Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Teknik Fotografi dalam Sastra Realisme L'ADULTERA Karya Theodor Fontane Kamelia Gantrisia
PANGGUNG Vol 27 No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.230

Abstract

ABSTRACT          This research is entitled “Photography Approach in the Literary Work of Realism L'Adultera by Theodor Fontane”. The aims of the research are to identify the descriptions found in literary work and the representation of photography criteria found in those descriptions. The methods employed in this research are formal method. The analysis is carried out by explaining the descriptions briefly and using them to identify parts of the text pointing to those descripstions. They are then analyzed by means of photography criteria from Heinz Buddermeier and Erwin Koeppen.             The result shows that the descriptions are concentrated on three types of setting descriptions: realm, interior, and building setting. In every description various description techniques which are similar to common techniques used in photography are found. They are observer's view transition, transition and/or regularity of observer's position, occuracy and sharpness of the object, static quality and object visual, and inequality of object setting. Key words: realism, description, photographyABSTRAK          Penelitian ini berjudul ”Teknik Fotografi dalam Karya Sastra Masa Realisme L'Adultera Karya Theodor Fontane”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasikan deskripsi-deskripsi yang muncul dalam karya sastra dan mengkaji penggambaran-penggambaran fotografis dalam deskripsi-deskripsi tersebut. Metode yang dipergunakan adalah metode formal. Analisisnya dilakukan dengan cara menjabarkan secara singkat tentang deskripsi dalam karya sastra dan mempergunakannya untuk mengidentifikasikan bagian-bagian teks yang mengarah pada deskripsi. Bagian-bagian teks yang mengandung deskripsi tersebut selanjutnya dianalisis dengan bantuan kriteria-kriteria fotografi menurut Heinz Buddemeier dan Erwin Koppen.             Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa deskripsi-deskripsi yang dimunculkan dalam karya dikonsentrasikan pada tiga jenis deskripsi latar, yaitu latar alam, interior, dan bangunan. Dalam setiap deskripsi ditemukan berbagai teknik penggambaran yang memiliki kemiripan dengan teknik-teknik yang biasa dipergunakan dalam fotografi, yaitu perpindahan pandangan pengamat, perpindahan dan/atau keajegan posisi pengamat, ketepatan dan ketajaman objek, sifat statis dan visual objek, serta ketidaksejajaran latar objek.    Kata Kunci: realisme, deskripsi, fotografi
Refleksi Sosial dalam Cerpen “Sommerhaus, später” dan “Rote Korallen” Karya Judith Hermann Septriani, Hilda; Gantrisia, Kamelia; Hardika, Meilita
Puitika Vol. 21 No. 2 (2025):
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v21i2.742

Abstract

Penelitian ini menganalisis cerita pendek “Sommerhaus, später” dan “Rote Korallen” karya Judith Hermann sebagai cerminan kondisi sosial masyarakat Jerman pascareunifikasi. Melalui pendekatan sosiologi sastra, penelitian ini mengidentifikasi tema-tema utama seperti krisis identitas, ketidakpastian masa depan, dan disonansi antara harapan dan kenyataan yang dialami oleh generasi muda pada masa pascareunifikasi, terutama untuk warga Jerman Timur. Adapun teori yang akan membantu untuk menguraikan permasalahan dalam penelitian ini adalah teori yang berkenaan dengan krisis identitas oleh Hall (1993) dan Erikson (1968), disonansi kognitif oleh Festinger (1957), serta konsep Erlebnisgesellschaft oleh Schulze (1992) dan Bauman (2000). Kompleksitas persoalan sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang dialami masyarakat Jerman Timur setelah reunifikasi ditunjukkan oleh teks secara tersirat. Melalui kutipan yang terdapat dalam kedua cerita pendek tersebut dapat terlihat gambaran kebingungan dan keterasingan yang dirasakan oleh tokoh-tokohnya yang saling berkelindan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa teks objek penelitian ini tidak hanya merefleksikan pengalaman individu, tetapi juga mencerminkan trauma dan pengalaman kolektif masyarakat Jerman dalam menghadapi perubahan besar yang terjadi pascareunifikasi.
Memori Kolektif dan Trauma Sejarah dalam Novel Der Vorleser Karya Bernhard Schlink Septriani, Hilda; Gantrisia, Kamelia
Puitika Vol. 22 No. 1 (2026):
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/puitika.v22i1.861

