Alexander Sitepu
Unknown Affiliation

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Dentin

HUBUNGAN TEMPOROMANDIBULAR DISORDERS TERHADAP ORAL HEALTH RELATED QUALITY OF LIFE Maulida Hasanah; Rahmad Arifin; Irham Taufiqurrahman; Galuh Dwinta Sari; Alexander Sitepu
Dentin Vol 7, No 3 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v7i3.10747

Abstract

Latar Belakang: Temporomandibular disorders (TMD) merupakan gangguan pada sendi temporomandibula (STM) ditandai rasa sakit pada otot pengunyahan dan STM; bunyi ‘klik’ pada STM; dan adanya defleksi, deviasi serta keterbatasan membuka mulut. TMD banyak dijumpai pada usia dewasa dengan rentang 20-40 tahun termasuk pada mahasiswa.  Gejala yang disebabkan TMD dapat berdampak negatif pada kualitas hidup dan kualitas hidup terkait kesehatan rongga mulut. Oral health related quality of life (OHRQoL) merupakan konstruksi multidimensi yang mencerminkan kesehatan mulut seseorang; fisik, psikologis dan kesejahteraan sosial; harapan dan kepuasan perawatan; dan harga diri. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan TMD terhadap OHRQoL pada mahasiswa preklinik FKG ULM. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 37 mahasiswa FKG ULM Angkatan 2019-2022 yang berusia 18 tahun ke atas dengan teknik pengambilan sampel stratified random sampling dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Pemeriksaan TMD menggunakan metode diagnosis RDC/TMD sedangkan pemeriksaan OHRQoL menggunakan kuesioner OHIP-14. Data hasil penelitian terkait TMD dan OHRQoL dianalisis dengan uji spearman. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa TMD dialami oleh 51,4% responden dengan gejala yang paling banyak dialami adalah nyeri miofasial (57,9%) dengan tingkat OHRQoL yang  terbanyak adalah baik (81%). Hasil uji korelatif spearman menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara TMD terhadap OHRQoL pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat (ρ < 0,05). Kesimpulan: Peningkatan gejala TMD meningkatkan keparahan OHRQoL pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Lambung Mangkurat Kata Kunci: nyeri miofasial, oral health related quality of life (OHRQoL), temporomandibular disorders (TMD)
ANALISIS PERSAMAAN PERSEPSI REMAJA TENTANG KEBUTUHAN PERAWATAN ORTHODONTI TERHADAP KONDISI SEBENARNYA (Tinjauan pada Pelajar SMA/Sederajat di Banjarmasin Kawasan Non Perkotaan) Najma Nor Shalehah; Diana Wibowo; Rahmad Arifin; Aulia Azizah; Alexander Sitepu
Dentin Vol 9, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i1.16561

