Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Studi Kenaikan Muka Air Laut di Pesisir Lampung dan Banten menggunakan Satelit Altimetri Nadzir, Zulfikar Adlan; Agung, Haikhal Nuri; Fahrurozi, Fikri
Jurnal Riset Kelautan Tropis (Journal Of Tropical Marine Research) (J-Tropimar) Vol 7 No 2 (2025): November
Publisher : Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/jrkt.v7i2.137

Abstract

Perubahan iklim mendorong kenaikan muka air laut secara global yang berdampak signifikan terhadap wilayah pesisir, termasuk di Indonesia. Perubahan ini mengancam ekosistem, infrastruktur, serta kehidupan masyarakat di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi, menganalisis dan membandingkan tren kenaikan muka laut di wilayah pesisir Lampung dan Banten dengan menggunakan data satelit altimetri Jason-1, Jason-2, dan Jason-3 selama periode 2002–2019. Dalam penelitian ini, data altimetri berupa ketinggian permukaan laut (Sea Surface Height/SSH) diproses menjadi Sea Level Anomaly (SLA) dan Total Water Level Envelope (TWLE) dengan menerapkan koreksi umum seperti troposfer basah dan kering, ionosfer, bias gelombang laut (sea-state bias), dan pasang surut, yang kemudian divalidasi dengan data dari tiga stasiun pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tren kenaikan muka air laut di pesisir barat Lampung sebesar 5,46 mm/tahun, di Banten bagian selatan sebesar 2,84 mm/tahun, dan di Banten bagian utara sebesar 6,20 mm/tahun. Deret waktu TWLE menunjukkan korelasi yang kuat terhadap data pengukuran dari stasiun pasang surut, dengan nilai R = 0,93, yang menunjukkan konsistensi tinggi antara data satelit dan data lapangan. Temuan ini mengindikasikan bahwa pesisir dengan kemiringan batimetri yang landai cenderung mengalami laju kenaikan lebih tinggi dibandingkan dengan pesisir berlereng curam. Hal ini menegaskan bahwa satelit altimetri merupakan metode andal untuk pemantauan muka laut, bahkan di zona pesisir yang kompleks dan memiliki keterbatasan pengamatan. Hasil penelitian ini memiliki implikasi bagi perencanaan adaptasi perubahan iklim dan mitigasi bencana di wilayah pesisir Indonesia, terutama dalam pengembangan sistem pemantauan jangka panjang yang mengintegrasikan altimetri, pasang surut, dan GNSS.
Evaluasi Komponen Harmonik Pasang Surut Dengan Data Altimetri Pesisir Dan Tide Gauge Di Pesisir Barat Daya Sumatera Devianti Natalia Lase; Zulfikar Adlan Nadzir
Jurnal Kelautan Vol 18, No 3: Desember (2025)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v18i3.25780

