Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan Tentang Pemeriksaan LEMON Di Universitas Harapan Bangsa Ratu Islami Meiana Putri; Magenda Bisma Yudha; Surtiningsih Surtiningsih
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.947

Abstract

Pemeriksaan LEMON merupakan metode penilaian jalan napas sulit pada pra anestesi untuk memprediksi kesulitan intubasi. Pengetahuan mengenai pemeriksaan LEMON penting dimiliki oleh mahasiswa keperawatan anestesiologi sebagai bekal praktik klinis. Namun, tingkat pengetahuan mahasiswa tentang pemeriksaan LEMON masih bervariasi. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan tentang pemeriksaan LEMON di Universitas Harapan Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Populasi penelitian sebanyak 205 mahasiswa semester V Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan Universitas Harapan Bangsa. Sampel penelitian sebanyak 136 responden menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner 22 pertanyaan. Analisis data menggunakan analisis univariat berupa distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia responden adalah 20,18 tahun dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 85 responden (62,5%). Tingkat pengetahuan mahasiswa tentang pemeriksaan LEMON sebagian besar berada pada kategori baik sebanyak 68 responden (50,0%), cukup 66 responden (48,5%), dan kurang 2 responden (1,5%). Berdasarkan usia, tingkat pengetahuan baik paling banyak pada usia 21 tahun sebanyak 20 responden (51,3%). Berdasarkan jenis kelamin, responden perempuan sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 46 responden (54,1%). Tingkat pengetahuan mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan di Universitas Harapan Bangsa tentang pemeriksaan LEMON sebagian besar berada dalam kategori baik.
Dukungan Suami Terhadap Keberhasilan Pemberian ASI Eksklusif: Tinjauan Literatur Nur Intan Kartika Sari; Qoni Oktanti; Leni Maryati; Nur Indah Kusuma Dewi; Magenda Bisma Yudha
Jurnal Adijaya Multidisplin Vol 4 No 03 (2026): Jurnal Adijaya Multidisiplin (JAM)
Publisher : PT Naureen Digital Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberhasilan ASI eksklusif dipengaruhi oleh kondisi ibu, dukungan keluarga, lingkungan sosial, dan pelayanan kesehatan. Suami dapat membantu melalui dukungan emosional, bantuan praktis, pemberian informasi, dan penguatan keputusan ibu untuk tetap menyusui. Tinjauan ini bertujuan merangkum bukti penelitian primer mengenai dukungan suami terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Penelusuran dilakukan pada PubMed, ScienceDirect, dan Garuda/SINTA untuk artikel tahun 2015-2026 yang tersedia dalam teks lengkap dan berbahasa Inggris atau Indonesia. Artikel nonprimer dan penelitian yang tidak membahas dukungan suami atau ayah dikeluarkan. Dari 53 artikel yang ditemukan, 15 penelitian primer memenuhi kriteria dan disintesis secara naratif. Dukungan suami berkaitan dengan keberhasilan ASI eksklusif melalui dorongan emosional, bantuan sehari-hari, informasi, keterlibatan dalam keputusan keluarga, dan penguatan breastfeeding self-efficacy. Edukasi tatap muka, intervensi berbasis komunitas, dan media digital juga meningkatkan keterlibatan ayah. Walaupun beberapa penelitian tidak menemukan hubungan bermakna, dukungan suami tetap menjadi unsur penting dalam determinan ASI eksklusif yang bersifat multifaktorial. Program promosi menyusui perlu melibatkan suami sejak masa antenatal hingga pascapersalinan.
Hubungan Lama Puasa Dengan Kejadian Post Operative Nausea Vomiting (PONV) Pada Pasien General Anestesi Di RSUD R. Syamsudin, S.H. Sukabumi Fridan Firdaus; Amin Susanto; Magenda Bisma Yudha
Diagnosis Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 21 No. 2 (2026): Diagnosis: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35892/djik.v21i2.3488

Abstract

Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan komplikasi yang sering terjadi Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) merupakan komplikasi yang sering terjadi setelah tindakan general anestesi dan dapat memengaruhi kenyamanan serta proses pemulihan pasien. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian PONV adalah lama puasa preoperatif yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lama puasa dengan kejadian PONV pada pasien general anestesi di RSUD R. Syamsudin, S.H. Sukabumi. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan desain cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 184 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan lembar observasi dan instrumen Rhodes Index of Nausea, Vomiting and Retching (RINVR). Analisis data menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden menjalani puasa selama 6–8 jam sebanyak 101 responden (54,9%) dan sebagian besar tidak mengalami PONV sebanyak 168 responden (91,3%). Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara lama puasa dengan kejadian PONV pada pasien general anestesi. Kesimpulan penelitian ini adalah lama puasa preoperatif berhubungan dengan kejadian PONV pada pasien general anestesi
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Mahasiswa D-IV Keperawatan Anestesiologi tentang Difficult Airway Management pada Anestesi Umum Jovanca Christy Amara Wibowo; Danang Tri Yudono; Magenda Bisma Yudha
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.334

