Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Faktor Faktor Yang Berhubungan Stunting Pada Balita Usia 24 S/D 59 Bulan Di Desa Kalukutinggu Kecamatan Dolo Barat Kabupaten Sigi: Factors Associated with Stunting in Toddlers Aged 24 to 59 Months in Kalukutinggu Village, Dolo Barat District, Sigi Regency Indri Iriani
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Oktober 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i10.8830

Abstract

Introduction: Stunting is a global health problem that can hinder a nation's future. Indonesia holds the second-highest rate of stunting in Southeast Asia. This issue is caused by various factors, ranging from the nutritional status of pregnant mothers, parenting patterns, sanitation, to the family's socioeconomic conditions. This study aims to analyze the factors associated with stunting in toddlers aged 24 to 59 months in Kalukutinggu Village, Sigi Regency. Methods: This study used a qualitative design with a descriptive-analytic approach. Sampling was conducted using a purposive sampling technique with a total of 30 respondents. Data were collected through questionnaires, structured interviews, observation, and anthropometric measurements. Data analysis was performed univariately to describe each variable and bivariately using the Chi-Square (X2) statistical test to examine the relationships between variables. Results: The study results show that most respondents married at a young age (46.7% at ages 5–18) , had a low level of education (86.7%) , and low income (86.7%). Nevertheless, univariate analysis indicated that the majority of respondents (80%) had a good nutritional status during pregnancy, adequate parenting patterns, good sanitation, and access to clean water. Of the 30 toddlers studied, 5 (16.7%) were stunted. The bivariate analysis showed no statistically significant relationship between the combination of risk factors (maternal nutritional status, parenting patterns, sanitation, education, and income) and the incidence of stunting (p-value = 0.593 > 0.05). Conclusion: This finding is likely due to the small sample size, the combination of variables, or other unmeasured causal factors, such as a history of recurrent infectious diseases. Nonetheless, demographic issues such as early-age marriage, low education, and low income remain key concerns with the potential to be the root causes of stunting. Stunting was found in Kalukutinggu Village, even though the measured risk factors did not show a statistically significant relationship.
Parent’s Voice Tentang Pengasuhan Orang Tua Yang Diterapkan Pada Anak Penyandang Autisme Di SLBN 2 PK-PLK Kota Cimahi : Studi Kualitatif Eksploratif: Parent's Voice on Parenting Applied to Children with Autism at SLBN 2 PK-PLK, Cimahi City: An Exploratory Qualitative Study Indri Iriani
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Oktober 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i10.8842

Abstract

Latar Belakang: Pola pengasuhan yang tidak tepat pada anak penyandang autisme dapat berdampak pada gangguan perkembangan mereka. Peran orang tua sangat penting untuk meningkatkan perkembangan anak dengan autisme. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan memahami pengalaman orang tua dalam menerapkan pengasuhan pada anak penyandang autisme di Kota Cimahi. Metode: Penelitian ini menggunakan studi kualitatif dengan desain deskriptif eksploratif. Data dikumpulkan melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan delapan ibu yang memiliki anak autisme sebagai partisipan. Analisis data menggunakan metode analisis tematik menurut Boyatzis. Hasil: Ditemukan lima tema utama: 1) Pola asuh yang diterapkan ibu, 2) Respon ibu dalam merawat anak autisme, 3) Kebutuhan anak dalam konsep asah, asih, asuh, 4) Harapan ibu untuk masa depan anak, dan 5) Sistem pendukung (support system) yang dimiliki ibu. Kesimpulan: Penelitian ini merekomendasikan agar perawat dapat mengembangkan asuhan keperawatan yang komprehensif, termasuk intervensi manajemen stres dan dukungan bagi orang tua dengan anak autisme.
Implementasi Latihan Batuk Efektif Pada Tn. S Penderita Tubekulosis Paru Dengan Diagnosa Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif Di Ruangan Dahlia RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tenggah: Implementation Of Effective Cough Exercise in Mr. S A Pulmonary Tuberculosis Patient Diagnosed with Ineffective Airway Clearance in the Dahlia Ward, Undata Regional General Hospital, Central Sulawesi Province Nurafni S. DG. Kader; Indri Iriani; Rabiah
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - November 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i11.8969

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi menular yang menyerang paru-paru dan berdampak pada gangguan pernapasan, salah satunya adalah penumpukan sekret yang menyebabkan bersihan jalan napas tidak efektif. Latihan batuk efektif merupakan salah satu intervensi mandiri keperawatan yang bertujuan untuk membantu mengeluarkan sekret dan meningkatkan oksigenasi pasien. Tujuan: Mengimplementasikan latihan batuk efektif pada pasien tuberkulosis paru dengan diagnosa keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus deskriptif yang dilakukan pada salah satu pasien tuberkulosis paru di ruangan Dahlia RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi menggunakan format pengkajian asuhan keperawatan. Intervensi berupa latihan batuk efektif dilaksanakan dan di evaluasi berdasarkan perubahan klinis pasien. Hasil: Setelah dilakukan intervensi latihan batuk efektif pada pasien menunjukkan peningkatan dalam pengeluaran sputum, penurunan bunyi napas tambahan (ronkhi), perbaikan pola napas, dan peningkatan saturasi oksigen dari 89% menjadi nilai yang lebih baik. Pasien juga melaporkan rasa sesak berkurang dan kemampuan bernapas membaik. Kesimpulan: Latihan batuk efektif terbukti mampu memperbaiki kondisi bersihan jalan napas tidak efektif pada pasien tuberkulosis paru. Intervensi ini dapat menjadi Tindakan mandiri yang efektif dalam meningkatkan kualitas pernapasan pasien.
Asuhan Keperawatan Pada Anak Usia Sekolah Dengan Diagnosa Medis Dispepsia Di RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah: Nursing Care For School-Aged Children With A Medical Diagnosis Of Dyspepsia At Undata Regional General Hospital Central Sulawesi Province Selfina R.N; Indri Iriani; Maryam
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9012

Abstract

Pendahuluan Dispepsia gangguan pencernaan yang umum terjadi pada anak usia sekolah dan dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup, status nutrisi, serta aktivitas sehari-hari anak. Studi kasus ini bertujuan untuk menerapkan asuhan keperawatan pada anak usia sekolah dengan diagnosa medis dispepsia yang dirawat di Ruangan Catelia RSUD Undata Provinsi Sulawesi Tengah. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian adalah seorang anak laki-laki usia 11 tahun 9 bulan dengan keluhan nyeri ulu hati, muntah cair berulang, dan penurunan nafsu makan. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan skala nyeri dari 5 menjadi 3 dan peningkatan nafsu makan serta porsi makan pasien. Pasien menunjukkan respon positif terhadap intervensi yang diberikan, dengan kondisi yang semakin stabil dari hari ke hari. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa asuhan keperawatan yang terarah, holistik, dan melibatkan keluarga terbukti efektif dalam menurunkan nyeri dan memperbaiki status nutrisi pada anak dengan dispepsia. Pendekatan sistematis melalui pengkajian menyeluruh, pemantauan berkala, serta kolaborasi dengan keluarga menjadi kunci dalam mendukung proses pemulihan pasien.