Abstract

ABSTRAKPerkembangan teknologi akuisisi data menghasilkan alternatif dalam pengamatan pasang surut (pasut) selain menggunakan stasiun lapangan (tide gauge) yaitu satelit altimetri. Peningkatan ketelitian dari sistem retracker di pesisir menjadi parameter untuk meninjau tingkat kebaikan penggunaan satelit altimetri dalam pengamatan pasut sebagai pelengkap data tide gauge. Penelitian ini melakukan analisis harmonik dengan metode least square, menghasilkan nilai konstituen pasut utama yang digunakan dalam analisis kesesuaian data altimetri dibanding dengan tide gauge. Menggunakan dua stasiun di barat daya Sumatera, stasiun Krui menghasilkan amplitudo konstituen dominan K2 sebesar 0,034 m dan stasiun pasut Seblat dengan konstituen dominan K1 sebesar 0,035 m. Data altimetri Jason-1, Jason-2 dan Jason-3 pada pass 153 untuk data ALES dan GDR menghasilkan komponen pasut dominan P1 sebesar 0,283 m dan 0,354 m. Pass 077 data ALES dan GDR menghasilkan komponen pasut dominan P1 sebesar 0,532 m dan 0,313 m. Hasil analisis kesesuaian data antara satelit altimetri dan stasiun pasang surut diperoleh bahwa data ALES lebih baik di pesisir dengan jarak 10 km dari garis pantai. Sedangkan data GDR lebih baik untuk pesisir berjarak 10 km dari garis pantai. Disamping itu, apabila pengamatan dilakukan pada jarak yang lebih besar dari pesisir dapat menggunakan kombinasi dari kedua data tersebut.Kata Kunci: analisis harmonik, muka air laut, pesisir, satelit altimetri, stasiun pasutABSTRACTThe advancement of data acquisition technology has provided alternatives to tide gauge observations for sea-level monitoring, namely satellite altimetry. The accuracy improvement of retracking systems in coastal regions is a key parameter for evaluating the effectiveness of satellite altimetry as a complement to tide gauge data. This study applied harmonic analysis using the least squares method to obtain tidal constituents, which were then used to assess the consistency of altimetry data compared with tide gauges. Two tide gauge stations on the west coast of Sumatra were analyzed: Krui, where the dominant tidal constituent was K2 with an amplitude of 0.034 m, and Seblat, where the dominant constituent was K1 with an amplitude of 0.035 m. Altimetry data from Jason-1, Jason-2, and Jason-3 along pass 153 produced dominant P1 constituent with an amplitudes of 0.283 m (ALES) and 0.354 m (GDR), while pass 077 yielded P1 with amplitudes of 0.532 m (ALES) and 0.313 m (GDR). The results indicate that ALES data are more reliable within 10 km of the coastline, whereas GDR data perform better beyond 10 km. Furthermore, a combination of both datasets is recommended for improved tidal representation in the coastal zone of West Sumatra.Keywords: altimetry satellite, coastal zone, harmonic analysis, sea level, tide gauge
Estimasi Potensi Indeks Bahaya Bencana Banjir dan Longsor di Kabupaten Pesawaran Lea Kristi Agustina; Zulfikar Adlan Nadzir; Nirmawana Simarmata
Jurnal Geosains dan Remote Sensing Vol 6 No 1 (2025): JGRS Edisi Mei
Publisher : Department of Geophysical Engineering, Faculty of Engineering, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jgrs.ft.unila.383

Abstract

Bencana hidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor sering terjadi di Indonesia karena iklimnya yang tropis. Khususnya di kabupaten Pesawaran di Provinsi Lampung, di mana banjir sering terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Tahun 2008–2019 menyumbang lebih dari 60% dari semua banjir tersebut. Ketika area yang biasanya kering menjadi tergenang air, banjir terjadi. Ini sering terjadi karena limpasan air permukaan yang melebihi kapasitas saluran pembuangan atau karena air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah. Banjir dan longsor sering dikaitkan karena keduanya berkaitan dengan kondisi air di atas dan bawah permukaan. Hujan luar biasa dapat menyebabkan fenomena ini, serta kegiatan manusia seperti alih fungsi lahan dan penebangan pohon. Selama periode tersebut, Kabupaten Pesawaran mengalami 143 kejadian bencana, 102 di antaranya adalah banjir, termasuk banjir genangan, bandang, dan rob. Bencana ini menyebabkan 3 orang meninggal dan 1 orang luka-luka, dan menyebabkan kerusakan fisik pada 232 rumah rusak berat dan 1.040 rumah rusak ringan. Selain itu, terjadi 19 longsor, yang menyebabkan kerusakan ringan pada 12 rumah. Selain itu, bencana ini menimbulkan masalah penyebaran penyakit dan sumber air, sehingga indeks bahaya diperlukan untuk mendukung kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat.
Monitoring Sugarcane Phenology Using Sentinel-1 SAR and Machine Learning in Central Lampung Nirmawana Simarmata; Lea Kristi Agustina; Muhammad Ario Eko Rahadianto; Ratna Mustika Sari; Zulfikar Adlan Nadzir; Choirun Nisa Nabila
JURNAL GEOGRAFI Vol. 18 No. 1 (2026): JURNAL GEOGRAFI
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/46hfx180