Abstract

Background: In dental and oral health, malocclusion is an occlusal disorder that affects appearance and psychological well-being, especially among adolescents. There are two categories of contributing factors to malocclusion: general and local factors. Local factors directly impact the condition of the teeth, while general factors do not have a direct effect. Objective: Analyzing the congruence between adolescents' perceptions of orthodontic treatment needs using IKPO and their actual dental conditions measured by ICON. Methods: In this study, 175 randomly selected high school (or equivalent) students from non-urban areas of Banjarmasin were observed using a cross-sectional methodology. Results: The findings of this study indicate that the majority of participants fell into the category of requiring orthodontic treatment based on both IKPO and ICON. Cohen’s Kappa analysis showed a fair level of agreement between IKPO and ICON, with a value of 0.238. Conclusion: The conclusion of this study is that there is a fair level of agreement between adolescents’ perceptions of the need for orthodontic treatment and their actual dental conditions. ABSTRAKLatar Belakang: Pada kondisi kesehatan gigi dan mulut, maloklusi merupakan kelainan oklusi yang mempengaruhi penampilan dan kesejahteraan psikologis, terutama pada remaja. Terdapat dua kategori penyebab yang berkontribusi terhadap maloklusi, yaitu faktor umum dan faktor lokal. Faktor lokal berdampak langsung pada kondisi gigi, sedangkan faktor umum tidak berdampak langsung. Tujuan: Menganalisis persamaan persepsi remaja tentang kebutuhan perawatan orthodonti menggunakan IKPO terhadap kondisi sebenarnya menggunakan ICON. Metode: Dalam penelitian ini, 175 siswa SMA/sederajat yang dipilih secara acak di Banjarmasin kawasan non-perkotaan, diobservasi menggunakan metodologi cross-sectional. Hasil: Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas peserta masuk dalam kategori membutuhkan perawatan orthodonti berdasarkan IKPO maupun ICON. Uji analisis Cohen’s Kappa menunjukkan adanya nilai persamaan yang masuk dalam kategori cukup antara IKPO dan ICON dengan nilai 0.238. Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat tingkat persamaan yang cukup antara persepsi remaja tentang kebutuhan perawatan orthodonti terhadap kondisi gigi geligi yang sebenarnya.Kata Kunci: Maloklusi, Perawatan Orthodonti, Indeks Kebutuhan Perawatan Orthodonti, Index of Complexity, Outcome, and Need
GAMBARAN KESEIMBANGAN UKURAN GIGI DENGAN ANALISIS BOLTON PADA PELAJAR SUKU BANJAR (USIA 15-18 TAHUN) Kholish Atikah Azzam; Diana Wibowo; Alexander Sitepu; Rosihan Adhani; Yusrinie Wasiaturrahmah
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13110

Abstract

ABSTRACTBackground: South Kalimantan recorded having a high incidence of dental and oral health problems around 59.6% and malocclusion cases around 12%. The population of Banjar tribe in South Kalimantan is around 90%. Banjar’s genetic factors can influence the development of tooth size therefore influence result of normal occlusion. Bolton analysis is an index needed to determine balance of tooth size of upper and lower jaw. Objective: The aim of this research is to describe the discrepancy sizes using Bolton analysis in Banjar students (aged 15-18 years). Method: This research is an observasional descriptive study with cross-sectional approach. Results: The results showed that the average balance value for the size of the 6 anterior teeth (Anterior Ratio) was 79.51% ± 8.67. It was found that 97.6% of the samples were unbalanced with the highest frequency of jaw discrepancies in the mandible and the average value for balance size of the 12 teeth. overall (Overall Ratio) 91.32 ± 5.17, it was found that 98.8% of the sample numbers were unbalanced with the highest frequency of jaw discrepancy in the maxilla, namely 46 people (56.1%). Conclusion: The balance of tooth size in the Banjar tribe based on the anterior Bolton ratio was found to be predominantly unbalanced with the highest imbalance located in the lower jaw (mandible) and the overall Bolton ratio was found to be predominantly unbalanced with the highest imbalance located in the upper jaw (maxilla).Keywords : Tooth Size Discrepancy; Bolton Analysis; Banjar tribe  ABSTRAK Latar Belakang: Kalimantan Selatan tercatat memiliki angka kejadian permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang tinggi yaitu sekitar 59,6% dan kasus maloklusi sekitar 12%. Penduduk terbesar di Kalimantan Selatan adalah suku Banjar sekitar 90% dari populasi. Faktor genetik Suku Banjar dapat mempengaruhi perkembangan ukuran gigi sehingga dapat menentukan hasil oklusi normal. Analisis Bolton merupakan indeks yang sering digunakan dan diperlukan untuk menentukan keseimbangan ukuran gigi rahang atas dan bawah. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengambarkan keseimbangan ukuran gigi dengan analisis Bolton pada pelajar Suku Banjar (Usia 15-18 Tahun). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross-sectional Hasil: Hasil penelitian menunjukan nilai rata-rata keseimbangan ukuran 6 gigi anterior (Anterior Rasio) 79,51% ± 8,67 didapati 97,6% jumlah sampel tidak seimbang dengan frekuensi rahang yang berdeskrepansi terbanyak pada mandibula dan nilai rata-rata keseimbangan ukuran 12 gigi keseluruhan (Overall Rasio) 91,32 ± 5,17 didapati 98,8% jumlah sampel tidak seimbang dengan frekuensi rahang yang berdeskrepansi terbanyak pada maksila yaitu 46 orang (56,1%). Kesimpulan: Keseimbangan ukuran gigi pada Suku Banjar berdasarkan rasio anterior Bolton didapati mayoritas tidak seimbang dengan letak ketidakseimbangan tertinggi pada rahang bawah (mandibula) dan rasio keseluruhan Bolton didapati mayoritas tidak seimbang dengan letak ketidakseimbangan tertinggi pada rahang atas (maksila). Kata kunci :  Analisis Bolton, Keseimbangan Ukuran Gigi, Suku Banjar 
HUBUNGAN KESEIMBANGAN UKURAN GIGI GELIGI RAHANG ATAS DAN RAHANG BAWAH DENGAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI Andi Qathrah Nadia Salsabila; Diana Wibowo; R. Harry Dharmawan Setyawardhana; Norlaila Sarifah; Alexander Sitepu
Dentin Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v9i2.17740

