Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Flourishing Journal

Faktor Risiko Terjadinya Perilaku Bunuh Diri pada Remaja: Sebuah Kajian Literatur Hardinata, Jesicha Ramadhani Puteri; Ulfa Masfufah
Flourishing Journal Vol. 3 No. 7 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i72023p286-292

Abstract

Adolescence is a transition period from childhood to adulthood. One aspect of development in adolescents is socio-emotional. If teenagers do not adapt to the changes that occur, they will have difficulty making choices, so when faced with problems, teenagers are unable to solve them. This article uses a research design that uses a literature review method from journal articles. The object of this research is the risk factors for suicidal behavior experienced by adolescents. The literature review was carried out from national journal articles. Searching for journal articles published in the 2018-2023 period using Google Scholar with several keywords, filtering was carried out using several criteria, namely articles showing a match with teenage suicidal behavior, the presence of suicidal behavior described in the article, and showing the underlying factors. Adolescents have suicidal behavior. Based on the results of literature studies, it is known that the risk factors for suicidal behavior in adolescents consist of three main factors: family, peers, and psychology. Low parental attention contributes to the risk of suicidal behavior in adolescents. Peer relationships and psychological factors such as mental disorders also play an important role. AbstrakRemaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanan menuju dewasa. Salah satu aspek perkembangan pada remaja, yaitu sosio-emosional. Jika remaja tidak berhasil beradaptasi dengan perubahan yang terjadi, remaja akan mengalami kesulitan untuk menentukan pilihan sehingga ketika menghadapi permasalahan remaja tidak mampu untuk menyelesaikannya. Artikel ini menggunakan desain penelitian yang digunakan adalah metode kajian literatur (literature review) dari artikel jurnal. Objek penelitian ini adalah faktor-faktor risiko perilaku bunuh diri yang dialami oleh remaja. Literature review dilakukan berasal dari artikel jurnal nasional. Pencarian artikel jurnal yang digunakan terbit pada rentan tahun 2018-2023 menggunakan Google Scholar dengan beberapa kata kunci, dilakukan penyaringan dengan beberapa kriteria, yakni artikel menunjukkan kecocokan dengan perilaku bunuh diri remaja, adanya perilaku bunuh diri yang dijelaskan pada artikel, dan menunjukkan faktor yang mendasari remaja memiliki perilaku bunuh diri. Berdasarkan hasil studi literatur, diketahui bahwa faktor risiko terjadinya perilaku bunuh diri pada remaja terdiri dari tiga faktor utama, yaitu keluarga, teman sebaya, dan psikologis. Perhatian orang tua yang rendah, berkontribusi terhadap risiko perilaku bunuh diri pada remaja. Hubungan teman sebaya dan faktor psikologis seperti gangguan mental juga memainkan peran penting.
Problematika Kesiapan Pernikahan Individu Dewasa Awal Shaqilla Aulia Hakim; Ulfa Masfufah
Flourishing Journal Vol. 3 No. 8 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i82023p345-351

Abstract

This article discusses the readiness of individuals in early adulthood to enter marriage. Marriage is a relationship forged by a man and a woman to balance life biologically, psychologically, and socially. Although an age above 19 years is considered ideal for marriage, the main factor in marriage is the agreement and readiness between both partners before marriage. The method used in this article is a literature review by analyzing the psychological impact of the lack of readiness for marriage in early adulthood. The results of this article show that marriage must be prepared physically, mentally, and financially, and factors such as self-disclosure, trust, equality, intimacy, good conflict management, and open communication also contribute to marital satisfaction. Emotional readiness and emotional intelligence are important in maintaining the continuity of marriage and household success. Marriage without careful consideration has the risk of causing depression in partners, especially women. Therefore, individuals must carefully consider wedding preparations to avoid long-term negative impacts and ensure the family remains harmonious. AbstrakArtikel ini membahas tentang kesiapan individu pada masa dewasa awal dalam memasuki pernikahan, sebagai salah satu tugas perkembangan pada masa ini. Meskipun usia di atas 19 tahun dianggap ideal untuk menikah, faktor utama dalam pernikahan adalah persetujuan dan kesiapan yang disepakati oleh kedua pasangan sebelum melangsungkan pernikahan. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah review literatur dengan menganalisis dampak psikologis yang muncul akibat kurangnya kesiapan dalam pernikahan pada masa dewasa awal. Hasil dari artikel ini dapat diketahui bahwa pernikahan harus dipersiapkan secara fisik, mental, dan finansial, serta faktor-faktor seperti self-disclosure, kepercayaan, kesetaraan, keintiman, pengelolaan konflik yang baik, dan komunikasi yang terbuka juga berkontribusi pada kepuasan pernikahan. Kesiapan emosional dan kecerdasan emosi memainkan peran penting dalam menjaga kelangsungan pernikahan dan keberhasilan rumah tangga. Pernikahan tanpa pertimbangan yang matang berisiko menyebabkan depresi pada pasangan, terutama perempuan. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memikirkan persiapan pernikahan dengan matang agar terhindar dari dampak negatif jangka panjang.
Krisis pada Quarter-life, Peran Dukungan Sosial dalam Membantu melewatinya Amelia Dwi Rahmah; Ulfa Masfufah
Flourishing Journal Vol. 3 No. 10 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i102023p450-458

