Asep Afaradi
Sekolah Tinggi Teologi IKAT Jakarta

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Kepemimpinan Kristen yang Alkitabiah: Peran Roh Kudus dalam Membentuk Pemimpin Muda Gereja di Era Digital Menurut Kisah Para Rasul 1:8 Prasetyo, Edhi; Afaradi, Asep
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepemimpinan Kristen yang berlandaskan Alkitab menegaskan bahwa pemimpin muda dipanggil serta diperlengkapi Roh Kudus untuk menggenapi misi Allah. Dalam konteks era digital, Kisah Para Rasul 1:8 menyoroti kuasa Roh Kudus yang memampukan orang percaya menjadi saksi Kristus, termasuk melalui media digital. Oleh karena itu, kepemimpinan Kristen harus berpijak pada fondasi rohani yang kuat, tetap kontekstual dengan perkembangan zaman, dan berorientasi pada perubahan yang membangun. Pola kepemimpinan seperti ini tidak hanya melahirkan generasi muda yang berintegritas, tetapi juga menghadirkan kesaksian iman yang autentik dan berdampak di tengah masyarakat digital.
Kepemimpinan Musa dan Relevansinya bagi Kepemimpinan Kristiani: Refleksi atas Kepemimpinan Hidup Membiara Ongirwalu, Epifana; Afaradi, Asep
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merefleksikan kepemimpinan Musa dalam Kitab Suci dan menelaah relevansinya bagi kepemimpinan Kristiani, khususnya dalam konteks hidup membiara. Kepemimpinan dalam tradisi Kristiani tidak dipandang semata sebagai jabatan formal, melainkan sebagai panggilan ilahi yang menuntut kerendahan hati, ketaatan, dan pelayanan. Musa dipanggil Allah melalui peristiwa semak yang menyala untuk membebaskan Israel dari Mesir, suatu misi yang menegaskan bahwa kepemimpinan lahir dari respons terhadap panggilan Allah, bukan ambisi pribadi. Nilai-nilai kepemimpinan Musa—kerendahan hati, doa syafaat, integritas moral, serta keberanian menghadapi tantangan—memberi inspirasi bagi para pemimpin komunitas religius untuk membangun persaudaraan, menjaga kesetiaan Injil, dan menegakkan keadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian pustaka terhadap Kitab Suci, literatur teologi, dan dokumen Gereja mengenai hidup membiara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Musa relevan sebagai model kepemimpinan Kristiani yang berpusat pada pelayanan, doa, dan tanggung jawab moral. Dengan meneladani Musa, kepemimpinan hidup membiara dapat dihidupi secara autentik dalam menghadapi dinamika komunitas dan tantangan zaman modern.
Kepemimpinan Kristen Sebagai Kesaksian Iman Dalam Masyarakat Modern Tampubolon, Maruli Tua; Afaradi, Asep
REI MAI: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 2 (2025): REI MAI: Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STAKPN Sentani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69748/jrm.v3i2.404

Abstract

Kepemimpinan Kristen bukan sekadar pengelolaan organisasi, tetapi merupakan kesaksian iman yang transformatif, membentuk karakter, moral, dan spiritual pengikutnya sekaligus menghadirkan nilai Kerajaan Allah dalam masyarakat modern. Tulisan ini mengkaji dasar alkitabiah kepemimpinan Kristen, karakteristik pemimpin yang bersaksi, kesaksian pemimpin di tengah masyarakat modern, perbedaan dengan kepemimpinan sekuler, serta implikasinya bagi gereja dan komunitas luas. Analisis dilakukan melalui pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur Alkitab dan karya akademik tentang kepemimpinan Kristiani (Banks & Ledbetter, 2004; Blackaby & Blackaby, 2001; Greenleaf, 1977; Stott, 2006; Wright, 2000). Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristen menekankan integritas, kerendahan hati, pelayanan, keteladanan, dan spiritualitas yang hidup, yang membedakannya dari kepemimpinan sekuler yang berfokus pada kekuasaan, keuntungan, atau efektivitas semata. Kesaksian pemimpin Kristen diwujudkan dalam pengambilan keputusan etis, pelayanan sosial, pendidikan karakter, dan advokasi keadilan, sehingga menjadi instrumen transformasi holistik bagi gereja dan masyarakat. Tulisan ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan Kristen yang bersaksi berperan sebagai agent of change, meneguhkan gereja, membentuk generasi pemimpin baru, dan membawa dampak positif bagi masyarakat yang bermoral, inklusif, dan manusiawi.
Kepemimpinan Kaum Awam: Analisis Yohanes 21 tentang Kepemimpinan Otentik Asep Afaradi
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/sv0pwk49