Abstract

ABSTRACTBackground: In South Kalimantan, the prevalence of oral health problems is 56.83% among those aged 15-18 years. The prevalence of malocclusion is quite high at 12%. One of the factors causing malocclusion is the imbalance in the size of the upper and lower teeth, which can be assessed using Bolton's analysis. The severity of malocclusion varies between individuals and can be measured using ICON. Purpose: To analyze the relationship between the balance of the size of the upper and lower arch teeth and the severity of malocclusion in high school students in non-urban areas of Banjarmasin. Methods: An observational analytical study with a cross-sectional approach. A total of 175 adolescents aged 15-18 years. Bolton's analysis was used to measure the balance of the size of the upper and lower arch teeth, and the ICON index was used to assess the severity of malocclusion. Results: The results show a weak relationship and a negative value, the higher the balance of the anterior tooth size ratio, the lower the severity of the malocclusion, and the results of the correlation test show a very weak relationship and a negative value, the higher the balance of the overall tooth size ratio, the lower the severity of the malocclusion. Conclusion: The balance of tooth size, anterior tooth ratio and overall ratio based on Bolton analysis in high school students/equivalent in Banjarmasin non-urban areas is mostly unbalanced and the severity of malocclusion based on the ICON index has the highest frequency, namely in the low category.Keywords: Banjarmasin Non-Urban Areas, Bolton Analysis, High school students, ICON, Malocclusion ABSTRAKLatar Belakang: Masalah kesehatan gigi dan mulut di Kalimantan Selatan memiliki prevalensi sebesar 56,83% pada usia 15-18 tahun. Masalah maloklusi cukup tinggi sebesar 12%. Salah satu faktor penyebab maloklusi adalah ketidakseimbangan ukuran gigi atas dan bawah, yang dapat dinilai menggunakan analisis Bolton. Tingkat keparahan maloklusi bervariasi antar individu dan dapat diukur dengan menggunakan ICON. Tujuan: Menganalisis hubungan antara keseimbangan ukuran gigi lengkung atas dan bawah dengan tingkat keparahan maloklusi pada siswa SMA di wilayah non perkotaan Banjarmasin. Metode: Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan sebanyak 175 remaja usia 15-18 tahun. Analisis Bolton digunakan untuk mengukur keseimbangan ukuran gigi lengkung atas dan bawah dan indeks ICON digunakan untuk menilai tingkat keparahan maloklusi. Hasil: Hasil uji korelasi terdapat hubungan yang lemah dan bernilai negatif, semakin tinggi keseimbangan ukuran gigi rasio anterior maka semakin rendah tingkat keparahan maloklusi, dan hasil uji korelasi terdapat hubungan yang sangat lemah dan bernilai negatif, semakin tinggi keseimbangan ukuran gigi rasio keseluruhan maka semakin rendah tingkat keparahan maloklusi. Kesimpulan: Keseimbangan ukuran gigi rasio gigi anterior dan rasio keseluruhan berdasarkan analisis Bolton pada siswa SMA/sederajat di Banjarmasin kawasan non perkotaan sebagian besar tidak seimbang dan tingkat keparahan maloklusi berdasarkan indeks ICON mempunyai frekuensi tertinggi yaitu pada kategori rendah. Kata kunci: Analisis Bolton, Banjarmasin Kawasan Non Perkotaan, ICON, Maloklusi, Pelajar SMA
ANALISIS GAMBARAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI DENTAL REMAJA USIA 15-18 TAHUN DI BANJARMASIN BERDASARKAN INDEKS ICON (INDEX OF COMPLEXITY, OUTCOME, AND NEED) Erine Febrianti; Diana Wibowo; Sherli Diana; Isnur Hatta; Alexander Sitepu
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13108

