Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : PESHUM

Analisis Makna dan Relevansi Tradisi Mappasikkarawa dalam Perkawinan Adat Bone (Perspektif Memperkuat Identitas Budaya Bugis) Kahar, Dini Octaviani; Dimas Ario Sumilih; St. Junaeda
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 5: Agustus 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i5.11663

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami (1) simbol dan makna filosofi dari tradisi Mappasikkarawa dalam perkawinan adat Bugis Bone (2) penafsiran masyarakat terhadap tradisi Mappasikkarawa sebagai identitas budaya Bugis (3) Relevansi tradisi Mappasikkarawa dalam era modern kaitannya dengan mempertahankan identitas budaya Bugis. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan data kualitatif. Data di peroleh menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan ditentukan melalui purposive sampling, meliputi tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Analisis data menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Prosesi tradisi Mappasikkarawa memiliki kegiatan menyentuh bagian tertentu mempelai wanita setelah ijab qabul dan itu merupakan sebuah simbol yang memiliki makna filosofi yaitu Pertemuan dua ibu jari yang memiliki makna agar tidak saling egois dan mau bekerja sama, telapak tangan berisi memiliki makna agar dilancarkan rezeki, lengan memiliki makna kekuatan dan kesehatan, dada yang melambangkan kelembutan dan kesabaran, dahi melambangkan kepatuhan, diakhiri mencium tangan suami agar saling memaafkan dan mempererat hubungan suami istri (2) Mappasikkarawa menjadi identitas budaya Bugis karna mengandung nilai sosial, spiritual dan simbol penyucian diri sesuai dengan filosofi bugis tentang siri’ ( harga diri ) dan paccing ( kesucian ) sebelum memasuki fase baru dalam kehidupan (3) Tradisi ini tetap relevan dalam era modern, karena sebagai sarana pelestarian budaya bugis dan pembentukan identitas budaya . Tradisi ini perlu melibatkan generasi muda agar pewarisan dan pelestarian tradisi Mappasikkarawa tidak hilang dari masyarakat bugis.
A’matoang dan Dampak Sosial Pada Prosesi Pernikahan Masyarakat Makassar: Studi Kasus Di Masyarakat Dataran Tinggi Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan St. Junaeda
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 6: Oktober 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v3i6.6581

Abstract

Berpikir historis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam pembelajaran sejarah, khususnya bagi siswa yang mempelajari disiplin ilmu ini. Salah satu tantangan utama dalam pendidikan sejarah saat ini adalah kurangnya penguasaan keterampilan berpikir historis di kalangan siswa. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan urgensi keterampilan berpikir historis bagi siswa dalam mempelajari sejarah. Melalui pengembangan berpikir historis, siswa mampu mempelajari sejarah dengan cara yang lebih bermakna, serta memperoleh keterampilan analisis yang relevan dengan tantangan dunia modern. Penelitian ini menggunakan metode kajian pustaka untuk menggambarkan pentingnya berpikir historis dalam pembelajaran sejarah dan memberikan rekomendasi strategis bagi para pendidik untuk mengintegrasikan konsep ini ke dalam pengajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan keterampilan berpikir historis dapat membantu siswa memahami sejarah sebagai disiplin ilmu yang dinamis dan relevan dengan kehidupan kontemporer, sehingga mendorong mereka untuk menjadi individu yang lebih kritis, reflektif, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.This research is field research using qualitative data. The subjects of this research are the people of Makassar as cultural actors and the subjects of A’matoang, as one of the processions in Makassar ethnic wedding. Preliminary data shows that the social impacts arising from the A’matoang procession in the highland communities of Gowa Regency are simplified into two categories. First: Direct impact, (1) verbal rejection (accepting the gift) from the groom's family; (2) the emergence of offense on the part of the groom's family, who are forced to accept the gift of goods, due to economic limitations; (3) material changes occur, from household goods to money; and (4) the practice of suicide among brides (women), due to a misunderstanding in giving meaning to the word Ammaliangnggang as a response to the A’matoang procession. Second: Indirect impacts, (1) there is a compromise between the bride and groom's families, when agreeing to start the wedding procession; and (2) there are no concrete guidelines regarding wedding processions in Makassar society.The social impact of the A’matoang procession is a sign that Makassar ethnic wedding processions do not have to comply with traditional rules. The wedding procession continues to be constructed by cultural actors themselves. The sequence of the wedding procession can be compromised, so as to make things easier for both sides of the bride and groom's family.
Tradisi Akkammi’ Batara’ di Tritiro Kecamatan Bontotiro Kabupaten Bulukumna Sulawesi Selatan Ahmad Rasul Suherman; St. Junaeda
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 3 No. 6: Oktober 2024
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v3i6.6585