Abstract

Authentic leadership among laypeople is a crucial aspect of church ministry that often receives inadequate attention. In John 21, there is a profound example of leadership through Jesus' restoration of Peter, emphasizing that true leadership is rooted in love, responsibility, and service. This study aims to analyze the concept of authentic leadership in John 21 and identify its characteristics and implications for laypeople in the church. The methodology used is qualitative analysis with a theological approach, through literature review and biblical text analysis, focusing on John 21 to explore the meaning and application of authentic leadership. The results indicate that authentic leadership is marked by sincere love for God and others, love-based service, and responsibility in shepherding, which are essential for building a healthy and effective church community. Kepemimpinan otentik di kalangan kaum awam merupakan aspek krusial dalam pelayanan gereja yang sering kali kurang mendapat perhatian. Dalam Yohanes 21, terdapat contoh mendalam tentang kepemimpinan melalui pemulihan Petrus oleh Yesus, yang menekankan bahwa kepemimpinan sejati berakar pada kasih, tanggung jawab, dan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep kepemimpinan otentik dalam Yohanes 21 serta mengidentifikasi karakteristik dan implikasinya bagi kaum awam di gereja. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan teologis, melalui kajian literatur dan analisis teks Alkitab, dengan fokus pada Yohanes 21 untuk menggali makna dan penerapan kepemimpinan otentik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan otentik ditandai oleh kasih yang tulus kepada Tuhan dan sesama, pelayanan berbasis kasih, serta tanggung jawab dalam penggembalaan, yang penting untuk membangun komunitas gereja yang sehat dan efektif.
Martyrdom Syndrome: Reading Acts 7:54-8:1 As A Critique of Christian Leaders Afaradi, Asep; Pantaow, Milton
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 10 No 1 (2026): March
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46445/ejti.v10i1.1002

Abstract

This study analyzes the Martyrdom Syndrome in Christian leadership by interpreting Acts 7:54-8:1 as a critique of leaders who use the suffering narrative to gain legitimacy and authority. This syndrome refers to the tendency of individuals to portray themselves as victims to gain sympathy, support, and justification for their leadership. The study employs a qualitative, exegetical approach to the martyrdom of Stephen, which is often contrasted with authentic leadership in the Christian tradition. The findings reveal that true martyrdom in Acts is not used as a tool for manipulation but as a testimony of faith rooted in the truth of the Gospel. In contrast, leaders trapped in the martyrdom syndrome tend to foster unhealthy relationships with their followers, relying on personal suffering as spiritual legitimacy. This study affirms that authentic Christian leadership is not based on exploiting the suffering narrative but on exemplary conduct, service, and moral integrity. Thus, this research contributes to a deeper understanding of responsible Christian leadership and critiques deviant leadership practices in ecclesial and social contexts.
Kajian Teologi Keluarga bagi Pemimpin Kristen dalam Kisah Abraham: Menelusuri Pola Inti Menuju Periferi Asep Afaradi
Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi Vol. 8 No. 1 (2025): Phronesis: Jurnal Teologi dan Misi
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47457/phr.v8i1.592

Abstract

The concept of Christian leadership often emphasises the character and competence of prominent biblical figures, while overlooking the foundational structures of sacred institutions from a Christian theological perspective. Furthermore, it frequently neglects essential supporting elements beyond these central individuals. This study explores the theology of the family as a lens through which to understand God's purposes for believers, while acknowledging that God's authority is manifested in every individual whom He appoints as a leader. Although leadership remains a central theme, this research focuses on the family narrative of Abraham which, when viewed from a New Testament Christian perspective, may not represent the ideal family model. Nevertheless, within Abraham’s story, the family emerges as the primary context through which God blesses His people and shapes leaders. The findings of this study suggest that Abraham’s family plays a pivotal role in forming his leadership and continues to offer valuable insights for the contemporary Church.
Spiritualitas Kerja Dan Prinsip Keadilan Sosial: Pendampingan Teologis Bagi Orang Beriman Di Koperasi Asep Afaradi
Jurnal PKM Setiadharma Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal PkM Setiadharma
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47457/jps.v7i1.765

