Tri Endrawati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UJI MUTU PATOLOGI TERHADAP LAMA SIMPAN DUA VARIETAS BENIH KEDELAI Tri Endrawati; Alvita Sekar Sarjani; Agung Setya Wibowo
Agrika Vol 17, No 2 (2023)
Publisher : Badan Penerbitan Universitas Widyagama Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31328/ja.v17i2.5099

Abstract

Tanaman kedelai, sebagai sumber pangan yang memiliki nilai gizi tinggi dan populer di kalangan masyarakat Indonesia, mengalami tantangan produksi yang signifikan. Salah satu faktor yang berkontribusi pada produksi rendah adalah mutu benih yang menurun seiring lamanya penyimpanan benih kedelai. Oleh karena itu, penting untuk melakukan uji mutu benih kedelai yang mencakup aspek fisologi dan patologi untuk menentukan berapa lama benih tetap dapat digunakan. Penelitian ini berfokus pada pengujian mutu patologi yang mencakup tiga aspek: pertama, deteksi cendawan dan bakteri patogen yang terbawa oleh benih kedelai, kedua, identifikasi jenis cendawan yang ditemukan, dan ketiga, uji biokimia pada bakteri yang terdeteksi, yang meliputi pengamatan makroskopis bakteri, uji gram KOH 3%, dan uji oksidatif fermentatif. Selain itu, penelitian juga mencakup deteksi virus yang dapat terbawa oleh benih kedelai, menggunakan uji ELISA untuk virus SMV dan CMV. Penelitian ini menggunakan Rancangan Plit Plot dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan varietas Dering (VD) dan varietas Argomulyo (VA) sebagai faktor utama, sedangkan lama penyimpanan benih (0 bulan, 1 bulan, 2 bulan, dan 3 bulan) sebagai anak petak. Setiap perlakuan diulang tiga kali, sehingga total terdapat 18 unit perlakuan. Data yang terkumpul akan dianalisis menggunakan analisis ragam, dan apabila ditemukan pengaruh signifikan, akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJBD) pada tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada varietas Argomulyo, benih yang disimpan selama 1 bulan menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Dalam pengujian patologi, terdapat keberadaan bakteri dan cendawan kontaminan pada benih, tetapi cendawan kontaminan ini merupakan jenis cendawan yang umumnya ditemukan pada permukaan benih. Selain itu, dalam pengujian virus, tidak ditemukan adanya penyakit yang dapat ditularkan melalui benih pada varietas tersebut.
SINERGITAS PUPUK HAYATI  BIOFRESH PLUS DAN DOSIS PUPUK ANORGANIK NPK DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS BEBERAPA VARIETAS KEDELAI (Glycine max L. Merrill) DI TANAH ULTISOL Anwar Anwar; Andi Khaeruni; Vit Neru Satrah; Tri Endrawati; Mani Yusuf; Wa Ode Asryanti Wida Malesi
Viabel : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Pertanian Vol 19 No 2 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Islam Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35457/r9g9kv06

Abstract

National soybean demand reaches 2.3 million tons per year, but domestic production is only around 800,000–900,000 tons with farmer productivity of 0.6–2.0 tons/ha, still below the potential of 2–3 tons/ha. Low yields are primarily influenced by inappropriate fertilization techniques, especially since most land in Southeast Sulawesi is nutrient-poor Ultisol. Productivity can be increased through a combination of biofertilizers, balanced inorganic fertilizers, and superior varieties. The effectiveness of biofertilizers is optimal when supported by local organic materials such as manure or agricultural waste, for example through the application of Biofresh. The purpose of this study was to determine the synergistic effect of Biofresh Plus biofertilizer and NPK inorganic fertilizer dosages on the productivity of several soybean varieties in Ultisol land. The research design used a split-plot design with the main factor being soybean varieties (Argomulyo, Anjasmoro, Dering-1, and Dena-1), and subplot factors in the form of fertilizer combinations: A1 (Biofresh + bokashi), A2 (Biofresh + bokashi + 25% NPK), A3 (Biofresh + bokashi + 50% NPK), and A4 (100% NPK). The treatment was repeated three times, resulting in 48 treatment units. The observed variables included the number of productive branches, the number of pods per plant, the weight of seeds per plant, the weight of 100 seeds, and the yield (ton ha⁻¹). The results showed that the synergy of biofresh, bokashi, and inorganic NPK fertilizers on various soybean varieties significantly affected the number of productive branches, the number of pods, the weight of seeds per plant, and the yield per hectare. The Dering-1 (Q3A3) variety treated with Biofresh, bokashi, and 50% of the recommended NPK dose provided the highest productivity, namely 2.40 tons ha⁻¹. Keywords: Plant Productivity, Soybeans Varieties, Biofresh, NPK, Ultisol