Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Optimization Approach of Microwave Assisted Extraction Anthocyanins Pigments Butterfly Pea Flowoers (Clitoria Ternatea L.) Using OFAT (One-Factor-At-a-Time) Method Aththobarani, Muhammad Daffa'; Priyanto, Anugerah Dany; Putra, Andre Yusuf Trisna; Wicaksono, Luqman Agung; Erliyanti, Nove Kartika; Panjaitan, Renova; Pujiastuti, Caecilia; Triani, Nova
AGRITEPA: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian Vol 12 No 1 (2025)
Publisher : UNIVED Press, Dehasen University Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/agritepa.v12i1.8268

Abstract

Optimization of anthocyanin pigment extraction from butterfly pea flowers (Clitoria ternatea L.) is an important focus to increase the efficiency of obtaining valuable active compounds. This study marks an initial approach in the application of Microwave-Assisted Extraction (MAE) using 0.75% aquadest-tartaric acid solvent, with the hope of producing more stable anthocyanins. The main objectives of this study were to identify the effect of the solvent-material ratio, extraction duration, and MAE power level on anthocyanin levels (mg/L) through the One-Factor-At-a-Time (OFAT) method. The results showed that the optimal treatment was obtained at condition P17, with a solvent-material ratio of 1:15, an extraction time of 15 minutes, and an MAE power of 450 watts, which produced an anthocyanin level of 33.89 ± 0.47 mg/L. These findings confirm that increasing the solvent-material ratio to the optimal point contributes to increasing anthocyanin recovery. However, excessive MAE time and power can cause pigment degradation. The optimal ratio variables were found to be in the range of 1:15 to 1:25, extraction time 9–15 minutes, and MAE power 270–450 watts. This study is expected to be the basis for further optimization using the Response Surface Methodology (RSM) method which allows for deeper analysis of the interactions between variables.
Penentuan Konstanta Isoterm Freundlich dan Kinetika Adsorpsi Karbon Aktif Terhadap Asam Asetat Setyorini, Dwi; Arninda, Andi; Syafaatullah, Achmad Qodim; Panjaitan, Renova
Eksergi Vol 20 No 3 (2023)
Publisher : Prodi Teknik Kimia, Fakultas Teknik Industri, UPN "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/e.v20i3.10835

Abstract

Karbon aktif merupakan salah satu adsorben yang paling sering digunakan. Salah satu senyawa yang dapat diserap yaitu asam asetat. Untuk mengetahui kinerja adsoben lebih lanjut, maka diperlukan studi kinetika berdasarkan persamaan isotherm Freundlich. Isoterm Freundlich mampu menunjukkan jenis adsopsi apakah secara kimisorpsi atau fisisorpsi dan berlangsung secara multilayer. Studi kinetika pseudo first orde dan pseudo second orde dimaksudkan untuk mengetahui mekanisme dan karakteristik adsorpsi yang berlangsung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konstanta isotherm Freundlich dan kinetika adsorpsi karbon aktif terhadap asam asetat. Konsentrasi asam asetat yang digunakan untuk mengetahui konstanta freundlich yaitu 0,5M, 0,25M, 0,125M, 0,0625M, 0,03125M dengan lama waktu kontak selama 10 menit. Sedangkan kinetika adsorpsi dilakukan dengan menggunakan asam asetat yang berkonsentrasi 0,5 M dengan waktu adsorpsi 2 menit, 4 menit, 6 menit, 8 menit dan 10 menit. Kemudian filtrat di titrasi dengan NaOH 0,1N. Ukuran karbon aktif yang digunakan antara lain 180 mess, 420 mess dan 600 mess.  Data yang diperoleh dianalisis dengan persamaan freundlich, pseudo first orde dan pseudo second orde. Data analisis yang didapatkan nilai konstanta freundlich yaitu sebesar 50,00342 dan memenuhi kinetika orde dua yang artinya, proses adsorpsi dipengaruhi lebih dari satu faktor.
Sonochemical-assisted biosynthesis of silver nanoparticles using cymbopogon nardus L. essential oil: advanced process optimization through response surface methodology Wira, Guardiola Rosa; Maharani, Hijria Putri; Erliyanti, Nove Kartika; Panjaitan, Renova; Pujiastuti, Caecilia
Konversi Vol 14, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/k.v14i1.21906

Abstract

This research investigates the fabrication and characterization regarding silver nanoparticles (AgNPs) utilizing essential oil derived from citronella leaves (Cymbopogon nardus L.) as a bioreductant. The synthesis method employed is sonochemistry, with variations in pH levels to determine optimal conditions for AgNPs yield. The use of essential oil as a bioreductant offers eco-friendly advantages and high efficiency in reducing metal ions. The results indicate that the highest yield of 8.67% was achieved at pH 9.0280 and 59.7190 minutes of sonochemical processing. Statistical optimization of processing parameters was conducted to maximize the yield of AgNPs, with the optimization process analyzed using Response Surface Methodology (RSM). The sequence of experimental runs, condition variations, and obtained results were determined using the Central Composite Design (CCD). The model demonstrates a strong correlation with the experimental data, exhibiting an adjusted R² value of 0.9684. A high F-value of 30.61 and a low p-value of 0.0009 suggest that the regression model is statistically significant and effectively accounts for variations in AgNPs yield. The lack-of-fit value for the model is 0.0359, indicating no significant discrepancy between the experimental data and the model's predicted values. The successful formation of AgNPs was confirmed, with absorption peaks observed within the 400–450 nm range.
Recovery of Aluminum and Iron from Coal Fly Ash Waste using Microwave Assisted Extraction (MAE) for Coagulant Satrio, Wahyu Sugeng Bagus; Sari, Vini Fita; Panjaitan, Renova; Susilowati; Perwitasari, Dyah Suci; Redjeki, Sri; Triana, Nurul Widji
AJARCDE (Asian Journal of Applied Research for Community Development and Empowerment) Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Asia Pacific Network for Sustainable Agriculture, Food and Energy (SAFE-Network)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29165/ajarcde.v10i1.878

