Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

The Central Processing Music Of Bacalempong : Komposisi Musik Minimalis dalam Ansambel Campuran Cepri Zulda Putra; Asep Saepul Haris; Wilma Sriwulan
Gestus Journal: Penciptaan dan Pengkajian Seni Vol 2 No 2 (2022): GESTUS JOURNAL : PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gsts.v2i2.40397

Abstract

The Central Processing Music Of Bacalempong merupakan komposisi musik yang berangkat dari peristiwa simulasi pada tahap intrumentasi antara calempong kayu dan calempong perunggu sebagai kesenian tradisi asli masyarakat Sumpur Kudus yang kemudian digarap berdasarkan idiom musik Barat. Konsep garapan karya The Central Processing Music of Bacalempong adalah representasi antara material komposisi musik didalam calempong kayu dan calempong perunggu dijadikan hierarki musikal dengan menggunakan pendekatan sistem musik minimalis yang direalisasikan dalam formasi Ansambel Campuran. Secara keseluruhan, komposisi ini menawarkan gaya musik abad 20 berkenaan dengan pentahapan dalam sebuah proses pelahiran sebuah peristiwa musikal, proses tersebut menekankan pada siklus pusat yang dijadikan konstruksi struktur untuk menggiring analisis pada setiap dimensi musikal yang menunjukkan bagaimana sebuah penciptaan musik dihasilkan sacara sistematis. Metode penciptaan karya terbagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama menentukan siklus pusat dalam setiap proses Komposisi. Kedua, penempatan simulasi timbre (intrumen). Ketiga, menentukan deskripsi struktural karya. Terdapat sepuluh proses struktur yang terdiri dari I (restricted pitch and rhythm materials), II (pitch-centrycity), III (use of repetition), IV (steady pulse), V (phasing), VI (drone or ostinatos), VII (static harmony), VIII (pandiatonicism), IX (indeterminacy), dan X (long duration). Kesimpulan yang menghasilkan penggunakan pola-pola minimal kemudian perubahan-perubahan secara sedikit-demi sedikit dan bertahap hingga didapatkan komposisi musik secara utuhKata Kunci: Calempong Kayu, Calempong Perunggu, Musik Minimalis, Ansambel Campuran
PERWUJUDAN KOMPOSISI MUSIK YANG TERINSPIRASI DARI PROSESI ADAT PERNIKAHAN DI KENEGERIAN KOPAH, KUANTAN SINGINGI, RIAU Apandi, Jefri; Haris, Asep Saepul
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 1 (2025): January-June 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i1.249

Abstract

Kebudayaan merupakan kumpulan ide dan sistem gagasan yang abstrak, mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat, serta berbagai kebiasaan manusia sebagai makhluk sosial. Kabupaten Kuantan Singingi, sebagai daerah Melayu Daratan, memiliki beragam tradisi budaya, termasuk prosesi adat pernikahan Mantarayam dan Pacu Jalur. Prosesi Mantarayam, yang khusus dilaksanakan dalam upacara adat pernikahan, berbeda dari Pacu Jalur yang merupakan hiburan rakyat. Di Kenegerian Kopah, prosesi pernikahan terdiri dari berbagai tahapan seperti maikek tando, ampokat, akad nikah, mandoa, maantarayam, dan mambori golar, melibatkan tokoh adat serta unsur musikal khas seperti kesenian Rarak Oguang Duo, Kayat, dan Randai Kuantan. Penelitian ini mengeksplorasi nilai-nilai budaya dalam prosesi pernikahan yang diolah menjadi komposisi musik baru berjudul Mantarayam. Karya ini menggunakan pendekatan re-interpretasi, memadukan fenomena adat ke dalam bentuk komposisi musik Nusantara, yang bertujuan memperkaya khazanah musik tradisional dengan interpretasi baru dari budaya lokal.
Komposisi Musik Semarak Sipai Bersumber Dari Beruji Dol Dalam Upacara Tabot Di Kota Bengkulu Purwanda, Sandy; desmawardi, desmawardi; Haris, Asep Saepul
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 4, No 1 (2024): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v4i1.4223