Abstract

Latar Belakang: Salah satu tantangan dalam anestesi umum adalah difficult airway management (DAM), yang ditandai dengan kesulitan intubasi dan ventilasi jalan napas. Difficult Airway Management menjadi perhatian serius dalam anestesiologi karena dapat menyebabkan komplikasi fatal, dengan risiko gagal intubasi mencapai 2,6 per 1000 kasus dalam anestesi umum. Meskipun demikian, 80% perawat belum terampil dalam penatalaksanaan DAM. Oleh karena itu, penting bagi institusi melakukan evaluasi dan meningkatkan pengetahuan dan sikap mahasiswa mengenai DAM guna meminimalkan risiko kompilkasi. Tujuan: Penelitian ini untuk mengevaluasi pengetahuan dan sikap Mahasiswa D-IV Keperawatan Anestesiologi dalam memahami Difficult Airway Management Pada Anestesi Umum. Metode: Dengan desain kuantitatif cross-sectional, penelitian ini melibatkan 150 mahasiswa yang dipilih melalui stratified random sampling. Instrumen ini merupakan adaptasi dari penelitian yang relevan sebelumnya dengan kuesioner berskala Likert (1-5) yang telah divalidasi dan diuji reliabilitasnya. Nilai Cronbach's Alpha 0.858 (skala pengetahuan) dan 0.832 (skala sikap). Hasil: Analisis data menggunakan uji non-parametrik Spearman’s Rho menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara pengetahuan dan sikap mahasiswa D-IV Keperawatan Anestesiologi terkait DAM pada anestesi umum (p-value 0,000 < 0,050). Kesimpulan: Semakin tinggi pengetahuan mahasiswa, semakin baik sikap mahasiswa dalam memahami penatalaksanaan DAM pada anestesi umum. Kata Kunci: anestesi umum, difficult airway management (DAM), hubungan pengetahuan dan sikap, mahasiswa kesehatan
Gambaran Emergence Agitation pada Pasien Pasca Bedah Otolaryngology Dengan General Anestesi Di RSU Siaga Medika Purbalingga Alifika Julianinta Sudarmono; Magenda Bisma Yudha; Wasis Eko Kurniawan
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 7 No. 2 (2025): July 2025
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v7i2.339

Abstract

Latar Belakang: Emergence agitation (EA) adalah kondisi kebingungan dan kegelisahan akut pada fase pemulihan pasca anestesi yang ditandai dengan respon motorik yang berlebihan tanpa tujuan dan sering kali tidak disertai kesadaran penuh.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kejadian emergence agitation pada pasien pasca bedah otolaryngology dengan general anestesi di recovery room RSU Siaga Medika Purbalingga. Metode Penelitian ini menerapkan pendekatan non-eksperimental dengan rancangan potong lintang (cross sectional). Sampel dipilih menggunakan teknik accidental sampling, melibatkan 32 responden yang merupakan pasien pasca operasi otolaringologi dengan anestesi umum. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat. Hasil: Hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh sejumlah 11 responden (31.4%) mengalami kejadian EA. Hasil Sebanyak 7 responden (21.9%) dengan rentang usia 1–5 tahun mengalami EA. yang mengalami EA, berdasarkan jenis kelamin laki-laki sejumlah 7 responden (21.9%) yang mengalami EA, berdasarkan jenis pembedahan otolaryngology pembedahan faryngology/laryngology sejumlah 9 responden (28.1%), berdasarkan teknik anestesi keseluruhan 32 responden diberikan anestesi dengan teknik balanced anesthesia. Kesimpulan: kejadian EA lebih sering terjadi pada anak laki-laki usia pra sekolah yang menjalani pembedahan Otolaryngology.
Pengaruh Aromaterapi Lavender dan Lemon Terhadap Kejadian Post Operative Nausea and Vomiting pada Pasien Sectio Caesarea dengan Anestesi Spinal Nanda Ariawan Saputri; Magenda Bisma Yudha; Aris Nur Rahmat
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 8 No. 2 (2026): July 2026
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v8i2.565