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis memori kolektif dan trauma sejarah yang digambarkan dalam novel Der Vorleser karya Bernhard Schlink. Novel yang berlatar cerita pada masa Perang Dunia II ini merefleksikan dampak berkelanjutan Holocaust serta pergulatan moral masyarakat Jerman dalam menghadapi warisan sejarahnya. Riset ini menggunakan cara kerja kualitatif dengan teknik analisis terhadap struktur naratif, karakter tokoh, dan kutipan teks yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini menghadirkan kompleksitas moral melalui relasi personal antara Michael Berg dan Hanna Schmitz yang memperlihatkan pertentangan antara cinta, rasa bersalah, dan penilaian benar atau salah secara etis, berdasarkan konsep memori kolektif yang sejalan dengan narasi pengalaman sejarah dalam novel yang kemudian ditransmisikan secara sosial lintas generasi. Selain itu, teori trauma juga membantu mengidentifikasi bahwa trauma sejarah tidak hilang, tetapi muncul kembali secara laten dan memengaruhi kondisi psikologis individu yang tidak mengalami peristiwa tersebut secara langsung. Temuan lain juga menunjukkan bahwa motif membaca, kebisuan, dan buta huruf dalam novel berfungsi sebagai simbol ketidakmampuan menghadapi masa lalu secara utuh. Dengan demikian, Der Vorleser dapat dipahami sebagai medium memori kultural yang membuka ruang refleksi kritis terhadap tanggung jawab sejarah dan menunjukkan bahwa warisan Holocaust terus membentuk kesadaran moral masyarakat Jerman pascaperang.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis memori kolektif dan trauma sejarah yang digambarkan dalam novel Der Vorleser karya Bernhard Schlink. Novel yang berlatar cerita pada masa Perang Dunia II ini merefleksikan dampak berkelanjutan Holocaust serta pergulatan moral masyarakat Jerman dalam menghadapi warisan sejarahnya. Riset ini menggunakan cara kerja kualitatif dengan teknik analisis terhadap struktur naratif, karakter tokoh, dan kutipan teks yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini menghadirkan kompleksitas moral melalui relasi personal antara Michael Berg dan Hanna Schmitz yang memperlihatkan pertentangan antara cinta, rasa bersalah, dan penilaian benar atau salah secara etis, berdasarkan konsep memori kolektif yang sejalan dengan narasi pengalaman sejarah dalam novel yang kemudian ditransmisikan secara sosial lintas generasi. Selain itu, teori trauma juga membantu mengidentifikasi bahwa trauma sejarah tidak hilang, tetapi muncul kembali secara laten dan memengaruhi kondisi psikologis individu yang tidak mengalami peristiwa tersebut secara langsung. Temuan lain juga menunjukkan bahwa motif membaca, kebisuan, dan buta huruf dalam novel berfungsi sebagai simbol ketidakmampuan menghadapi masa lalu secara utuh. Dengan demikian, Der Vorleser dapat dipahami sebagai medium memori kultural yang membuka ruang refleksi kritis terhadap tanggung jawab sejarah dan menunjukkan bahwa warisan Holocaust terus membentuk kesadaran moral masyarakat Jerman pascaperang.
Relasi Sastra dan Sosial: Tinjauan Strukturalisme Genetik dalam Cerpen Sebatang Pohon di Luar Desa Karya Seno Gumira Ajidarma Hilda Septriani; Gilang Januarsyah; Kamelia Gantrisia; Genita Cansrina
JENTERA: Jurnal Kajian Sastra Vol 14, No 1 (2025): Jentera: Jurnal Kajian Sastra
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/jentera.v14i1.8265