Abstract

Music is a means of expressing the soul to communicate and interact between living creatures. Through music we can express various ideas with various colors of sound produced by any object that can accommodate the idea itself. Sounds and voices are arranged well so that a musical work is created as a harbor for ideas that are full of messages and meaning. This work begins with research on the Bruji Dol performance and from the results of the analysis, a conclusion is drawn to take one part, namely the song Girik" which is contained in the Bruji Dol performance in the Tabot ceremony in the city of Bengkulu. Beruji dol is a depiction of the spirit of war carried out by two groups, namely Tabot Bangsal and Tabot Imam. Beruji dol has an interesting musical case, namely that there is a game concept that is "freely bound" in the tasa game of the Tamatam repertoire called "Girik". To create the musical composition "Semarak Sipai" it was worked on using the Analytical Descriptive method using a Re-interpretation of Tradition approach. Through the creation of the musical composition "Semarak Sipai", the creator tried to present several forms of novelty in various aspects of the work in accordance with the concept offered. The Tradition Re-interpretation approach is used to share musical experiences as a contribution to the development of the musical composition itself.
PANTUN BADONDONG: ESTETIKA UNSUR MUSIKAL TRADISI LISAN MASYARAKAT LIMA KOTO KAMPAR Mahendra, Restu; Haris, Asep Saepul
EZRA SCIENCE BULLETIN Vol. 3 No. 2 (2025): July-December 2025
Publisher : Kirana Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/ezrasciencebulletin.v3i2.516

Abstract

Pantun Badondong merupakan salah satu tradisi lisan yang hidup dan berkembang di wilayah adat Lima Koto, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kesenian ini disajikan dalam bentuk pantun yang dilagukan secara berbalas dengan pola musikal tertentu, sehingga menghadirkan nilai estetika yang khas dan merefleksikan identitas budaya masyarakat pendukungnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji estetika dalam unsur musikal Pantun Badondong yang meliputi melodi, ritme, tempo, dinamika, serta hubungan antara teks pantun dan musikalitasnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan etnomusikologi dan estetika, melalui teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika musikal Pantun Badondong terletak pada kesederhanaan struktur melodi yang repetitif, fleksibilitas ritme yang mengikuti alur pantun, serta ekspresi vokal yang sarat makna simbolik dan emosional. Unsur musikal tersebut tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi nilai-nilai adat, etika sosial, dan kebersamaan dalam masyarakat Lima Koto.
Komposisi Musik Svarasa Bersumber Dari Dendang Panjek Panjek Tabulusui Randai Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau Prayoga, Renol; Haris, Asep Saepul
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 5, No 2 (2025): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v5i2.6097

Abstract

Komposisi “SvaRasa” merupakan komposisi musik nusantara yang bersumber dari dendang panjek-panjek tabulusui kesenian Randai Kuantan yang lahir dan berkembang di daerah Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Kesenian ini biasanya dipertunjukkan dalam acara pembukaan pacu jalur, perkawinan, khitanan, turun mandi. Randai Kuantan memiliki beberapa repertoar untuk mengiringi cerita yaitu Bintang Timur, Olang Binti, Panjek Panjek Tabalusui, Lomak Dek Awak Katuju Pulo Dek urang, dan lagu-lagu lainnya. Dari analisis pengkarya menemukan keunikan pada melodi penutup yang disebut pamotih, pamotih adalah bahasa lokal Taluk Kuantan yang memiliki arti berhenti (mengakiri lagu randai dalam permainan viola), dimana transisi dari lagu ke melodi penutup ini terdapat permainan nada yang tiba-tiba naik (Ascending), serta terdapat perubahan nada dari mayor ke nada minor yang berubah pada pertengahan melodi penutup. Prinsip melodi Ascending tersebut menjadi ide dasar dalam penggarapan komposisi musik nusantara yang digarap menggunakan pendekatan Populer Melayu sehingga melahirkan karya komposisi musik baru yang diberi judul “SvaRasa”.