Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Efektivitas Penggunaan Antiemetik Pada Pasien Kemoterapi Kanker Payudara Stadium Awal Di Rsud Raa Soewondo Pati Septiana Dwi Astuti; Eko Retnowati; Ulviani Yulia Husna
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2450

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang muncul dari jaringan kelenjar saluran, kelenjar sel-sel, dan payudara penunjang. Di Indonesia, kanker payudara merupakan penyebab utama kematian pada wanita. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang baru berobat ke pusat layanan kesehatan saat kondisi kanker payudara sudah mencapai stadium lanjut. Keterlambatan penanganan ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan masyarakat umum tentang kanker payudara dan kurangnya pemahaman mereka tentang cara melakukan self-reporting untuk deteksi dini. Penanganan kanker payudara yang sudah berlangsung sejak stadium awal ini diyakini akan menurunkan angka kematian dan meningkatkan taraf hidup para pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penggunaan antiemetik pada pasien kemoterapi kanker payudara stadium awal di RSUD RAA Soewondo Pati. Studi ini menggunakan Desain penelitian observasional yang bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengumpulan data menggunakan sumber data sekunder dari rekam medis pasien Kanker Payudara di RSUD RAA Soewondo Pati pada periode 2024. Teknik Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji chi square dengan SPSS 27 untuk menganalisis efektivitas penggunaan antiemetik yang diberikan. Hasil menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi Ondansetron 8mg dan Ranitidin 50mg terbukti efektif (84,6%) dalam mengatasi mual. Faktor usia, jenis obat, durasi, dan frekuensi gejala berpengaruh terhadap efektivitas antiemetik. (p < 0,05). Kesimpulan pada penelitian ini adalah bahwa faktor usia, jenis obat, durasi pemberian, dan frekuensi muntah berpengaruh terhadap efektivitas pengobatan pada pasien kanker payudara stadium awal di RSUD RAA Soewondo Pati.
Pengaruh Faktor Sosial Budaya Terhadap Penggunaan Obat Herbal Pada Masyarakat Dukuh Jeruk Gulung Ngabul Sakila Jauza Adiba; Zaenal Fanani; Ulviani Yulia Husna
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.2710

Abstract

Penggunaan obat herbal sudah digunakan secara turun temurun oleh masyarakat Dukuh Jeruk Gulung Ngabul. Penggunaan obat herbal selama ini hanya secara empiris dan turun temurun, sehingga masih banyak masyarakat yang kurang mengetahui cara penggunaan obat hebal yang baik dan benar sesuai dengan dosis. Hal ini dapat berisiko menimbulkan efek samping atau keracunan mesipun bahan yang digunakan berasal dari alam. Karena itu, penting untuk memberikan edukası yang berbasis pengetahuan ilmiah, agar masyarakat dapat menggunakan obat herbal secara aman dan efektif. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana faktor sosial budaya mempengaruhi penggunaan obat herbal di masyarakat Dukuh Jeruk Gulung Ngabul. Secara lebih spesifik, penelitian ini ingin menggali pemahaman masyarakat mengenai obat herbal serta pengaruh nilai sosial, norma budaya, adat istiadat, dan kepercayaan terhadap penggunaan obat herbal. Rancangan penelitian ini yaitu penelitian observasional analitik dengan metode kuantitatif, menggunakan pendekatan cross-sectional, dengan pengumpulan data melalui penyebaran kuesioner kepada sampel. Responden pada penelitian ini yaitu masyarakat Dukuh Jeruk Gulung Ngabul yang termasuk dalam kriteria inklusi, yaitu masyarakat yang berusia 18-65 tahun, masyarakat yang sudah bekerja, dan masyarakat yang menggunakan obat herbal.
Efektivitas Penggunaan Obat Antibiotik Sebagai Terapi Demam Typhoid Di Instalasi Rawat Inap Rsud R.A. Kartini Jepara Meita Sa’idah; Ahmad Suriyadi Muslim; Ulviani Yulia Husna
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3571

Abstract

Demam typhoid merupakan infeksi sistemik yang terjadi karena adanya bakteri Salmonella typhi yang masuk kedalam tubuh melalui makanan yang kurang hygienis makanan tersebut tidak sengaja dikonsumsi oleh penderita. Insiden rate demam typhoid mencapai 11 sampai 20 juta kasus dan 128.000 hingga 161.000 kematian akibat typhoid terjadi setiap tahun diseluruh dunia. Penelitin ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan obat antibiotik sebagai terapi demam typhoid di Instalasi Rawat Inap RSUD R.A. Kartini Jepara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan desain kohort retrospektif. Data diperoleh dari rekam medis pasien demam typhoid di Instalasi Rawat Inap RSUD R.A. Kartini Jepara tahun 2024. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Wilcoxon, Kruskall-Wallis H, dan Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik yang paling banyak digunakan adalah ceftriaxone (65,6%), diikuti oleh cefotaxime (19,8%), dan ampicillin (14,6%). Penurunan suhu tubuh tertinggi tercatat pada kelompok ampicillin, namun tidak terdapat perbedaan signifikan dalam penurunan suhu tubuh (p = 0,329) maupun penurunan jumlah leukosit (p = 0,444) antar ketiga antibiotik. Meskipun demikian, terdapat perbedaan yang signifikan dalam LOS (p = 0,000) dan LOSAR (p = 0,002), di mana ceftriaxone menunjukkan hasil yang paling efisien dalam mempercepat proses penyembuhan. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa pola penggunaan antibiotik paling tinggi adalah ceftriaxone, dan secara umum, penggunaan antibiotik efektif dalam menangani pasien demam typhoid rawat inap, meskipun efektivitas antar antibiotik tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik pada beberapa parameter klinis.
Analisis Interaksi Obat Pada Penggunaan Analgesik OTC dan Obat Lain di Apotek X Pati Hendira Gian Apriliawati; Endang Setyowati; Ulviani Yulia Husna
Majalah Farmaseutik Vol 22, No 2 (2026)
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/farmaseutik.v22i2.117725

