Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Adherence and quality of life among diabetic patients with hypertension Akrom Akrom; Wima Anggitasari
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 8, No 1: March 2019
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.522 KB) | DOI: 10.11591/ijphs.v8i1.15240

Abstract

The level of treatment adherence and quality of life are not known in diabetic patients with hypertension. The study aim was to evaluate the level of adherence and quality of life of diabetic patients with hypertension in Bantul Public Hospital (BPH), Bantul, Indonesia.This study used a Cross-sectional method by conducting a survey through a direct interview with the patient. Participants of this study were 143 diabetic patients with hypertension in the internal disease clinic of BPH. Modified Morisky Medication Adherence Scale was used to measure the level of treatment adherence and SF36 questionnaires were used to measure the quality of life. Descriptive and analytical statistical was performed on data from the adherence assessment, quality of life, demographic characteristic and the clinical condition of the research participant. Bivariate analysis with Chi-square was performed to assess the relationship between demographic and clinical factors to the high level of adherence. The majority of respondents had moderate and low levels of adherence. There were 34 patients (23.78%) with a high level of adherence, 56 patients (39.16%) with moderate level of adherence, and 53 patients (37.06%) with low level of adherence. Respondents also had low quality of life, in which the average score of quality of life was 61.96±12.48. Male and college-educated patients have higher adherence (OR>1, p<0.05) compared to other groups. Medication adherence and quality of life of diabetic patients with hypertension in BPH were relatively low. Male and high college-educated patients were associated with high levels of adherence
The Examination activity of salam leaf ethanolic ekstract (Syzygium polyanthum)[Wight] in mice Shinta Mayasari; Wima Anggitasari; Nafisah Isnawati
Health Media Vol 1 No 2 (2020)
Publisher : UrbanGreen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55756/hm.v1i2.35

Abstract

The examination effect of salam leaf ethanolic extract where the purposed of this study was to determine the effect and concentration of salam leaves as antidiarrheals. Ethanol extract dosages of salam leaf given orally (mg/kgbw) was 15;20;25;30;and 35, carried out abservations on mice starting diarrhea, weight of faeces, frequency diarrhea, and the duration of diarrhea for 5 hours. Loperamide HCl given dose of 1 mg/kg is used comparison with negative control CMC-Na, and comparison of Loperamide HCl was the 56th minute, 57,3; 57,9; 59; 58; 64,3 ; 54,3. Stool weight obtained an average of 0,34; 0,35; 0,32; 0,25; 0,27; 0,53; 0,21. The frequency of diarrhea was 8,8; 8,6; 8,9; 9,3; 8,6; 11,2; 8,5. Onset of diarrheal was average of minutes was 206,8; 207,6 ; 209,2; 209; 206,2; 230 and 88. From the research results obtained ethanol extract salam leaves given antidiarrheal effects with an optimum dose of 35mg/kgbw.
PENGENALAN PRODUK FERMENTASI DAN PELATIHAN PEMBUATAN YOGHURT DI SMKS SHOFA MARWAH JEMBER Aliyah Purwanti; Dyan Wigati; Lindawati Setyaningrum; Wima Anggitasari
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2 No. 2: Juli 2022
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53625/jabdi.v2i2.2460

Abstract

Di masa pandemi COVID-19, kestabilan kesehatan harus diperhatikan. Bahan makanan yang dikonsumsi mempengaruhi kesehatan organ pencernaan, seperti lambung dan usus. Penyakit maag adalah penyakit yang mengganggu organ pencernaan dan sering ditemui baik dikalangan remaja maupun dewasa. Susu merupakan produk pangan yang baik untuk kebutuhan asupan gizi tetapi susu mengandung asam folat yang menyebabkan asam lambung. Dengan bioteknologi konvensional, susu dapat difermentasikan dengan bakteri baik sehingga menghasilkan yoghurt, yang memiliki banyak manfaat. Yoghurt dapat menjaga keasaman lambung sekaligus menekan pertumbuhan bakteri patogen di usus. Kandungan protein yoghurt lebih tinggi daripada susu. Yoghurt dibuat dengan penambahan starter seperti, yaitu yakult dan biokul pada susu lalu diinkubasi. Peralatan yang digunakan sederhana dan dengan berbagai manfaat yang dimiliki membuat pengusul mengadakan suatu kegiatan yang di dalamnya peserta dikenalkan tentang konsep, manfaat dan berbagai produk fermentasi pangan, salah satunya adalah yoghurt. Setelah itu, dilanjutkan dengan praktik membuat yoghurt. Kegiatan diselenggarakan dan diikuti oleh siswa di SMKS Shofa Marwah Jember selama dua hari. Kegiatan berjalan lancar dan mendapat respon positif dari peserta dan pihak SMKS Shofa Marwah Jember.
Edukasi Mengenal Obat Sejak Usia Dini Pada Pesentren di Kelurahan Gebang-Jember Shinta Mayasari; Wima Anggitasari; Iski Weni Pebriarti
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.574 KB) | DOI: 10.31949/jb.v4i1.4340