Abstract

Humans face a variety of challenges and developmental journeys in every phase of life, including the emerging adulthood phase or at 18-25 years old, in which individuals build relationships, commit themselves to life's goals, and develop themselves. The shift from adolescence to adulthood frequently gives rise to doubt and unease, leading to a period of uncertainty known as a quarter-life crisis. This article aims to explore the role of social support from various sources affecting individuals who are experiencing quarter-life crises during the emerging adulthood phase. The research method used in the study of literature examines 10 journal articles that are relevant to the author's research. The data used in this research is secondary data, which is a type of data obtained indirectly. The data obtained was analyzed descriptively and thematically to describe findings in the literature and to identify key themes as well as relationships between information. The results show that the social support role of family, peers, and surroundings has a positive impact on reducing the rate of quarter-life crises in individuals between the ages of 18 and early 30 years. AbstrakManusia menghadapi berbagai tantangan dan perjalanan perkembangan dalam setiap fase kehidupan, termasuk dalam tahap emerging adulthood, dimana individu menjalin hubungan, berkomitmen pada tujuan hidup, dan mengembangkan diri. Peralihan dari remaja ke dewasa seringkali menimbulkan ketidakpastian dan kecemasan, memuncak dalam krisis pada quarter-life. Krisis ini dipicu oleh tuntutan dan tanggung jawab peralihan, serta tekanan sosial. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran dukungan sosial sehingga mampu memengaruhi individu yang sedang mengalami krisis pada quarter-life selama tahap emerging adulthood. Metode penelitian yang digunakan berupa studi literatur menelaah 10 artikel jurnal yang relevan dengan kata kunci. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, merupakan jenis data yang diperoleh secara tidak langsung. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan tematik untuk menggambarkan temuan dalam literatur dan mengidentifikasi tema-tema utama serta hubungan antar informasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat diamati bahwa adanya peran dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, dan lingkungan sekitar memiliki pengaruh positif dalam mengurangi tingkat krisis pada quarter-life pada individu yang berusia antara 18 hingga awal 30 tahun.
Glass Child dalam Kerangka Teori Locus of Control Moza A. Fadilah; Nauroh N.A.T. Elsifa; Ragil W. Hernawati; Ulfa Masfufah
Flourishing Journal Vol. 3 No. 11 (2023)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v3i112023p486-495

