Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Peningkatan Rasa Percaya diri melalui Public Speaking Maya Kasmita; Muh. Rizal; Ririn Nurfaatirany Heri; St. Junaeda; Heri Tahir
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1: November 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joongki.v3i1.2485

Abstract

Saat ini, banyak bidang membutuhkan kemampuan berbicara di depan umum. Banyak perusahaan memprioritaskan karyawan yang memiliki kemampuan public speaking yang baik. Namun, banyak remaja, terutama siswa SMK Negeri 5 Makassar, belum memahami bagaimana berbicara di depan umum dengan baik. Oleh karena itu, workshop public speaking ini diharapkan dapat membantu remaja memahami bagaimana berbicara dengan baik di depan umum, terutama dalam hal presentasi. Siswa dan siswi dari sekolah menengah kejuruan (SMK) Kota Makassar berharap pelatihan ini akan bermanfaat bagi mereka di kemudian hari di perguruan tinggi dan di dunia kerja. Pemaparan materi dibagi menjadi dua bagian. Pada sesi pertama, dibahas pengertian public speaking dan keterampilan presentasi, tahapan presentasi, tujuan, dan jenis presentasi. Agar peserta tidak bosan, sesi game dilakukan sebelum sesi kedua. Pada sesi kedua, dibahas gaya presentasi, keuntungan, dan tip. Setelah sesi kedua, ada sesi game tebak gambar di mana peserta harus memilih salah satu kotak misteri dan secara spontan menceritakan gambar.
Work ethic of clove farmers in development Economy in lacinde village, pitumpanua district Wajo district St. Junaeda; novita, dian
Kampret Journal Vol. 3 No. 2 (2024): January: Sosial, Budaya, Politik, Masyarakat dan Komunikasi
Publisher : IHSA Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to find out (1) What is the work ethic of clove farmers in Lacinde Village, Pitumpanua District, Wajo Regency (2) What factors influence the work ethic of clove farmers in Lacinde Village, Pitumpanua District, Wajo Regency (3) What are the efforts of clove farmers in economic development in Lacinde Village, Pitumpanua District, Wajo Regency. This type of research is descriptive research that uses qualitative data. Data was collected by conducting observations, interviews with informants, documents obtained from related agencies and several photo documentations taken by researchers in the field. The research results show: (1) The work ethic of clove farmers in Lacinde Village is still lacking because clove farmers in Lacinde Village have low enthusiasm in carrying out their activities as farmers. (2) Factors that influence the work ethic of clove farmers are educational factors, community culture, and geographical environmental conditions. (3) Clove farmers' efforts to develop the family economy are to improve the quality of clove plants so that they can produce good fruit and thus get a high selling price. Clove farmers will also harvest cloves when the clove fruit is ready to be harvested. Clove farmers in Lacinde Village try to maintain the quality of cloves to be sold by only picking cloves when the cloves are ripe or have started to turn red, so that when they are dried the water content is minimal, because when the cloves have flowered they are only harvested, resulting in scales when dry. becomes reduced
FUNGSI DAN MAKNA TOPE’ LE’LENG BAGI MASYARAKAT SUKU KAJANG KABUPATEN BULUKUMBA Putri Rahmayanti Husain; St. Junaeda
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 2 No. 4 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v2i4.1029