Abstract

ABSTRACTBackground: Malocclusion is a multifactorial problem that occurs due to general and local factors. Teeth crowding is one of the characteristics of malocclusion that often occurs in adolescents. Appearance is important for teenagers to increase self-confidence. Part of the appearance that results from the teeth and mouth is a smile. The need for orthodontic treatment can be measured using the Index of Complexity, Outcome, and Need (ICON) which calculates the complexity, success, and necessity of orthodontic care. Purpose: To find out an overview of the severity of dental malocclusion in adolescents aged 15-18 years in Banjarmasin based on the ICON (Review of high school students in North Banjarmasin and Central Banjarmasin District). Methods: This was a descriptive analytics study with a cross sectional design. Sampling techniques using random sampling in teenagers aged 15-18 years as many as 356 respondents. Malocclusion severity data was obtained through ICON measurement. Results: The results of this study were the highest level of malocclusion complexity in the mild category by 147 respondents, the most aeshthetic component is in category no treatment need (159 respondents), cross-bite is in category 0 (205 respondents, crowding teeth is in category 1 (101 respondents), diastema teeth is in category 3 (18 respondents), open bite is in category 0 (106 respondents), and the antero-posterior tooth relationship is in category 0 (216 respondents). Conclusion: The degree of complexity of dental malocclusion in adolescents 15-18 years old in Banjarmasin were mostly found in the light category.Keyword: Orthodontic, Malocclusion, ICON ABSTRAKLatar Belakang: Maloklusi adalah masalah multifaktorial yang terjadi karena faktor umum dan faktor lokal. Gigi berjejal adalah salah satu karakteristik dari maloklusi yang sering terjadi pada remaja. Penampilan merupakan hal yang penting bagi remaja untuk meningkatkan kepercayaan diri. Bagian dari penampilan yang dihasilkan dari gigi dan mulut adalah senyum. Kebutuhan akan perawatan orthodonti dapat diukur menggunakan Index of Complexity, Outcome, and Need (ICON) yang memperhitungankan kompleksitas, keberhasilan, dan kebutuhan dari perawatan orthodonti. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat keparahan maloklusi dental remaja usia 15-18 tahun di Banjarmasin berdasarkan indeks ICON (Tinjauan pada pelajar SLTA di Banjarmasin Utara dan Banjarmasin Tengah). Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriftik analitik dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan random sampling pada remaja usia 15-18 tahun sebanyak 356 responden. Data tingkat keparahan maloklusi diperoleh melalui pengukuran indeks ICON. Hasil: Hasil penelitian ini yaitu tingkat kompleksitas maloklusi terbanyak ada pada kategori ringan yaitu 147 responden, aeshthetic component paling banyak ada pada kategori tidak membutuhkan perawatan (159 responden), gigitan silang atau crossbite ada pada kategori 0 (205 responden), gigi berdesakan atau crowding ada pada kategori 1 (101 responden), gigi berjarak atau diastem ada pada kategori 3 (18 responden), over bite ada pada kategori 0 (103 responden), oven bite ada pada kategori 3 dan 4 (12 responden), dan relasi gigi antero-posterior ada pada kategori 0 (216 responden). Kesimpulan: Tingkat kompleksitas maloklusi dental pada remaja usia 15-18 tahun di Banjarmasin banyak ditemukan pada kategori ringan.Kata kunci: ICON, Maloklusi, Orthodontik
GAMBARAN KASUS TANGGAL PREMATUR GIGI CANINUS SULUNG Tom Christian; Renie Kumala Dewi; Amy Nindia Carabelly; Alexander Sitepu; Riky Hamdani
Dentin Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/dentin.v8i2.13116