Abstract

Obat merupakan bahan kimia yang dapat digunakan untuk menyembuhkan keluhan atau penyakit dengan dosis tertentu. Obat bisa dikatakan sebagai racun jika kita tidak menggunakan obat secara bijak. Apoteker merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang ahli dalam bidang obat. Apoteker bertugas memberikan informasi obat kepada masyarakat yang menerima obat ketika berobat secara swamedikasi atau dengan penggunaan resep. Obat terdiri dari beberapa bentuk sediaan obat seperti tablet, kapsul, puyer, sediaan injeksi dan beberapa bentuk sediaan lainnya. Obat sering dijumpai oleh anak-anak sejak usia dini saat berada di rumah, namun ketika orang tua tidak menjelaskan arti dari obat akan berdampak pada sesuatu yang tidak dikehendaki. Tujuan pegabdian masyarakat ini adalah memberikan edukasi kepada kalangan anak sekolah untuk meningkatkan pengetahuan akan obat. Metode pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah dengan ceramah dan diskusi dan tanya jawab, diawali dengan pre-test dan diakhiri dengan post-test yang dilakukan di mushola Al-Hikmah kelurahan Gebang-Jember. Hasil pengabdian masyarakat ini adalah meningkatnya pengetahuan anak sekolah akan obat dari apoteker yang memberikan edukasi tentang jenis sediaan obat, penyimpanan obat, cara penggunaan obat, dan khasiat obat. Apoteker adalah profesi tenaga kesehatan yang memberikan informasi obat untuk meningkatkan pengetahuan obat agar bijak dalam penggunaannya.
Antioxidant Activity of Red Dragon Fruit Teabag (Hylocereus polyrhizus) Peels with the Addition of Ginger (Zingiber officinale var. amarum) and Cinnamon (Cinnamomum zeylanicum, BI) Wima Anggitasari; Lindawati Setyaningrum; Muhammad Rofik Usman; Dyan Wigati
EKSAKTA: Berkala Ilmiah Bidang MIPA Vol. 24 No. 02 (2023): Eksakta : Berkala Ilmiah Bidang MIPA (E-ISSN : 2549-7464)
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences (FMIPA), Universitas Negeri Padang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/eksakta/vol24-iss02/377

Abstract

Free radicals have very unstable and reactive molecules. Excessive free radicals can trigger oxidative stress and cause various diseases. The peel of red dragon fruit contains chemical compounds that shows potential as an antioxidants. This study aims to optimize the benefits of red dragon fruit peels as tea bags because its convenient and simple to use. Design of this study was a randomized block design (RBD) which consisted of two factors, the drying temperature of the red dragon fruit skin (T) and the teabag formulation (F). Ginger and cinnamon are added as flavoring ingredients to the formula. The result showed that the drying temperature of the peel red dragon fruit affects the antioxidant activity of the teabag, where T1 has the highest antioxidant activity. The formulation of teabags also affects the antioxidant activity of the teabag, where F1 has the highest antioxidant activity. T1F1 had the highest antioxidant activity, and the interaction between the two (T and F) had a significant effect on antioxidant activity (p < 0.05).
EDUKASI PENGGUNAAN OBAT UNTUK KASUS SWAMEDIKASI Wima Anggitasari; Iski Weni Pebriarti; Lindawati Setyaningrum; Aninda Fellysia Wibowo; Falakh Noferyana Hartania Wati
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i4.6680

