Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

From Empty Nest to New Beginnings: Kehidupan yang Memuaskan bagi Orang Tua Paruh Baya Aurilio, Fraditya Lexcy; Heryanti, Amanda Putri; Danish, Aqila Permata Amara; Alayubi, Muhammad Sifa; Masruroh, Noviana Dawil; Masfufah, Ulfa
Flourishing Journal Vol. 4 No. 12 (2024)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v4i122024p591-604

Abstract

This study aims to explore the experiences of middle-aged parents who face the empty nest phase when their children leave home. The method used in this research is through a qualitative approach with online interviews with participants who fit the research criteria, namely aged 40 to 65 years. The results showed that the empty nest phase is often accompanied by feelings of loss and loneliness but also provides opportunities to achieve new life satisfaction. This study identifies the challenges faced by parents in adjusting to changing roles and responsibilities, as well as the psychological impacts that arise, such as empty nest syndrome. The findings are expected to provide insights and solutions for middle-aged parents in dealing with this life transition, so that they can achieve a more fulfilling life after being left behind by their children. As such, this study contributes to the understanding of the psychological impact of the empty nest phase, as well as the importance of providing social support, positive activities, and a good state of spirituality in overcoming these challenges. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman orang tua paruh baya yang menghadapi fase empty nest ketika anak-anak mereka meninggalkan rumah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan wawancara dalam jaringan terhadap partisipan yang sesuai dengan kriteria penelitian yakni berusia 40 hingga 65 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fase empty nest seringkali disertai dengan perasaan kehilangan dan kesepian, namun juga memberikan peluang untuk mencapai kepuasan hidup yang baru. Penelitian ini mengidentifikasi tantangan yang dihadapi orang tua dalam menyesuaikan diri dengan perubahan peran dan tanggung jawab, serta dampak psikologis yang muncul, seperti sindrom kekosongan sarang atau disebut dengan empty nest syndrome. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan solusi bagi orang tua paruh baya dalam menghadapi transisi kehidupan ini, sehingga mereka dapat mencapai kehidupan yang lebih memuaskan setelah ditinggal oleh anak-anak mereka. Penelitian ini juga menemukan pemahaman tentang pentingnya memberikan dukungan sosial, dan mengikuti kegiatan yang positif, serta kondisi spiritualitas yang baik dalam mengatasi tantangan pada fase tersebut.
Peran Dukungan Sosial dalam Memediasi Cognitive Reappraisal dan Resiliensi pada Dewasa Awal Putri, Raissa Dwifandra; Masfufah, Ulfa; Farida, Ika Andrini
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 10, No 1 (2025): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v10i1.14436

Abstract

Early adulthood is considered one of life's most critical stages. This is because, during this stage, individuals will face a variety of life transitions, making the ability to recover and adapt to difficult situations essential. This term is known as resilience. This study explored the role of social support as a mediator in the relationship between cognitive reappraisal and resilience in young adults. A quantitative method with mediation analysis was used. The study involved 241 participants in early adulthood (18-30 years old) (M = 22.06). The results showed a positive relationship between the use of cognitive reappraisal and resilience (r = 0.802; p .001). Furthermore, social support can mediate the relationship between the use of cognitive reappraisal and resilience (β = 0.598, p .001). It can be concluded that strategy to increase resilience in young adults can be strengthened through the optimization of cognitive reappraisal and social support. Dewasa awal merupakan salah satu tahapan yang dinilai cukup kritis. Hal ini dikarenakan pada tahap ini, individu akan menghadapi transisi kehidupan yang cukup beragam, sehingga kemampuan individu untuk bangkit dan adaptif dari keadaan sulit diperlukan pada tahapan ini. Istilah ini dikenal dengan nama resiliensi. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi peran dukungan sosial sebagai mediator dalam hubungan cognitive reappraisal dengan resiliensi pada individu dewasa awal. Metode yang digunakan ialah metode kuantitatif dengan analisis mediasi. Penelitian ini melibatkan partisipan yang berada pada tahap dewasa awal (18 – 30 tahun) sejumlah 241 orang (M = 22,06). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara penggunaan cognitive reappraisal dan resiliensi (r = 0,802; p .001). Selanjutnya, dukungan sosial dapat berperan dalam memediasi hubungan antara penggunaan cognitive reappraisal dan resiliensi (β = 0,598, p .001). Dapat disimpulkan bahwa peningkatan resiliensi pada individu dewasa awal dapat diperkuat melalui optimalisasi penggunaan cognitive reappraisal dan dukungan sosial.
Hardiness pada Ibu dengan Anak Autism Spectrum Disorder Zakiyah, Abidatuz; Masfufah, Ulfa
Flourishing Journal Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v5i42025p235-248

