Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Prototype Usahatani Terpadu Jambu Mete Dikembangkan Petani Berbasis Entrepreneurship di Sulawesi Tenggara La Panga Mpalasi; Rasidin Utha; I Wayan Puguh; La Oge; Ayu Lestari Dewi
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 3 No 2: Agustus (2023)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v3i2.242

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Identifikasi karateristik faktor pembatas internal dan eksternal usahatani terpadu jambu mete, (2) Mendesain Prototype Diversifikasi Usahatani Terpadu yang dikembangkan petani jambu mete di Sulawesi Tenggara, (3) Merumuskan kebijakan prioritas strategi pengembangan diversifikasi usahatani terpadu yang ekonomis dan berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan pada sentra produksi jambu mete di Sulawesi Tenggara dengan menggunakan metode survey. Penentuan sampling menggunakan Cluster sampling pada setiap pola usahatani terpadu.yang dikembangkan petani jambu mete di Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1). Karateristik faktor pembatas internal dan eksternal Usahatani Terpadu jambu mete di Sultra adalah kondisi sosial ekonomi petani, pola usahatani, kelompok tani, dan penanganan pascapanen serta kebijakan pemerintah. (2). Desain Prototype diversifikasi Usahatani Terpadu yang dikembangkan petani jambu mete di Sultra ditinjau dari aspek adopsi teknologinya sebagai berikut; (a). Multiple Crops farms diversified Prototype pola Mixed Culture dengan metode horizontal dan vertikal kontrak: Jambu mete – Pisang/kelapa/ Rumput Makanan Ternak (HMT). (b). Multiple Integrated farms Diversified Prototype Pola Integrasi dengan metode vertikal koordinatif : Jambu mete - ternak Sapi/Kuda /Kambing /Unggas dan HMT. (c). Multiple Product bisnis diversified Prototype, pola Regional Farms bussines, metode Vertikal Kontrak seperti : Usaha Pengolahan Jambu mete, Usaha Sarana produksi, Usaha Pemasaran hasil Usahatani terpadu dan by produknya (3)Kebijakan . prioritas strategi pengembangan usahatani terpadu jambu mete yang ekonomis dan berkelanjutan melalui: a) Strategi PSI_KPJ (Pangkas – Sanitasi –Integrasi- Kelola- Panen – Jual), prototipe diversifikasi Multiple integrated farms, pola vertikal koordinatif. b) Rehabilitasi – Sanitasi- sambung pucuk- kelola - panen – jual (RSS-KPJ) adalah Prototipe diversifikasi Multiple crops farming system, pola horizontal dan c) PEG-PAP (Proteksi Eksport gelondong – Pabrikasi - Aneka produk - pemasaran), prototipe diversifikasi Multiple product farm bussines pola regional vertikal kontrak.
Pemberdayaan Warga Binaan Lapas Kelas II Kendari Berbasis Pengembangan Usaha Tanaman Tomat Bahrun, Andi; Panga, La; Tamrin, Tamrin; Oge, La
Almufi Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 4 No 2: Desember (2024)
Publisher : Yayasan Almubarak Fil Ilmi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63821/ajpkm.v4i2.368