Abstract

Swamedikasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk membantu mencegah dan mengobati bgejala maupun penyakit ringan dimana tidak memerlukan konsultasi medis dan dapat meminimalkan biaya. Dalam proses swamedikasi, masyarakat tidak bertemu langsung dengan tenaga medis. Masyarakat melakukan diagnosis terhadap penyakitnya sendiri dan memilih obat yang tepat untuk penyakit yang diderita oleh pasien tersebut. Pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam dimana para santri akan tinggal dan belajar bersama. Kegiatan ini diharapkan mampu mengedukasi santri di Pondok Pesantren Shofa Marwa untuk dapat melakukan proses swamedikasi dengan benar. Kegiatan ini dilakukan di Pondok Pesantren Shofa Marwa dimana dilakukan edukasi pada 20 pengurus pondok. Sebelum kegiatan dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan survey untuk mengetahui penyakit yang diderita oleh santri selama satu bulan terakhir. Pada pertemuan selanjutnya diberikan edukasi terkait swamedikasi pada beberapa kasus, seperti flu, batuk, demam, pusing/sakit kepala, maag/dyspepsia, nyeri dan diare. Sebelum proses edukasi dilakukan pre test terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat pengetahuan terkait swamedikasi sebelum pemberian edukasi. Setelah proses edukasi dilakukan post test untuk mengetahui tingkat pengetahuan terkait swamedikasi sesudah pemberian edukasi. Dari hasil evaluasi diketahui bahwa adanya edukasi dapat meningkatkan tingkat pengetahuan terkait swamedikasi.  
Uji Efek Analgetik Minyak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum) Terhadap Mencit Jantan Galur Balb/C Wima Anggitasari
Jurnal Kesehatan dr. Soebandi Vol 6 No 2 (2018): Jurnal Kesehatan dr. Soebandi Vol. 6, No. 2
Publisher : LPPM Universitas dr. Soebandi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36858/jkds.v6i2.120

Abstract

Clove leaf (Syzygium aromaticum) is one of plant that is widely used as an alternative medicine community, one of the benefit of clove leaf is analgesic. Clove leaf oil is the part of clove leaf. The aim of the research to proved clove leaf oil has the analgesic activity. The data were analyzed with Kruskal-Wallis test, continuated by Mean-Whitney test with trust level 95%. This research was conducted with writhing reflex method with animal test of male mice Balb/C by 20 mice divided into 4 group.Group I as a control was treated with CMC Na 0,5% suspension, group II and III were treated with doses of 100 mg/kgBB and 200 mg/kgBB clove leaf oil, group IV was treated with aspirin. Number of streches (writhing reflex) was observed. The data were analyzed with KruskalWallis test, continuated by Mean-Whitney test with trust level 95%. This research of number of streches (writhing reflex) result significant difference between group I with group II, III and IV (p<0,005). Group II compare with III not significant difference (p>0,05). Group II compare with IV and group II compare with IV showed significant difference (p<0,05). The conclution of this research showed that clove leaf oil doses 100 mg/kgBB and 200 mg/kgBB has snalgesic activity
Immunomodulator Effect of Cnidoscolus aconitifolius Leaves Extract on CD4+ and CD8+ Expression in Salmonella typhimurium infected mice Sholihatil Hidayati; Dhina Ayu Susanti; Rian Anggia Destiawan; Ahdiah Imroatul Muflihah; Rizka Handayani; Wima Anggitasari
Pharmaciana Vol 14, No 1 (2024): Pharmaciana
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/pharmaciana.v14i1.27050

Abstract

Typhoid fever is a common health problem in the community caused by Salmonella bacteria. The incidence rate of this infection will increase if a person's immune system is weakened. Plant extracts are generally considered to be potential immunomodulatory agents developed, which have smaller side effects. Research shows that Cnidoscolus aconitifolius leaves have medicinal properties including as hepatoprotective, antidiabetic, and anticardiovascular. The results of the antioxidant activity test show the results that Cnidoscolus aconitifolius leaves extract (CAE) has potential as an antioxidant with a very strong category. This study was conducted to determine the effect of giving Japanese papaya leaf extract on CD4+ and CD8+ expression in Babl/c mice induced by Salmonella typhimurium bacteria. The study was started by preparing 70% ethanol extract from Cnidoscolus aconitifolius leaves and preparing 30 Babl/C mice as experimental animals which were divided into 6 groups (healthy control, negative control, positive control and treatment group by giving CAE dose of 100 mg/kgbw, 200 mg/kgbw and 400 mg/kgbw). Induction was carried out by oral infection with Salmonella thypimurium bacteria. After 3 days the infected mice were treated orally once a day for 7 days. Evaluation of CD4+ and CD8+ expression was carried out using the flowcytometer method of the lymph organs. Data analysis was carried out by the Anova test followed by the post hoc test (Tukey) using the SPSS for Windows application. The results showed that giving CAE at doses of 100 mg/kgbw, 200 mg/kgbw and 400 mg/kgbw could increase the expression ratio of CD4+ and CD8+, whereas giving CAE at a dose of 400 mg/kgbw showed significantly different results (p<0.05) to the negative control. This shows that the CAE has potential as an immunomodulatory agent that can improve immune function.
Uji Aktivitas Antiinflamasi Salep Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum) Wima Anggitasari; Iski Weni Pebriarti; Bella Kharisma Rindiantika
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 9 No. 2 (2023): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v9i2.395