Abstract

Parenting a child with Autism Spectrum Disorder (ASD) poses significant emotional and practical challenges for mothers as primary caregivers. This study aims to describe hardiness in mothers who have children with ASD and explain the contribution of hardiness to coping strategies used in facing parenting challenges. The study used a phenomenological approach with three mothers as subjects, selected through a purposive sampling technique. Data were obtained through in-depth interviews and analyzed using the Creswell technique. The results showed that the three aspects of hardiness—commitment, control, and challenge—play an important role in shaping mothers' coping strategies. Mothers with high hardiness tend to use a combination of problem-focused coping and emotion-focused coping strategies adaptively. Hardiness also enables mothers to manage their emotions, remain empowered in decision-making, and view challenges as opportunities for growth. The coping strategies formed are not only situational, but also develop along with the mother's experience in parenting her child. Thus, hardiness plays a role as a psychological foundation that supports mothers' resilience in the long term. The practical implications can be used as a basis for developing psychological assistance programs based on strengthening hardiness so that mothers can undergo parenting in a more resilient and meaningful way. AbstrakMengasuh anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) menimbulkan tantangan emosional dan praktis yang signifikan bagi ibu sebagai pengasuh utama. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan hardiness pada ibu yang memiliki anak dengan ASD serta menjelaskan kontribusi hardiness terhadap strategi coping yang digunakan dalam menghadapi tantangan pengasuhan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan tiga orang ibu sebagai subjek, yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik Creswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga aspek hardiness—komitmen, kontrol, dan tantangan—berperan penting dalam membentuk strategi coping ibu. Ibu dengan hardiness tinggi cenderung menggunakan kombinasi strategi problem-focused coping dan emotion-focused coping secara adaptif. Hardiness juga memungkinkan ibu untuk mengelola emosi, tetap berdaya dalam mengambil keputusan, serta melihat tantangan sebagai peluang untuk bertumbuh. Strategi coping yang terbentuk tidak hanya bersifat situasional, tetapi berkembang seiring pengalaman ibu dalam mengasuh anaknya. Dengan demikian, hardiness berperan sebagai fondasi psikologis yang mendukung ketahanan ibu dalam jangka panjang. Implikasi praktisnya dapat dijadikan dasar dalam pengembangan program pendampingan psikologis berbasis penguatan hardiness agar ibu dapat menjalani pengasuhan secara lebih resilien dan bermakna.
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ARISAN BERAS: STUDI KASUS DI DESA JAYI KECAMATAN SUKAHAJI KABUPATEN MAJALENGKA Mualim, Mualim; Hidayat, Yayat; Masfufah, Ulfah
AL-MASHALIH (Journal of Islamic Law) Vol. 2 No. 1 (2021): AL-MASHALIH (Journal of Islamic Law)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research began with the implementation of the rice gathering, which is an arisan activity that is carried out in Jayi Village. This gathering is carried out 3 times a year and is carried out after the harvest takes place. In this arisan in terms of payment, the fee is determined which will get rice where the rice received will vary due to the uncertain price of rice. To answer this community phenomenon, the researchers formulated the problems that will be studied in this study, namely: 1) How is the implementation of the rice social gathering in Jayi Village, Sukahaji District, Majalengka Regency; 2) how is Islamic law reviewing the implementation of the rice social gathering in Jayi Village, Sukahaji District, District Majalengka. The research method used by the author is qualitative research, which merely describes the situation/events in the field (field research) in the form of observations, interviews and also documentation. The data that the writer obtained was then reduced, presented and concluded using descriptive analysis techniques. The results of this study concluded that the rice arisan in Jayi Village, Sukahaji District, Majalengka Regency, was in accordance with Islamic law and some were not in accordance with Islamic law. The terms of the debt and receivables (qarḍ) are in accordance with the provisions. Then in the payment of this rice arisan, the muamalah principles have been applied, because the arisan participants are at risk with each other with the determination of the arisan payment. However, in obtaining the arisan rice obtained by the arisan participants are different, so that the practice of this rice arisan contains elements of gharar and lack of justice.
PELATIHAN TIME MANAGEMENT ALUMNI PSIKOLOGI: MENJADI PRIBADI YANG PRODUKTIF Amin Barokah Asfari, Nur; Dwifandra Putri, Raissa; Amalia Vardia, Melly; Masfufah, Ulfa; Asyhuri, Hasan; Lintang Eldzani, Alfin
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 12 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i12.4616-4621