Abstract

Glass child, is a child who lives and grows up with siblings with disabilities or chronic illnesses. Glass child behavior is influenced by external and internal factors. External factors come from stimulus from outside that encourages the glass child to respond, while internal factors include the perceptions and emotional turmoil that the glass child is feeling. The aim of this research is to examine the glass child phenomenon through the locus of control theory by Rotter, by analyzing the dynamics of behavior in glass children. The method used in this research is a literature study. Through the analysis of eight journals, it can be seen that the locus of control in glass children tends to lead to an external locus of control. Namely, the glass child believes that as an individual has no control over her or his behavior, but is controlled by things outside himself such as other people, fate, in this case, such as parents, and other family members, who have high expectations, as well as environmental perceptions. Belief in fate, namely having a sibling with a disability. In addition, individuals with an extremely external locus of control tend to be more easily stressed and experience depression. AbstrakGlass child, anak yang tinggal dan tumbuh bersama dengan saudara dengan disabilitas maupun penyakit kronis. Perilaku glass child dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal yaitu ketika ada stimulus dari luar yang mendorong glass child untuk memberikan respon, sedangkan faktor internal mencakup persepsi dan gejolak emosi yang dirasakan glass child selama tumbuh dengan saudara disabilitas dan memiliki penyakit kronis. Tujuan dari penelitian ini adalah menelaah fenomena glass child melalui teori locus of control oleh Julian B. Rotter, dengan menganalisis dinamika perilaku pada glass child. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur. Melalui analisis delapan jurnal dan artikel dapat diketahui bahwa locus of control pada glass child cenderung mengarah ke locus of control eksternal. Yaitu, bahwa glass chlid percaya bahwa sebagai individu ia tidak memiliki kendali atas perilakunya, melainkan dikendalikan oleh hal hal diluar dirinya seperti orang lain, dan nasib. Orang lain, dalam hal ini seperti orang tua, dan anggota keluarga yang lain, yang berekspektasi yang tinggi, serta persepsi lingkungan terhadap saudara. Kepercayaan terhadap nasib yaitu nasib memiliki saudara kandung dengan disabilitas sebagai alasan yang akan menentukan diri dan perilakunya dimasa depan. Selain itu, individu dengan locus of control eksternal yang ekstrim cenderung lebih mudah stress.
Memahami Pengasuhan Digital: Faktor Pendukung, dan Tantangan bagi Orang Tua Ulfa Masfufah; Naila Naswa Salsabila
Flourishing Journal Vol. 4 No. 8 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i82024p339-346

Abstract

The use of digital technology, especially smartphones, continues to increase from year to year, from children to teenagers and adults. The use of digital technology for children must be accompanied by parents. Parental assistance in this case is called digital parenting. This article aims to provide an overview of digital parenting for children and adolescents through the integration of empirical findings from previous articles. The second objective is to find factors that play a role in parental digital parenting. The method used is a narrative literature review. The data used in this research were seven articles from 17 articles that were collected. The results show that digital parenting is influenced by various factors, namely: parental self-efficacy, technology access, internet access, demographic factors, socio-economic conditions and parenting style. The existence of programs such as eParenting also plays a role in digital parenting. Most parents understand both the risks and benefits of digital technology, and there are efforts by parents to reduce these negative impacts. AbstrakPenggunaan teknologi digital khususnya smartphone terus meningkat dari tahun ke tahun, dari mulai anak-anak hingga remaja dan juga dewasa. Penggunaan teknologi digital bagi anak haruslah dengan pendampingan orang tua. Pendampingan orang tua dalam hal ini disebut pengasuhan digital. Artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran pengasuhan digital pada anak-anak dan remaja melalui integrasi temuan empiris dari artikel terdahulu. Tujuan kedua yaitu mencari faktor yang berperan dalam pengasuhan digital orangtua. Metode yang digunakan adalah narrative literature review. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tujuh artikel dari 17 artikel yang berhasil dihimpun. Hasilnya menunjukkan bahwa pengasuhan digital orang tua dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: efikasi diri orang tua, akses teknologi, akses internet, faktor demografis, kondisi sosial ekonomi dan gaya pengasuhan. Adanya program seperti eParenting juga berperan dalam pengasuhan digital. Sebagian besar orang tua telah memahami baik resiko maupun manfaat teknologi digital, dan ada upaya-upaya dari orang tua untuk mengurangi dampak negatif tersebut.
From Empty Nest to New Beginnings: Kehidupan yang Memuaskan bagi Orang Tua Paruh Baya Aurilio, Fraditya Lexcy; Heryanti, Amanda Putri; Danish, Aqila Permata Amara; Alayubi, Muhammad Sifa; Masruroh, Noviana Dawil; Masfufah, Ulfa
Flourishing Journal Vol. 4 No. 12 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i122024p591-604