Abstract

Inflamasi merupakan suatu bentuk respon protektif normal tubuh untuk menginaktivasi atau menghancurkan mikroorganisme maupun benda asing yang menyerang serta mengatur derajat perbaikan jaringan. Nonsteroid Antiinflamatory Drugs (NSAIDs) adalah salah satu obat yang dapat mengatasi inflamasi. Beberapa masalah yang dapat muncul sebagai karena penggunaan obat ini adalah Adverse Drug Reactions (ADR). Salah satu tanaman yang berpotensi untuk dikembangkan adalah cengkeh. Sediaan salep memiliki kelebihan dimana resiko timbulnya ADR lebih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas salep ekstrak daun cengkeh pada berbagai formulasi dosis dari ekstrak daun cengkeh. Ekstrak dibuat menggunakan metode maserasi menggunakan pelarut etanol. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan hewan uji tikus. Tikus dibagi menjadi lima kelompok yaitu kelompok I (vaselin album), kelompok II (salep hidrokortison 2,5%), kelompok III (salep formula I), kelompok IV (salep formula II) dan kelompok V (salep formula III). Masing-masing tikus diuji aktivitas antiinflamasinya dengan menggunakan induksi karagenan untuk menimbulkan efek inflamasi. Besarnya udem didapatkan dari pengukuran lipatan kulit punggung tikus. Setelah itu tikus diberi perlakuan sesuai dengan kelompoknya dan diamati perubahan udem selama 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok salep hidrokortison memiliki aktivitas antiinflamasi yang paling tinggi. Pada kelompok ekstrak, salep formula III (salep yang mengandung ekstrak daun cengkeh 40% dan vaselin putih 60%) memiliki aktivitas antiinflamasi yang paling besar jika dibandingkan dengan formula II (salep yang mengandung ekstrak daun cengkeh 20% dan vaselin putih 80%) dan formula I (salep yang mengandung ekstrak daun cengkeh 10% dan vaselin putih 90%).
EDUKASI PENGGUNAAN OBAT UNTUK KASUS SWAMEDIKASI Wima Anggitasari; Iski Weni Pebriarti; Lindawati Setyaningrum; Aninda Fellysia Wibowo; Falakh Noferyana Hartania Wati
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i4.6680

Abstract

Swamedikasi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk membantu mencegah dan mengobati bgejala maupun penyakit ringan dimana tidak memerlukan konsultasi medis dan dapat meminimalkan biaya. Dalam proses swamedikasi, masyarakat tidak bertemu langsung dengan tenaga medis. Masyarakat melakukan diagnosis terhadap penyakitnya sendiri dan memilih obat yang tepat untuk penyakit yang diderita oleh pasien tersebut. Pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan Islam dimana para santri akan tinggal dan belajar bersama. Kegiatan ini diharapkan mampu mengedukasi santri di Pondok Pesantren Shofa Marwa untuk dapat melakukan proses swamedikasi dengan benar. Kegiatan ini dilakukan di Pondok Pesantren Shofa Marwa dimana dilakukan edukasi pada 20 pengurus pondok. Sebelum kegiatan dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan survey untuk mengetahui penyakit yang diderita oleh santri selama satu bulan terakhir. Pada pertemuan selanjutnya diberikan edukasi terkait swamedikasi pada beberapa kasus, seperti flu, batuk, demam, pusing/sakit kepala, maag/dyspepsia, nyeri dan diare. Sebelum proses edukasi dilakukan pre test terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat pengetahuan terkait swamedikasi sebelum pemberian edukasi. Setelah proses edukasi dilakukan post test untuk mengetahui tingkat pengetahuan terkait swamedikasi sesudah pemberian edukasi. Dari hasil evaluasi diketahui bahwa adanya edukasi dapat meningkatkan tingkat pengetahuan terkait swamedikasi.