musik Barat seperti Canon, imitasi, repetisi dan sekuen. Metode penciptaan dilakukan dengan beberapa pengelompokan kerja: Metode Pengembangan Konsep (Observasi, Wawancara, Pengumpulan Data, dan Perumusan Konsep); dan Metode Mewujudkan Konsep (Eksplorasi, Eksperimentasi, dan Aplikasi). Dalam penggambaran ekspresi zeitgeist ritual Tabuik, karya komposisi musik ini dibuat dalam bentuk tiga bagian berbeda, yang masing-masing diberi judul: Ago, Oyak dan Sosoh. Selanjutnya karya komposisi ini disajikan dengan harapan agar mengetahui, menyadari dan mengkritisi peristiwa budaya masyarakat Pariaman serta memberi tawaran musik baru dalam setiap prosesi upacara Tabuik.           Kata Kunci: Basosoh,Tabuik, Aleatoric, Orkestra, Fluxus. AbstractBasosoh is a sound artwork inspired by the phenomenon of Tabuik ritual in Pariaman, West Sumatra. Basosoh is a frontal adjective, usually with various media such as music games, shaking or parading objects like Tabuik by shouting Sosoh. Along with the development of technology, Tabuik in the midst of the community has been contaminated by the insistence of regional autonomy, the pressure of the government and the authoritarian government which is more exciting to support the tourism sector. The position and purpose to make Tabuik change from 'ritual' to secular. The existence of society's secularity, especially towards changes (changes) in values, functions and meanings in the Tabuik ritual. Set from a change in ritual of Tabuik, a visual masterpiece to create an Aleatoric music by using avant garde techniques and traditional music techniques such as Canon, imitation, repetition and sequences. The method is done with several work groupings: Observation Method, Interview, Data Collection, and Concept Formulation); and Conceptualizing Methods (Exploration, Experimentation, and Applications). In describing the zeitgeist Tabuik ritual expressions, this musical composition work is made in the form of three different parts, each of which is entitled: Ago, Oyak and Sosoh. Furthermore, these tasks are carried out in ways to find out, and criticize Pariaman cultural events and provide new tasks in each Tabuik ceremony procession.  Keywords: basosoh, tabuik, aleatorik, orchestra, fluxus. 
“BE YOURSELF” (The Creation of a Music Composition) Asep Saepul Haris; Rahayu Supanggah; Pande Made Sukerta; Bambang Sunarto
PANGGUNG Vol 27, No 4 (2017): Comparison and Development in Visual Arts, Performing Arts, and Education in Co
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.81 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v27i4.287

Abstract

AbstractAn artistic workmanship is a creative work process of an artist in creating artworks. Artwork meant by the writer is "Be Yourself", which is related to the establishment of his self-characters that grown up in Sundanese culture. Life journey was a dynamic process and became the will of the Almighty. God's destiny and life journey made the writer as “urangsumando” (people related by marriage) in Minangkabau. Cross-cultural was a life journey to be (yourself) and the destiny he should do – being in two different culture positions. Such differences did not automatically make the writer soluble in integration – he existed in two conceptions. In the realization, how the concepts are able to deliver other offers which have contribution to the development of artistic creation. The discussion in this article is the artistic forms as the exploration, working material, and forms of performance.Keywords: artistic, workmanship, music work 
FENOMENA SOSIAL ANAK TUNGGAL DALAM PENCIPTAAN KOMPOSISI MUSIK NUSANTARA “NYAK TUNGGA” Ahmad Wanda; Asep Saepul Haris; Nursyirwan Nursyirwan
Melayu Arts and Performance Journal Vol 3, No 2 (2020): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v3i2.1349