Abstract

This study aims to explore the experiences of middle-aged parents who face the empty nest phase when their children leave home. The method used in this research is through a qualitative approach with online interviews with participants who fit the research criteria, namely aged 40 to 65 years. The results showed that the empty nest phase is often accompanied by feelings of loss and loneliness but also provides opportunities to achieve new life satisfaction. This study identifies the challenges faced by parents in adjusting to changing roles and responsibilities, as well as the psychological impacts that arise, such as empty nest syndrome. The findings are expected to provide insights and solutions for middle-aged parents in dealing with this life transition, so that they can achieve a more fulfilling life after being left behind by their children. As such, this study contributes to the understanding of the psychological impact of the empty nest phase, as well as the importance of providing social support, positive activities, and a good state of spirituality in overcoming these challenges. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman orang tua paruh baya yang menghadapi fase empty nest ketika anak-anak mereka meninggalkan rumah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara dalam jaringan terhadap partisipan yang sesuai dengan kriteria penelitian yakni berusia 40 hingga 65 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase empty nest seringkali disertai dengan perasaan kehilangan dan kesepian, namun juga memberikan peluang untuk mencapai kepuasan hidup yang baru. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi orang tua dalam menyesuaikan diri dengan perubahan peran dan tanggung jawab, serta dampak psikologis yang muncul, seperti sindrom kekosongan sarang atau disebut dengan empty nest syndrome. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan solusi bagi orang tua paruh baya dalam menghadapi transisi kehidupan ini, sehingga mereka dapat mencapai kehidupan yang lebih memuaskan setelah ditinggal oleh anak-anak mereka. Penelitian ini juga menemukan pemahaman tentang pentingnya memberikan dukungan sosial, dan mengikuti kegiatan yang positif, serta kondisi spiritualitas yang baik dalam mengatasi tantangan pada fase tersebut.
Hardiness pada Ibu dengan Anak Autism Spectrum Disorder Zakiyah, Abidatuz; Masfufah, Ulfa
Flourishing Journal Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i42025p235-248

Abstract

Parenting a child with Autism Spectrum Disorder (ASD) poses significant emotional and practical challenges for mothers as primary caregivers. This study aims to describe hardiness in mothers who have children with ASD and explain the contribution of hardiness to coping strategies used in facing parenting challenges. The study used a phenomenological approach with three mothers as subjects, selected through a purposive sampling technique. Data were obtained through in-depth interviews and analyzed using the Creswell technique. The results showed that the three aspects of hardiness—commitment, control, and challenge—play an important role in shaping mothers' coping strategies. Mothers with high hardiness tend to use a combination of problem-focused coping and emotion-focused coping strategies adaptively. Hardiness also enables mothers to manage their emotions, remain empowered in decision-making, and view challenges as opportunities for growth. The coping strategies formed are not only situational, but also develop along with the mother's experience in parenting her child. Thus, hardiness plays a role as a psychological foundation that supports mothers' resilience in the long term. The practical implications can be used as a basis for developing psychological assistance programs based on strengthening hardiness so that mothers can undergo parenting in a more resilient and meaningful way. AbstrakMengasuh anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) menimbulkan tantangan emosional dan praktis yang signifikan bagi ibu sebagai pengasuh utama. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hardiness pada ibu yang memiliki anak dengan ASD serta menjelaskan kontribusi hardiness terhadap strategi coping yang digunakan dalam menghadapi tantangan pengasuhan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan tiga orang ibu sebagai subjek, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik Creswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga aspek hardiness—komitmen, kontrol, dan tantangan—berperan penting dalam membentuk strategi coping ibu. Ibu dengan hardiness tinggi cenderung menggunakan kombinasi strategi problem-focused coping dan emotion-focused coping secara adaptif. Hardiness juga memungkinkan ibu untuk mengelola emosi, tetap berdaya dalam mengambil keputusan, serta melihat tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh. Strategi coping yang terbentuk tidak hanya bersifat situasional, tetapi berkembang seiring pengalaman ibu dalam mengasuh anaknya. Dengan demikian, hardiness berperan sebagai fondasi psikologis yang mendukung ketahanan ibu dalam jangka panjang. Implikasi praktisnya dapat dijadikan dasar dalam pengembangan program pendampingan psikologis berbasis penguatan hardiness agar ibu dapat menjalani pengasuhan secara lebih resilien dan bermakna.