Abstract

Manajemen waktu merupakan kemampuan dalam merencanakan dan mengelola penggunaan waktu agar efisien. Bagi alumni S1 Psikologi yang sedang bekerja, kemampuan ini dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas kerja dan menghindari situasi yang terburu-buru sehingga dapat mencegah stres kerja karena menumpuknya pekerjaan. Bagi alumni S1 Psikologi yang melanjutkan studi ke tingkat magister atau profesi, manajemen waktu diperlukan dalam memanfaatkan waktu dengan efektif dan efisien dalam mengerjakan tugas akademik. Pelatihan manajemen waktu merupakan bagian dari kegiatan Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (Fpsi UM) bekerja sama dengan Ikatan Alumni (IKA) Fpsi UM. Pelatihan time management dilaksanakan pada Sabtu, 29 Juli 2023 pukul 07.30 – 10.30 WIB secara daring melalui Zoom meeting. Peserta pelatihan terdiri dari 26 alumni yang lulus pada rentang waktu 2021-2023. Sebanyak 18 peserta mengisi kuesioner sebelum dan setelah pelatihan secara lengkap. Hasil jawaban peserta dibandingkan untuk mengetahui pengaruh pelatihan terhadap pemahaman manajemen waktu. Berdasarkan uji Wilcoxson Signed Rank Test diketahui pelatihan memengaruhi manajemen waktu peserta (p0,001).
Perkembangan Dewasa Madya Sebuah Studi Kasus Ferdyansyah, Muhammad; Masfufah, Ulfa
Flourishing Journal Vol. 2 No. 9 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i92022p598-604

Abstract

Abstract: Middle adulthood or what is also called middle age in chronological terminology, which generally ranges from 40-60 years of age. The purpose of this study was to determine the development of the author's parents in the middle adulthood phase from the physical, cognitive, socio-emotional aspects, the concept of wisdom as well as self-reflection for researchers and readers. The method used in this study is observation and interviews. This research is a qualitative descriptive research. After conducting the research, data were obtained in the form of changes in physical, cognitive, socio-emotional, and the concept of wisdom in the middle adulthood phase. There are many factors that affect the growth and development of a person. Internal and external factors in a person's development are interrelated and cannot be separated Abstrak: Masa dewasa madya atau yang disebut juga usia setengah baya dalam usia kronologis yaitu antara usia 40 - 60 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perkembangan orangtua pada fase dewasa madya dari aspek fisik, kognitif, sosioemosi, dan konsep kearifan menurut subjek. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian, diperoleh data berupa terjadi perubahan fisik, kognitif, sosioemosional, dan konsep kearifan pada fase dewasa madya. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang seseorang. Faktor internal dan eksternal dalam perkembangan seseorang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Kematangan Emosi Remaja dan Sistem Mikro yang Berkontribusi Masfufah, Ulfa
Flourishing Journal Vol. 2 No. 10 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i102022p634-639