Abstract

Sugarcane is a vital commodity in the national sugar industry, requiring accurate growth monitoring to support precision agriculture. In Indonesia, conventional monitoring methods remain limited in spatial and temporal coverage. This study aims to monitor sugarcane phenology using multitemporal Sentinel-1 Synthetic Aperture Radar and to develop a machine learning–based growth phase classification model. The study was conducted in Central Lampung during one complete growing season from November 2023 to December 2024. Time-series analysis of VV and VH backscatter coefficients and the Normalised Polarisation Ratio was applied to capture sugarcane growth dynamics. Growth phase classification models were developed using Random Forest (RF) and Support Vector Machine (SVM) and evaluated using the confusion matrix, overall accuracy, Kappa coefficient, coefficient of determination, and root mean square error. The results indicate that RF consistently outperformed SVM across all model configurations. The best performance was achieved using combined VV–VH polarization, yielding an R² of 0.929, RMSE of 0.295, and classification accuracy of 93%. In contrast, SVM models showed weak predictive performance with negative R² values and classification accuracy below 32%. These findings demonstrate that multitemporal Sentinel-1 SAR data combined with RF provide an effective approach for spatial and temporal monitoring of sugarcane phenology
Refining the Indonesian Geoid Model: A Comparative Study of Global Geopotential Models in East Kalimantan Fahri Dean Alvito; Zulfikar Adlan Nadzir; Misfallah Nurhayati
Geoid Vol 20 No 2 (2025)
Publisher : Departemen Teknik Geomatika ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/geoid.v20i2.3068

Abstract

Gravity field along with its derivative, geoid, is one of the important pillars of Geodesy. The geoid is utilized in many countries as the vertical reference system, Indonesia as well. However, Indonesia is unique in topography, made the computation of geoid model throughout the archipelago a challenge. The development of geoid model in Indonesia has 4 phases, with the latest in 2020 and 2023. INAGEOID2020 is the Indonesian geoid model used as vertical reference frame for vertical control in Indonesia, updated to version 2.0 in 2023. However, it has not achieved the target accuracy of 5 cm throughout the country. INAGEOID2020 v2.0 is based on the EGM2008 global geopotential model (GGM) with order and degree 360, which is now nearly 20 years old. The implementation of EGM2008 into the regional model also lacked a fitting process, relying solely on functional calculations. This study proposes using modern GGMs, namely EGM2008, XGM2019e, and SGG-UGM-2, along with a fitting process to improve geoid modeling, to optimize the future iteration of Indonesian Geoid Model. The research compares the gravimetric undulations of these models to geometric undulations at 264 validation points, both with and without fitting in East Kalimantan. The fitting improved the accuracy of EGM2008 and XGM2019e, but SGG-UGM-2 performed worse due to elevation discrepancies both before and after the fitting, mainly due to difference on the starting point close to the coast. XGM2019e at degree 2190, truncated to 720 and 360 showed the best results after the fitting, achieving standard deviation and root mean square error (RMSE) values of 0.061 m and 0.064 m, respectively. The performance of EGM2008 is not far behind XGM2019e. This finding indicates that the XGM2019e is the best out the trio, making it a promising alternative to be utilized for future geoid modeling in Indonesia.
PERHITUNGAN GAYABERAT LAUT RESOLUSI TINGGI DI PERAIRAN SUMATERA DARI SATELIT ALTIMETRI Zulfikar Adlan Nadzir; Satrio Muhammad Alif; Anita Eka Jayanti
Jurnal Geosaintek Vol. 11 No. 3 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v11i3.8834