Abstract

Latar Belakang: Sectio Caesarea dengan anestesi spinal sering menimbulkan komplikasi berupa (PONV) yang berpotensi menghambat pemulihan pasien. Aromaterapi lavender maupun lemon diketahui berpotensi menurunkan mual muntah pasca operasi sebagai terapi non-farmakologis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tingkat Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) pada pasien sectio caesarea dengan anestesi spinal sebelum dan sesudah pemberian aromaterapi lavender dan lemon. Metode: Desain Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan desain pretest–posttest untuk menilai perubahan kondisi responden sebelum dan setelah pemberian intervens. Hasil: Tidak ditemukan perbedaan pengaruh yang bermakna secara statistik antara aromaterapi lavender dan lemon terhadap kejadian PONV (p=0,598). Kesimpulan: Terdapat perbedaan pengaruh tidak signifikan antara aromaterapi lavender dan lemon (p >0,05). Meskipun demikian, penurunan skor PONV secara klinis mengindikasikan bahwa pemberian aromaterapi lavender dan lemon dapat membantu mengurangi gejala PONV, meskipun perbedaannya tidak mencapai signifikansi statistik.
Efektivitas Selimut Hangat dan Selimut yang Dilapisi Aluminium Foil terhadap Hipotermi Pasien Pascaanestesi di Rumah Sakit Khusus Bedah Jatiwinangun Revalina Aulia Rahma; Magenda Bisma Yudha; Rahmaya Nova Handayani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.984

Abstract

Hipotermi merupakan komplikasi pascaanestesi spinal akibat gangguan termoregulasi selama operasi yang dapat menghambat pemulihan pasien. Penanganan nonfarmakologis yang dapat dilakukan yaitu penggunaan selimut hangat dan selimut Aluminium Foil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas selimut hangat dan selimut yang dilapisi Aluminium Foil terhadap hipotermi pasien pascaanestesi di Rumah Sakit Khusus Bedah Jatiwinangun. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain Quasi-Experimental menggunakan rancangan Pre-Test Post-Test control group design. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 68 responden yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok selimut hangat dan kelompok selimut yang dilapisi Aluminium Foil. Pengukuran suhu tubuh dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan termometer timpani. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua intervensi efektif dalam meningkatkan suhu tubuh pasien hipotermi pascaanestesi dengan nilai P-Value 0,000 (< 0,05). Namun, secara deskriptif selimut yang dilapisi Aluminium Foil menunjukkan peningkatan suhu tubuh yang lebih tinggi dibandingkan selimut hangat. Dengan demikian, secara deskriptif selimut yang dilapisi Aluminium Foil menunjukkan peningkatan suhu tubuh yang lebih tinggi dibandingkan selimut hangat.
IMPLEMENTASI MOBILISASI DINI UNTUK MENGURANGI NYERI PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN ANESTESI SPINAL DI RS JATIWINANGUN Desy Idayani; Magenda Bisma Yudha; Susilo Rini
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2026): Inpress Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i4.61756

Abstract

Nyeri pascaoperasi merupakan masalah yang sering dialami pasien setelah tindakan pembedahan dan dapat menghambat mobilitas serta proses pemulihan. Mobilisasi dini dapat digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis pendamping untuk membantu menurunkan nyeri pada pasien pascaoperasi dengan anestesi spinal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengimplementasikan mobilisasi dini dan mengevaluasi perubahan tingkat nyeri pasien pascaoperasi di RS Jatiwinangun. Kegiatan dilaksanakan pada September 2025 dengan melibatkan 30 pasien berusia 15–60 tahun yang mengalami nyeri enam jam setelah operasi dengan anestesi spinal. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale sebelum dan setelah mobilisasi dini selama 15 menit, berupa relaksasi napas dalam serta gerakan tangan, jari, dan kaki di tempat tidur. Sebelum intervensi, sebanyak 80,0% peserta mengalami nyeri sedang dan 20,0% mengalami nyeri berat. Setelah intervensi, sebanyak 86,7% peserta mengalami nyeri ringan, 13,3% mengalami nyeri sedang, dan tidak ditemukan nyeri berat. Rerata kategori nyeri menurun dari 2,20 menjadi 1,13 dengan selisih 1,03, sedangkan median menurun dari 2,00 menjadi 1,00. Mobilisasi dini dapat membantu menurunkan tingkat nyeri serta dapat diterapkan sebagai intervensi pendamping dalam manajemen nyeri pascaoperasi dengan anestesi spinal.