Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Eksplorasi Penerimaan Diri pada Ibu dengan 2 Anak Berkebutuhan Khusus Muhammad La Rayba Fie; Fitrania Maghfiroh
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 12 No. 03 (2025): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v12n03.p1031-1046

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika penerimaan diri pada ibu yang memiliki dua anak berkebutuhan khusus. Penerimaan diri menjadi aspek penting yang memengaruhi kesiapan ibu dalam menjalani peran pengasuhan, terutama ketika menghadapi tekanan emosional dan sosial yang menyertai kondisi anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, melibatkan empat orang ibu di Kota Surabaya yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur dan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penerimaan diri berlangsung secara bertahap dan tidak linier, dimulai dari emosi negatif seperti sedih, marah, dan bingung, hingga berkembang menjadi sikap ikhlas, reflektif, dan penuh syukur. Nilai spiritualitas, dukungan sosial, serta strategi adaptif dalam pengasuhan turut membentuk ketahanan psikologis para ibu. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan pemahaman psikologis dalam konteks keluarga dengan anak berkebutuhan khusus, serta menjadi acuan dalam merancang dukungan dan intervensi yang lebih empatik dan kontekstual. Abstract This study aims to explore the dynamics of self-acceptance in mothers who have two children with special needs. Self-acceptance is a crucial psychological aspect that influences a mother’s readiness to fulfill her caregiving role, especially when faced with emotional and social pressures related to her child’s condition. This research uses a qualitative approach with a phenomenological method, involving four mothers in Surabaya who have children diagnosed with Special Needs. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and analyzed using thematic analysis. The findings reveal that the process of self-acceptance is gradual and non-linear, beginning with negative emotions such as sadness, anger, and confusion, which later develop into acceptance, reflection, and gratitude. Spiritual values, social support, and adaptive parenting strategies contribute significantly to the mothers' psychological resilience. This research contributes to the psychological understanding of families with children with special needs and serves as a reference for designing more empathetic and contextual psychosocial support and interventions.
Gambaran Psikologis Penyintas Kekerasan Seksual dengan Skizofrenia Paranoid: Studi Kasus Psikoanalisis Adilah Cahya Putri; Fitrania Maghfiroh
Character Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 01 (2026): Character Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/cjpp.v13n01.p237-245

Abstract

Pengalaman traumatis seperti pelecehan seksual dapat memberikan dampak jangka panjang yang kompleks bagi korban, terutama jika tidak dikelola secara adaptif. Pada sebagian individu, pengalaman tersebut dapat berperan terhadap munculnya gangguan psikologis berat di kemudian hari. Tujuan penelitian ini untuk memahami dinamika psikologis individu dewasa yang memiliki pengalaman pelecehan seksual dengan gangguan skizofrenia paranoid ditinjau dari perspektif psikoanalisis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam, serta telaah dokumen rekam medis. Analisis data dilakukan secara deskriptif-interpretatif dengan mengacu pada konsep-konsep psikoanalisis. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman pola asuh permisif pada masa kanak-kanak dapat berpengaruh terhadap dominasi struktur id dan lemahnya fungsi ego. Gejala psikotik yang muncul di kemudian hari merupakan manifestasi represi trauma pelecehan seksual yang tidak terselesaikan. Dinamika psikologis partisipan menunjukkan bahwa trauma masa lalu dan konflik bawah sadar memiliki peran dalam perkembangan gangguan psikologis berat, sehingga konsep psikoanalisis relevan untuk memahami dan merumuskan intervensi yang lebih komperhensif. Abstract Traumatic experiences such as sexual abuse can have complex, long-term impacts on victims, especially if not managed adaptively. For some individuals, these experiences can contribute to the development of serious psychological disorders later in life. The aim of this study is to understand the psychological dynamics of adult individuals who have experienced sexual abuse with paranoid schizophrenia disorders from a psychoanalytic perspective. The research used a qualitative approach with a case study design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and a review of medical records. Data analysis was conducted descriptively and interpretively, drawing on psychoanalytic concepts. This research shows that permissive parenting experiences during childhood can influence the dominance of id structures and weaken ego function. Psychotic symptoms that emerge later in life are a manifestation of the repression of unresolved sexual abuse trauma. The psychological dynamics of the subject indicate that past trauma and unconscious conflicts play a role in the development of severe psychological disorders, so that psychoanalytic concepts are relevant for understanding and formulating more comprehensive interventions.
Misattribution of Self-Blame in Sexual Relationships as a Manifestation of Childhood Maltreatment: Onset and Development of Disorganized Schizophrenia Lucky Ruth Argatha Marpaung; Fitrania Maghfiroh
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 14 No. 4 (2026): Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/szwdcx88

Abstract

The mechanism through which self-blame operates within sexual relationships among individuals with a history of childhood maltreatment who develop disorganized schizophrenia remains poorly understood. This study aimed to explore how such misattribution operates within the psychological dynamics of an individual with a history of childhood maltreatment who developed disorganized schizophrenia. A qualitative approach with a single case study design was employed. The participant was a 48-year-old male with the initials F.C., diagnosed with F20.13 Hebephrenic Schizophrenia Episodic Remittent, undergoing inpatient treatment at Hospital X. Data were collected through systematic observation, semi-structured interviews, alloanamnesis, and medical record review, then analyzed using thematic analysis. Four major themes were identified: childhood maltreatment as the foundation of vulnerability, the formation of negative self-representation, sexual relationships and self-blame misattribution, and the accumulation of psychological pressure toward disorganized schizophrenia. Findings indicate that physical and emotional violence from the caregiver figure formed disorganized attachment, negative self-schema, and characterological self-blame, which manifested most concretely when the participant constructed a narrative of biological inadequacy to attribute his partner’s departure. Within the diathesis-stress framework, this misattribution served as the convergence point between childhood vulnerability and adult life stressors that accelerated the clinical trajectory toward disorganized schizophrenia. Mekanisme peran self-blame dalam relasi seksual pada individu dengan riwayat childhood maltreatment yang berkembang menjadi skizofrenia disorganisasi masih belum banyak dipahami. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bagaimana misatribusi self-blame dalam relasi seksual beroperasi sebagai bagian dari dinamika psikologis individu dengan riwayat childhood maltreatment yang berkembang menjadi skizofrenia disorganisasi. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus tunggal digunakan dalam penelitian ini. Partisipan adalah seorang laki-laki berinisial F.C., berusia 48 tahun, dengan diagnosis F20.13 Hebephrenic Schizophrenia Episodic Remittent. Data dikumpulkan melalui observasi sistematis, wawancara semi-terstruktur, alloanamnesa, dan telaah rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi empat tema utama: childhood maltreatment sebagai latar kerentanan, pembentukan representasi diri negatif, relasi seksual dan misatribusi self-blame, serta akumulasi tekanan psikologis menuju skizofrenia disorganisasi. Temuan menunjukkan bahwa kekerasan fisik dan emosional dari figur pengasuh membentuk disorganized attachment, negative self-schema, dan characterological self-blame yang termanifestasi paling nyata ketika partisipan mengonstruksi narasi ketidakmampuan biologis sebagai atribusi atas kepergian kekasihnya. Dalam kerangka model diathesis-stress, misatribusi ini menjadi titik konvergensi antara kerentanan masa kanak-kanak dan stresor kehidupan dewasa yang mempercepat perjalanan klinis menuju skizofrenia disorganisasi.