Abstract

Artikel ini mengkaji spiritualitas kerja dan prinsip keadilan sosial melalui kegiatan pendampingan teologis bagi pegawai Kristen Koperasi di Bandung sebagai bentuk integrasi iman dan praktik sosial-ekonomi. Permasalahan utama yang diangkat adalah adanya ketegangan antara tuntutan profesionalisme kerja modern dengan integritas iman Kristen yang sering mereduksi kerja hanya sebagai aktivitas ekonomi. Tujuan kegiatan ini adalah membangun kerangka teologis mengenai kerja sebagai panggilan ilahi (vocatio), menumbuhkan kesadaran etis tentang keadilan sosial dalam budaya kerja, serta mengembangkan model pendampingan teologis yang kontekstual dan aplikatif dalam lingkungan koperasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-partisipatoris melalui seminar interaktif dan diskusi reflektif yang memungkinkan dialog antara refleksi teologi biblika-Reformed dan pengalaman kerja peserta. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pemahaman kerja sebagai panggilan Allah mendorong transformasi sikap profesional menuju integritas, tanggung jawab sosial, dan solidaritas komunal. Koperasi dipahami bukan sekadar institusi ekonomi, tetapi ruang praksis iman yang mencerminkan nilai koinonia, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Pendampingan teologis terbukti membantu peserta mengintegrasikan spiritualitas kerja dengan praktik profesional secara inklusif, sehingga pekerjaan menjadi sarana menghadirkan shalom Allah dalam kehidupan ekonomi kerakyatan dan kesaksian iman di ruang publik.
Relevansi Kepemimpinan Melkisedek yang Berintegritas bagi Pemimpin Gereja Bethel Indonesia di Manokwari Pieter Tauran; Asep Afaradi
Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat Vol. 3 No. 2 (2026): Mei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/damai.v3i2.2085

Abstract

Church leadership with integrity is a major challenge today. Melchizedek, a biblical figure of leadership (Genesis 14 and Hebrews 7), serves as a special example because he was both a priest and a king who had no beginning or end. This study aims to determine how Melchizedek's leadership with integrity can be applied by the leaders of the Indonesian Bethel Church in Manokwari. The method used in this research is a qualitative study through reading and reviewing various books and writings. The results indicate that Melchizedek's leadership principles, such as justice, a love of service, and remaining faithful to God, are highly suitable for application in today's church. In conclusion, integrity is crucial in church leadership because it can build trust and create a healthy church community.
Transformasi Karakter Pemimpin dalam Kedewasaan Iman 2 Timotius 2:2 di Gereja JKI The Rock Tangerang Selatan Novi Puji Kurniawan; Asep Afaradi
Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat Vol. 3 No. 2 (2026): Mei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/damai.v3i2.2111

Abstract

This study examines the transformation of leader character as a key factor in achieving faith maturity within JKI The Rock. Grounded in 2 Timothy 2:2, the research explores how the chain discipleship (mentoring) model contributes to spiritual growth, leadership quality, and the continuity of the church’s mission. A qualitative methodology was employed, using an exegetical approach combined with an organizational case study. The findings reveal that faith maturity is not developed individually but through a continuous process of mentoring, where values, spiritual integrity, and leadership character are transmitted from proven leaders to future generations of faithful leaders. This process strengthens spiritual stability and prepares leaders who are capable of carrying out ministry responsibilities effectively. The study concludes that JKI The Rock needs a structured leadership development system that prioritizes both faithfulness and competence. Such a system is essential to ensure sustainable leadership regeneration and the long-term effectiveness of the church’s mission and ministry.
Kepemimpinan dan Tantangan Generasi di Era Digital di Gekisia Depok Berdasarkan Roma 12:2 Bertha Cristine Zebua; Asep Afaradi
Damai : Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat Vol. 3 No. 2 (2026): Mei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen dan Filsafat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/damai.v3i2.2114

Abstract

Technological developments have brought significant changes to various aspects of human life, including church life. These changes also impact intergenerational relationships within the congregation. This paper aims to examine the challenges faced by church leaders at GEKISIA Depok in serving Generation X, Millennials, and Generation Z, and to examine the relevance of the theological principle of Romans 12:2 in addressing these challenges. Ultimately, the author observes that differences in generational characteristics influence communication patterns, ministry models, and congregational expectations of church leadership. Therefore, church leaders in the digital age are required to be adaptive, transformative, and remain rooted in biblical values. Romans 12:2 serves as an important theological foundation for Christian leaders to experience a renewed mindset so they can serve according to God's will without being influenced by worldly patterns. Furthermore, the challenge of cross-generational leadership is not merely practical in nature, but also theological. Each generation brings different experiences, values, and perspectives in understanding faith and spirituality. Generation X tends to value institutional stability and loyalty, while Millennials are more oriented toward authentic experience and community. Generation Z, having grown up entirely in the digital age, communicates and expresses faith in ways that differ greatly from previous generations. In this context, church leaders are called to become bridges between generations, rather than simply following trends or rigidly preserving tradition.