Abstract

Coal fly ash is an industrial waste containing aluminium and iron with potential for reuse as coagulant materials. This study aimed to recover aluminium and iron from coal fly ash using Microwave Assisted Extraction (MAE) with hydrochloric acid, and to evaluate their application in textile wastewater treatment. Variations in HCL concentration (1-5 M) and extraction time (30-50 minutes) were examined to determine optimal conditions. The result showed that the highest recovery was achieved at 5 M HCL and 40 minutes, with aluminium and iron recovery of 48.4% and 78%. The extracted aluminium and iron were successfully applied as coagulants in textile wastewater treatment, resulting in significant reductions in color to 30 Pt-Co, turbidity to 26.9 NTU, and TSS to 46 mg/L, while maintaining a stable pH value at 6. All treated wastewater parameters complied with the applicable discharge standards. These finding demonstrate that MAE is an effective and promising approach for recovering aluminum and iron from coal fly ash and production sustainable coagulant for industrial wastewater treatment. Contribution to Sustainable Development Goals (SDGs):SDG 6: Clean Water and SanitationSDG 9 : Industry, Innovation, and InfrastructureSDG 12 : Responsible Consumption and ProductionSDG 13: Climate ActionSDG 15: Life on Land
Penurunan Kadar Pb dan Cd dengan Metode Ion exchange Secara Batch dengan Recycle pada Limbah Cair Industri Cat Nur Suroya, Nala; Anataya Putri Azzahra, Firliandiva; Pujiastuti, Caecilia; Panjaitan, Renova
Jurnal Serambi Engineering Vol. 11 No. 2 (2026): April 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Limbah cair merupakan sisa buangan dalam suatu proses yang tidak digunakan lagi. Limbah cair tersebut tidak boleh dibuang sembarangan. Terdapat baku mutu yang mengatur kadar maksimal dalam pembuangan limbah cair. Pengolahan limbah cair perlu dilakukan agar data memenuhi baku mutu tersebut, salah satunya menggunakan metode ion exchange. Metode ion exchange dapat menurunkan kadar logam berat dalam suatu limbah cair. Logam berat tersebut memiliki efek toksik jika terakumulasi dalam tubuh makhluk hidup. Ion exchange menggunakan resin penukar ion untuk menukar logam berat seperti timbal dan kadmium. Resin yang digunakan dalam penelitian adalah resin kation asam kuat Trillite KH 80. Untuk memaksimalkan pertukaran ion variabel yang dijalankan yaitu tinggi resin, laju alir dan recycle. Tinggi resin yang digunakan secara berturut turut 20; 24; 28; 32; 36 cm yang akan dimasukkan dalam kolom penukar ion dengan diameter 7 cm. Laju alir yang digunakan dalam mengalirkan limbah cair yaitu 60; 70; 80; 90; 100 mL/menit. Recycle dilakukan sebanyak 1-3 kali. Logam berat yang diamati yaitu timbal dan cadmium. Hasil penelitian menunjukkan tinggi resin 36 cm, laju alir 60 mL/menit dengan recycle 3 kali merupakan hasil terbaik. Kadar akhir timbal yang didapat sebesar 1,3 mg/L dan kadar akhir cadmium sebesar 0,03 mg/L.
Sosialisasi Pembuatan Pupuk Berbasis Sampah Organik Rumah Tangga dan Abu Daun Bambu Panjaitan, Renova; Susilowati, Susilowati; Hanif, Much Fahrizal
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Januari - Maret
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i1.8089

Abstract

Kendala pengelolaan sampah masih menjadi permasalahan umum yang juga dihadapi oleh masyarakat Desa Segoro Tambak, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Dalam mengatasi permasalahan sampah tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Edukasi (PKM EDU) dari Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur (UPNVJT) melaksanakan program sosialisasi diversifikasi pengelolaan sampah yaitu dengan memanfaatkan sampah organik rumah tangga menjadi bahan baku pembuatan pupuk organik cair dengan penambahan abu daun bambu. Pelaksanaan program tersebut dilakukan dalam lima tahap yaitu pembuatan pupuk organik cair melalui fermentasi anaerob dalam skala laboratorium, pengaplikasian produk terhadap tanaman cabai, pelaksanaan sosialisasi, pembuatan bank sampah dan perancangan peningkatan skala alat. Berdasarkan tahapan yang telah dilakukan tersebut diketahui bahwa produk pupuk organik cair yang dihasilkan, yang disebut PUCASARI, dapat membantu pertumbuhan tanaman cabai, dimana tinggi tanaman bertambah dari 6,5 cm menjadi 9,2 cm padap pengamatan minggu pertama hingga minggu ketiga, sedangkan pada tanaman kontrol tinggi tanaman hanya mencapai 5 cm hingga 6,7 cm. Selain itu, kegiatan sosialisasi yang dilakukan efektif dalam membantu meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pupuk organik cair. Berdasarkan kegiatan pengabdian yang telah dilakukan, disarankan program keberlanjutan pengabdian berikutnya berupa evaluasi umur simpan pupuk organik cair dan analisis ekonomi pengembangannya sebagai salah satu produk unggulan desa.