Abstract

Lapas Lapas Kelas II Kendari memiliki sebidang lahan yang diperuntukan untuk dikelola oleh warga binaan yang bergabung pada Kelompok Tani Lapas Idaman Baruga. Lahan belum dimanfaatkan secara maksimal, sebagian lahan tidak dimanfaatkan, hasil tanaman termasuk tomat rendah dan menggunakan pupuk kimia serta saja karena pengetahuan dan keterampilan teknik budidaya masih sangat rendah. Disamping itu hasil buah tomat hanya bisa dikonsumsi atau dijual dalam bentuk buah segar dan tidak ada diolah menjadi produk olahan yang memiliki nilai tambah. Pemberdayaan Warga Binaan Lapas Kelas II Kendari Berbasis Pengembangan Usaha Tanaman Tomat sangat diperlukan seperti bimbingan teknis budidaya, panen dan pascapanen dan proses pengolahan buah tomat menjadi produk tomat kering bergizi (TOMKERGIZ), pengemasan dan pemasaran sangat perlu dilakukan. Tujuan pelaksanaan kegiatan adalah untuk memberdayakan warga binaan Lapas Kelas II Kendari sebagai upaya memberikan semangat dan motivasi serta dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bidang budidaya tanaman tomat dan pengolahan buah tomat menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan menguntungkan sehingga bisa menjadi modal usaha untuk mengembangkannya ketika kelak bebas menjalani tahanan. Keberhasilan kegiatan ini dapat memberikan kepercayaan diri dan motivasi bagi warga binaan karena ada peningkatan pengetahuan dan adanya keterampilan dalam budidaya tanaman, mengolah produk serta menejemen usaha sehingga diharapkan menjadi percontohan pembinaan warga binaan Lapas diseluruh Indonesia. Berdasarkan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut 1) Warga binaan yang tergabung dalam kelompok tani Idaman Lapas Baruga sangat antusias k mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat yang meliputi produksi pupuk dan mulsa organik serta aplikasinya, budidaya tomat organik, pengolahan buah tomat menjadi produk olahan, penyimpanan dan pengemasaan serta pengelolaan kelompok dan pemasaran; 2) Inovasi teknologi yang diberikan adalah budidaya tanaman menggunakan pupuk kandang, biochar dan mulsa organik yang dapat dapat memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan hasil tanaman tomat serta inovasi produk olahan buat tomat menjadi tomat kering bergizi (TOMKERGIZ) dengan kemasan produk yang baik; 3)Tingkat penerimaan dan penguasaan warga binaan petani terhadap materi yang diberikan dikategorikan baik sampai dengan sangat baik; 4)Pimpinan Lapas Kelas II Kendari sangat respon terhadap kegiatan program pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan dan berharap agar dapat berkelanjutan dan agar jenis serta volume dapat ditingkatkan agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta motivasi serta kepercayaan diri warga binaan jika kelak bebas dan kembali ditengah-tengah masyarakat.
PEMBERDAYAAN KELOMPOK TANI MAJU BERSAMA MELALUI BUDIDAYA TANAMAN HORTIKULTURA DAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK  DI KABUPATEN KOLAKA TIMUR Harudin, La; La Oge; Wa Ode Umrawati Latif; La Ode Santiaji Bande; Muhammad Amrullah Pagala; Deki Zulkarnain; La Ode Muh. Munadi; Yamin Yaddi; La Ode Sahaba
Marsialapari: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2025): Nopember
Publisher : Yayasan Baitul Hikmah al-Zain

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63424/marsialapari.v2i3.492

Abstract

Empowering farmers in Kolaka Timur Regency through horticultural crop cultivation and organic fertilizer production aims to enhance farmers' knowledge and skills in managing agriculture more efficiently and sustainably. This community service program involves the Maju Bersama Farmers Group as the main subject and is implemented using a participatory approach, where farmers are directly involved in planning, training, and field mentoring. The activities carried out include training on modern horticultural cultivation techniques, organic fertilizer production, and ongoing field mentoring. The results of the program show an increase in farmers' knowledge regarding efficient farming techniques, as well as heightened awareness of the importance of using organic fertilizers. Furthermore, social changes occurred, including the emergence of local leaders who inspire other farmers and the formation of new practices within the agricultural system. This program successfully increased agricultural productivity and farmers' well-being in Kolaka Timur Regency, while also contributing to the development of sustainable agriculture
OPTIMALISASI SELEKSI BIBIT AYAM KAMPUNG DAN PENGEMBANGAN MESIN TETAS SEDERHANA MELALUI PELATIHAN PADA KELOMPOK TANI SIPARUA, KABUPATEN KOLAKA TIMUR Harudin, La; Oge, La; Latif, Wa Ode Umrawati; Pagala, Muhammad Amrullah; Bande, La Ode Santiaji; Zulkarnain, Deki; Yaddi, Yamin; Munadi, La Ode Muh.; Jabuddi, La Ode; Sahaba, La Ode
PEDAMAS (PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT) Vol. 3 No. 05 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : MEDIA INOVASI PENDIDIKAN DAN PUBLIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peternakan ayam kampung di Kabupaten Kolaka Timur menghadapi tantangan dalam hal seleksi bibit unggul dan penggunaan mesin tetas yang efisien. Masalah ini menghambat produktivitas usaha peternakan. Tujuan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan peternak mengenai seleksi bibit ayam kampung yang baik dan pengembangan mesin tetas sederhana melalui pelatihan yang berbasis riset. Metode yang digunakan adalah pendekatan pelatihan yang terdiri dari sesi teori dan praktik langsung, serta evaluasi untuk mengukur perubahan pengetahuan dan keterampilan peternak. Temuan utama dari pelaksanaan pengabdian ini adalah peningkatan pengetahuan peternak mengenai teknik seleksi bibit unggul dan penggunaan mesin tetas, dengan rata-rata peningkatan pengetahuan sebesar 45%. Selain itu, tingkat keberhasilan penetasan telur setelah menggunakan mesin tetas sederhana meningkat hingga 90%. Kesimpulannya, pelatihan ini berhasil meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha peternakan ayam kampung, serta memberi dampak positif terhadap pola pikir peternak yang lebih terbuka terhadap penggunaan teknologi tepat guna.
Pengembangan Teknologi Pascapanen Berbasis Kearifan Lokal dalam Mendukung Ketahanan Pangan La Oge
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa dan Akademisi Vol. 1 No. 4 (2025)
Publisher : Prodi PGSD Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/intelektual.v1i4.320

