Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Bibliometric Analysis of Behavioral Finance KMT Lasmiatun; Rival Pahrijal; Ilham Akbar Bunyamin
West Science Social and Humanities Studies Vol. 4 No. 05 (2026): West Science Social and Humanities Studies
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/wsshs.v4i05.2905

Abstract

Behavioral finance has emerged as a prominent research field that challenges the traditional assumption of investor rationality by incorporating psychological, cognitive, and emotional factors into financial decision-making. This study aims to map the intellectual structure, research trends, and collaborative patterns within behavioral finance literature through a bibliometric analysis. Data were collected from the Scopus database and analyzed using VOSviewer to examine keyword co-occurrence, overlay visualization, density visualization, co-authorship networks, institutional collaboration, country collaboration, and citation performance. The results reveal that behavioral finance, finance, and decision making constitute the core themes of the field, with strong associations to investor sentiment, behavioral biases, financial literacy, risk perception, and investment behavior. Overlay visualization indicates a recent shift toward technology-oriented topics such as artificial intelligence, machine learning, blockchain, and data mining, reflecting the increasing integration of digital technologies into financial research. The co-authorship and collaboration analyses demonstrate that research activities are concentrated among a limited number of influential authors, institutions, and countries, particularly the United States, China, the United Kingdom, India, and Australia. Citation analysis highlights the enduring influence of seminal works on investor behavior, financial literacy, market efficiency, and social media sentiment. The findings suggest that behavioral finance has evolved into a multidisciplinary and globally connected research domain with expanding opportunities in fintech, digital finance, sustainable investing, and artificial intelligence applications. This study contributes to a comprehensive understanding of the development and future directions of behavioral finance research.
Model Multicultural Education, Social Interaction, dan Cultural Awareness dalam Membangun Toleransi Siswa SMA di Jawa Barat Muhamad Ammar Muhtadi; Muhammad Rusdi; Rival Pahrijal
Jurnal Pendidikan West Science Vol 4 No 02 (2026): Jurnal Pendidikan West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpdws.v4i02.3468

Abstract

Penelitian ini menyelidiki peran pendidikan multikultural, interaksi sosial, dan kesadaran budaya dalam menumbuhkan toleransi di kalangan siswa SMA di Jawa Barat. Meningkatnya kompleksitas keragaman sosial dan interaksi antarbudaya di kalangan remaja menyoroti pentingnya mengidentifikasi faktor pendidikan dan sosial yang mendukung pengembangan sikap toleran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei cross-sectional. Data dikumpulkan dari 250 siswa SMA melalui kuesioner terstruktur yang diukur menggunakan skala Likert lima poin. Variabel yang diteliti meliputi pendidikan multikultural, interaksi sosial, kesadaran budaya, dan toleransi. Analisis data dilakukan menggunakan Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) versi 25, termasuk statistik deskriptif, pengujian validitas dan reliabilitas, pengujian asumsi klasik, regresi linier berganda, koefisien determinasi, dan pengujian hipotesis menggunakan uji-t dan uji-F. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural, interaksi sosial, dan kesadaran budaya masing-masing memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap toleransi di kalangan siswa. Pendidikan multikultural secara signifikan memengaruhi toleransi, menunjukkan bahwa pengalaman pendidikan inklusif berkontribusi pada sikap yang lebih menerima terhadap keragaman. Interaksi sosial juga menunjukkan efek positif, menunjukkan bahwa keterlibatan konstruktif di antara siswa memperkuat saling pengertian dan mengurangi hambatan sosial. Kesadaran budaya muncul sebagai prediktor terkuat, menekankan pentingnya mengenali dan menghargai keragaman budaya dalam membentuk perilaku toleran. Secara bersamaan, ketiga variabel tersebut secara signifikan memengaruhi toleransi dan menjelaskan 46,8% varians dalam tingkat toleransi siswa (R² = 0,468). Temuan ini menunjukkan bahwa sekolah harus memperkuat praktik pembelajaran multikultural, memfasilitasi interaksi sosial yang inklusif, dan mempromosikan kesadaran budaya sebagai strategi pendidikan terintegrasi untuk mengembangkan toleransi dan mendukung kohesi sosial di kalangan remaja.