Abstract

Tope le’leng bagi masyarakat Kajang adalah kain hitam yang digunakan oleh masyarakat suku Kajang baik untuk sehari-hari maupun pada acara tertentu. Tope le’leng adalah sarung hitam yang digunakan oleh masyarakat Kajang. Sarung ini ditenun dan dijahit langsung oleh tangan-tangan terampil wanita Kajang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana fungsi yang dimiliki oleh tope le’leng dan apa makna yang terkandung dalam tope le’leng bagi masyarakat suku Kajang sebagai masyarakat. Data dikumpulkan dengan wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan terhadap beberapa informan yang kaya akan pemahaman mengenai tope le’leng. Observasi juga dilakukan oleh peneliti dengan cara turun langsung ke lapangan dan menyaksikan bagaimana orang-orang Kajang menggunakan tope le’leng ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa fungsi tope’ le’leng adalah sebagai obat penyembuhan bagi orang sakit dan juga sebagai tameng atau pelindung ketika dalam bahaya seperti kebal terhadap senjata tajam menurut kepercayaan masyarakat asli Suku Kajang khususnya Suku Kajang di wilayah dalam. Sedangkan makna tope le’leng bagi masyarakat Kajang adalah kejujuran dimana masyarakat memaknai tope’ le’leng sebagai bagian dari kehidupan mereka.
TRADISI RITUAL SAUR MATUA DALAM ADAT BATAK TOBA DI KECAMATAN SIANTAR MARIMBUN KOTA PEMATANGSIANTAR Zeny Arianty Tampubolon; St. Junaeda
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 2 No. 4 (2023): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v2i4.1043

Abstract

Dalam penelitian ini, penulis membahas tentang “Tradisi Ritual Saur Matua dalam Adat Batak Toba di Kecamatan Siantar Marimbun Kota Pematangsiantar”. Dengan rumusan masalah mendeskripsikan bagaimana tradisi ritual Saur matua dalam adat Batak Toba itu dilaksanakan. Fokus penelitian ini adalah pada salah satu masyarakat Batak Toba yang tinggal di Kecamatan Siantar Marimbun Kota Pematangsiantar yang telah melaksanakan tradisi ritual kematian Saur matua. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis dapat menyimpulkan bahwa tradisi saur matua dapat dibagi menjadi dua tempat yaitu di jabu (di dalam rumah) dan maralaman (di halaman rumah). Ketika di jabu, terdapat lima acara yang dilaksanakan yaitu pasada tahi, moppo, membuat sijagaron/marsanggul marata, maria raja/martonggo raja, dan pangarapotan. Kemudian maralaman terdapat enam acara yang dilaksanakan yaitu, membawa keluar peti ke halaman rumah, pembacaan jujur ngolu, manortori mayat, padalan jambar, pemberian sakramen dan penguburan, serta ungkap hombung.
Pemanfaatan Balita Sebagai Anak Jalanan Di Kota Makassar Wahidah Zafira Nurdin; St. Junaeda
Jurnal Kajian Sosial dan Budaya: Tebar Science Vol 7 No 2 (2023): TEBAR SCIENCE: JURNAL KAJIAN SOSIAL & BUDAYA
Publisher : Rayhan Intermedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36653/jksb.v7i2.160

Abstract

This study aims to determine (1) the driving factors for the presence of the use of toddlers as street children in Makassar City, (2) the impact of the presence of the use of toddlers as street children in Makassar City, (3) the anthropological relationship between development and the presence of the use of toddlers as street children in the City of Makassar. Macassar. The type of research used is descriptive research with qualitative data. Data collection techniques used are observation, interviews and documentation. The results of the study show that: (1) the driving factors for the use of toddlers as street children in Makassar City are poverty and mentality that cause family dysfunction, (2) the impact of the use of toddlers as street children in Makassar City can occur to individuals who relevant, social and cultural. The impact of the presence of the use of toddlers is to trigger crime rates, increase in unemployment, fade human values and form a pessimistic mindset, (3) the relationship between development anthropology and the presence of the use of toddlers as street children in Makassar City is where this will change the values and norms in society and make new mindsets and habits that exist as a result of poverty and the mentality of society that encourages the child's family to make an instant way to earn income by using toddlers as street children.
Panrita Lamming dalam Perkawinan di Galesong Selatan Kabupaten Takalar Hajrah Aisah; St. Junaeda
Jurnal Kajian Sosial dan Budaya: Tebar Science Vol 7 No 1 (2023): TEBAR SCIENCE: JURNAL KAJIAN SOSIAL & BUDAYA
Publisher : Rayhan Intermedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36653/jksb.v7i1.142