Abstract

Ketahanan pangan merupakan isu strategis dalam pembangunan berkelanjutan yang menekankan pentingnya ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan, serta stabilitas pangan. Salah satu tantangan utama di Indonesia adalah tingginya kehilangan hasil pertanian pada tahap pascapanen yang dapat mencapai 20–30% dari total produksi. Oleh karena itu, pengembangan teknologi pascapanen menjadi solusi penting untuk mengurangi kehilangan hasil dan meningkatkan kualitas produk. Dalam konteks ini, kearifan lokal memiliki potensi besar untuk mendukung inovasi teknologi yang adaptif, murah, dan ramah lingkungan. Artikel literature review ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi pengembangan teknologi pascapanen berbasis kearifan lokal terhadap ketahanan pangan. Metode yang digunakan adalah telaah sistematis terhadap literatur ilmiah, laporan penelitian, serta dokumen kebijakan terkait. Hasil analisis menunjukkan bahwa praktik kearifan lokal seperti fermentasi tradisional, penyimpanan dengan bahan alami, penggunaan energi terbarukan sederhana, hingga teknik pengeringan alami terbukti relevan untuk dikembangkan dalam sistem pascapanen modern. Integrasi kearifan lokal dengan teknologi inovatif juga mampu menciptakan nilai tambah, meningkatkan daya simpan produk, dan memperluas akses pasar. Dengan demikian, pengembangan teknologi pascapanen berbasis kearifan lokal bukan hanya berkontribusi pada efisiensi produksi, tetapi juga memperkuat kemandirian pangan masyarakat. Kesimpulannya, revitalisasi kearifan lokal dalam teknologi pascapanen dapat menjadi strategi yang efektif dalam mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan di Indonesia.
The Effect of the Biomass Weight Ratio of Patchouli Leaves and Sawdust on the Chemical Properties of Patchouli Briquettes Amal Muliono; La Oge; Erni Danggi; Rustan Ari; Hastian Hastian; Wa Ode Nur Siti Fatimah
Journal of Agriculture, Agribusiness, Welfare, Technology, Humanity, Environment, Social, and Economy Vol. 2 No. 1 (2026): April - June 2026 Edition
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/agrones.v2i1.735

Abstract

The increasing depletion of fossil fuel reserves and rising global energy demand have accelerated the development of renewable energy sources, particularly biomass-based fuels. This study aimed to analyze the effect of biomass weight ratios of patchouli leaf waste and sawdust on the chemical properties and combustion rate of charcoal briquettes, and to determine the optimum composition for producing high-quality briquettes. The research was conducted in Wakumoro Village, Parigi District, Muna Regency, Southeast Sulawesi, from October to November 2025. A Completely Randomized Design (CRD) was applied with five treatment levels and three replications. The treatments consisted of different ratios of patchouli leaves and sawdust: P1 (100% patchouli leaves), P2 (75% + 25%), P3 (50% + 50%), P4 (25% + 75%), and P5 (100% sawdust). The observed parameters included moisture content, ash content, and combustion rate. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 95% confidence level. The results showed that biomass composition significantly affected moisture content, ash content, and combustion rate of briquettes. The best overall performance was obtained in P2, with moisture content of 1.57% and ash content of 7.48%, both meeting the Indonesian National Standard (SNI 01-6235-2000). The highest combustion rate was observed in P3 at 6.93 g/min. These findings indicate that the combination of patchouli leaf waste and sawdust has strong potential as an environmentally friendly alternative fuel and provides an effective solution for agricultural and wood waste utilization.  
Response Of Nilaparvata Lugens (Stal.) Hemiptera; Delpacidae To The Application Of Deltamethrin Insecticides At Sublethal Concentrations Awaluddin Awaluddin; Waode Siti Anima Hisein; Siska Efendi; La Oge; Cecep Ijang Wahyudin
Journal of Agriculture, Agribusiness, Welfare, Technology, Humanity, Environment, Social, and Economy Vol. 1 No. 4 (2026): Januari - Maret 2026 Edition
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/agrones.v1i4.579

