Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Oxytocin Acupressure and Self-Talk in Increasing The Uterus Contraction Sihaloho, Cristinawati; Syukur, Nursari Abdul; Urnia, Ega Ersya; Sinaga, Elisa Goretti; Astuti, Dewi Rinda; Xaverius, Franciscus
Jurnal LINK Vol 20 No 1 (2024): MEI 2024
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/link.v20i1.11228

Abstract

Komplikasi maternal yang menjadi penyebab kematian ibu disebabkan oleh perdarahan dan angka kematian ibu di Kalimantan mencapai 92 kasus pada tahun 2020. Terapi akupresur mampu meningkatkan hormon oksitosin sehingga hormon kortisol (salah satu hormon stres) yang meningkat dan pemberian selftalk digunakan untuk mengonrtol mindset ibu sehingga hormon kortisol menurun membuat uterus berkontraksi. Tujuan dalam penelitian ini yaitu menganalisis pengaruh akupresur oksitosin dan selftalk dalam meningkatkan kontraksi uterus pada masa persalinan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini quasi eksperimen. Total sampel yang digunakan sebanyak 20 respondent ibu hamil trimester III yang telah diseleksi diberikan terapi akupresur dan self-talk sebanyak 2 kali sehari sebelum tidur dan bangun tidur. Terapi diberikan secara berkelanjutan hingga proses bersalin. Pada tahapan pertama, bidan berkolaborasi dengan keluarga untuk membantu ibu dalam meningkatkan hormon oksitosin menggunakan akupresur oksitosin dan selftalk, setelah itu bidan akan mengevaluasi kontraksi secara berkala pada periode bersalin. Hasil rerata kontraksi sebelum diberikan terapi rata-rata 2 kali dalam 10 menit namun setelah terapi, kontraksi meningkat dengan rata-rata kontraksi 3.25 kali dalam 10 menit. Data tersebut diolah menggunakan uji Wilcoxon dan menunjukkan hasil yang signifikan dengan p value 0.000. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terapi kombinasi akupresur oksitosin dan self-talk mampu meningkatkan kontraksi persalinan. 
The Impact of Early Marriage on Stunting in Kutai Kartanegara Urnia, Ega Ersya; Suryani, Heni; Cybronika, Lutfhi Metta Mediana; Putri , Rosalin Ariefah; Wahyuni, Rahmawati; Sari, Riana Trinovita; Sinaga, Elisa Goretti; Astuti, Dewi Rinda; Metasari, Andi Ria; Hidayati, Diah Ulfa
Sebatik Vol. 29 No. 2 (2025): December 2025
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v29i2.2603

Abstract

In 2020, the prevalence of stunting in the world was 149.2 million or 22% in children under 5 years of age. Meanwhile, based on the results of the 2022 Indonesian Nutrition Status Survey, the prevalence of stunting in Indonesia is 21.6%. This figure is still relatively high, when compared with the target of reducing stunting to 14% by 2024. For the East Kalimantan Province region, the prevalence of stunting according to the 2022 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI) is 23.9%, while Kutai Kartanegara Regency is The region with the highest prevalence of stunted toddlers is in East Kalimantan in 2022, reaching 27.1%. The aim of this research is to analyze the impact of early marriage on the incidence of stunting in toddlers. The type of research that will be carried out uses quantitative research. The research is Cross Sectional with an observation approach or data collection at once at a time (point time approach). This research will be carried out in June 2024 which will take place in the Teluk Dalam Health Center Working Area. The population in this study is stunted toddlers in the Teluk Dalam Health Center Working Area which amounted to 121 people with a sample size of 32 people. The primary data processing obtained includes data entry, data processing and statistical data analysis is carried out by computerization, namely by using the SPSS program to conduct data analysis with descriptive analysis and inferential analysis, namely the Normality Test, Homogeneity Test, Chi Square Test. The results of the calculation of parents' knowledge about early marriage found that 65.6% of respondents had good knowledge and 3.1% had poor knowledge about early marriage. Meanwhile, the results of the calculation of parents' knowledge about stunting found that 62.5% of respondents had moderate knowledge and 9.4% had good knowledge about stunting. The results of the study obtained a summary result of the impact of early marriage on the incidence of stunting with a p-value of 0.02 (< α = 0.05). There is a relationship between early marriage and the incidence of stunting in the working area of the Teluk Dalam Health Center, Kutai Kartanegara Regency.