Abstract

Gayaberat dan anomalinya, sebagai parameter penting dari gaya di permukaan Bumi, merupakan hal yang erat kaitannya dengan Geoid. Geoid itu sendiri merupakan sebuah pilar dalam ilmu Geodesi dan fungsi utamanya adalah sebagai referensi vertikal di sebuah wilayah. Pengukuran gayaberat, khususnya di lautan, merupakan sebuah proses yang seringkali membutuhkan biaya yang tidak sedikit, selain itumemiliki ketelitian yang tidak cukup baikdibandingkan dengan pengukuran gayaberat di daratan. Di sisi lain, sejak tahun 1990 sebuah teknologi satelit yang disebutaltimetri berkembang dengan cukup pesat dan mampu menjadi salah satu sarana untuk mendapatkan nilai gayaberat di laut lepas. Salah satu dari satelit altimetri adalah Cryosat-2 yang memiliki beberapa jenis pengamatan (misi), salah satunya adalah misi geodetik yang melintasi Bumi dengan resolusi yang lebihbaik dibanding dengan misi lainnya. Indonesia sendiri sudah mengembangkan model gayaberat regional bernama INAGEOID2020 dengan 2 versi: v1.0 dan yang terbaru, v2.0. Model gayaberat ini masih bisa diperbaiki dan ditingkatkan sebagai bagian dari usaha untuk memenuhi syarat dari Kebijakan Satu Peta(KSP)sesuai amanat undang-undang. Salah satu lokasi penting dari Indonesia adalah pulau Sumatera, yang menjadi lokasi dari penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan estimasi anomali gayaberat dari satelit Cryosat-2 dan memvalidasinya dengan data pembanding. Penelitian ini menggunakan data tinggi muka air laut (sea surface height–SSH) Cryosat-2 dengan pendekatan remove-compute-restore (RCR) untuk mendapatkan nilai anomali gayaberat, yang lalu dibandingkan dengan model global Sandwell v.31.1 dan beberapa data survey shipborne. Proses RCR ini mempermudah perhitungan secara inversi menuju anomali gayaberat, dengan hasil yang ada di rentang ± 200 mgal. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa hasil estimasi gayaberat dari Cryosat-2 di perairan Pulau Sumatera memiliki nilai Root Mean Square Error(RMSE)~11 mgal dibandingkan dengan model gayaberat global dan shipborne.Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi untuk menggunakan data altimetri misi geodetik sebagai tambahan data masukan untuk pengembangan model geoid regional sebuah negara memiliki peluang yang baik. Selain itu, hasil anomali gayaberat dapat mengidentifikasi keberadaan sesar yang kemungkinan berpotensi menimbulkan gempa di perairan Sumatera.
Comparative Analysis of Co-Tidal Patterns in the Sunda Strait Using Tide Gauges, Altimetry Data, and TPXO9v4a Global Tide Model Zulfikar Adlan Nadzir; Agung Pandi Nugroho; Raihan Dema Nurrizal
Jurnal Geospasial Indonesia Vol 9, No 1 (2026): June
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jgise.108582

Abstract

The Sunda Strait, a narrow and topographically complex passage between Java and Sumatra, presents unique challenges for accurate tidal modeling. This study evaluates tidal dynamics across the strait using three data sources: in-situ tide gauge measurements, Jason-2/3 satellite altimetry (processed with ALES retracking), and the TPXO9v4a global barotropic tidal model. Harmonic analysis was conducted for eight principal constituents across four tide gauge stations, with amplitude and phase comparisons revealing substantial overestimation and lead bias in TPXO—particularly for M2, where amplitude discrepancies exceeded 500%. Altimetry data showed closer agreement, especially in semidiurnal constituents, but remained limited by land contamination and coarse temporal resolution. Co-amplitude and co-phase maps constructed from the datasets revealed complex propagation features, including strong spatial phase gradients and potential amphidromic behavior, not captured by TPXO. Statistical tests confirmed significant differences between model and observational datasets. Additionally, tidal regime analysis using form factor classification confirmed a consistent mixed, mainly semidiurnal regime, though altimetry occasionally overestimated diurnal influence. These findings demonstrate the inadequacy of global tidal models alone in resolving nearshore dynamics and support the use of integrated observational-modeling frameworks for improved regional tidal characterization in Indonesia's coastal waters.
Rapid Flood Mapping in Surabaya and Gresik using SAR and Optical Satellites: Leveraging Google Earth Engine for Timely Disaster Response Zulfikar Adlan Nadzir; Mutia Rahma Apriani; Muhammad Rohmaneo Darminto
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 14, No 2 (2026): Agustus 2026
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.14.2.197-219