Abstract

Akkammi’ batara is a tradition of farming communities in general and the Tritiro community in particular. Akkammi Batarais an activity carried out by farming communities to maintain their gardens, a practice that has been ongoing for a long time until now. This paper aims to understand the process, function, and value of the akkammi' batara tradition. The method used is a descriptive method employing qualitative data. Qualitative data were obtained through observations, interviews with several informants, and data from documents. Observation was conducted by examining how the community's behavior is related to the akkami batara tradition. Observing their behavior starting from the preparation stage, implementation, and related aspects such as specific behaviors at certain times. Including when they leave and how they do it. To complement the data from observations, the researchers also collected field data by conducting interviews with several informants. The informants in this case are farmers who still practice the akkammi’ batara’ tradition to this day, as well as community members who were once actively involved in this tradition. Then, document data is used by the researcher in the form of documents owned by the village government related to data on the area of agricultural land and agricultural yields. This data helps researchers understand the research subject, including understanding the social conditions of the local community. The research results show that the process of akkammi’ batara’ has stages, namely (1) building or repairing the barrier wall or fence, (3) installing traps/sarombe at the edge of the barrier fence, (4) installing tools to repel wild boars and monkeys such as gare’do and lapa-lapa (sound-producing tools), pa’ boang (scarecrows), (5) inserting sappi’ (aromatic pest repellent tools) and scattering fresh leaves or branches (pangompo’) on the outer part of the barrier.
Pembudayaan Aksara Lontara’ Dalam Literasi Masyarakat Lokal Makassar Nurafandi M, Mutiah; Dimas Ario Sumilih; St. Junaeda
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i2.7043

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk; Menelusuri eksistensi aksara lontara’ sebagai literasi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat, mengetahui pandangan masyarakat Makassar khususnya siswa dan guru di SD Inpres Minasa Upa 1 yang mengampu pelajaran muatan lokal terhadap pembudayaan aksara lontara’sebagai literasi, mengetahui pengintegrasian pembudayaan aksara lontara’ dalam kurikulum SD Inpres Minasa Upa 1. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggunakan data kualitatif. Data dikumpulkan dengan melakukan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Eksistensi aksara lontara’ di Kota Makassar bukan hanya sebatas literasi dalam hal budaya tulis dan membaca, namun sudah adanya kemampuan masyarakat untuk membudayakan aksara lontara dalam bentuk produk buatan lokal yang kini menjadi kebanggaan Kota Makasssar, seperti di munculkannya motif lontara’ menguatkan identitas budaya terutama suku Makassar yaitu Batik lontara’. 2) Pandangan guru dan siswa tentang pembudayaan aksara lontara’kurang membudaya dalam kehidupan sehari-hari, namun secara umum eksistensinya tetap ada sebagai simbol identitas di Kota Makassar dalam bentuk produk kerjianan lokal seperti batik lontara’, pakaian dinas instansi pemerintahan setempat, penulisan papan nama instansi dan layanan publik, papan informasi sampai pada interior beberapa bangunan seperti kantor dan rumah makan yang menggunakan unsur ukiran aksara lontara’. 3) Pengintergasian aksara lontara’ di SD Inpres Minasa Upa 1, telah diterapkan sampai saat ini, namun dalam pelasanaannya sejak awal tahun 2023, terdapat 2 kurikulum yang berjalan di sekolah tersebut, yaitu kurikulum merdeka di kelas 1-5 dan  kurikulum K13 di kelas 6. 
Royong: Sastra Lisan Di Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar Annasari, Reski; Dimas Ario Sumilih; St. Junaeda
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 2: Februari 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i2.7128

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui eksistensi sastra lisan Royong di Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar serta bagaimana strategi masyarakat dalam mempertahankan dan mengembangkan sastra lisan royong di kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriftif yang menggunakan data kualitatif. Data yang dikumpulkan dengan melakukan observasi di Lokasi penelitian dan wawancara dengan beberapa informan dan di lengkapi dengan dokumen yang di peroleh dari instansi setempat beserta artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : sastra lisan Royong semakin hari semakin semakin pudar sehingga perlu adanya langkah yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk mempertahankan dan mengembangkan sastra lisan royong. Bentuk strategi yang digunakan oleh masyarakat Sanrobone dalam mempertahankan dan menyebarluaskan royong yaitu Pelaksanaan royong bukan hanya kepada mereka yang berdarah karaeng yang terpenting bagi masyarakat adalah doa dan harapan masyarakat yang tersampaikan kepada sang pencipta melalui sastra lisan royong bisa terealisasikan dan juga menyebarluaskan sastra lisan Royong melalui konten kreator.