Abstract

ABSTRACTBackground: Premature loss is a condition where deciduous teeth shed prematurely while replacement permanent teeth have not yet erupted. Premature loss of primary canines can be caused by caries, trauma, and systemic conditions. Maxillary canines are more prone to premature loss compared to mandibular canines. Purpose: This study aimed to determine the prevalence of premature loss of primary canine teeth among children aged 8-10 years at SDN 2 Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Banjarbaru City in 2023. Method: This research employed an observational study with a cross-sectional design. The study included 77 students aged 8-10 years from SDN 2 Syamsudin Noor, selected using simple random sampling. Inclusion criteria were students aged 8-10 years who were cooperative respondents, with parents or guardians signing informed consent, and students in the mixed dentition phase. Exclusion criteria were students absent or sick on the day of data collection, and parents or guardians who withdrew consent. Data were collected through observational examination and filling out an odontogram. The research data were analyzed descriptively. Results: 23% of respondents experienced premature loss of primary canines, with the majority being females (66.67%). The primary canine most commonly affected was tooth element 53 (44%), and premature loss typically occurred at age 10 (38.89%). Conclusion: The description of premature loss of primary canine teeth in students at SDN 2 Syamsudin Noor aged 8-10 years, the majority of which occur in girls, namely maxillary primary canine teeth because hormonal factors at puberty can influence behavior in maintaining dental and oral hygiene.Keywords: premature loss, children, primary canines. ABSTRAKLatar Belakang: Prematur loss adalah kondisi dimana gigi desidui sudah tanggal sebelum waktunya sementara gigi permanen pengganti belum tumbuh. Prematur loss caninus sulung dapat disebabkan karena karies, trauma dan kondisi sistemik. Gigi caninus rahang atas sering mengalami tanggal prematur dibandingkan gigi caninus rahang bawah. Tujuan: Mengetahui gambaran tanggal prematur gigi caninus sulung pada anak usia 8-10 tahun di SDN 2 Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru pada tahun 2023. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilakukan pada siswa-siswi usia 8-10 tahun di SDN 2 Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling sebanyak 77 orang dengan kriteria inklusi yaitu siswa siswi berusia 8-10 tahun, kooperatif untuk menjadi responden, orang tua atau wali yang menandatangani infomed consent dan siswa siswi dalam periode gigi bercampur. Kriteria eksklusi yaitu siswa siswi yang tidak hadir atau sakit pada hari pengambilan data dan orang tua atau wali yang mengundurkan diri. Pemeriksaan dilakukan dengan observasi serta pengisian odontogram. Data hasil penelitian selanjutnya dijabarkan secara deskriptif. Hasil: Sebanyak 23% responden mengalami prematur loss caninus sulung dengan responden terbanyak adalah perempuan (66,67%) dan elemen gigi caninus sulung yang mengalami tanggal prematur terbanyak adalah gigi 53 (44%) serta tanggal prematur terbanyak pada usia 10 tahun (38,89%). Kesimpulan: Gambaran tanggal prematur gigi caninus sulung pada siswa/siswi SDN 2 Syamsudin Noor usia 8-10 tahun mayoritas terjadi pada perempuan yaitu pada gigi caninus sulung rahang atas. Hal ini karena faktor hormonal pubertas dapat memengaruhi perilaku dalam memelihara kebersihan gigi dan mulut. Kata kunci: Caninus Sulung, Anak-Anak, Premature Loss