Abstract

This study aims to elaborate the representation of human facts, collective subjects, and worldviews on the surrounding environment depicted in the short story entitled Sebatang Pohon di Luar Desa by Seno Gumira Ajidarma using genetic structuralism and literary sociology approaches. A relevance as an analysis of Goldmann's literary sociology by collecting data sources from the short story Sebatang Pohon di Luar Desa by Seno Gumira Ajidarma. The method in this study is qualitative descriptive with a literary sociology approach. Data was obtained through literature review techniques by reading a short story entitled Sebatang Pohon di Luar Desa as a whole. Data analysis techniques by means of the validity of data obtained from reading sources such as books, journals accompanied by theory triangulation. The results of research from the analysis of the short story Sebatang Pohon di Luar Desa are elaborating on humanitarian facts that are collective subjects and worldviews in recording historical events in realizing independence which are represented very strongly and thick with historical meaning in Timor Timur (now is Timor Leste) at a certain period of time. This research also shows that Seno's short stories do not merely record social realities in life, but also form a critique of symbolic violence and the process of alienation in modern society. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengelaborasi representasi fakta kemanusiaan, subjek kolektif, dan pandangan dunia terhadap lingkungan sekitar yang digambarkan di dalam cerpen yang berjudul Sebatang Pohon di Luar Desa karya Seno Gumira Ajidarma dengan menggunakan pendekatan strukturalisme genetik dan sosiologi sastra. Suatu relevansi sebagai analisis sosiologi sastra Goldmann dengan cara mengumpulkan sumber-sumber data dari cerpen Sebatang Pohon di Luar Desa karya Seno Gumira Ajidarma. Metode dalam penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Data diperoleh melalui teknik kajian kepustakaan dengan cara membaca cerpen yang berjudul Sebatang Pohon di Luar Desa secara utuh dan keseluruhan. Teknik analisis data dengan cara keabsahan data yang diperoleh dari sumber bacaan seperti buku, jurnal-jurnal disertai triangulasi teori. Hasil penelitian dari analisis cerpen Sebatang Pohon di Luar Desa ini yaitu mengelaborasi fakta kemanusiaan yang bersifat subjek kolektif dan pandangan dunia dalam merekam peristiwa sejarah dalam mewujudkan kemerdekaan yang direpresentasikan dengan sangat kuat dan kental dengan makna historis di Timor Timur (sekarang Timor Leste) pada kurun waktu tertentu. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa cerpen Seno tidak sekadar merekam realitas sosial dalam kehidupan, tetapi juga membentuk kritik terhadap kekerasan simbolik dan proses alienasi dalam masyarakat modern.
INTRODUKSI PERILAKU HIDUP SEHAT DENGAN KONSUMSI TEMPE canasoyvalia DI DESA BUGEL KECAMATAN TOMO KABUPATEN SUMEDANG Ratnasari, Dewi; Gantrisia, Kamelia; Cansrina, Genita
Midang Vol 2 No 2 (2024): Midang, Juni 2024
Publisher : Unpad Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/midang.v2i2.51642

Abstract

Introduksi perilaku hidup sehat melalui budi daya kacang koro pedang dalam pembuatan tempe dilakukan di desa Bugel kecamatan Tomo kabupaten Sumedang. Kegiatan budi daya kacang koro pedang putih belum pernah diperkenalkan di desa ini. Kacang koro pedang putih adalah tanaman legum (kacang-kacangan) dengan berbagai keunggulan, antara lain ketahanan terhadap lingkungan, dapat ditanam di tanah-tanah marjinal, perawatan selama pertumbuhannya relatif mudah, sederhana, dan murah, tingkat produktivitas tinggi (1-5 ton/hektar), serta memiliki kandungan protein yang mendekati kandungan protein kacang kedelai, bahkan setelah difermentasi kandungan protein dalam kacang koro pedang putih menjadi lebih tinggi dari protein kacang kedelai. Introduksi budi daya kacang koro pedang putih ini dilakukan untuk meningkatkan perilaku hidup sehat masyarakat di desa Bugel kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang dengan mengkonsumsi tempe berbahan baku kacang koro pedang putih. Dalam kegiatan ini akan dilakukan beberapa tahapan metode. Tahap kesatu merupakan langkah persiapan serta observasi. Pada tahapan selanjutnya diberikan edukasi melalui metode ceramah dan diskusi. Pengevaluasian akan dilakukan pada tahapan terakhir. Sesi persiapan mencakup persiapan bahan baku dan peralatan pembuatan tempe kacang koro pedang putih. Pencapaian hasil kegiatan berupa pengayaan secara keilmuan, serta pengetahuan dalam teori maupun praktik kaum ibu rumah tangga dalam memperoleh sumber protein nabati untuk kesehatan keluarga secara mudah dan murah, serta dapat meningkatkan perekonomi keluarga.