Abstract

This study aims to: (1) find out the role of Panrita Lamming in marriage in the South Galesong community, (2) find out how the views of the South Galesong community are related to the existence of Panrita Lamming, and (3) find out the existence of Panrita Lamming in the modern era. This study uses qualitative data and is descriptive in nature. The data collection techniques were carried out using observation, interviews, and documentation methods involving as many as 8 informants. The results of this study indicate that: (1) Panrita Lamming is believed to have the advantages of prayer and knowledge so that he gets a role in society as traditional leader and ritual leader. (2) The community in general still believes in the benefits that can be obtained after using Panrita Lamming. Some people also think that this ritual is a habit of the parents that needs to be preserved, regarding whatever happens after the ritual is the power of Allah SWT. In addition, the public view from a religious perspective argues that this ritual is not in line with religious teachings, so it needs to be repaired or abandoned, and (3) The reasons for Panrita Lamming's continued existence are due to the growing belief in the ritual, and there is still confidence in the impact under Panrita Lamming.
Pengembangan Etno-Ecotourism pada Taman Nasional Komodo Kabupaten Manggarai Barat Nasriani Imur; St. Junaeda
Jurnal Kajian Sosial dan Budaya: Tebar Science Vol 6 No 3 (2022): TEBAR SCIENCE: JURNAL KAJIAN SOSIAL & BUDAYA
Publisher : Rayhan Intermedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36653/jksb.v6i3.129

Abstract

This study aims to determine the efforts of the Culture Office in developing ethno-ecotourism in the Komodo National Park, West Manggarai Regency. To achieve this goal, the researchers used data collection techniques obtained by field research through observation, interviews, and documentation. This study used a qualitative research type which was analyzed descriptively to find out the Cultural Office's Efforts in Ethno-Ecotourism Development in Komodo National Park, West Manggarai Regency. The results of field research show that: (1) The development of ethno-econourism in the Komodo National Park is carried out by the community and the management of the Komodo National Park. In the development of ethno-ecotourism is very concerned because it brings benefits to the regional economy and helps the economy of local communities and is able to create an economic boom in which regional income is growing. The West Manggai cultural office establishes training programs related to improving people's skills with the aim of being able to support human resources in West Manggarai. (2) The development of ethno-ecotourism cannot be separated from the supporting and inhibiting factors. Supporting factors are natural potential, cultural potential and human potential. And the inhibiting factor for ethno-ecotourism in Komodo National Park is related to the lack of human resources in the local community who do not fully understand the concept of developing ethno-ecotourism.
Tradisi Appadekko di Kelurahan Sabintang Kabupaten Takalar St. Junaeda; Lilis Lilis; Yulyanti Djo Day; Aglin Sarassang; Ulfa Sahra Tawil; Miftahul Hijrah; Nurhalisa Nurhalisa; Nalda Wulandari
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 3 No. 4: Juni 2024
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/jceki.v3i4.3824

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami lebih dalam tradisi Apppadekko di Kelurahan Sabintang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar. Dalam penelitian ini akan mengkaji lebih dalam mengenai prosesi dan tujuan dilkukannya tradisi Apppadekko. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif dengan menggunakan data kualitatif. Data diperoleh dengan melakukan pengamatan dan observasi terhadap tradisi Apppadekko serta melakukan wawancara dengan beberapa informan yang memahami dan mengetahui topik dalam penelitian ini. Berdasarkan hasil penelitian ini tradisi Apppadekko merupakan pesta tumbuk padi dengan menggunakan alu dan assung yang merupakan warisan nenek moyang dengan tujuan tradisi ini agar terhindar dari bahaya karena konon ceritanya masih ada nenek moyang yang gentayangan ,ketika tidak melakukan tradisi ini maka nenek moyang itu marah (dimasukin atau dibuat sakit) sehingga masyarakat selalu melakukan tradisi tersebut tetapi ada beberapa yang tidak turun langsung, hanya memberikan uang saja sebagai partisipasi mereka. Kesimpulan tradisi ini, terlihat bahwa kebudayaan bukan hanya merupakan hasil karya manusia, tetapi juga merupakan perekat sosial yang memperkuat hubungan antarwarga dalam suatu komunitas. Meskipun tradisi ini terus dijaga dengan baik oleh sebagian besar masyarakat, terlihat adanya perubahan dalam pelaksanaannya seiring berjalannya waktu. Beberapa orang mungkin beralih pekerjaan atau memilih untuk memberikan kontribusi finansial sebagai pengganti keterlibatan langsung dalam tradisi tersebut. Namun, masih ada juga yang tetap setia menjalankan tradisi ini dengan penuh keyakinan dan pengabdian, menjadikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan identitas mereka.
Peningkatan Rasa Percaya diri melalui Public Speaking Maya Kasmita; Muh. Rizal; Ririn Nurfaatirany Heri; St. Junaeda; Heri Tahir
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1: November 2023
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joongki.v3i1.2485