Abstract

The initial population of Nilaparvata lugens was obtained from the field and developed in the entomology and toxicology laboratory of the plant protection department of Halu Oleo University. This study began with mass cultivation of the N. lugens insect pest. This was followed by selecting the LC50 concentration based on mortality at 72 hours after treatment. The results of the probit analysis found an LC50 value 3.16 ml/L for the insecticide deltamethrin. The high recommended concentration found for the insecticide deltamethrin is suspected because it is not recommended for use on N. lugens in rice fields. Increasing the frequency of application at sublethal concentrations (LC10 and LC25) was shown to trigger an increase in the resurgence ratio of 1.50 and 1.70 times, respectively, compared to the control group.
Development of Precision Feed Technology Model for Ruminant Livestock Based on Nutritional Sensors Hajar Hajar; Inal Inal; Awal Maulid Sari; La Oge
Journal of Agriculture, Agribusiness, Welfare, Technology, Humanity, Environment, Social, and Economy Vol. 1 No. 4 (2026): Januari - Maret 2026 Edition
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/agrones.v1i4.627

Abstract

Feeding is a key factor in ruminant livestock production systems, often ignoring the variations in individual nutritional needs of livestock, reducing efficiency and increasing feed waste. Therefore, this study aims to examine and develop a precision feeding technology model concept for ruminant livestock based on nutritional sensors through a descriptive-interpretive approach based on the latest scientific literature. The results show that the use of nutritional sensors, rumen sensors, feed consumption sensors, and feeding behavior sensors allows for real-time monitoring of livestock physiological conditions and nutritional status. Integration of sensor data into an adaptive nutrition model has been shown to improve the accuracy of estimating individual nutritional requirements, reduce the risk of overfeeding and underfeeding, and increase feed efficiency. Further discussion shows that although precision feeding technology has developed rapidly, its application is still dominated by intensive livestock systems in developed countries.
The Effect of Corn Flour Substitution on Moisture Content and Organoleptic Properties in Cookies (Zea Mays L) Titik Harianti; Ruksanan Ruksanan; Hastian Hastian; La Oge; Rustan Ari
Journal of Agriculture, Agribusiness, Welfare, Technology, Humanity, Environment, Social, and Economy Vol. 2 No. 1 (2026): April - June 2026 Edition
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Unsultra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64690/agrones.v2i1.708

Abstract

This study aimed to determine the effect of corn flour (Zea mays L.) substitution on the moisture content and organoleptic characteristics of cookies, including color, aroma, texture, and taste. The study employed an experimental method with a quantitative approach using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments: A0 (0%), A01 (15%), A02 (25%), and A03 (35%), each with three replicates, resulting in 12 experimental units. The cookie production process involved substituting corn flour for wheat flour; moisture content was then analyzed using the oven method, and organoleptic testing was conducted with 15 panelists using a 1–5 hedonic scale. The results indicated that corn flour substitution influenced the moisture content and organoleptic characteristics of the cookies. The highest moisture content was obtained in treatment A0 at 4.56%, while the lowest moisture content was found in treatment A01 at 2.46%. The organoleptic test results showed that treatment A02 received the highest score for color at 3.80, while the highest scores for aroma, texture, and taste were obtained in treatment A0 at 4.00, 3.93, and 4.00, respectively. In general, increasing corn flour substitution caused the color to change to a more yellowish-brown and made the cookies more brittle due to the absence of gluten in corn flour. Based on all test parameters, treatment A02 with 25% corn flour substitution showed the most balanced results and was still acceptable to the panelists. This study indicates that corn flour has the potential to be used as a wheat flour substitute in the development of cookies based on local food ingredients.
PENERAPAN TEKNOLOGI HIDROGEL-NANO MATERIAL UNTUK PENINGKATAN PRODUKTIVITAS CABAI PADA TANAH SALIN MELALUI KEMITRAAN MASYARAKAT DI PULAU BAHO, SULAWESI TENGGARA Wd Syafitri Salsabila; La Oge; Supriyadi Supriyadi
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 3 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i3.36832