Abstract

This work aims to discuss the phenomenon that occurs in the social life of a single child. The only child is a child with no siblings. Based on the results of observations and research on several children who are reviewed from internal (family) and external (environmental) factors, the fact that they have problems in living life at the age of 6 to 21 years, is called Epifani. Epiphany is a moment or experience whose effect can be positive and negative. The works are attracted to the experiences experienced by the single child, and the works relate to the empirical experience of their own works. The focus of this work is on intimidation, psychological impact and maturity created into three pieces of work. This phenomenon concerns the concept of "extravagrisical" which has an analogy structure, interpretation and clear Re-interpretation using several media (instruments) according to the function and needs of the garage. The purpose of this work is to convey the social reality faced by a single child.Keywords:Singlechildren; extramusical; NyakTunggaAbstrakKarya ini bertujuan untuk membahas fenomena yang terjadi pada kehidupan sosial anak tunggal. Anak tunggal adalah anak yang tidak mempunyai saudara kandung. Berdasarkan dari hasil observasi dan riset terhadap beberapa anak tunggal yang ditinjau dari faktor internal (keluarga) dan eksternal (lingkungan), faktanya mereka mempunyai permasalahan dalam menjalani kehidupannya pada usia 6 sampai 21 tahun, itupun disebut dengan Epifani. Epifani merupakan momen atau pengalaman yang efeknya bisa positif dan negatif. Pengkarya tertarik kepada pengalaman-pengalaman yang dialami oleh anak tunggal, dan pengkarya kaitkan dengan pengalaman empiris pengkarya sendiri. Fokus dari karya ini yaitu tentang intimidasi, dampak psikologis dan kedewasaan yang diciptakan menjadi tiga bagian karya. Hal yang menyangkut pada fenomena ini adalah konsep “ekstramusikal” yang mempunyai struktur analogi, interpretasi dan Re-interpretasi yang jelas dengan menggunakan beberapa media (instrumen) sesuai dengan fungsi dan kebutuhan garapnya. Tujuan dari karya ini yaitu ingin menyampaikan realitas sosial yang dihadapi oleh seorang anak tunggal.Kata Kunci: Anak Tunggal, Ekstramusikal, Nyak Tungga
PAYAH LALOK: KOMPOSISI MUSIK ALEATORIC DALAM FORMAT ORKESTRA Anggra Dinata; Asep Saepul Haris; Martarosa Martarosa
Melayu Arts and Performance Journal Vol 2, No 1 (2019): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v2i1.679

Abstract

Payah Lalok merupakan sebuah karya seni musik yang terispirasi dari fenomena sosial Insomnia. Insomnia merupakan suatu gejala kelainan dalam tidur yang membuat sipenderita susah atau sulit untuk tidur. Insomnia juga sering disebabkan oleh adanya suatu penyakit atau akibat adanya permasalahan psikologis. Gejala yang dirasakan oleh sipenderita seperti kesulitan untuk tidur, gangguan emosional (Kecemasan, Kegelisahan dan Depresi). Berdasarkan defenisi imsomnia diatas pengkarya tertarik untuk menciptakan sebuah karya musik Aleatoric dengan menggunakan teknik komposisi musik avand garde yang menjadikan alat musik barat sebagai media penyampaian isian karya. Metode penciptaan dilakukan dengan beberapa pengelompokan kerja: Metode pengembangan konsep (observasi, wawancara, pengumpulan data dan perumusan konsep) dan metode mewujudkan konsep (eksplorasi, eksperimentasi, dan aplikasi). Dalam penggambaran ekspresi dan sisi emosional penderita Insomnia, karya komposisi musik ini dibuat kedalam bentuk empat bagian, yang masing-masing diberi judul Nio Lalok, Talayang, Naiak Darah dan Lalok. Selanjutnya komposisi ini disajikan dengan harapan agar mengetahui dan menyadari fenomena umum yang terjadi didalam kehidupan masyarakat serta memberi tawaran berupa terapi musik untuk meditasi tidur.
Malam Baretong Sebagai Sumber Penciptaan Komposisi “Night Of Baghetong” Vereki Martiano; Asril Asril; Asep Saepul Haris
Melayu Arts and Performance Journal Vol 2, No 2 (2019): Melayu Art and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v2i2.689

Abstract

ABSTRAK Malam baretong merupakan salah satu kegiatan gotong royong, sumbang-menyumbang dalam pesta perkawinan yang dilakukan pada saat menghitung uang dari para tamu yang hadir pada malam terakhir atau malam penutupan perelatan di Pariaman Limau Purut. Berdasarkan pandangan positif dan negatif yaitu pada nilai social yang terjadi, memberikan dampak solusi dalam segi menilai kebudayaan. Sehingga pesan dari komposisi musik yang diwujudkan dari hal-hal ekstramusikal digarap dengan menggunakan konsep bentuk analogi musikal melalui instrument konfensional dan non konfensional secara berdialog dan eksperimental bunyi dengan garapan re-interpretasi tradisi. Kata kunci : Baretong, Positf, Negatif, Ekstramusikal, Analogi Musikal.