Abstract

Saat ini, banyak bidang membutuhkan kemampuan berbicara di depan umum. Banyak perusahaan memprioritaskan karyawan yang memiliki kemampuan public speaking yang baik. Namun, banyak remaja, terutama siswa SMK Negeri 5 Makassar, belum memahami bagaimana berbicara di depan umum dengan baik. Oleh karena itu, workshop public speaking ini diharapkan dapat membantu remaja memahami bagaimana berbicara dengan baik di depan umum, terutama dalam hal presentasi. Siswa dan siswi dari sekolah menengah kejuruan (SMK) Kota Makassar berharap pelatihan ini akan bermanfaat bagi mereka di kemudian hari di perguruan tinggi dan di dunia kerja. Pemaparan materi dibagi menjadi dua bagian. Pada sesi pertama, dibahas pengertian public speaking dan keterampilan presentasi, tahapan presentasi, tujuan, dan jenis presentasi. Agar peserta tidak bosan, sesi game dilakukan sebelum sesi kedua. Pada sesi kedua, dibahas gaya presentasi, keuntungan, dan tip. Setelah sesi kedua, ada sesi game tebak gambar di mana peserta harus memilih salah satu kotak misteri dan secara spontan menceritakan gambar.
Analisis Makna dan Relevansi Tradisi Mappasikkarawa dalam Perkawinan Adat Bone (Perspektif Memperkuat Identitas Budaya Bugis) Kahar, Dini Octaviani; Dimas Ario Sumilih; St. Junaeda
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 5: Agustus 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i5.11663

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami (1) simbol dan makna filosofi dari tradisi Mappasikkarawa dalam perkawinan adat Bugis Bone (2) penafsiran masyarakat terhadap tradisi Mappasikkarawa sebagai identitas budaya Bugis (3) Relevansi tradisi Mappasikkarawa dalam era modern kaitannya dengan mempertahankan identitas budaya Bugis. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan data kualitatif. Data di peroleh menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan ditentukan melalui purposive sampling, meliputi tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat. Analisis data menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Prosesi tradisi Mappasikkarawa memiliki kegiatan menyentuh bagian tertentu mempelai wanita setelah ijab qabul dan itu merupakan sebuah simbol yang memiliki makna filosofi yaitu Pertemuan dua ibu jari yang memiliki makna agar tidak saling egois dan mau bekerja sama, telapak tangan berisi memiliki makna agar dilancarkan rezeki, lengan memiliki makna kekuatan dan kesehatan, dada yang melambangkan kelembutan dan kesabaran, dahi melambangkan kepatuhan, diakhiri mencium tangan suami agar saling memaafkan dan mempererat hubungan suami istri (2) Mappasikkarawa menjadi identitas budaya Bugis karna mengandung nilai sosial, spiritual dan simbol penyucian diri sesuai dengan filosofi bugis tentang siri’ ( harga diri ) dan paccing ( kesucian ) sebelum memasuki fase baru dalam kehidupan (3) Tradisi ini tetap relevan dalam era modern, karena sebagai sarana pelestarian budaya bugis dan pembentukan identitas budaya . Tradisi ini perlu melibatkan generasi muda agar pewarisan dan pelestarian tradisi Mappasikkarawa tidak hilang dari masyarakat bugis.