Abstract

ABSTRAK                                                                                     Pulau baho terletak di Desa Labuan Beropa, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Pulau Baho masih 1 daratan dengan  laonti akan tetapi tidak adanya akses darat sehingga akses menuju dusun Baho menggunakan perahu. Sebagian besar dari masyarakatnya adalah nelayan yang sangat tergantung pada ekosistem pesisir. Kondisi perairan yang kadang tidak bersahabat menyebabkan nelayan sering menunda penangkapan ikan sehingga mempengaruhi pendapatan perekonomian. Dusun Baho umumnya memiliki tanah dengan tekstur pasir, berkadar garam dan rendah unsur hara.  Oleh sebab itu, lahan dikawasan pesisir Baho dapat dikatakan tidak dapat memberikan kontribusi pendapatan dari sektor pertanian bagi penghuninnya. Pengabdian ini bertujuan memberdayakan masyarakat dusun baho khususnya kelompok “Gold Mom’ yang beranggotakan 20orang melalaui penerapan teknolgi hidrogel-nanomaterial dalam budidaya cabai pada tanah salin dengan waktu kegaitan selama 8 bulan. Budidaya tanaman pangan seperti cabai merupakan produk holtikultura yang bernilai ekonomi tinggi yang bersifat multiguna, karena dapat digunakan  sebagai bahan pangan maupun obat-obatan. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan budidaya, pengolahan pasca panen (Saus sambal dan cabai bubuk), Pembentukan kelompok tani serta manajemen usaha tani yang mandiri. Metode pelaksanaan terdiri dari sosialisasi, pelatihan teknis, penerapan teknologi, pendampingan kelompok hingga evaluasi berkelanjutan. Luaran yang ditargetkan meliputi meningkatnya keterampilan masyarakat dalam budidaya dan pengolahan cabai, terbentuknya kelompok tani, serta publikasi jurnal. Dampak jangka panjang yang diharapkan adalah peningkatan kemandirian ekonomi masyarakat pesisir dan model usaha tani cabai berbabsis inovasi yang berkelanjutan.  Hasil kegiatan penerapan teknologi untuk peningkatan pertumbuhan tanaman cabai menunjukkan ada peningkatan 50-70% dibanding tanaman yang tidak menggunakan Hodrogel-Nano dan juga adanya kegiatan baru bagi kelompok ibu-ibu di dusun baho Hasil kegiatan penyuluhan dan pelatihan menunjukkan ada peningkatan pemahaman masyarakat dalam penanaman cabai dan juga pascapanen.Kata Kunci: Teknologi Hidrogel-Nano Material, Budidaya Cabai, Pemberdayaan Masyarakat, Pascapanen. ABSTRACTBaho Island is located in Labuan Beropa Village, Laonti District, South Konawe Regency, Southeast Sulawesi. Baho Island shares a landmass with Laonti, but there is no land access, so access to Baho Hamlet is by boat. Most of the residents are fishermen who depend heavily on the coastal ecosystem. The sometimes unfriendly water conditions often cause fishermen to postpone fishing, which impacts their income. Baho Hamlet generally has sandy soil with a high salt content and low nutrient content. Therefore, the land in the Baho coastal area can be said to be unable to contribute to agricultural income for its residents.  This community service aims to empower the Baho hamlet community, especially the 20-member "Gold Mom" group, through the application of hydrogel-nanomaterial technology in chili cultivation on saline soil with an activity period of 8 months. Cultivation of food crops such as chili is a horticultural product with high economic value that is multipurpose, because it can be used as food and medicine. In addition, this program also includes training in cultivation, post-harvest processing (chili sauce and chili powder), the formation of farmer groups and independent farming business management. The implementation method consists of socialization, technical training, technology application, group mentoring to continuous evaluation. Targeted outputs include increasing community skills in chili cultivation and processing, the formation of farmer groups, and journal publications. The expected long-term impact is increased economic independence of coastal communities and a chili farming business model based on sustainable innovation. The results of the application of technology to increase chili plant growth show a 50-70% increase compared to plants that do not use Hydrogel-Nano and also the creation of new activities for mothers' groups in Baho hamlet. Results of extension activities  The training demonstrated an increase in community understanding of chili cultivation and post-harvest management.Keywords: Hydrogel-Nano Material Technology, Chili Cultivation, Community Empowerment, Post-Harvest.