Abstract

Emotional maturity is one of the important factors that influence the success of a person's adjustment. Knowing the factors that influence emotional maturity is important. The purpose of this research is to look at the factors that contribute to an individual's emotional maturity. The subjects in this study were adolescents, from early adolescents to late adolescents with research locations in Indonesia. The research method used in this research is literature review. Based on the data analyzed, it was found that in general the factors that influence adolescent emotional maturity can be categorized into two, namely individual internal factors and external factors. These internal factors include spirituality and attachment to safety, while external factors are dominated by parenting styles. Other external factors are still found as independent variables. Abstrak Kematangan emosi merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan penyesuaian diri seseorang. Sehingga mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kematangan emosi juga menjadi penting adanya. Sehingga hal tersebut yang menjadi tujuan dari penelitian ini yaitu untuk melihat faktor-faktor yang berkontribusi pada kematangan emosi individu. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah remaja, dari remaja awal hingga remaja akhir dengan lokasi penelitian di seluruh daerah di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan terdapat tujuh artikel. Data yang dianalisis dengan sistem perbandingan dengan topik serupa didapatkan hasil bahwa secara umum faktor yang memengaruhi kematangan emosi remaja bisa dikategorikan menjadi dua yaitu faktor internal individu dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut diantaranya adalah spiritualiatas dan kelekatan aman, sedangkan faktor eksternal didominasi dengan pola asuh orang tua. Faktor eksternal yang lain masih ditemukan sebagai variabel bebas.
Pemberdayaan Pengurus Pondok Pesantren Al-Mustaqim dalam Pencegahan Kekerasan dan Perundungan melalui Focus Group Discussion Alifia Candra Puriastuti; Ulfa Masfufah; Dessy Amelia; Rizqie Putri Novembriani; Dewi Sarirotul Afifa; Maya Anjar Enjelina Tilawah; Elvina Friska Rindani; Adeilia Nanda Fara Salsabela; Nadine Aulia Rahma
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 10 No 2 (2026): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v10i2.28511

Abstract

Latar Belakang: Perundungan di pesantren merupakan permasalahan serius yang dapat mengganggu kesehatan mental, proses belajar, serta hubungan sosial santri. Fenomena ini kerap muncul karena faktor senioritas, perbedaan fisik, maupun perilaku individu yang dianggap lemah, sehingga memunculkan dominasi yang berujung pada praktik kekerasan verbal, fisik, maupun sosial. Tujuan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk perundungan yang terjadi di Pondok Pesantren Al-Mustaqim serta merumuskan strategi pencegahan yang tepat dalam konteks pendidikan pesantren. Metode: Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research dengan pendekatan Focus Group Discussion bersama dua puluh orang pengurus dan pengajar pondok pesantren. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa perundungan verbal merupakan bentuk yang paling dominan, berupa ejekan, pemberian julukan merendahkan, dan pemanggilan nama yang tidak pantas, sementara perundungan fisik, psikologis, dan sosial juga ditemukan meskipun dengan frekuensi lebih rendah. Pelaku perundungan umumnya adalah santri senior atau sebaya dengan korban, sedangkan pemicunya antara lain rasa superioritas, perbedaan fisik, dan kurangnya pengawasan asrama. Kesimpulan: dari kegiatan ini adalah perlunya intervensi yang bersifat edukatif, suportif, dan preventif dengan menekankan peran guru sebagai teladan akhlak, penguatan komunikasi antarpihak, serta program rutin yang membangun budaya antiperundungan di lingkungan pesantren.