Abstract

Flooding in urban and semi-urban areas of Indonesia, particularly in Surabaya and Gresik, has become an ongoing challenge, exacerbated by rapid urbanization and climate change. This study explores the application of Sentinel-1 Dual-Polarization Water Index (SDWI) and Normalized Difference Water Index (NDWI) derived from Sentinel-2 and Landsat 9 imagery to map flood extents during three major flood events in 2022, 2023 and 2024. The analysis is conducted on a cloud-based Google Earth Engine (GEE) platform to enable near real-time flood monitoring with significantly faster processing time. The results indicate that NDWI is useful in detecting large-scale water bodies and coastal flooding, whereas SDWI performs better in urban and vegetated environments, capturing inundation in built-up areas that NDWI may overlook. The comparison of satellite-derived flood maps with ground-truth data from news reports confirms that both indices can provide indicative flood assessments where SDWI performs slightly better than NDWI. However, discrepancies between remote sensing data and ground observations suggest the need for a hybrid approach combining satellite data with ground-based observations to enhance flood mapping accuracy. The integration of these indices on cloud-based platforms like Google Earth Engine (GEE) offers a scalable solution for rapid flood mapping, supporting emergency response and disaster risk reduction efforts in Indonesia, particularly in flood-prone regions.
Edukasi Keselamatan Pejalan Kaki melalui Pemetaan Jalur Aman Berbasis SIG di SDN 1 Sukarame Dua, Teluk Betung, Bandar Lampung Misfallah Nurhayati; Ratna Mustika Sari; Nirmawana Simarmata; Tri Kies Welly; Nurul Qamilah; Muhammad Rizki Fadli Alamsyah; Azfa Saefurrohman; Zulfikar Adlan Nadzir
Jurnal Inovasi Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 1 (2026): JIPPM - Juni 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jippm.1030

Abstract

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kesadaran keselamatan pejalan kaki siswa di SDN 1 Sukarame Dua, Telukbetung Barat, Kota Bandar Lampung. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya risiko kecelakaan akibat rute sekolah yang berbukit, ketiadaan trotoar dan zebra cross, dan minimnya rambu pada jalur harian siswa. Metode yang digunakan adalah pendekatan pemetaan partisipatif (Participatory-GIS) dan edukasi interaktif yang melibatkan 40 siswa dan 6 guru sebagai subjek aktif dalam identifikasi risiko lapangan. Tahapan kegiatan meliputi survei rute kolaboratif, pengolahan data spasial, serta simulasi penggunaan peta jalur aman. Hasil evaluasi menunjukkan dampak signifikan terhadap pemahaman mitra, di mana rata-rata skor pengetahuan siswa meningkat dari 50% menjadi 100%. Selain itu, sebagian besar siswa kini mampu mengidentifikasi rute aman secara mandiri melalui media visual peta yang dihasilkan. Pihak sekolah telah mengintegrasikan peta tersebut sebagai media edukasi permanen di lingkungan sekolah. Luaran kegiatan meliputi peta jalur aman pejalan kaki dan media edukasi keselamatan. Kegiatan ini merekomendasikan perlunya advokasi hasil pemetaan kepada pihak terkait untuk sinkronisasi data spasial dengan perbaikan infrastruktur fisik di zona sekolah.