Abstract

Analgesik over the counter (OTC) merupakan obat pereda nyeri yang banyak digunakan masyarakat dalam praktik swamedikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi interaksi obat pada penggunaan analgesik OTC yang dikonsumsi bersamaan dengan obat lain di Apotek X Pati. Penelitian menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional terhadap 96 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan kuesioner, kemudian dianalisis secara univariat. Identifikasi potensi interaksi obat dilakukan berdasarkan mekanisme interaksi dan tingkat keparahan menggunakan basis data Drugs.com dan Stockley’s Drug Interactions. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden didominasi oleh perempuan (59,4%) dengan kelompok usia terbanyak >45 tahun (28,1%). Analgesik Non NSAID yang paling banyak digunakan adalah paracetamol 500 mg (25,0%), dan analgesik NSAID paling banyak digunakan ibuprofen 400 mg (24,0%). Responden menggunakan analgesik dengan frekuensi sering (>3 hari berturut-turut) sebesar 62,5%. Kombinasi obat yang paling banyak ditemukan adalah antara NSAID dengan kortikosteroid (35,4%). Potensi interaksi obat yang ditemukan termasuk dalam mekanisme farmakodinamik dengan tingkat keparahan dominan kategori moderat (43,8%). Efek samping yang dilaporkan responden antara lain mual (7,3%) dan pusing (2,1%).  
EDUCATION ON INITIAL HANDLING OF RESPIRATORY SYNCYTIAL VIRUS INFECTION IN MOTHERS OF KRAPYAK VILLAGE, TAHUNAN, JEPARA Anisah Nurussyifa; Eko Retnowati; Ulviani Yulia Husna
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 10 No. 2 (2026): JUNI
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/abdidos.v10i2.3451

Abstract

Respiratory Syncytial Virus (RSV) is one of the main causes of lower respiratory tract infections in children under five years old. Limited public knowledge regarding transmission, prevention, and early management of RSV increases the risk of severe complications, especially in rural areas such as Krapyak Village. This community service activity aimed to improve mothers’ knowledge regarding the early management of RSV infection through a health education program. The activity used a pre-experimental one-group pre-test post-test design involving 53 mothers with toddlers at Posyandu Mawar 6, Krapyak Village. The intervention included health education sessions, animated videos, interactive discussions, and leaflet distribution. Data were collected using a validated questionnaire and analyzed using the Wilcoxon signed-ranks test and N-Gain score. The results showed a significant increase in respondents’ knowledge after the intervention, with most participants achieving a good level of knowledge and an average N-Gain score in the moderate category. The program was effective in improving mothers’ understanding of early RSV management and is expected to support better preventive practices among toddlers in Krapyak Village.
ANALISIS INTERAKSI OBAT PADA PASIEN TB KOMORBID HIV DI RAWAT JALAN RSI SUNAN KUDUS Alifta Dwi Fara; Eko Retnowati; Ulviani Yulia Husna
Journal of Innovative and Creativity (Joecy) Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i2.11962

Abstract

Tuberkulosis (TB) dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah dua penyakit menular yang kerap muncul bersamaan dan menjadi tantangan kesehatan di tingkat global, termasuk di Indonesia. Koinfeksi TB dan HIV memerlukan pengobatan kombinasi antara Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Antiretroviral (ARV), yang dapat menyebabkan interaksi obat. Interaksi ini dapat memengaruhi efektivitas pengobatan serta meningkatkan kemungkinan munculnya efek samping, sehingga perlunya analisis lebih mendalam. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai kemungkinan terjadinya interaksi obat, jenis interaksi, serta tingkat keparahan interaksi antara OAT dan ARV pada pasien TB yang juga mengidap HIV di instalasi rawat jalan RSI Sunan Kudus. Penelitian ini mengadopsi metode kuantitatif dengan desain observasional analitik pendekatan cross sectional. Sampel penelitian melibatkan 45 responden yang diambil melalui teknik total sampling dengan berdasarkan data rekam medis pasien TB-HIV. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif menggunakan rekam medis pasien selama bulan Januari – Oktober 2025. Analisis data dilakukan baik secara univariat maupun bivariat. Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden didominasi oleh laki - laki sebanyak 55,6% dan perempuan 44,4%. Dari segi usia, mayoritas berada pada kisaran usia 41-60 tahun sebesar 40,0%. Dari pendidikan, sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan tidak sekolah dan smp masing-masing dengan persentase 26,7%. Sekitar 95,6% pasien memiliki riwayat terapi lebih dari enam bulan. Sebelum analisis interaksi obat dilakukan. Berdasarkan tingkat keparahan, interaksi obat dengan kategori moderete adalah yang paling umum ditemukan, mencapai 82,8%, diikuti oleh interaksi mayor yang tercatat sebesar 17,2%. Dari segi mekanisme, interaksi yang bersifat farmakokinetik minimal/ tidak bermakna klinis lebih mendominasi dengan persentase sebesar 53,3%, sementara farmakokinetik mencakup 46,7%. Analisis perbandingan sebelum dan sesudah menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam identifikasi interaksi obat yang sebelumnya tidak terdeteksi menjadi terdeteksi pada sebagian besar pasien. Kesimpulan dari studi ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien TB-HIV menghadapi potensi interaksi obat, dengan interaksi pada tingkat moderete serta mekanisme farmakokinetik minimal/ tidak bermakna klinis yang paling sering terjadi. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan pemantauan terapi secara ketat guna menghindari efek samping dan meningkatkan efektivitas pengobatan.